Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Kecurigaan Bian


__ADS_3

Mutia memeluk hangat tubuh Amara. Hari ini, Amara pulang ke rumahnya. Dua hari yang lalu, ia resmi mendapatkan gelar profesinya. Senyuman manis tak pernah pudar dari bibir seksi gadis itu.


Setelah puas memeluk Amara, Mutia mengajak gadis itu duduk. Keadaan yang sedang hamil tua membuatnya tidak kuat terlalu lama berdiri.


Ameena ysng ikut pulang ke rumah Amara pun, menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Rasa capek karena mengemasi barang-barangnya di Kostan baru terasa saat ini. Gadis itu meneguk tandas sebotol teh kemasan yang diambilnya dari dalam kulkas di dapur Amara.


"Tante, kapan perut Tante mau meledak?" Tiba-tiba tangan Ameena mengusap-usap perut Mutia yang duduk di sebelahnya.


"Satu bulan lagi. Insya Allah, dadeknya akan keluar." Mutia ikut mengusap-usap perutnya. Senyum kebahagiaan terpancar jelas dari bibir wanita itu.


"Mama, kita jalan-jalan ya, sore ini." Amara ikut duduk di samping Mutia. Perasaannya pada Ibu tirinya ini jauh berbeda jika dibandingkan dengan perasaannya pada Bu Hanum dulu. Dengan Ibu Hanum, dia tidak pernah duduk sedekat ini. Wanita itu selalu menolak kehadirannya jika dia datang.


"Boleh, Sayang. Mama juga butuh jalan-jalan. Dari kemarin Papa kamu sibuk terus. Aku dan Carissa hanya berdua di rumah."


"Mara.. coba hadap sini.." Ameena tiba-tiba menarik paksa tubuh Amara agar menghadapnya. Mutia yang duduk di antara mereka hanya menautkan alisnya, menunggu apa yang akan dilakukan Ameena.


"Apa sih, Na. Lho ini pakai tarik-tarik segala." Amara langsung menepis tangan Ameena yang menarik paksa lengannya.


"Uih... name tag kita terlihat keren sekarang, Mara." Ameena menatap kagum nama tag yang menempel di saku seragam Amara.


"Namanya juga udah dapat gelar, Nak. Sekarang kalian tinggal cari kerja. Cari kerjaan itu di tempat yang dekat saja. Nggak usah pakai ngekos lagi. Mama nggak mau sendirian lagi."


"Hmm.. sejak penghuni rumah ini berganti, aku jadi nyaman di rumah ini. Mau nginap atau tinggal di rumah ini pun, aku akan betah banget." Ameena menatap Mutia sambil menaik-turunkan alisnya. Gadis itu masih malas pulang ke rumah dan memilih diam di rumah Amara beberapa waktu. Ia akan pulang kalau orang tuanya menghubunginya.


"Ah, kamu ini bisa saja, Nak." Mutia tersipu malu. Ucapan Ameena memang kenyataannya. Mutia selalu menyambut baik kedatangannya. Berbeda dengan Ibu Hanum dulu. Wanita bertubuh gemuk dan bermata tajam itu selalu cuek jika dia datang.


"Ini memang kenyataan, Tante. Kalau dulu, mana mau aku sampai duduk di sofa ini. Melihat tatapan Bu Hanum aja udah bikini eneg." Ameena menimpali sambil bergidik ngeri. Gadis itu membayangkan tatapan tidak bersahabat Ibu Hanum selama ini.


"Udah, nggak baik ngomong gitu. Ayo, kita makan dulu."


"Mm.." Amara mengangguk seraya mengulurkan tangannya, agar Mutia berpegangan padanya. Baru mereka akan beranjak ke ruang makan, pintu depan tiba-tiba diketuk.


Mereka bertiga saling bertatapan. "Na, bisa minta tolong bukakan pintunya." Amara menatap Ameena yang masih duduk santai.


"It's ok.." Ameena beranjak bangkit. Gadis itu berjalan cepat menuju pintu. Takutnya itu adalah Pak Arif yang pulang.

__ADS_1


"Eh," Ameena tergagap saat melihat siapa yang datang. "K.. Kak Bian..." Ameena mengerjap-ngerjapkan matanya bingung. Padahal pagi tadi pria itu mengunjungi mereka ke Kost. Apa mungkin secepat itu dia rindu lagi pada Amara.


"Rara mana?" Bian tidak memperdulikan ekspresi Ameena.


"Mm.. a.. ada di dalam, Kak. Kita mau makan bersama. Ayo, Kak Bian masuk dulu. Kita makan bersama."


Bian terdiam beberapa saat. "Mm.. kamu panggilkan Rara kemari sebentar. Aku sedang terburu-buru karena ada urusan penting."


"Oh... i.. iya, Kak." Ameena bergegas masuk kembali ke dalam rumah. Ia segera menghampiri Amara yang sedang membawa jus untuk Mutia ke atas meja.


"Tamunya siapa, Na?" Ia bertanya saat melihat Ameena menyusulnya ke ruang makan.


"Kak Bian, Mara. Lho di minta ke depan sekarang. Katanya ia terburu-buru karena ada urusan mendadak."


Amara menautkan alisnya. Namun, ia segera meletakkan jus yang dibawanya di hadapan Mutia, bergegas untuk menemui Bian yang sudah menunggunya di teras rumah.


"Kak Bian.."


Bian langsung menoleh. Pria itu langsung bangkit dan tersenyum lembut pada Amara. "Sayang.."


"Mm.." bukannya menjawab pertanyaan Amara, Bian malah tersenyum menatap name tag di saku seragam Amara. "Kuliah udah kelar, seragamnya masih malas diganti?"


"Hah, maksudnya?" Amara mengikuti arah tatapan Bian. Gadis itu mendengus saat menyadari kalau Bian sedang tersenyum menatap saku seragamnya. "Kan kita baru pindah dari Kost, Kak. Belum sempat ganti baju, tapi Mama mengajak makan tadi. Maklum, bumil katanya cepat lapar."


"Oh," Bian kembali menatap Amara. Melihat gadis itu memakai seragamnya membuatnya terlihat semakin cantik. "Ra, kamu semakin cantik dengan pakaian putih seperti ini."


Amara terdiam, tetapi matanya langsung menatap tajam pada Bian. "Hmm.. Kak Bian apaan sih? Katanya terburu-buru, kok malah sempat merayu." Melipat tangannya di dada sambil mengalihkan pandangannya. Menatap tajam pria itu beberapa detik membuat jantungnya berpacu cepat.


Bian ikut melipat tangannya di dada sambil menyandarkan tubuhnya. "Urusannya sedikit urgent. Tapi, Kak Daniel sudah membantuku." Bian menghela nafas berarti seraya menegakkan duduknya kembali. "Habis shalat zuhur tadi, Kakek menghubungiku. Aku diminta untuk kembali ke sana beberapa hari sebelum kita bertunangan."


Amara tersentak. Gadis itu hampir saja melupakan hari-hari penting yang akan dia lewati. "Mm.. Kak Bian pergi saja. Mungkin ada hal yang ingin disampaikan Kakek, yang tidak bisa beliau sampaikan lewat telepon." Jawabnya kemudian. Terlihat jelas raut wajah khawatir ketika pria itu mengatakan akan pergi.


"Huh," Bian mendengus. Hal itu membuat Amara keheranan. Tidak biasanya pria itu mengeluhkan perintah kakeknya. "Itu bukan satu-satunya alasan kakek, Ra. Yang jadi inti permasalahannya, Nenek hilang kabar dari beberapa hari yang lalu. Kata Kakek sih, dia bilang mau pergi liburan selama satu minggu. Kakek hanya khawatir karena panggilannya tidak pernah terjawab."


"Nenek ada di sini, Kak." Ucap Amara spontan. "Ups.." langsung menutup mulutnya karena menyadari kesalahannya.

__ADS_1


"Aku tau, Sayang. Aku sudah meminta orang untuk mencari tau keberadaannya." Bian menjawab dengan ekspresi datar. Namun, pria itu langsung merubah tatapannya. "Loh..." menatap Amara dengan curiga.


"A.. ada apa, Kak?" Amara menelan ludahnya melihat tatapan Bian.


"Darimana kamu tau kalau Nenek ada di sekitar sini?" Mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di atas meja. Matanya masih menatap tajam Amara.


"Mm.. anu.. aku pernah melihatnya." Jawab Amara ragu. Menatap ke lain arah karena khawatir Bian semakin curiga.


"Apa Nenek mendatangimu?" Bian tidak perduli dengan ekspresi Amara. Yang dia inginkan hanya kejujuran wanita itu saat ini.


Amara menarik nafas dalam. Mengingat wanita tua itu pasti membuatnya ingin mewek. "Ng ... nggak. Kenapa malah bertanya begitu?" Memberanikan diri menatap Bian.


"Nenek itu..." Bian menghentikan ucapannya. Menatap Amara yang masih menunggu kelanjutan ucapannya. "Jawab pertanyaan aku, Ra. Apa Nenek mendatangimu?" Diam menatap Amara. "Atau mungkin mengatakan sesuatu padamu?"


"Kak.."


"Jawab pertanyaanku, Ra. Kamu tinggal bilang iya atau tidak."


Amara menunduk menyesali ucapannya yang keluar tadi. Jika saja dia pura-pura tidak tau, Bian tidak akan curiga. "Aku.. aku.. nggak mau mengatakan apapun."


"Jangan sembunyikan apapun, Sayang. Aku menyesal meninggalkan kamu tanpa ada yang menjaga kemarin. Aku lupa kalau Nenek itu orangnya suka berbuat semaunya." Tatapan Bian berubah sendu. Ternyata, pria itu mendatangi Amara karena khawatir saat mengetahui neneknya ada di sekitar mereka. Wanita itu tidak akan datang jika tidak ada yang diinginkannya. Apalagi selama di sini, Bu Fatimah tidak pernah datang ke rumahnya ataupun ke rumah kakaknya.


"Ra.. bilang sama aku, apa Nenek datang mengusik mu?"


Amara menelan ludahnya. Untuk mengatakan hal itu sangat berat ia lakukan. Dia tidak mau hubungan Bian dan neneknya semakin renggang karena dia mengatakan hal ini.


"Sayang ... katakan, aku tidak akan mengatakan apa pun pada Nenek." Bian masih menatap Amara dengan penuh harap.


"T.. tidak, Kak."


"Mata kamu tidak mengatakan tidak, Ra. Tatapan mata kamu tidak bisa berbohong." Bian menghela nafas berat. "Kalau kamu tidak mau mengatakan apapun, aku akan bertanya pada Ameena. Dia tidak pernah menyembunyikan apapun dariku."


Amara menelan ludahnya dengan susah payah. Jika Ameena sudah ikut andil, maka semuanya akan terbongkar.


*********

__ADS_1


__ADS_2