Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Semua Bisa diperbaiki Selama Mau Belajar


__ADS_3

"Tentang Bian."


Amara langsung fokus menatap Chayra. "A.. ada apa dengan Kak Bian, Kak?"


"Mm.. apa dia sudah menghubungimu sejak kepergiannya?"


Amara menggeleng pelan. Rasa khawatir langsung merayap memenuhi pikirannya. "Kak Bian belum ada kabar, Kak."


"Oh," Chayra menahan senyum sambil mengalihkan pandangannya. Melihat kekhawatiran Amara membuatnya ingin tertawa. Bagaimana mungkin Bian akan mengabarinya, sedangkan suaminya saja belum mengirimkan pesan sampai sekarang. "Kenapa kamu terlihat khawatir begitu?" Bertanya sambil menahan senyum.


"Kak, ini adalah pengalaman pertama Kak Bian naik pesawat. Bagaimana kalau terjadi sesuatu sama dia." Amara menatap Chayra.


"Semua akan baik-baik saja. Mereka masih dalam perjalanan, makanya belum mengirim kabar." Menyentuh paha Amara untuk menenangkannya.


********


Hari demi hari terus berlalu. Nanti malam adalah malam terakhir Amara di Pesantren. Empat hari di tempat itu, Amara bisa bergaul dengan baik dengan orang-orang di Pesantren. Humaira bahkan mengakui kalau bersama Amara membuatnya selalu happy. Amara selalu bisa membuatnya tertawa.


Pagi itu...


Amara sedang ngobrol santai dengan Bu Santi. Mereka baru saja selesai membereskan koper yang akan mereka bawa pulang besok.


"Nak, bagiamana perasaan kamu selama ada di sini? Apakah semuanya baik atau bagaimana?" Bu Santi menyentuh paha Amara yang duduk di sampingnya.


Amara tersenyum lembut sambil menatap Bu Santi. "Alhamdulilah, semuanya baik sama Mara, Bu. Tapi, Mara cuman sempat tegang pas di tes baca Al-Qur'an kemarin."


"Ummi Ainun bilang apa kemarin?" Bu Santi menatap Amara sambil menahan senyum. Bu Ainun sempat cerita kepadanya tentang ketegangan Amara. Bu Ainun mengetes bacaan Amara saat malam kedua Amara di Pesantren.


"Mm.." Amara memanyunkan bibirnya. "Ummi bilang, bacaan Mara baik tapi belum bagus. Masih perlu dibimbing dan diasah biar lebih baik, kalau perlu sampai mencapai kata sangat baik."


Bu Santi mengusap-usap kepala Amara dengan lembut. "Itu berarti, Amara perlu belajar lebih giat lagi. Kalau ada yang sekiranya tidak dipahami, Mara bisa tanya Ibu. Insya Allah, Ibu akan bantu jelaskan sampai Mara paham."


Amara langsung tersenyum sumringah. "Ibu memang yang terbaik dan paling pengertian. Nanti kalau ada waktu senggang, Mara akan sering ke rumah Ibu untuk belajar. Lagian, kalau Kak Bian sudah di Singapura nanti, Ibu pasti kesepian."


"Terimakasih sudah perduli sama Ibu, Nak." Menarik Amara ke dalam pelukannya. Bu Santi benar-benar nyaman memeluk Amara. Dia merasa Amara sangat baik dan pasti tulus pada putranya. "Ibu mau bantu Ummi di belakang sebentar, Mara mau ikut nggak?" Ucapnya lagi setelah melepaskan pelukannya.


"Mm.. Mara ikut, Bu."


"Ayo..."

__ADS_1


Sampai di dapur, ternyata Bu Ainun sedang duduk mengawasi pekerjaan empat orang Asisten yang sedang membuat jajanan kering.


"Eh, kamu datang, Dek. Mbak sedang mempersiapkan untuk acara makan malam nanti." Bu Ainun mempersilahkan Bu Santi dan Amara untuk duduk.


"Acara makan malam apa?" Amara memberanikan diri untuk bertanya, karena para Asisten itu terlihat lebih sibuk dari biasanya.


"Hanya makan malam keluarga, Nak. Sama seperti waktu kamu datang kemarin. Cuman, malam ini Abi dan Ummi juga mau datang. Alhamdulillah, Abi sudah dinyatakan sembuh. Dan beliau akan ikut berkumpul sama kita nanti malam."


"Alhamdulillah.." Amara dan Bu Santi berucap serentak.


Bu Ainun tersenyum kecil pada Amara. Awalnya, wanita itu terkejut saat mendengar bacaan Al-Qur'an Amara yang masih berantakan. Dia sampai protes ke Pak Akmal dan juga suaminya akan hal itu.


Flashback on...


Malam itu, Humaira sudah mengajak Amara untuk jalan-jalan di pinggir kolam sambil menikmati cilok yang di jual di kantin Santri. Namun, Bu Ainun meminta putrinya untuk kembali dan mengajak Amara masuk.


"Mayra, kamu masuklah, Sayang. Ummi ingin membicarakan sesuatu pada Amara."


"Harus sekarang ya, Ummi?" Humaira mencoba melakukan negosiasi. Padahal, dia dan Amara sengaja makan malam dengan porsi yang sangat sedikit agar bisa jajan lagi usai makan.


"Iya, harus sekarang. Amara tidak akan lama di sini. Jika dia mau tinggal sebulan, Ummi bisa menundanya. Tapi, dia hanya empat malam disini. Sekarang adalah malam kedua. Kalau Ummi nunda lagi, Ummi takut kalian tidak bisa menikmati waktu bersama."


Humaira membuang nafas dengan kasar. "Ih, Ummi nyebelin deh.." memanyunkan bibirnya kesal. "Iya udah, mau bagaimana lagi. Ini, Rara aku serahkan pada Ummi. Tapi, Ummi jangan pernah berniat untuk menyakitinya. Rara adalah teman baik Mayra sekarang."


"Hehehe... ya udah, "Assalamu'alaikum.." Humaira berlalu meninggalkan Amara bersama Umminya.


"Duduk sini, Nak." Bu Ainun menepuk sofa di sebelahnya. Amara mengangguk seraya tersenyum kaku. "Hmm ... Ummi lihat, Amara rajin baca Al-Qur'an usai shalat berjamaah. Tapi, Amara selalu membaca dengan suara sir. Tidak pernah sekalipun Ummi mendengar bacaan Amara."


Amara terkejut mendengar pertanyaan itu. "Ehehehe... Mara ... Mara malu, Ummi. Bacaan Mara masih berantakan. Mara masih belajar." Ucapnya seraya menatap Bu Ainun dengan kaku.


"Oh, bagus kalau begitu, Nak. Semakin banyak belajar, itu akan semakin baik. Ayo, kita ke Musholla sekarang. Ummi ingin mendengar Mara membaca kitab suci Al-Qur'an."


Amara langsung menelan ludahnya. Jantungnya berdetak sangat kencang saat Bu Ainun menggandengnya ke Musholla.


"Ambil air wudhu dulu, Nak." Bu Ainun langsung memerintah begitu sampai di Musholla. Sedangkan dia sendiri langsung duduk karena masih menjaga wudhu.


"Mm.. insya Allah, Amara masih memelihara wudhu, Ummi."


Senyuman lega langsung memancar dari wajah Bu Ainun. "Alhamdullah kalau begitu. Ayo, duduk di sini, di samping Ummi."

__ADS_1


"I.. iya, Ummi." Amara mengucap basmalah dalam hatinya. Ia mulai membaca kitab suci Al-Qur'an pada halaman yang sudah ditentukan Bu Ainun.


"Hmm.. bacaan kamu tidak terlalu buruk, Nak." Bu Ainun langsung memberikan penilaian begitu Amara selesai membaca. "Baik, tapi akan lebih baik lagi, kalau kamu terus belajar dan mengoreksi yang masih kurang pada bacaan kamu."


"I.. insya Allah, Ummi."


"Sekarang kamu boleh kembali. Cari Mayra ke kamarnya, nanti dia ngambek sama Ummi kalau kamu tidak mencarinya.


"Mm.." Amara mengangguk patuh seraya bangkit.


Bu Ainun menghela nafas berat setelah kepergian Amara. Tidak menyangka kalau gadis itu tidak pandai membaca Al-Qur'an. Entah apa yang menarik darinya sehingga Bian sampai jatuh cinta padanya. Ia beranjak bangkit untuk kembali ke kamarnya. Ia harus memberitahukan hal ini pada suaminya untuk minta pendapatnya.


Sampai di ruang kerja Pak Ismail, Bu Ainun mendapati suaminya sedang sibuk di depan komputer. Pemandangan itu sudah biasa ia jumpai jika suaminya itu mengurung diri di ruang kerja.


Pak Ismail tersenyum saat melihat kedatangan istrinya. Tetapi dia hanya melirik lalu kembali fokus pada komputernya.


"Abah, Ummi mau ngomong sesuatu sama Abah." Bu Ainun langsung bicara. Wanita itu berdiri di belakang suaminya dengan tangannya bertengger di atas pundak suaminya.


"Mau ngomong apa, Ummi? Nanti dulu, Sayang. Abah mau menyelesaikan pekerjaan ini. Ummi tunggu saja di kamar."


"Hmm.." Bu Ainun menghela nafas berat. "Abah ini, kalau sudah fokus bekerja pasti seperti ini." Beranja meninggalkan suaminya.


Setengah jam menunggu, Pak Ismail akhirnya datang menemui istrinya. Pria itu menutup pintu lalu menguncinya dengan perlahan. Mendekati istrinya lalu duduk di sampingnya. "Ummi mau ngomong apa?" Bertanya sambil menggenggam tangan sang istri.


"Ummi mau membicarakan masalah Amara." Menatap suaminya dengan serius.


Pak Ismail memperbaiki posisi duduknya. "Ada apa dengan Amara? Sejauh yang Abah lihat, gadis itu baik dan sopan."


"Bukan itu masalahnya, Abah." Bu Ainun kembali menunduk.


"Ummi bicara saja. Abah akan mendengarkan masalahnya."


Bu Ainun menarik nafas dalam. "Amara tidak fasih membaca Al-Qur'an."


Pak Ismail diam beberapa saat. "Terus masalahnya untuk Ummi apa?" Beralih menatap istrinya. "Yang akan menjalani kehidupan dengan dia itu Bian. Kamu tau kan, anakmu yang satu itu. Sifatnya itu sama persis dengan Almarhum. Dia pasti akan membimbing Amara nantinya. Lagian menurut Abah, itu tidak akan menjadi masalah ke depannya. Selama Amara masih mau belajar, semua bisa diperbaiki. Kamu jangan ikut-ikutan fanatik seperti Ummi. Kamu akan merasa berat menjalani hidup jika kamu seperti itu."


Bu Ainun menarik nafas dalam lalu menghembuskannya dengan kasar. "Maafkan Ummi, Abah. Iya.. Amara memang baik kok. Cuman itu kekurangannya, dia belum pandai membaca Al-Qur'an."


"Alhamdulilah kalau Ummi sudah sadar." Pak Ismail mengacak-ngacak rambut istrinya.

__ADS_1


Flashback off...


********


__ADS_2