Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Tidak Selemah itu


__ADS_3

Amara masih memikirkan ucapan Ameena yang mengatakan, Bu Fatimah akan kembali lagi untuk menemuinya. Ia melirik jam dinding di kamarnya. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Bu Fatimah sepertinya tidak akan kembali lagi. Namun, bagaimana kalau wanita itu datang besok pagi. Amara tidak bisa membayangkan apa tang akan terjadi. Terdengar helaan nafas berat beberapa kali darinya.


Ameena yang tidur di sebelahnya pura-pura berbalik. Padahal, gadis itu juga tidak bisa tidur karena mengkhawatirkan Amara.


Ameena POV...


Cukup lama aku pura-pura tidur. Amara masih saja terlihat gelisah. Sepertinya kedatangan Nenek itu benar-benar mempengaruhinya. Dia pernah menceritakan kejadian yang menimpanya waktu dia berkunjung ke Pesantren. Namun, aku kira wanita tua itu akan berhenti mengganggu Amara setelah Kak Bian melempar semua foto wanita keturunan Sultan yang ditunjukkannya.


Aku hanya heran. Di zaman seperti ini, ternyata masih ada orang seperti itu. Menurut aku sih, kita memilih pasangan yang nyaman dengan kita. Pasangan yang mengerti dengan keadaan kita. Untuk apa mencari pasangan yang terlihat sempurna di luar, tetapi tidak bisa menjamin kebahagiaan pasangannya sendiri.


Aku membuka sedikit mata ku. Ya Allah.. ternyata Amara masih duduk dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Terlihat jelas kalau dia sedang memikirkan sesuatu. Jujur, aku kasihan banget melihatnya seperti ini. Kalau tau begini, aku nyesel banget mengatakan soal kedatangan wanita itu. Kalau terjadi apa-apa ke depannya pada Amara, aku tidak akan segan-segan melaporkan hal ini pada Kak Bian. Awas saja kalau wanita tua itu datang lagi.


Aku membuka mataku saat mendengar isak tangis yang seperti ditahan. Aku diam menatapnya beberapa saat. Namun, ia terlihat cukup kewalahan menahan isak tangis itu. "Amara.. lho kok belum tidur?" Aku pura-pura melemahkan suaraku seperti orang yang benar-benar mengantuk. Aku melihatnya mengusap air matanya.


"Mm... gue belum bisa tidur, Na. Lho tidur aja. Gue nggak apa-apa kok." Ia menepuk-nepuk pelan punggungku seperti yang biasa dia lakukan kalau aku terbangun di tengah malam.


" Lho kenapa nangis, Mara?" Aku kembali bertanya karena melihatnya masih duduk sambil mengusap air matanya.


"Ng.. nggak, Na. Gue hanya mengucek mata gue karena mengantuk. Udah ah, lho lanjutin aja tidur. Nggak usah mikirin gue."


Aku akhirnya bangkit sambil memperhatikan matanya yang sembab. "Sudah, gue tau lao nggak bisa tidur dan sedih karena memikirkan nenek tua itu kan?" Aku menatap tepat di matanya. Amara hanya melirikku lalu kembali menunduk.


"Gue.. gue nggak apa-apa, Na."


"Ya udah, lho tidur kalau nggak ada apa-apa. Gue telepon Kak Bian nih, kalau lho nggak tidur."


"Na..."


"Udah tidur makanya.." aku sengaja menautkan alis dan menatapnya dengan kesal. Padahal, hatiku menangis dan ingin memeluknya erat.


"I.. iya, gue akan tidur sekarang." Perlahan ia merebahkan tubuhnya. Aku masih menatapnya dengan tajam. Menunggunya sampai benar-benar terlelap. Aku berjanji akan membuat perhitungan pada wanita tua itu jika berani mengganggu Amara.


_________

__ADS_1


Pagi itu, Amara sedang membuat samdwich untuk sarapan ringan. Ia membuat beberapa tangkup karena Ameena pasti tidak cukup jika sarapan dengan porsi normal. Temannya itu selalu meminta porsi tiga kali lipat dari porsi normal.


"Na, ayo sarapan dulu. Setelah sarapan, baru berangkat." Amara membawa sandwich buatannya ke atas meja. Berhubung karena Kostnya tidak besar, ruang makan dan ruang tamu dijadikan satu.


"Mm.. wait, gue masih ngurus rambut gue. Udah tau rambut gue agak ribet di atur." Ameena menjawab dari dalam kamar.


"Buruan... ini udah jam delapan, Na."


"Mm..."


Amara memutar bola matanya kesal. Habis shalat subuh tadi, Ameena tidur lagi. Itulah mengapa temannya itu belum rapi sampai jam segini. Biasanya dia selalu menyisir rambut keritingnya setelah shalat subuh. "Coba nurut tadi pas dibilang jangan tidur lagi. Rambut lho pasti udah rapi sekarang. Udah tau punya rambut keribo.."


"Ish, ujung-ujungnya pasti menghina. Rambut gue kiting-kiting gini, tapi ngangenin tau."


Amara tidak menimpali lagi. Ameena tidak akan pernah mau kalah jika berdebat dengannya.


Ameena keluar dengan jilbab yang sudah rapi. Gadis itu langsung duduk di samping Amara. Mengambil setangkup sandwich lalu memakannya dengan lahap. Baru akan menangkup sandwichnya yang kedua, pintu depan tiba-tiba di ketuk. Gadis itu saling tatap karena heran.


"Biar gue yang buka, Na." Amara beranjak bangkit. Namun, Ameena menahan tangannya. "Lho duduk, biar gue yang buka." Ameena memaksa Amara duduk kembali. Dia yang akan membuka pintu untuk tamu itu.


"Huh," Ameena langsung melengos saat melihat tamu yang datang. "Ngapain datang lagi?" Bertanya dengan ketus tanpa mempersilahkan tamunya untuk masuk.


"Siapa, Na?"


Ameena berbalik menatap sahabatnya. "Tamu tak diundang, Mara. Udah yuk, kita berangkat ke Kampus sekarang. Malas sekali berurusan dengan orang beginian."


"Heh," tamu yang ternyata Bu Fatimah itu menatap Ameena dengan sinis. "Mana teman kamu itu?"


"Gue nggak akan mengizinkannya keluar." Ameena memasang badan penuh di depan pintu. Tidak ada celah yang bisa diterobos Bu Fatimah.


"Suruh dia keluar, atau aku akan melakukan kakerasan." Bu Fatimah masih menatap dengan tajam.


"Silahkan saja. Apa anda lupa sedang berada di mana? Tempat ini tak pernah memandang siapa kamu. Mau anda wanita istri pejabat, mau anda istri pengusaha, mau anda istri konglomerat atau mungkin istri penjual cilok. Kami di sini satu keluarga. Yang bersalah akan di hukum. Yang benar akan dibela." Ameena melototkan matanya pada Bu Fatimah. Tidak perduli dengan usia senja wanita itu. Rasa kesal karena kesombongan wanita itu membuatnya malas untuk menghormatinya.

__ADS_1


"Suruh teman kamu keluar..!" Bu Fatimah meninggikan suaranya.


"Tidak akan!" Ameena tidak mau kalah.


Bu Fatimah membuang pandangannya. Sayangnya dia tidak diizinkan masuk dengan membawa pengawalnya. Jika saja pengawalnya diizinkan masuk, maka Ameena dengan mudah bisa disingkirkannya.


Amara mendengar perdebatan itu. Namun, gadis itu hanya diam sambil menikmati sandwichnya.


"Minggir!" Bu Fatimah mendorong tubuh Ameena setelah usahanya dengan kata-kata gagal.


Ameena mendengus saat tubuhnya mundur beberapa langkah karena dorongan Bu Fatimah. Kesempatan itu tidak disia-siakan Bu Fatimah. Ia langsung masuk saat Ada celah yang bisa dia lewati.


Wanita itu menatap Amara dengan penuh kebencian saat mengetahui gadis itu berada di sana. "Dasar wanita tidak tau diri!"


Amara tersenyum kecil. Sepertinya dia harus mengikuti saran Ameena, untuk tidak merespon wanita itu dengan berlebihan. "Aku sedang sarapan, Nek. Aku tidak tau kalau tamu itu adalah Nenek, makanya aku hanya diam dan melanjutkan sarapanku. Ayo, kalau Nenek mau ikut sarapan bersama kami. Kebetulan masih tersisa beberapa potong sandwich buatanku."


"Cih..!" Bu Fatimah langsung meludah di tempat. "Aku nggak sudi dipanggil nenek oleh wanita sepertimu. Gadis tidak tau malu dan tidak tau sopan santun."


"Yang tidak tau malu itu, kami atau anda ya?" Ameena menarik pundak Bu Fatimah.


"Jaga sikap kamu, Gadis Kampungan?!" Bu Fatimah menepis tangan Ameena yang mencengkram pundaknya. "Kalian ini benar-benar tidak tau cara manghormati orang tua.."


"Seharusnya anda menyadari, kalau anda tidak menghargai kami yang lebih muda. Kami akan manghormati anda, jika anda sendiri bisa menjaga sikap." Amara beranjak bangkit. Bu Fatimah terlihat semakin ngelunjak. Mereka harus melawan agar wanita itu segera pergi.


Ameena tersenyum saat melihat keberanian temannya. Ini yang dia tunggu-tunggu dari Amara.


"Oh, ternyata kamu kurang ajar juga ya.." Bu Fatimah berjalan mendekati Amara. Memperhatikan Amara dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. Awalnya dia ingin menghina pakaian yang dikenakan Amara. Namun, saat melihat pakaian yang dikenakan gadis itu dari merek yang sama dangan yang dipakainya, ia mengurungkan niatnya.


"Kami hanya bersikap sesuai dengan tamu yang kami hadapi." Timpal Amara lagi. Gadis itu benar-benar akan melawan kali ini.


"Heh, apa kamu lupa sedang mencintai cucu siapa?" Bu Fatimah melipat tangannya di dada.


"Aku tidak lupa sama sekali. Akan tetapi, anda juga harus ingat, kalau anda sedang menghina wanita yang dicintai cucu anda."

__ADS_1


"Kurang ajar!" Bu Fatimah melayangkan tangannya untuk menampar Amara. Namun, gadis itu berhasil menghindar. Bahkan, tangan Bu Fatimah langsung ditangkap Ameena. "Jangan coba-coba menyakiti Amara!" Gadis itu menatap Bu Fatimah dengan melotot.


*********


__ADS_2