Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Sarapan Sehat Ala Bian


__ADS_3

"Seharusnya malam ini akan menjadi malam yang berkesan untuk kita berdua." Ucap Bian menggenggam erat setir sambil mengeratkan giginya.


"Mas, aku baik-baik saja." Amara berusaha menenangkan suaminya yang terlihat menahan kesal. "Kok kamu jadi sensitif gini sih. Aku beneran nggak mempermasalahkan hal tadi. Lagian itu juga suatu kebetulan kan. Bukan kita yang mengundangnya untuk mendatangi kita."


"Tapi, Ra.." Bian menatap Amara seraya menghela nafas berat. "Selera makan kamu langsung rusak begitu wanita itu datang tadi. Tapi, sudahlah.." kembali mengusap wajahnya dengan kasar. "Kamu benar, Sayang. Untuk apa memikirkan kelakuannya. Toh yang dapat dosa dia. Yang mengganggu kan dia, bukan kita."


"Nah, gitu dong, Mas. Yang ini baru suami aku."


"Lah, maksudnya? Memangnya dari tadi itu aku..."


Amara melengos. "Maksud aku ... yang ini baru Mas Biannya Amara. Tidak suka menyimpan dendam dan mudah memaafkan."


"Tunggu.. aku belum memaafkan dia. Enak saja, udah enak-enak ganggu moment orang. Terus aku harus berbaik hati memaafkannya tanpa dia harus minta maaf." Menatap istrinya dengan tajam. "Hari ini aku membiarkan dia lolos, bukan berarti dia akan bebas suatu hari nanti. Sabar juga ada batasnya, Sayang."


Amara menatap dalam mata suaminya. Dari tatapan matanya, terlihat jelas kalau suaminya itu berkata sungguh-sungguh. "Mudah-mudahan ini adalah yang terakhir, Mas. Aku berharap, ke depannya kita semua bisa berdamai dan menjalani hidup masing-masing."


"Aamiin.." tersenyum lembut pada istrinya. "Kamu mau ke mana lagi, Sayang?"


"Nggak tau, Mas. Bingung juga mau kemana. Tapi.. aku nggak mau pulang dulu. Seperti yang kamu katakan tadi, waktu seperti ini adalah waktu emas untuk kita berdua. Waktu ini sangat mahal dan berharga."


Bian kembali tersenyum. Tangannya mengacak-acak jilbab istrinya. Hal itu membuat Amara langsung melayangkan tatapan tajam untuknya. "Jangan suka iseng deh, Mas. Jilbab aku berantakan nih." Membuka peniti hijabnya sambil bersungut-sungut kesal. Suaminya itu senang sekali merusak tatanan hijabnya.


"Jangan ngambek, kita kan mau jalan-jalan." Mencubit gemas pipi Amara.


"Maunya gitu, Mas. Tapi aku kesel karena tangan kamu itu nggak bisa diam. Aku jadi harus perbaiki hijab lagi kan, karena ulah kamu."


"Ada saatnya kita akan merindukan moment seperti ini." Menatap istrinya sambil tersenyum kecil padanya. Suatu hari nanti.."


Amara meletakkan peniti hijabnya. "Heh, iya ya..." ikut tersenyum kecil. "Mungkin kita akan merindukan masa-masa ini saat kita sudah tua nanti, Mas."


"Mm.." melirik istrinya. "Ayo makanya buruan. Kamu itu orangnya tidak banyak menuntut. Kamu terlihat cukup bahagia dengan hal-hal sederhana."


"Ngapain juga mau yang muluk-muluk kalau ujung-ujungnya kamu kesusahan dan tidak bisa memenuhi keinginan itu." Amara memperbaiki posisi duduknya setelah merasa jilbabnya sudah rapi. "Hah, ayo kita mau kemana lagi sekarang." Menatap suaminya dengan penuh percaya diri.


"Kemana pun Tuan Putri berkehendak. Baginda raja siap mengantarkan."


"Ish, apaan sih..?!" Mengalihkan pandangannya keluar jendela untuk menyembunyikan ekspresi wajahnya.


**********


"Ra, bangun.." Bian mencoel pipi istrinya yang tidak ada pergerakan walaupun dia sudah berulang kali membangunkannya. "Sudah jam setengah empat, Sayang. Kamu nggak mau tahajud hmm..."

__ADS_1


"Masih ngantuk, Mas. Sepuluh menit lagi ya, please.." jawab Amara tanpa membuka mata. Dia malah semakin mempererat selimut yang membalut tubuhnya.


"Oke," Bian masuk ke dalam selimut untuk mengganggu istrinya. Kalau sudah seperti ini, yang ada Amara akan kelewatan dan terbangun saat azan subuh. Kejadian itu sudah sering terulang dan Amara akan menyalahkannya karena ikut tertidur.


"Kalau kamu mau menunda sampai sepuluh menit, aku boleh dong minta jatah." Mulai meraba ke tempat tersembunyi agar istrinya cepat membuka mata.


Amara menggeliat pelan. Memindahkan tangan suaminya yang nakal meraba kemana-mana. "Mas, aku kan bilangnya mau bangun sepuluh menit lagi, biar bangun sekalian sampai subuh nanti. Aaah, kamu menyebalkan deh." Mengucek-ngucek matanya untuk mengusir kantuk yang masih mendera.


"Eh, aku kan cuman minta jatah, Sayang. Iya.. sepuluh menit lumayan lah, lebih dari cukup untuk sekedar pemanasan." Kembali menggerakkan tangannya. Kali ini, meraba perut istrinya yang sudah semakin tampak.


Deg..!


Bian tertegun saat merasakan ada sesuatu yang bergerak di perut istrinya. "Ra, anak kita gerak, Sayang."


"Hmm... kamu bilang apa, Mas?" Ikut meletakkan tangannya di perutnya seperti yang di lakukan Bian. Tapi tidak ada pergerakan seperti yang dirasakan suaminya. "Nggak ada, Mas."


"Aku beneran merasakan pergerakannya tadi, Sayang."


"Hmm.. sepertinya aku terlalu ngantuk sehingga tidak menyadari itu. Aku cuman merasa perutku sering tegang di bagian tertentu akhir-akhir ini."


"Sepertinya kita harus segera ke dokter untuk menanyakan hal ini."


Bian mengernyit. "Loh, kok malah tidur lagi, Ra. Kamu beneran nggak mau tahajud? Kalau kamu beneran nggak mau, aku minta jatah ni."


"Mas, dingin... mandi pagi-pagi."


"Makanya ayo bangun shalat, Sayang. Wanita hamil nggak boleh malas."


"Huh, kamu mrnyebalkan deh, Mas." Mengerjap-ngerjapkan matanya untuk mengusir kantuk yang masih menyerangnya. Mengumpulkan kembali nyawanya yang masih berceceran di mana-mana. "Ini aku udah bangun. Janji ya, Mas. Kamu nggak bakalan minta jatah."


Bian menahan senyum mendengar ucapan istrinya. "Kok kamu jadi aneh gini sih, Sayang. Kalau kamu shalat, bagaimana aku akan minta jatah. Berbeda ceritanya kalau kamu memilih untuk tidur. Aku akan kesulitan menahan diri untuk tidak menyentuhmu."


"Iya.. iya.. ini aku bangun." Menyingkap selimutnya dengan malas. Menatap suaminya beberapa saat sebelum akhirnya bangkit untuk mengambil air wudhu.


Bian POV...


Aku hanya tertawa kecil setelah Rara masuk ke kamar mandi. Hah, mengganggunya istirahat seperti ini membuat kesan tersendiri bagiku. Wanita sederhanaku ini..


Ah, menyebutnya sebagai wanita sederhana membuatku teringat dengan kejadian semalam di restoran seafood. Dimana dia terlihat begitu santai dan terkesan tidak perduli dengan omongan Khanza.


Iya, aku akui Rara sangat pandai menjaga perasaannya sendiri. Sifat wanita yang seperti dirinya sepertinya sudah mulai langka di sekitarku. Wanitaku ini penuh dengan kejutan. Dia tidak tidak pernah menginginkan hal-hal mewah seperti wanita pada umumnya. Tidak pernah meminta emas permata sebagai bukti cinta. Aku membawanya makan malam ke restoran seafood saja, dia sudah sangat bahagia.

__ADS_1


Wanitaku ini sedikit aneh. Ia berbeda dengan wanita pada umumnya yang lebih senang memakai barang mewah sebagai aksesoris di tubuhnya. Raraku berbeda, dia tidak suka hal itu. Cincin pernikahan pun ingin dilepasnya andaikan aku tidak melarangnya melakukan itu. Hanya anting kecil yang setia menghiasi telinganya. Itu pun aku bersusah payah memintanya melakukan itu. Intinya, dia tidak suka menunjukkan kemewahan.


"Mas, aku shalat dulu ya.."


Aku sedikit terkejut saat melihatnya sudah berdiri di atas sajadah. Aku sampai tidak menyadari kapan dia keluar karena keasyikan menghayal tentangnya.


Rasa kantuk mulai menyerangku saat aku tidak ada aktivitas selain memperhatikannya shalat. Hmm.. mudah-mudahan Allah selalu menjaga hubungan baik ini sampai maut datang.


Rara, aku mencintaimu dengan seluruh hidupku.


__________


Bian benar-benar terlelap setelah lelah menghayal. Tidur menggunakan sarung dan baju koko yang dipakainya shalat tadi. Niat hati ingin mengganggu istrinya. Dia sendiri yang ketiduran karena tergoda hangatnya selimut tebal dan kasur yang empuk.


Amara hanya tersenyum kecil saat menyadari suaminya tidur lagi. Wanita itu meraih kitab suci Al Qur'an dan membacanya perlahan lembar demi lembar sampai masuk waktu subuh.


Amara membangunkan suaminya terlebih dahulu karena Bian makan shalat subuh ke Masjid.


Sekembalinya dari Masjid...


Bian menatap istrinya dengan heran. "Loh, Ra.. kamu kok pakai pakaian santai seperti ini. Ini masih sangat pagi loh."


"Hmm.." Amara berbalik menatap suaminya. "Aku mau jalan-jalan pagi, Mas. Udah dua hari aku nggak jalan-jalan. Otot aku jari kaku karena kurang gerak."


"Mm.. tapi aku lapar, Sayang." Berjalan mendekati istrinya seraya memeluk tubuhnya dari belakang. "Suami kamu udah dua hari nggak dikasih makan." Berbisik lembut di telinga istrinya.


"Mas.."


"Aku benar-benar mau sarapan pakai itu pagi ini."


"Mas..."


"Tadi juga adek bayinya kasih kode ke aku. Dia nendang tangan aku karena marah. Papanya udah dua hari nggak menengok keadaannya. Sudah rindu berat katanya." Ucapnya lagi. Masih terus memberikan alasan yang tak logis demi mendapat jatah sarapan pagi yang menyehatkan tubuh dan pikiran.


Amara mendengus. "Mana ada kayak gitu, Mas. Adek bayinya nendang, karena memang sudah waktunya. Kamunya aja yang nggak tahan libur lama-lama. Bagaimana kalau aku lahiran nanti. Apa kamu kuat puasa empat bulan.


Bian langsung melotot. "Kata siapa puasanya sampai empat bulan. Masa nifas itu paling lama enam puluh hari atau dua bulan, Ra. Kamu ini jangan ngarang ah. Siapa juga yang bakalan nifas sampai empat bulan."


"Terserah kamu, Mas. Tapi, aku tidak akan memberikan kamu jatah sebelum anak kita berumur empat bulan nanti. Aku tidak akan berani buka-bukaan terlalu cepat."


"Itu bisa di pikirkan belakangan. Yang terpenting pagi ini aku mau sarapan sehat dsn bergizi." Mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke atas ranjang.

__ADS_1


__ADS_2