
Ameena terus tersenyum menatap Amara yang masih duduk di depan cermin. "Mara, baju pilihan Kak Bian kenapa pas banget di tubuh lho. Nggak lihat nih, gue sampai salfok lihat lho. Kenapa coba nggak dari dulu lho dandan kayak gini. Kalau lho dandan kayak gini, gue jamin lho nggak akan di buli karena lusuh."
Amara melirik Ameena lalu kembali menatap pantulan wajahnya di cermin. "Apaan sih, Na. Sekarang aja gue mau kayak gini karena Kak Bian yang memintanya. Coba kalau lho yang minta, gue akan nolak mentah-mentah."
"Ya elah, gue udah tau kali. Sebenarnya gue bingung, Mara. Sebenarnya Kak Bian melihat lho dari sisi mana sih. Teman-temannya yang lain aja eneg melihat lho. Tapi, bisa-bisanya dia melihat lho berbeda daripada kami."
Amara langsung melotot mendengar ucapan Ameena. Spontan ia membalik tubuhnya. Mendongak menatap Ameena yang masih berdiri di belakang tempat duduknya. "Oh, jadi selama ini lho juga eneg melihat penampilan gue?!" Masih melotot menatap Ameena.
"Eh, astaga.. gue salah ngomong." Memukul-mukul mulutnya sebagai tanda rasa bersalah. "M.. maksud gue bukan gitu, Mara. Maksud gue lho nggak pernah dandan dan berpenampilan apa adanya."
Amara kembali menghadap ke cermin sambil mengusap-usap dadanya. "Jangan bahas itu lagi dah, Na. Gue deg-degan banget nih. Gue nggak ngerti kenapa Kak Bian meminta gue sampai seperti ini." Fokus menatap ke cermin.
Ameena tersenyum, menatap Amara di cermin. "Apa feeling lho tidak memikirkan sesuatu yang indah akan terjadi?"
Amara melirik Ameena lalu menggeleng. "Gue.. gue.. deg-degan, Na. Pikiran gue ngawur ngelantur dari kemarin. Nggak bisa konsentrasi pokoknya."
"Hahaha.. kalau gue jadi lho, kayaknya gue juga akan lebih parah. Kayaknya kerjaan gue hanya menghayal menunggu datangnya hari ini." Ameena mendongak menatap langit-langit kamar kostannya.
"Gue curiga sama lho, Na." Amara mencubit pelan paha Ameena.
"Eh, curiga kenapa? Memangnya gue menyembunyikan apa dari lho?" Giliran Ameena yang mencubit bahu Amara.
"Mm.. nggak ada dah. Gue nggak jadi ngomong." Amara membuang nafas dengan kasar. "Gue mau mempersiapkan hati gue untuk mendengar apapun yang akan disampaikan Kak Bian. Termasuk kalau seandainya dia mengatakan sesuatu yang buruk."
"Heh," Ameena memutar bola matanya. "Lho itu terlalu naif, Mara. Jangan terlalu banyak berpikir negatif. Coba bayangkan hal-hal yang luar biasa." Berkata sambil berpindah ke belakang Amara. Mencengkram pelan pundak temannya itu seraya menatap bayangannya di cermin. "Percaya sama gue. Kak Bian akan menyampaikan sesuatu yang membuat lho merasa kalau diri lho itu berharga." Melepaskan cengkeramannya lalu berdiri tegak. "Kita berangkat sekarang."
Amara mengangguk seraya beranjak bangkit. Sekali lagi ia menatap pantulan dirinya di depan cermin. Pakaian yang ia kenakan terlihat biasa saat dia belum memakainya tadi. Tapi, baju itu langsung pas dan benar-benar cocok digunakan olehnya. Tersenyum melihat bayangannya sendiri seraya berlalu.
********
Amara menatap sekeliling tempat yang didatanginya. Terlihat sangat asing karena untuk pertama kalinya dia datangi. Tempat itu seperti di design khusus sebagai tempat pasangan yang sedang berbahagia. "Na, lho yakin disini tempatnya?" Menatap Ameena dengan ragu. Ia merasa temannya itu salah tempat membawanya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum..."
Amara tertegun mendengar suara itu. Nafasnya terasa berhenti. Ingin menjawab salam, tetapi suaranya tercekat di tenggorokan. Ia menelan ludahnya sebelum membalik tubuhnya dengan perlahan. "W.. wa'alikumsalam.." tersenyum kaku pada pria yang berdiri gagah di depannya sekarang. Perlahan menunduk kan kepalanya karena tidak kuat bertatap mata dengannya.
Ameena tersenyum melihat hal itu. Mengacungkan jari jempolnya pada Bian sebelum akhirnya mundur perlahan dan mengambil posisi nyaman di pinggir ruangan. Ia baru menyadari kalau ada Niko juga di tempat itu. Ameena berjalan mendekat saat Niko melambai, memintanya untuk mendekat.
"Sejak kapan Bian jatuh cinta sama tu cewek?" Niko berbisik setelah Ameena berdiri di sampingnya.
Ameena mengangkat wajahnya. "Gue nggak tau. Sudah beberapa hari terakhir ini, Kak Bian memintaku untuk menjaga dan mengawasi kelakuan Amara. Dia memintaku untuk mengirim informasi apapun itu jika itu menyangkut tentang Amara."
"Gila si Bian. Dia benar-benar berhasil merubah cewek itu menjadi cewek yang luar biasa. Ck.. tu cewek benar-benar terlihat cantik." Niko berkata sambil mengusap-usap jenggotnya yang hanya beberapa helai. "Gue kira dia cuman bercanda mau menembak wanita itu malam ini."
"Hah, masa sih, Kak?!" Ameena melotot mendengar ucapan Niko. "Kak Bian mau menembak Amara?!"
"Heh, kenapa ekspresi lho kayak gitu? Biasa aja kali, Mbak. Kalau lho galau nggak ada pasangan, sini merapat ke gue. Kebetulan gue juga lagi jomblo nih."
Ameena mengernyit seraya mundur perlahan. "Nggak.. nggak.." semakin menjauhkan posisinya dari pria itu. "Kita nggak sehati, Kak. Coba Kak Niko baik seperti Kak Bian. Sepertinya, gue akan mempertimbangkan ucapan Kak Niko. Iya.. walaupun muka Kak Niko nggak ada manis-manisnya. Yang ada kecut kayak lemon.." Bergidik ngeri seraya berlalu dari hadapan pria itu.
"Eh dasar.. muka friendly kayak gini malah dibilang kecut. Awas lho..!" Niko mengusap-usap wajah kecutnya. Meraba-raba pipinya yang selalu dia poles dengan skincare, agar terlihat kinclong. Eh, malah si Ameena mengatakannya kecut.
Ameena POV...
Aku mendelik kesal seraya menjauh dari Niko. Heh, muka kusam kayak gitu.. bisa-bisanya nembak gue. Kirain gue nggak laku apa. Gini-gini gue punya banyak mantan kok. Pacar gue yang sekarang aja sepuluh kali lebih tampan dari dia. Belum lagi si Niko itu sedikit berandal. Pas masih SMA dulu aja sering merokok di lingkungan Sekolah. Huh, hidup masih numpang di orang tua, tapi gayanya minta ampun.
Gini.. gini.. Ameena juga membutuhkan calon pasangan yang bisa membimbingnya menjadi manusia yang lebih baik. Kalau sama si Niko yang kecut sih, yang ada hidup gue malah ikutan kecut. Bukannya sombong, tapi gue maunya memperbaiki keturunan. Laki-laki seperti Niko itu bukan tipe gue sama sekali.
__________
Ameena kembali fokus pada Amara dan Bian yang terlihat seperti orang yang sedang syuting sinetron romantis. Sampai menghayal melihat senyuman manis Bian pada Amara. Menggeser kursinya ke tempat yang lebih dekat, agar bisa mendengar percakapan Amara dan Bian.
"Mara.."
__ADS_1
Amara mengangkat wajahnya perlahan. Dadanya masih terasa bergemuruh, bahkan detak jantungnya semakin tidak beraturan saat mendengar Bian menyebut namanya.
"Maaf kalau aku memaksa kamu. Tapi, sebulan tidak melihat mu membuatku membulatkan niatku." Bian menjeda ucapannya.
"M.. maksud Kak Bian?" Amara bertanya dengan ragu.
Bian tersenyum kecil. Menyeruput teh hangat kesukaannya untuk menenangkan pikirannya. Lama diam sambil memperhatikan Amara yang terlihat ingin menatapnya tetapi malu.
"Amara Andini.. aku menyukai semua yang ada padamu." Ucap Bian tanpa ragu.
Amara terkejut, tetapi ia berusaha mempertahankan ekspresi wajahnya. Segera ia raih jus stroberi di depannya. Meminumnya beberapa teguk lalu menarik nafas panjang sebelum mengangkat wajahnya. "Aku.. aku.."
"Aku tau kamu terkejut. Aku juga tidak mengira kalau perasaan ini akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Berawal dari kamu yang cari perhatianku dengan membuntuti ku sampai ke Kantor Kak Ardian."
"Ehehehe..." Amara tersenyum meringis. Mengingat hal itu membuat harga dirinya seperti di telan bumi.
"Aku bersyukur kamu melakukan itu. Karena.. kalau kamu tidak melakukannya, sepertinya aku tidak akan mengenal Amara Andini. Dan mungkin saja aku akan melabuhkan cintaku pada wanita yang salah." Bian menghela nafas berat. "Amara.."
"Eh, i.. iya, Kak." Amara tergagap, melirik Bian sekilas lalu kembali menunduk.
"Aku mencintaimu. Selama mengenalmu, kamu berhasil membuka mataku. Mengenalmu membuatku bisa membedakan mana wanita baik dan mana wanita yang pura-pura baik. Tidak selamanya yang terlihat buruk itu adalah buruk. Bisa jadi yang terlihat baik itulah yang lebih buruk."
Amara terdiam karena sedang berusaha mencerna ucapan Bian.
"Amara Andini.." Bian tersenyum melihat ekspresi Amara. Entah mengapa ia sangat menikmati ekspresi Amara yang seperti itu.
"I.. iya, Kak."
"Dengarkan aku!" Amara mengangguk patuh. Saat ini tenaganya seperti terkuras habis sehingga tidak bisa berkata selain kata 'iya, Kak' untuk menimpali ucapan Bian.
"Aku mencintaimu. Tapi, aku tidak ingin mengikatmu dengan sebuah hubungan yang dinamakan pacaran. Ke depannya, aku hanya ingin kita saling percaya, saling menjaga hati satu sama lain. Aku tidak mau terikat dengan hubungan. Tapi, percayalah, jika Allah mentakdirkan kita untuk bersama. Kamu akan menjadi takdirku. Tapi, jika Allah berkehendak lain, maka Allah memiliki beribu cara untuk itu."
__ADS_1
Tanpa disadari, Amara menitikkan air mata mendengar semua itu. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia mendapatkan pengakuan cinta dari seseorang. Sekalinya mendapatkan pengakuan, tetapi itu berasal dari pria incaran banyak wanita.
***********