Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Pengobat Hati Penawar Rindu


__ADS_3

Dua tahun kemudian...


Bian sudah menduduki posisi tertinggi di Perusahaan Kakeknya. Pria itu berhasil menyelesaikan pendidikan Magisternya dalam waktu satu tahun. Ketekunan dan kecerdasan yang dimilikinya membuatnya bisa menyelesaikan waktu studinya dengan singkat.


Saat ini, pria itu fokus mengurus Perusahaan Tekstil yang sudah pindah nama atas nama Bian Putra Arianto. Sebenarnya, Perusahaan itu atas nama Almarhum Arianto. Namun, karena Arianto meninggal ketika Bian masih kecil. Pak Akmal mengambil alih kembali Perusahaan itu. Sekitar dua ribu orang karyawan yang bekerja di pabrik akan hilang mata pencarian jika dia tidak mengurusnya. Namun, akhir-akhir ini, Bian lebih banyak berusaha sendiri karena kakeknya yang semakin sering sakit-sakitan.


Siang itu, usai menandatangi sebuah berkas perjanjian dengan sebuah Perusahaan Konveksi, Bian mencari keberadaan Daniel. Asisten yang sudah menemaninya kurang lebih dua tahun terakhir ini terlihat tidak ada di ruangannya.


"Kak Daniel..!" Bian masih mengedarkan pandangannya di sekitar ruangan.


"Iya, Tuan." Daniel muncul dari balik pintu ruangan Bian. Ternyata, selama menunggu Bian selesai bekerja, pria itu duduk di sofa depan ruangan Bian.


"Pantau keberadaan Rara sekarang. Dia bilang masih praktek di Rumah Sakit Xx." Meletakkan handphonenya dengan asal di atas meja. "Pastikan dia pulang tepat waktu dan tidak kelayapan kemana-mana." Bian berkata dengan tegas. Ternyata Bian semakin posesif. Keramahan Amara pada setiap orang membuatnya waspada. Dia takut wanitanya itu tersangkut rayuan pria di luaran sana.


"Saya akan menelpon orang suruhan Tuan untuk mengikuti Non Amara."


"Terimakasih, Kak Daniel. Setelah selesai, Kak Daniel persiapkan mobil. Kita ada pertemuan dengan pemilik tempat budidaya ulat sutera di kota D. Orangnya sudah berada di hotel Queen menunggu kedatangan kita. Kita harus segera mendapat pasokan lebih banyak lagi, agar pabrik tidak kekurangan bahan.


"Baik, Tuan." Daniel menundukkan badannya dengan hormat. Pura itu berjalan keluar ruangan. Masuk ke dalam ruangannya sendiri untuk menghubungi orangnya. Terkadang pria itu juga kewalahan karena permintaan Bian yang aneh.


Pernah sekali Bian memintanya untuk memantau Amara dua puluh empat jam nonstop. Dia sampai tiga kali mengganti orangnya untuk mengawasi wanita itu.


Kejadian itu terjadi ketika dua bulan sebelum Bian kembali. Pria itu mendapat sebuah kiriman foto dari Ameena, yang memperlihatkan Amara yang sedang tertawa ria dengan salah satu teman prianya yang satu profesi dengannya. Saat itu, Amara sedang praktek di Rumah Sakit. Seketika itu Bian langsung meminta Daniel untuk pulang ke Indonesia untuk mengawasi dan membatasi gerak wanita itu. Namun, Daniel dengan tegas menolak permintaan itu. Bagaimana pun juga, Pak Akmal mempercayainya untuk menjaga Bian, bukan menjaga kekasihnya Bian.


Bian membuka jas yang membalut tubuhnya. Sejak menduduki posisi CEO. Pria itu harus terbiasa dengan jas dan dasi. Dia sudah berniat untuk membuka usaha yang lain juga. Pria itu sudah membuka dua toko kuliner di kotanya.


Sambil menunggu kedatangan Daniel, Bian memilih untuk menghubungi Amara kembali. Berbeda kota dengan Amara membuatnya selalu dipenuhi rasa was-was. Dia takut kalau Amara membohonginya dan banyak lagi pikiran buruk yang melintas di pikirannya.


Ia mulai mengirim pesan suara pada gadis itu. "Ra, prakteknya sudah selesai atau belum."

__ADS_1


Terkirim.. Bian langsung menyunggingkan senyum melihat hal itu. Tak lama menunggu, pesannya langsung terbalas.


"Aku baru saja keluar, Kak. Aku mau makan sebentar lalu langsung pulang."


Mendengar jawaban gadis itu, Bian langsung melakukan panggilan video. Satu hari penuh pikiran dipenuhi dengan pekerjaan. Kini waktunya dia harus melakukan pendinginan.


"Assalamu'alaikum," memperlihatkan wajah lesu saat Amara nongol di layar handphonenya.


"Wa'alaikumsalam.. kok kusut gitu..? Capek ya.."


"Udah tau nanya." Bian tersenyum kecil. Perasaannya terasa lebih membaik. Ternyata, Amara benar-benar bisa menjadi pengobat lelah dan pendingin ketika pria itu benar-benar lelah dengan pekerjaan. "Kamu sedang dimana, Ra?" Pertanyaan itu langsung keluar saat menyadari Amara sedang berada di tempat umum.


"Hm.." Amara membalik tubuhnya untuk melihat suasana di belakangnya. "Aku sedang berburu kuliner, Kak. Belum makan sejak tadi siang. Tadi, aku dan Ameena menyelesaikan tugas sebagai laporan akhir yang akan di serahkan ke Dosen."


"Terus Ameena kemana sekarang. Kenapa kamu duduk sendirian?" Bian merubah posisi duduknya. Semakin tajam menatap Amara.


"Ya elah Babang.. ngapain cari gue. Nggak akan berani kabur kemana-mana gue. Bisa-bisa lho memotong gaji Satpam gue lagi." Ameena tiba-tiba muncul di layar handphone. Hal itu membuat Bian mendengus. "Nggak usah pakai muncul segala, Na. Mendengar suara lho aja membuat gue tau keberadaan lho."


"Hahaha..." Ameena langsung tertawa puas. Melihat sahabatnya melakukan panggilan video seperti itu sudah menjadi santapannya sehari-hari. Namun, tidak lengkap rasanya kalau dia tidak mengganggu Amara dan Bisn dan membuat pria itu kesal. "Yang tadi itu hanya untuk absen saja, Kak. Kalau Gue tidak manampakkan wajah, bisa-bisa Kak Bian memotong gajiku lagi."


"Aku tidak akan memotong gajimu jika kamu menjaga Rara dengan baik. Yang kemarin itu kesalahan kamu sangat fatal, Na."


Giliran Ameena yang melengos. "Masa tertawa dengan orang lain itu termasuk kesalahan? Kak Bian ini benar-benar aneh."


Bian hanya menghela nafas berat. "Ra,"


Amara kembali menatap layar handphone. Tadinya, dia hanya sibuk menatap Ameena yang sedang berdebat dengan Bian. "Ada apa, Kak?"


"Kapan kamu selesai praktek. Aku terkadang sangat mengkhawatirkan kamu yang jauh dari rumah. Kamu jauh dari Papa. Tidak ada yang mangawasi kamu disana. Kamu jangan kelayapan di sana, Ra. Setelah jam kerja berakhir, segera kembali ke Kost dan langsung istirahat. Aku tidak mau kamu kecapekan."

__ADS_1


Daniel yang sudah berdiri di depan pintu untuk mempersilahkan Bian hanya bisa melongo. Bisa-bisanya Bian mengatakan tidak ada yang mengawasi Amara. Terus dua orang yang diutusnya apakah belum cukup untuk mangawasi gadis itu?


Bian masih terus bicara pada Amara. Sudah beberapa menit Daniel berdiri, tetapi dia belum juga menyadarinya. "Apa kamu sudah menghubungi Papa?"


"Aku selalu rutin menghubungi Papa satu kali se hari, Kak. Papa sudah ada teman sekarang. Jadinya aku tidak mau terlalu sering mengganggunya.


"Bagaimana sikap Ibu tiri kamu yang sekarang, Ra? Kamu tidak pernah cerita apapun padaku." Layangan protes langsung keluar begitu Amara membuka tentang ibu barunya. Padahal, Bian sendiri tidak pernah bertanya karena terlalu sibuk.


"Alhamdulillah, sejauh ini dia baik, Kak. Dia juga orangnya perhatian sama Rissa. Mama juga selalu menghubungiku. Dia selalu menanyakan kecukupan modalku selama di sini." Amara menjelaskan dengan bersemangat. Ternyata, istri baru papanya lebih sreg dengan dirinya. Sebenarnya, Pak Arif sudah menikah cukup lama. Sekitar se tahun lebih. Wanita yang bersama Mutia itu bahkan sedang hamil adiknya Amara sekarang ini.


Bian tersenyum kecil. "Alhamdulillah kalau Papa tidak salah pilih lagi. Aku juga ikut bahagia mendengarnya."


"Kak Bian menanyakan aku sudah menghubungi Papa, apa Kak Bian juga sudah menghubungi Ibu?"


"Aku selalu menghubungi Ibu di malam hari, Ra. Aku perlu tempat yang tenang jika ingin bicara dengannya." Untuk pertama kalinya pria itu menatap ke lain arah sejak menghubungi Amara. Pria itu sedikit melototkan matanya saat menyadari Daniel yang sudah berdiri di depan pintu. "Ra, nanti kita bicara lagi. Aku ada pertemuan penting sampai jam enam nanti."


Amara terdiam sejenak. Sejak Bian bekerja, mereka tidak pernah bicara sampai puas. Pria itu hanya menghubunginya jika ada waktu senggang di sela-sela kesibukannya. "Mm.." Amara menganggukkan kepalanya mengerti. "Semangat, Kak. Semoga Allah selalu memudahkan jalan yang ditempuh Kak Bian."


"Terimakasih doanya, Sayang. Kiss dulu dong." Bian mengetuk-ngetuk pipinya.


"Ew, beraninya cuman lewat handphone aja." Ameena tiba-tiba berteriak di depan layar.


"Terserah aku dong. Yang nyata itu belum boleh, Na. Tunggu beberapa bulan lagi sampai Rara lulus. Aku akan ambil sahabat kamu, biar kamu tidur sendirian. Assalamu'alaikum, Sayang.." Bian melambai-lambaikan tangannya di depan layar. Ia segera mematikan sambungan telepon sebelum suara Ameena meledak lagi. Beralih menatap ke arah Daniel setelah menyimoan handphonenya. "Sejak kapan Kak Daniel berdiri di situ?"


"Sekitar lima belas menit yang lalu, Tuan." Jawab Daniel sambil menahan senyum. Pria itu sedikit menunduk untuk menyembunyikan ekspresinya.


Bian hanya menggaruk-garuk kepalanya. Menghubungi Amara membuat lupa segalanya.


"

__ADS_1


__ADS_2