
"Ra, bangun ... sudah adzan.." Bian menggoyang-goyang tubuh istrinya. Biasanya Amara selalu bangun duluan. Tapi, pagi ini dia masih tidur pulas sampai adzan selesai berkumandang. Bian juga sudah selesai shalat sunah. "Kalau kamu nggak mau shalat jamaah di rumah, aku ke Masjid ya, sayang.."
"Iya, Mas. Kepala aku agak pusing. Sebentar lagi aku bangun." Jawab Amara tanpa membuka matanya.
Bian hanya menatap istrinya. Ingin memaksanya untuk bangun, tapi ia kasihan.
"Mas Bian berangkat saja. Aku akan bangun kok, Mas." Masih memejamkan matanya. Hal itu membuat Bian mengernyit. "Kamu masih malas membuka mata, Ra." Tanyanya sambil menggoyang-goyang tubuh istrinya pelan.
"Mas Bian tenang saja. Aku akan segera bangun." Amara memperbaiki selimutnya yang melorot karena ditarik suaminya.
Bian menghela nafas berat. "Ya sudah, aku berangkat sekarang. Kamu cepat bangun ya, Sayang. Kamu juga belum mandi wajib."
"Iya... kamu cerewet deh, Mas."
Bian hanya tersenyum. Pria itu berlalu meninggalkan istrinya yang masih menggulung tubuhnya dengan selimut.
Amara memaksakan diri untuk bangun setelah suaminya menutup pintu kamar dari luar. "Ya Allah.. kenapa kepalaku sangat pusing." Menekan pelipisnya yang berdenyut hebat. Padahal semalam ia sangat sehat saat memberikan bekal batin untuk suaminya.
Tubuhnya terasa menggigil saat masuk ke kamar mandi. Sudah ada air hangat yang di sediakan suaminya. Tapi, suhu air itu hampir normal karena terlalu lama ditinggalkan. Terpaksa ia menunggu untuk mengisi bak mandi dengan air hangat.
Hanya beberapa menit Amara mandi, tubuhnya tidak bersahabat untuk berlama-lama di tempat itu. Ia segera mendirikan shalat subuh, agar suaminya tidak bertanya lagi saat pulang dari Masjid nanti.
__________
Bian sibuk sendiri saat tau kalau istrinya tidak enak badan. Ia beberapa kali menggaruk-garuk kepalanya bingung saat memilih baju yang akan dikenakannya saat pergi bekerja. Amara menahan senyum dari atas ranjang saat melihat suaminya bingung sendiri.
"Aku harus pakai yang mana sih, Ra?" Berbalik menatap istrinya saat tidak juga menemukan yang menurutnya cocok.
"Mm... kamu tinggal ambil saja, Mas. Aku sudah letakkan sesuai dengan pasangannya kok."
"Tapi aku bingung, Sayang." Kembali menggaruk-garuk kepalanya.
Amara akhirnya menghela nafas berat. Kemana suaminya yang dulu selalu mandiri. Ternyata dia terlalu memanjakan pria itu selama ini, sampai-sampai tidak bisa mencari baju yang alan dipakainya sendiri.
"Eh, kamu mau kemana?" Bian meraih tubuh istrinya saat Amara berjalan mendekat ke arahnya.
"Mau mengambilkan kamu baju, Mas. Ternyata selama ini aku terlalu memanjakan kamu."
"Eheheheh.." Bian hanya bisa cengengesan.
"Apa aku harus memakaikannya juga, Mas?" Amara menatap suaminya dengan sendu.
__ADS_1
"Nggak usah, Sayang. Kamu istirahat lagi. Nanti aku minta Ibu datang untuk mengecek keadaan kamu."
"Ng...."
"Sssstttt..." Bian meletakkan jari telunjuknya di depan bibir istrinya. "Ibu akan marah kalau aku tidak memberitahunya. Atau mungkin kamu mau di antar ke rumah Ibu?"
Amara terdiam. Melirik ke arah suaminya beberapa kali. "Bagaimana ya, Mas..."
"Hah, kamu terlalu banyak mikir. Ayo, ganti baju dulu. Biar aku bantu gantikan." Melepaskan tangan istrinya. Beralih membuka lemari pakaian untuk mencari pakaian yang akan dikenakan istrinya. "Mm... kamu pakai yang ini saja."
Amara mengernyit. Tadi, pas suaminya memilih baju sendiri bingung. Sekarang, Bian malah terlihat gercep saat memilihkan baju untuknya.
"Apa perlu aku pakaikan juga?" Meraih kancing teratas baju tidur istrinya.
"Eits, apaan sih, Mas.." Amara segera menghindar. "Kalau Mas Bian yang buka yang ada kita berdua malah buka-bukaan nanti. Aku lagi kurang sehat loh.."
"Nggak akan.. mana sini biar kita lebih cepat. Aku ada rapat dengan beberapa manager dari kantor cabang nanti jam sembilan." Meraih kembali baju istrinya. Membuka kancingnya satu persatu dan segera menggantikan dengan setelan yang diambilnya tadi. Walaupun beberapa kali menelan ludahnya saat melakukan itu, tatapi Bian berhasil melakukannya tanpa membuat si adek bangun dari tidurnya.
***********
Malam itu...
Amara memaksakan diri untuk bangun. Walaupun tubuhnya sedikit menggigil dan suhu tubuhnya lebih tinggi. Tapi, dia tetap ikut ke dapur untuk mempersiapkan makan malam bersama mertuanya.
"Aku nggak apa-apa kok, Bu."
"Pokoknya kamu harus istirahat. Ibu nggak mau menantu Ibu kenapa-napa gara-gara memaksakan diri. Ibu akan kecewa kalau kamu tetap memaksakan diri."
Amara tersenyum lemah. "Terimakasih pengertiannya, Bu."
Amara masuk kembali ke dalam kamarnya. Ia mencoba menghubungi suaminya. Sudah jam tujuh malam, tetapi suaminya belum ada tanda-tanda akan pulang.
Tuuuuttt...
"Kamu dimana, Mas?" Amara langsung melontarkan pertanyaan saat panggilannya terhubung dengan suaminya.
"Astagfirullah... salam dulu, Sayang."
"Aku lupa, Mas Bian masih kerja ya. Apa nggak mau pulang sekarang?" Suara Amara terdengar sedih.
"Aku sedang dalam perjalanan pulang. Mau membelikan kamu grepes yang kamu pesan tadi siang. Ini aku sudah membelikannya untukmu."
__ADS_1
"Oh, cepetan ya, Mas.."
"Iya, Sayang. Kok jadi kayak gini sih?!"
Tut... tut.. tut..
Bian tersentak, menatap layar handphonenya dengan alis tertaut. Amara bersikap semakin aneh. Sudah beberapa hari terakhir ini, dia tiba-tiba marah atau kesal tanpa sebab. Tapi, kejadian malam ini yang terparah. Bian jadi merasa bersalah.
Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Meletakkan handphonenya dengan asal di kursi penumpang. Melanjutkan kembali perjalanannya yang terhenti karena menjawab panggilan dari istrinya tadi.
Bian hanya mengaduk-aduk makanan yang sudah dipersiapkan ibunya. Hal itu tentu saja menarik perhatian ibunya. Bian selalu makan lahap kalau di rumahnya.
"Apa ada masalah, Nak?"
Pertanyaan itu membuyarkan lamunan Bian. "Ng.. nggak, Bu." Segera memasukkan satu sendok penuh makanan ke mulutnya. "Berasa agak aneh aja, Bu karena Rara nggak ikut makan malam. Biasanya di selalu protes kalau aku makan terlalu lambat. Dia sering kali menyuapiku kalau aku masih lambat. Dia juga membereskan sisa makan malam sambil ceramah."
"Oh," Bu Santi menahan senyum. "Pantas saja tadi dia bilang ke Ibu."
Bian terdiam sejenak. "Dia bilang apa ke Ibu?" Kembali menyuapkan satu suapan besar.
"Poweranger-nya sudah berubah menjadi Powermanja." Jawab Bu Santi masih menahan senyum.
Bian berhenti mengunyah. Menelan makanan dengan paksa sebelum meneguk beberapa teguk air putih. "Maksudnya?" Satu suapan masuk lagi.
"Yang dimaksudnya poweranger itu kamu, Nak. Kamu yang dulunya penuh pesona, hidup mandiri dan jarang sekali membutuhkan orang lain untuk menyelesaikan semua aktivitasmu. Sekarang kamu malah berubah menjadi powermanja. Semua aktivitas hampir bergantung pada istri. Sampai-sampai ambil baju pun, masih bingung dan meminta bantuan istri untuk mengambilkannya."
Bian menelan paksa makanan yang terasa tercekat di tenggorokannya. Hampir saja dia terbatuk karena tersedak makanannya masuk ke jalur yang salah. Ia meraih segelas air dan meneguknya sampai tandas. Awalnya dia ingin protes. Tapi... protes untuk apa. Yang dikatakan Amara pada ibunya adalah kenyataan yang tidak bisa dielakkan.
"Nggak mau protes, Nak?" Bu Santi menahan senyum, lebih mencondongkan tubuhnya pada putranya.
"Eh," Bian menatap ibunya sambil mengusap-usap tengkuknya. "Inginnya sih begitu, Bu. Tapi... aku sendiri mau protes karena apa. Toh, yang dikatakan Rara itu memang benar adanya. Lagian... dia kan cuma cerita ke Ibu saja, bukan mengumumkan pada tetangga pakai toa."
Tawa Bu Santi akhirnya pecah. "Itu berarti istrimu perhatian, Nak. Itu yang kita cari dari wanita. Wanita yang selalu berbakti, wanita yang selalu memenuhi kebutuhan lahir dan batin suaminya." Bu Santi menarik nafas dalam. "Iya.. nggak apa-apa lah kalau kamu bukan poweranger lagi bagi Amara. Tapi, Ibu rasa itu hanya berlaku dalam hal pelayanan di rumah, karena hal itu sudah diambil alih oleh istrimu. Tapi, kamu harus tetap menjadi poweranger bagi keluarga kamu dalam hal tanggung jawab, Nak."
Bian tersenyum kecil. "Terimakasih dukungannya, Bu. Semoga Allah selalu memudahkan jalanku untuk menuntut rizkinya."
"Doa Ibu selalu menyertai setiap langkahmu, Nak." Bu Santi tiba-tiba menatap ke arah belakang putranya. Dimana Amara berjalan mendekat ke arah meja makan. "Powermanja kamu makannya lama, Ra. Sepertinya perlu dijinakkan oleh kamu terlebih dahulu." Bu Santi beranjak bangkit setelah Amara mengambil tempat duduk di samping kursi suaminya.
Bian langsung menoleh. Tersenyum meringis pada Amara yang menatapnya dengan ekspresi datar.
"Nggak apa-apa manja pada istri. Itu mah, Ibu malah senang melihatnya. Itu berarti Amara sangat perhatian dan tidak mau ada orang lain yang mendahuluinya memenuhi kebutuhan kamu. Kalian berdua lanjutkan. Ibu masuk duluan." Bu Santi meninggalkan Amara dan Bian berdua di ruang makan.
__ADS_1
*********