
Chayra menahan tangan Amara yang sudah bangkit dan bersiap keluar dari Musholla. "Kamu mau kemana, Rara..." Mengisyaratkan pada Amara agar duduk kembali. "Jangan karena Bian sudah pergi, kamu juga mau keluar.
Amara tersenyum meringis, seakan-akan mengerti maksud tatapan Chayra. "Mm.. aku ceritanya di luar saja ya, Kak. Kan ini tempat shalat. Kayak berasa nggak enak gitu, kalau mau membicarakan itu di tempat ini."
"Baguslah kalau kamu sadar. Kakak cuman mau ngetes kamu saja." Chayra melepaskan tangan Amara. Wanita itu mengambil kitab suci Al-Qur'an yang tersimpan rapi di sebuah lemari kecil di pojok ruangan. "Biasakan diri membaca Al-Qur'an setelah shalat, Dek. Tidak perlu banyak banyak. Sedikit demi sedikit tapi rutin itu lebih baik. Orang yang sering membaca Al-Qur'an bacaannya pasti terdengar berbeda dengan orang yang membacanya hanya sesekali."
Amara tersenyum samar. Gadis itu tidak menimpali ucapan Chayra. Sejak diasingkan ke Singapura, dirinya sangat jarang membaca kitab suci itu. Dia diam mendengarkan bacaan Chayra yang terdengar sangat merdu di telinganya.
Chayra menutup kitab suci Al-Qur'an setelah membacanya beberapa ayat. Meletakkan kembali kitab suci itu di tempatnya semula, lalu duduk kembali di samping Amara. "Kakak tau kamu sibuk selama di luar negeri. Tapi, sekarang kamu sudah di sini. Waktunya memperbaiki semuanya." Tersenyum lembut pada Amara.
"I.. iya, Kak. Maafkan aku karena kurang memperhatikan hal itu selama di luar negeri."
"Beban pikiran Kamu pasti banyak selama di sana, Dek. Kakak tau, kamu pasti terpuruk untuk beberapa waktu. Berada di tempat asing tanpa orang tua atau saudara. Hah, Kakak tidak bisa membayangkan kondisi kamu di awal-awal di tempat itu." Chayra duduk lebih dekat pada Amara. Memperhatikan wajah Amara dengan seksama. "Kamu terlihat lelah, Dek. Apa kamu kurang istirahat?" Mengusap pelan pipi Amara. Ada sedikit lingkaran hitam di mata Amara. Tapi, lingkaran itu masih samar, sehingga tidak terlihat jika tidak diperhatikan dari jarak yang dekat.
Amara menundukkan pandangannya. "Sudah beberapa hari ini, aku tidak bisa tidur dengan baik, Kak. Aku sering merasakan cemas berlebihan saat waktu istirahat sudah tiba."
Chayra menautkan alisnya. "Memangnya apa yang menjadi beban pikiran kamu akhir-akhir ini?" Kembali mengusap pipi Amara karena wajah gadis itu juga terlihat pucat.
Amara menggeleng. "Aku juga nggak tau, Kak. Aku tidak merasa memikirkan apapun. Tapi, rasa cemas itu selalu datang ketika aku akan tidur."
"Mm... apa kamu pernah mencoba konsultasi pada Dokter?"
Amara kembali menggeleng. "Belum sempat, Kak. Aku kan baru kembali dari Singapura. Pulang ke rumah saja belum."
"Hmm... maafkan keluarga Kakak yang sedikit egois, Dek. Bukannya kami tidak mengerti perasaan kamu yang rindu dengan keluarga. Tapi, kami sangat khawatir dengan Kakek."
"Nggak apa-apa, Kak." Amara tersenyum lebar. "Udah ah, Kak. Nggak usah sedih-sedihan lagi. Aku juga ingin tertawa. Capek... udah setahun ini aku kebanyakan nangis."
Chayra tersenyum sambil mengusap-usap wajah Amara. "Maaf ya, Dek. Mm.. kita ke taman, yuk!"
Amara menatap Chayra dengan heran. "Untuk apa ke taman?"
__ADS_1
"Aku penasaran dengan persiapan pernikahan kalian. Taman belakang rumah sudah di persiapkan sejak tiga hari yang lalu. Kayaknya persiapannya sudah mencapai sembilan puluh lima persen."
Amara terdiam. Dia kira, pernikahannya dengan Bian akan dilaksanakan dengan ala kadarnya. Mengingat keadaan Pak Akmal yang tidak baik-baik saja saat ini.
"Maaf ya, Dek. Kemarin waktu fitting baju pengantin, Kakak yang menggantikan kamu. Tubuh kita ukurannya nggak jauh beda kan?"
"Eheheh.. ng... nggak apa-apa, Kak."
"Hmm.. seharusnya kamu sendiri yang melewati semua prosesnya. Tapi.. iya.. mau bagaimana lagi."
Amara tersenyum lemah. Dia tidak mungkin mempermasalahkan hal itu. Walaupun sebenarnya dia juga ingin melewati semua proses, agar bisa menikmati momennya.
********
Bian memegang sebuah tongkat panjang dan bergegas menghampiri Amara yang sedang duduk bersama Chayra dan kedua putri Pak Ismail. Berniat membawa tongkat itu agar Amara bisa berpegangan padanya saat mereka jalan bersama. Gerak-geriknya selalu di awasi jika ada Chayra. Kakaknya itu terlalu teliti dalam segala hal.
"Kak, Ayra, Kak Mayra, Dek Rina.. aku mau pinjam Amaranya ya, sebentar. Aku mau ngomongin sesuatu dengannya." Memukul-mukul pelan tongkat itu di telapak tangannya.
Humaira langsung bangkit dan menepis punggung Bian. "Kamu ini, Bi. Kami baru saja beberapa menit bicara dengan Amara, kamu sudah mau mengambilnya. Bagaimana kalau sudah halal nanti."
"Aku ikut. Aku tau apa yang mau kamu bicarakan." Chayra langsung menimpali.
Bian melengos mendengar ucapan kakaknya. "Ini masalah pribadi aku dan Rara, Kak."
"Aku ikut.." tetap bersikeras.
"Tapi kami juga mau ngomong dengan Ibu." Bian mencoba menghentikan kakaknya.
"Justru karena ada Ibu, saudaranya juga harus ikut dong, biar personilnya lengkap."
Bian menghela nafas berat seraya mengusap wajahnya dengan kasar. "Terserah Kak Ayra kalau begitu." Bian mengisyaratkan pada Amara agar ikut dengannya. "Ayo, Ra." Mengulurkan tangan kanannya pada gadis itu. Sementara tangan kirinya memegang tongkat.
__ADS_1
"Eh, ngapain mengulurkan tangan kayak gitu? Kamu mau gandengan sama Amara?!" Chayra melotot seraya meraih tangan Amara lalu menggenggamnya dengan erat. "Biar Kakak yang menggandengnya."
Sepersekian detik Bian dism menatap kakaknya, ia berdecak kesal setelah sadar. "Ck! terserah Kak Ayra. Huh, Kak Ayra menyebalkan sekali deh dari tadi. Kalau bukan kakak aku, udah aku lempar Kak Ayra keluar biar nggak ganggu aku terus."
Chayra tersenyum sinis. "Dasar kamu, diajarin yang benar juga."
"Sepertinya Bian cuma mau latihan, Kak. Kalau tidak latihan, takutnya gugup pas sudah halal nanti." Mayra menimpali sambil menahan senyum.
"Latihan dari Hongkong. Nggak ada ceritanya orang yang sudah halal tidak berani menyentuh istrinya. Kita pergi sekarang. Ibu pasti sudah menunggu."
Bian memutar bola matanya kesal, berjalan mengekor di belakang Chayra dan Amara. Kakaknya terlalu cerewet sehingga semua dibatasi. Padahal dia tidak berniat untuk menggandeng Amara. Dia hanya ingin Amara berjalan berdampingan dengannya.
Melihat kecerewetan kakaknya lama-lama membuatnya tersenyum sendiri. Pantas saja Ardian bisa berubah seratus delapan puluh derajat. Sekali dipelototin kakaknya, pasti membuat Ardian mengeluarkan keringat dingin.
"Lewat sini, Dek." Chayra menarik tangan Amara mengikutinya melewati lorong sempit. "Ibu sudah menunggu kita," sambungnya.
"Rumah ini penuh dengan liku-liku, Kak. Aku sedang berusaha mengingat jalan yang sudah kita lewati." Ucap Amara. Beberapa kali berbelok membuatnya bingung. Rumah ini luasnya tidak main-main.
"Kakak tidak akan membiarkan kamu tersesat. Ayo, percepat langkahmu. Kita harus menuju sidang isbat." Timpal Chayra sambil terus berjalan.
Mendengar kata sidang membuat Amara menghentikan langkahnya. "S.. sidang isbat, maksud Kak Ayra?"
"Eh, kenapa berhenti, Dek?"
"Apa aku yang akan di sidang? Tapi salahku apa?" Menatap Chayra dengan bingung.
"Bukan kamu yang akan di sidang. Tapi, kita akan menghadiri sidang isbat untuk menentukan jumlah mahar kamu besok."
Amara mengernyit. Ia akhirnya pasrah saat Chayra menarik tangannya untuk melanjutkan menuju ruang sidang yang di maksud Chayra.
Sementara itu, Bian yang setia mengekor di belakang dua wanita itu hanya bisa menggeleng-geleng pelan mendengar istilah yang dibuat kakaknya.
__ADS_1
Sidang isbat mah, untuk penentuan satu Ramadhan atau satu Syawal, Kak Ayra... bukan penentuan jumlah mahar. Batin Bian sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
*********