
Kanaya bergegas untuk pulang kerumah saat mendapatkan telepon dari adiknya, Galang. Ketika Galang mengarang cerita mengenai pertengkaran ibu dan ayahnya beberapa hari ini. Sebenarnya ia hanya mencari alasan untuk menjelaskan menyuruh kakaknya untuk pulang. Kanaya yang mudah terpengaruh langsung mempercayai adiknya. Akibatnya, Galang terpaksa semakin mengada-ngada untuk mempengaruhi kakaknya.
Itulah repotnya kalau kita sudah mulai berbohong. Kita harus terus menambahkan bumbu penyedap supaya orang lain mau percaya. Dan dalam waktu singkat, Kanayapun segera pulang kerumah.
Baru sampai dirumah, ia langsung mendapati keadaan rumahnya berantakan seperti kapal pecah. Ia menemukan banyak sekali surat tagihan di atas meja. Salah satunya surat yang menyebutkan bahwa barang-barangnya akan disita bila Ayas, Ayah Kanaya tak segera melunasi hutang-hutangnya. Hal itu membuat Kanaya jadi panik. Ditambah lagi dengan keadaan rumahpun tampak sepi. Tak seorangpun tanda-tanda yang ada dirumah.
Namun, ketika menyusuri seluruh penjuru rumah, akhirnya ia menemui ibunya di halaman belakang meratapi nasibnya dengan air mata berkilauan.
Kanaya langsung menghampiri ibunya.
“Ibu. Ada apa dengan ibu? Kenapa ibu bersedih?” tanya Kanaya dengan penuh perhatian. Matanya menatap ibu sedih.
Tak ada jawaban sama sekali. Ibu hanya mengelak dan diam saja. Dan mulai terlihat seperti menahan tangis. Tentu Kanaya tidak bisa berdiam diri saja melihat ibunya, ia pun kembali Kanaya bertanya menghilangkan keresahannya saat begitu mendapati ibunya dalam keadaan tidak biasanya. Sesuatu pasti telah terjadi tanpa sepengetahuannya.
“Ibu. Apa ibu bilang ingin bercerai dari ayah lagi? Saat ibu bilang begitu, hatiku sangat sakit sekali. Aku tidak bisa membayangkan jika itu terjadi.” Katanya sambil memeluk ibunya, wajahnya langsung menunjukkan kesedihan. Matanya berkaca-kaca. Maklum saja, ia memang gadis cengeng yang gampang menangis.
Ibu tak memperdulikan langsung melepaskan pelukan putrinya itu dan diam mematung seperti ada yang disembunyikan dari Kanaya. Dan untuk kesekian kalinya Kanaya kembali bersuara, menginginkan jawaban atas pertanyaannya.
“Surat apa ini bu? Kenapa ada banyak surat di atas meja?” Ia memaksa diri bertanya seraya menahan air matanya, seraya memperlihatkan surat itu pada ibunya.
Dilihatnya surat itu oleh ibunya secara sekilas. Dan kemudian ia malah kembali menangis. Ibu mencoba untuk menahan tangisannya yang mulai membendung. Dan momen yang ditunggu-tunggu akan berlangsung. Inilah puncak dari permasalahannya.
“Itu hanya surat ancaman seperti biasanya. Jangan terlalu dipikirkan,” kata ibu dengan irama sedih. Memperlihatkan kekesalan yang mendalam. Sesekali menyeka air matanya yang berjatuhan.
Kanaya terkejut mendengarnya. Air mukanya langsung berubah. Ia menggenggam tangan ibunya selembut mungkin dan menatap ibunya dengan sungguh-sungguh. Menguatkan ibunya menghadapi masalah ini. Sekelabat air matanya mulai bercucuran. Ibu sudah melakukan aksinya dengan sangat sempurna. Kanaya mudah saja terpancing oleh ibunya.
“Ibu,” ia menghela nafas pendek, memberikan tatapan tegar. “Saat aku sukses nanti, aku akan menghentikan penderitaan ini. Setelah itu hanya akan ada hari bahagia. Kumohon, percayalah padaku,” ia terus menyeka air matanya yang berjatuhan.
Ibu balas menatap tajam Kanaya. Seakan-akan ia tidak percaya dan yakin dengan ucapan putrinya itu.
“Memangnya apa yang bisa dilakukan oleh putri ibu?” ibu bertanya. Banyak keraguan dalam dirinya mengenai impian putrinya itu.
“Sebentar lagi impianku akan terwujud. Aku akan menjadi desainer terkenal di seluruh dunia.” Kanaya meyakinkan ibunya dengan sungguh-sungguh.
Ibu langsung membantahnya.
“Berhentilah bermimpi! Hentikan hayalanmu itu. Kau membuat ibu bertambah pusing. Satu-satunya cara menyelamatkan keluarga ini adalah kau harus menikah,” katanya dengan membuat pernyataan yang mengejutkan secara tiba-tiba.
Tentu saja Kanaya terperangah mendengarnya. Ini diluar dugaanya. Tiba-tiba ibu memberinya sebuah kalimat yang mengejutkan. Ini tidak adil baginya. Ia seperti menggali kuburannya sendiri. Bahkan ia merasa ibunya telah mengubah nasibnya dengan buruk. Perasaanya mulai hancur, hidupnya sudah berakhir menerima kenyataan pahit yang tak pernah di duganya. Ia segera menolak mentah-mentah keinginan ibunya. Ia merasa keberatan dengan hal itu. Bahkan ini tidak masuk akal baginya sekarang.
“Apa menikah!” ujarnya dengan tidak percaya, bola matanya membesar. “Aku tidak mau nasibku berakhir begitu saja. Usiaku masih muda dan masa depanku masih panjang, bu.”
Ibu terdiam sejenak dan kembali merenggut.
“Baiklah. Jika kau tak mau menikah, salahkan saja ayahmu yang telah membuat hidup kita jadi seperti ini,” kata ibu dengan nada sedikit lantang dan mengancam. Ia mendelik kesal.
“Ibu jangan salahkan ayah terus. Ayah begini juga karena aku. Aku putrinya yang telah menyusahkannya” balas Kanaya memohon.
“Karena itu aku memintamu untuk menikah. Kami berdua sudah memilihkan jodoh untukmu,” jelas Ibu berterus terang.
Kanaya tertegun.
“Apa? Aku tidak mengerti bagaimana bisa aku menikah dengan seseorang yang bahkan tidak aku kenal. Jelas-jelas ini mustahil!” gumamnya.
Dengan melihat Kanaya merengek tak karuan, sang ibu bangkit dan mengambil sebuah foto dan memperlihatkan foto itu pada Kanaya. Kanaya terkejut betapa tampannya pria itu. Tapi ia langsung menepis pandangannya dan bersikeras menolak pernikahan itu.
“Tidak! Aku tidak ingin menikah! Dan mungkin saja foto itu tidak sesuai dengan wajah aslinya” sanggahnya.
Sang ibu menyangkalnya segera.
“Jelas-jelas ini wajah aslinya. Jika kau tidak percaya, lihatlah sendiri. Kau akan bertemu dengannya dalam waktu dekat ini.” kata ibu.
Kanaya bersungut-sungut dan tidak terima ini.
“Bagaimana ini bisa terjadi? Lagipula mana mungkin dia mau menikah dengan gadis seperti ku. Aku yakin pria seperti itu sangat pemilih.” Sangkalnya.
“Kanaya,” suara ibu tiba-tiba jadi tenang dan sangat serius. Menyakinkan Kanaya adalah yang paling tersulit yang pernah dilakukannya.
Kanaya menggeleng.
“Aku tidak mau melakukanya!” ia memberontak keras. Tidak mau tau ia tengah melukai perasaan ibunya.
“Apa salahnya dengan menikah? Suatu saat kau juga akan menikah,” tanya ibu dengan nada membentak.
“Tentu saja aku akan menikah dengan orang yang ku cintai. Karena sebuah pernikahan harus berdasarkan saling cinta satu sama lain,” tegas Kanaya.
“Baiklah. Kalau begitu carilah orang itu sekarang juga. Orang yang bisa membuatmu bahagia. Tanpa restu orang tua pernikahan itu tidak ada artinya,” ibu menggertak.
“Apa bedanya dengan pernikahan tanpa cinta,” bantah Kanya tak ingin kalah.
Ibu terdiam sebentar, mencari-cari akal untuk menjawabnya.
__ADS_1
“Tenanglah. Kakekmu dan keluarga mereka adalah teman baik. Mereka membuat perjanjian bahwa mereka akan menikahkan keturunan mereka. Kau hanya perlu menikah dan menjadi istri yang baik. selama kau menerima dia sebagai suamimu, seiringan waktu cinta itu akan tumbuh,” jelas ibu memberitahu.
“Tapi aku masih seorang pelajar, bu. Aku punya mimpiku sendiri untuk belajar desainer. Ibu. Kau ingin aku menyerah pada impianku?”
Ibu terdiam. Ia hampir kehabisan akal untuk membujuk putrinya. Namun kembali memutar otak untuk berfikir meski ini terlalu sulit. Setelah beberapa detik memikirkan sesuatu cara yang tepat, akhirnya ibu mempunyai satu ide yang bisa saja ini akan berhasil dan ampuh.
“Dia akan mengabulkan impianmu jadi desainer kalau kau mau menikah dengannya. Mereka akan membelikanmu mesin jahit,” kata ibu dengan meyakinkan Kanaya.
“Apa aku seperti anak kecil yang mudah terbujuk karena ada mesin jahit? Aku tidak mau. Aku takkan pernah menyetujuinya!” bentak Kanaya bersikukuh dengan keputusannya.
“Berterimakasihlah pada mendiang kakekmu. Karena dia hidup kita jadi berubah. Kakekmu telah menjodohkanmu dengan cucu sahabatnya. Kau harus menyadari itu,” balas ibu dengan nada suaranya naik satu oktaf.
“Apa maksud ibu? Kenapa tidak memberitahuku dari awal?” Kanaya mulai mengamuk.
“Sebenarnya ini sulit bagi ibu dan juga ayahmu. Semua ini sudah menjadi takdirmu. Mau tidak mau kau harus menerimanya.” Ibu masih saja memaksa putrinya itu.
Tanpa sepatah kata, Kanaya beranjak dari beranda rumahnya menuju ke kamarnya. Disana ia menangis. Meratapi nasibnya yang sama sekali tidak pernah terpikir olehnya. Air mata kebingungan tumpah di pipinya. Sebab, ini sama sekali tidak pernah terpikir olehnya. Apa yang harus ia perbuat jika semuanya sudah direncanakan untuknya. Ia tersendu-sendu.
“Kenapa jadi seperti ini?” lirihnya. “Apa salahku? Kenapa semuai ini jadi begini!”
Sementara diluar, ibu menguntit Kanaya. Ingin mendengar apa yang dibicarakan putrinya. Karena pintu dibiarkan sedikit terbuka, jadi ibu bisa leluasa mendengar semuanya tanpa sepengetahuan Kanaya. Sementara Kanaya tidak mau berlarut-larut dalam kesedihannya. Ia bangkit dan berusaha menenangkan dirinya.
“Baiklah,” seru Kanaya seraya menghapus air matanya. Ia bangkit dan duduk menghela napas pelan. “Karena suatu saat aku juga akan menikah. Jadi tak ada salahnya kalau aku menikah sekarang. Jika aku menikah dengan pria itu, hidupku dan keluargaku akan jadi lebih baik. Apa ini memang keinginan kakek, aku harus melakukannya,” ia berkata menguatkan dirinya menerima kenyataan ini.
Tentu saja ibu bahagia mendengar hal itu. Tapi, secepat kilat Kanaya merubah pikirannya kembali.
“Tidak! Tidak! Tidak! Kuasai diri. Jangan kehilangan akal sehat. Berpikir normal saja. Tenang Kanaya, ini hanya mimpi.”
Dengan segera ibu menyerono masuk ke kamar Kanaya. Ia tak tahan mendengar putrinya selalu berubah-ubah pikiran.
“Putriku. Apa kau sudah mempersiapkan diri mengunjungi keluarga calon suamimu nanti?” tanya ibu dengan lembut.
Kanaya jelas kaget. Ditatapnya ibunya dengan heran dan sebal.
“Siapa juga yang mau bertemu denganya. Aku tidak akan menikah,” balasnya menahan sebal dan membuang muka.
“Tapi kami sudah membuat janji agar kau bertemu denganya,” tutur ibu dengan tampang tanpa rasa bersalah sedikitpun.
“Aku tidak peduli. Aku tidk pernah membuat janji. Tak ada yang harus aku lakukan!” bantahnya. Ia merengek.
“Berhentilah merengek. Itu tidak akan merubah keputusanku. Pikirkanlah itu baik-baik. Cepat atau lambat kau akan menikah,” ibu menggertak.
“Ibu tau itu. Tapi kita tidak bisa berbuat apa lagi. Karena perjanjian itu sudah di atur dan dibuat oleh kakekmu. Jadi jangan salahkan ibu. Ingatlah, ini adalah keputusan yang terbaik,” kata ibu dan langsung beranjak pergi dari situ karena kesal. Ia tak ingin berdebat lagi dengan putrinya.
Kanaya tak menyahutnya lagi. Ia larut dalam kesedihannya sendiri. Tak tau harus berbuat apalagi jika ia memang ditakdirkan begini. Hatinya sakit menahan air mata yang terus berjatuhan membasahi pipinya. Ia tak dapat berpikir jernih karena begitu banyak kegelisahan dalam dirinya. Begitu pula dengan mendapati berita di kampus tentang Kak Raka, kini ia juga mendapatkan berita buruk dirumah mengenai perjodohannya yang begitu mendadak. Ia merangkul bantal gulingnya dan membiarkanya terkena air matanya. Biar bagaimanapun pasti ini adalah yang terbaik untuknya. Dan perlahan-lahan ia memejamkan matanya karena lelah larut dalam kesedihannya. Tubuhpun terasa lelah hendak istirahat sejenak. Kanayapun memilih tidur untuk menenangkan hatinya.
Tak tau apa yang dilakukanya didalam kamarnya. Sehingga haripun sudah beranjak malam. Petala langit menggelar hitam.
***
Sudah pukul tujuh malam. Ibu merasa cemas dan meminta Galang untuk memanggil kakaknya, karena sudah tiga jam lebih ia mengurung diri di kamarnya. Galangpun segera menggedor pintu kamar kakaknya dengan keras.
“Hei gadis cengeng. Apa kau didalam? Keluarlah! Jangan menangis seperti anak kecil. Waktunya untuk makan. Apa kau sedang melakukan diet lagi?” kata Galang bergurau.
Ternyata Kanaya ketiduran. Karena mendengar suara keras dari luar membuatnya terganggu dan bangun dengan malas-malasan. Ia melirik jam dinding sebentar melihat sekarang pukul berapa. Sesaat ia menguap besar dan menggeliat. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan sedikit merasakan pusing. Mungkin karena efek menangis terlalu lama tadi. Ditambah lagi dengan suara bising dari luar.
“Kenapa berisik sekali diluar!” umpatnya. “Aku tidak ingin keluar. Percuma saja kau memaksaku seperti itu.” soraknya dari dalam.
Galang tak ambil pusing hanya menerima saja.
“Baiklah. Jatah makananmu biar aku habiskan. Lanjutkanlah kesedihanmu gadis cengeng,” ejeknya.
Kanaya merasa di ejek oleh adiknya sendiri. Dan itu membuatnya marah. Ia pun segera keluar untuk memukuli Galang.
“Kenapa kau memanggilku dengan sebutan gadis cengeng? Kau pikir aku ini apa?” Kanaya membelalakkan matanya pada Galang sambil memukulnya dengan bantal.
Tapi Galang dengan gesit mengelak pukulan dari kakaknya itu. Karena ia memang sudah terbiasa bertengkar dengan kakaknya, jadi segala jurus yang dikeluarkan kakaknya ia sudah bisa untuk mengelaknya. Setidaknya saat Kanaya melemparkan bantalnya kearahnya seperti yang terjadi saat ini.
“Jika kau menikah dengan cucu nyonya Retno, aku akan memanggilmu kakak,” seru Galang.
Kanaya semakin meruak kemarahanya. Tapi tetap saja Galang bisa menangkis seranganya. Ia memberikan cibiran nakalnya pada kakaknya.
“Kau pikir aku akan menikah!” dengus Kanaya “Dasar kau! Awas saja nanti!” Kanaya mengamuk seperti biasanya ketika bertengkar dengan Galang.
Sementara itu diruang makan, ibu dan ayah mendengar semua itu seakan tidak terjadi apa-apa. Mereka hanya diam saja dan sibuk mengunyah makanannya dan tenang.
“Kau tinggal menikah saja. Kau bisa mewujudkan mimpimu itu oleh suamimu. Jika aku jadi kau, aku akan segera menerimanya.”
“Kau mau mati ya! Jangan lari,” umpat Kanaya. Ia mengejar Galang dengan dipenuhi rasa amarah yang tinggi.
Galang terburu-buru lari keruang makan untuk berlindung dibelakang ibu, sehingga Kanaya tak bisa memukulnya.
__ADS_1
“Adikmu benar. Apa susahnya menjawab iya,” timpal ibu setuju dengan pendapat Galang, putra bungsunya itu.
“Aku sudah bilang pada ibu, kalau aku tidak mau menikah” bantah Kanaya. “Kenapa kalian lakukan semua ini padaku?” Ia memberontak.
“Aku tahu perusahaan ayah sedang bangkrut. Dan karena itu ayah tak bekerja. Dan ibu bekerja keras untuk membiayai kuliahku yang mahal. Tapi apa kalian bahagia menjualku seperti ini?”
Tiba-tiba suasana menjadi kaku, tegang dan mencekam. Ayah menekur dan memandang kearah istrinya yang diam saja, kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. Entah apa maksud ayah barusan membuat ibu tak mengerti. Apa itu sebuah petunjuk dari bagian rencana? Ibu jadi salah tingkah.
Dan tiba-tiba, ibu angkat bicara. Ialah yang mengambil alih dari semua keributan ini.
“Baiklah. Anggap saja tak pernah terjadi apa-apa!” teriak ibu. Ia kembali melanjutkan makannya. Dan melahap nasi dengan cepat sehingga penuh dimulutnya. Ibu menahan amarahnya.
Ayah Kanaya juga ikut-ikutan marah setelah melihat rekasi istrinya barusan.
“Tak perlu merasa terancam. Uang bukan segalanya,” ujar ayah menengahi dan merasa kacau. Memulai perdebatan lagi.
“Uang itu segalanya! Karena uang itu hidup kita seperti ini sekarang. Mau sampai kapan kita akan seperti ini?” balas Rita menantang tatapan suaminya.
“Aku sedang berusaha mencarinya,” kata Ayas membela diri.
“Kalau begitu carilah yang banyak di luar sana. Bawa dan berikan padaku hingga para rentenir itu tidak mencarimu lagi. Kau tau saat ini keadaan kita semakin rumit semenjak kau berhubungan dengan para rentenir itu,” umpat Rita dengan kesal.
Ayas hanya menunduk lesu. Ia menggaruk pipinya yang terasa gatal. Dan membuka mulut untuk mengatakan sesuatu. Tapi tenggorokannya tersumbat, sehingga bunyi antara tersendak dan batuk yang keluar. Ia menatap istrinya uang membuang muka, lalu berdehem-dehem sebentar. Kanaya dan Galang hanya diam tak berkutip.
Ditatapnya putrinya dengan lembut.
“Aku tak ingin kau seperti ayah. Mengalami kesulitan dalam hidupmu. Itulah kenapa kubilang inilah yang terbaik untukmu. Kami tak menjualmu. Bagaimanapun juga ini hidupmu dan kau lah yang harus membuat pilihan,” kata ayah dengan tegar dan memberi pengertian pada Kanaya.
Kanaya mulai mencerna perkataan ayahnya. Ia sadar akan niat baik ibu dan ayahnya. Tak terlepas dari itu, ini sudah kenyataanya dan menjadi takdirnya. Apapun keinginan kedua orang tuanya adalah hal yang terbaik untuknya saat ini.
“Maafkan aku,” gumamnya.
Kanaya beranjak dari tempatnya meninggalkan meja makan. Ia merenggut lagi. Memang, gadis cengeng selalu begitu. Gampang terbawa hati dan terbawa suasana. Lihatlah, Kanaya mulai menitikkan air matanya. Apapun yang mengarah pada kesedihan, ia akan mudah menangis. Melihat sapi di sembelih saja ia juga menangis, karena kasihan. Mau bagaimana lagi, ialah si gadis cengeng itu.
“Kanaya si gadis cengeng, apa kau tidak ingin makan?” tanya Galang begitu menyadari kakaknya belum makan sedikitpun.
Tak ada sahutan dari Kanaya.
“Biarkan saja kakakmu itu. Beri dia waktu untuk sendirian saja,” kata ibu kembali dengan tegas.
“Aku khawatir karna putriku tidak berselera untuk makan,” ayah tampak cemas.
“Biarkan saja dia. Dia sedang mencari perhatian. Dia pikir dia gadis yang paling menderita di dunia ini. Tenggelam dalam penderitaanya sendiri. Ada banyak orang di luar sana yang lebih menderita darinya.”
Ayah hanya menundukkan kepala dan kembali makan. Ia tak berkata apa-apa. Sementara Galang ingin menghabiskan makanan yang ada di atas meja. Ia mengambil semua makanan yang tersisa di atas meja. Dengan segera ibu marah-marah dan menepis tangan Galang.
“Sisakan makanan untuk kakakmu!” bentak ibu dengan menepis tangan Galang ingin mengambil makanan.
“Kenapa ibu selalu membelanya?” Galang kesal dan bersungut-sungut.
“Karena dia putriku satu-satunya!” kata ibu dengan singkat.
“Hhh! Kenapa ibu selalu membela si gadis cengeng itu!” keluh Galang.
“Karena kau hanya bisa makan dan menyalahkan kakakmu.”
Galang terdiam, tapi setelah itu ia tetap nekad menghabiskan makanannya dengan buru-buru.
Ayah pun ambil alih saat ibu ingin memukul Galang.
“Ada apa ini? Kenapa malah bertengkar? Tidak bisakah kita makan dengan tenang?”
“Coba lihat putramu. Ia sama sekali tidak menurut padaku. Dia benar-benar membuatku kesal”
“Sudahlah. Jangan bertengkar terus. Seorang laki-laki harus makan banyak untuk menambah tenaga. Biarkan saja dia” kata ayah membela Galang. kemudian menatap Galang. “Setelah kau besar nanti, akan kusuruh dia jadi asisten pengangkat barang ditempatku bekerja,” sindirnya.
Galang tidak terima.
“Ayah, kenapa pekerjaanku seburuk itu? Lagipula pekerjaan itu tidak sebanding denganku. Aku lebih cocok jadi seorang model,” kata Galang sambil memperagakan gaya modelnya.
“Apa kau sudah gila! Orang sepertimu mana mungkin akan menjadi seorang model. Kau sama saja dengan kakakmu, suka berkhayal.”
“Ibu tidak tahu ya julukanku disekolah. Semua orang mengatakan bahwa aku ini sangat tampan, dan mirip artis terkenal Sehun yang terkenal itu,” kata Galang dengan antusias.
Ayah terkekeh geli. “Benarkah? Darimana kau dapat wajah tampan seperti itu?”
“Tentu saja dari wajah tampan ayah,” seru Galang dengan mantap.
“Kau benar,” balas ayah sambil terkekeh geli.
Ibu mendesah panjang. Membiarkan mereka begitu saja.
__ADS_1