
Bian kembali ke Hotel setelah lewat waktu zuhur. Pria itu benar-benar berat jika harus meninggalkan Amara lagi. Beberapa kali melihat ke arah jari Amara yang bertautan dengan jari tangannya.
"Kamu harus janji, kamu tidak akan meninggalkan ku kemana-mana." Kata-kata itu terus di ulang Bian. "Aku tidak mau kehilangan kamu untuk yang kedua kalinya.
Amara menghela nafas berat sambil menatap pria itu. Sikap Bian yang posesif seperti ini membuatnya merasa benar-benar disayangi pria itu. "Memangnya aku bisa kemana, Kak? Gerakku terbatas di tempat ini. Aku keluar dari sini saja, pasti ada sepasang mata yang mengawasi ku." Amara menjawab sambil menatap lurus ke depan.
Bian terdiam beberapa saat mendengar ucapan Amara. Mendengar Amara mengatakan geraknya dibatasi, Bian langsung teringat dengan wanita yang tinggal bersama Amara. "Kenapa wanita itu belum kembali sampai jam segini?" Melirik ke arah pintu Apartemen di belakang mereka.
Amara ikut melirik ke belakang lalu mengangkat bahu. "Aku nggak tau, Kak. Biasanya jam segini dia sudah pulang. Sepertinya dia tau kalau Kak Bian ada di Apartemen, makanya dia menghindar."
Bian melanjutkan langkahnya. "Apa kamu juga tidak pernah ke pusat perbelanjaan selama berada di tempat ini?" Bian mencoba menerka. Jika gerak Amara di batasi, itu berarti neneknya selalu mengawasi Amara lewat orang suruhannya. Sepertinya wanita yang disuruh neneknya benar-benar orang yang patuh dan disiplin.
Amara menggeleng. "Baju dan yang lainnya sudah dipersiapkan saat aku menempati Apartemen ini. Hanya waktu aku minta izin untuk masuk kerja, Mbak Myta menghubungi seseorang untuk mencarikan seragam untukku."
"Hah," Bian membuang nafas dengan kasar. "Maafkan aku karena tidak gerak cepat. Karena kecelakaan itu, aku tidak bisa memaksa Nenek untuk mengatakan semuanya."
Amara tersenyum hambar. "Alhamdulilah aku baik-baik saja selama di tempat ini. Hanya saja, terkadang aku merasa dipenjara karena tidak boleh begini dan begitu."
Bian menepuk-nepuk kepala Acara sambil tersenyum lemah. "Aku hanya takut, Nenek menempatkan kamu di tempat yang buruk. Iya.. walaupun Apartemen ini di bawah standar ku. Setidaknya tempat ini layak untuk di tempati."
Amara melengos sambil menatap kesal pada Bian. "Aku ini dibuang ke tempat ini, Kak. Tidak ada ceritanya orang yang dibuang diberikan tempat mewah. Kalau disewakan tempat mewah, itu berarti Nenek Kak Bian bukan orang jahat sesungguhnya. Dia hanya pura-pura jahat karena terlalu mementingkan egonya."
Bian tersenyum kecil. "Aku berharap, kamu tidak membenci Nenek karena hal ini. Nenek memang begitu orangnya, Ra. Dulu saja dia pernah mendorong Ibu ke kolam ikan besar di Pesantren, gara-gara tidak setuju dengan hubungan yang dijalin Ibu dengan Almarhum Bapak." Melirik Amara lalu menatap lurus ke depan. Tidak terasa mereka sudah sampai di Basement Apartemen. Terlihat Daniel sudah menunggu di samping mobil.
Amara menunduk lalu mengangkat kembali wajahnya. Melirik Bian sekilas. "Rasa kecewa pasti ada, Kak. Tapi, untuk membencinya sepertinya tidak. Aku masih memiliki hati manusia yang normal."
__ADS_1
Bian tersenyum bahagia mendengar jawaban Amara. Gadis itu terlihat benar-benar tulus padanya. Ia meraih tangan Amara. "Ra, aku mau kembali dulu. Walaupun aku masih merindukanmu, tapi terlalu lama bersama malah semakin menambah dosa kita." Bian beralih menatap jari manis Amara yang sudah memakai cincin pemberiannya. Bibirnya mengulas senyum melihat hal itu. "Tuliskan nomor handphone kamu. Ada yang ingin aku bicarakan nanti." Menyerahkan handphonenya pada Amara.
Amara mengambil benda gepeng itu. "Sampai melupakan hal itu karena keasyikan ngobrol." Ucapnya sambil menulis nomor handphonenya di benda gepeng milik Bian.
"Berikan padaku kalau sudah selesai. Aku punya nama tersendiri untuk menyimpannya." Menyodorkan tangannya ke hadapan Amara. Bian menautkan alisnya saat mencoba menyimpan nama yang sudah disiapkannya. Nomor asing yang disimpannya dengan nama 'orang misterius' muncul di layar handphonenya. Pria itu melirik Amara. Mungkin itu yang membuatnya benar-benar penasaran dengan nomor itu. Ternyata pemilik nomor itu adalah wanita yang dicarinya selama ini.
"Kak Bian hati-hati. Ingat minum obat, biar lukanya cepat kering."
Lamunan Bian buyar saat mendengar ucapan Amara. "Siap Ibu Perawat." Melakukan gerak hormat sambil tersenyum manis untuk menyamarkan rasa terkejutnya.
"Apaan sih?" Amara hanya tersenyum kecil.
*********
"Bagaimana perasaan Tuan sekarang?" Daniel menatap Bian yang terlihat terus tersenyum. Duduk di sofa sambil memakan kerupuk yang baru saja dibukanya. Bian baru saja selesai mendirikan shalat ashar. Tetapi, mulutnya mengoceh tidak jelas. Entah apa yang diucapkannya. Hal itu menjadi pertanda besar, kalau Bian benar-benar sedang bahagia. Sebenarnya, Daniel sangat menikmati suasana hati tuannya yang seperti ini. Andaikan Pak Akmal tidak membatasi geraknya dari dulu. Dia pasti gerak cepat untuk mencari Amara.
Daniel melotot mendengar jawaban Santai Bian. Pekerjaan di Kantor sudah menumpuk, tetapi bosnya itu malah mengatakan ingin tinggal tanpa beban. "Pekerjaan sudah menunggu kita, Tuan. Kemarin Tuan yang terus-terusan ingin pulang. Kenapa ceritanya malah berbeda sekarang?"
Bian tersenyum sinis. "Karena alur ceritanya berubah, ceritanya juga jadi berubah. Kalau Kak Daniel keberatan, Kak Daniel pulang saja besok. Titip salam untuk Kakek. Kalau dia masih berniat menghalangi pernikahanku dengan Rara, aku tidak mau mengurus perusahaannya lagi. Aku akan tinggal di tempat ini bersama Rara."
Daniel langsung tersedak dengan kerupuk yang sedang di kunyahnya. Meraih sebotol air kemasan milik Bian yang belum dibuka segelnya.
"Eh, hati-hati, Kak!" Bian menautkan alisnya menatap Daniel. Menghempaskan tubuhnya di samping Daniel.
Daniel menatap Bian dengan kesal. "Tuan..."
__ADS_1
"Apa?" balik menatap tanpa merasa berdosa.
"Setahun kepemimpinan Tuan, Perusahaan berkembang pesat. Apa Tuan mau menghancurkan usaha yang dibuat Tuan Besar dari nol hanya gara-gara masalah ini?"
Bian tersenyum sinis. "Untuk apa mengumpulkan harta kalau tidak bisa menikah dengan wanita yang diinginkan. Aku tidak suka di atur, Kak. Aku juga tidak suka asal pilih. Walaupun Rara bukan orang kaya. Tapi, setidaknya sifatnya sudah membuktikan kalau dirinyalah yang paling pantas untukku. Aku tidak mau capek-capek cari istri kalau pada ujungnya aku yang capek mengajarkannya beradab."
Daniel tidak bisa berkata apa-apa. Di sisi lain, Bian bersifat seperti remaja belasan tahun yang terdengar labil dalam mengambil keputusan. Tapi, di sisi lain, Bian terdengar sangat bijak dengan mencintai seseorang bukan berdasarkan karena hartanya.
Perhatian Bian teralihkan pada handphonenya yang tergeletak di atas meja. Ada pesan masuk dari kakeknya. Tapi, Bian memilih mengabaikan benda gepeng itu.
"Kenapa Tuan tidak melihat pesan itu?" Siapa tau Tuan Besar...." ucapqn Daniel terhenti karena isyarat dari Bian.
"Aku nggak mau membukanya, Kak. Kakek akan bersikap semaunya kalau tidak ditentang sesekali. Kali ini, aku mau Kakek yang mengalah. Iya.. walaupun sebenarnya ini terdengar tidak sopan, tapi inilah satu-satunya cara untuk membuat Kakek mengerti dengan keadaanku. Aku juga butuh dibela, Kak. Bukan hanya Nenek yang butuh perhatian dan belaan. Mereka sendiri yang bilang kalau sifatku ini mirip dengan sifat Almarhum Bapak yang suka melanggar aturan.
Daniel kembali terdiam. Dia tidak bisa berbuat banyak untuk mencegah Bian melakukan apapun yang ingin dilakukannya.
"Nanti malam aku mau mengajak Rara keluar. Ini adalah kencan pertama kami setelah Rara hilang. Kal Daniel tolong bantu bawakan mobil. Aku tidak bisa membawanya sendiri karena tanganku masih sakit."
"Kalau saya ikut, yang ada saya malah menjadi nyamuk pengganggu nanti, Tuan."
Bian langsung menatap Daniel dengan tajam. "Aku nggak perduli. Mau Kak Daniel jadi nyamuk kek, mau jadi lalat kek, yang penting jangan menggigit saja. Cukup lihat dan menelan ludah kalau melihat aku jalan bersama dengan Rara." Bian bangkit dari duduknya, tetapi ia menatap Daniel lagi. "Satu lagi, Kak."
"Apa, Tuan?" Daniel menjawab dengan sigap.
"Kak Daniel tidak boleh ikut berjalan bersama kami nanti. Cukup amati dari jauh saja."
__ADS_1
Daniel mengernyit mendengar pesan terakhir Bian. Apa masalahnya kalau dia berada di samping atau smdi belakang Bian. Toh, dia tidak akan cemburu dengan keromantisan mereka. Dia sudah punya pasangan halal yang lebih dari cukup untuknya.
********