Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Pengorbanan Seorang Sahabat


__ADS_3

"Na, lho lagi ngomong sama siapa sih? Lho ngomong mesum ya sama someone spesial, makanya bisik-bisik kayak gitu."


Ameena terperanjat dan langsung berbalik sambil mengusap-usap dadanya. Menarik nafas panjang, menatap Amara yang berdiri di depan pintu kamarnya. "Gue nggak ngomong mesum. Gue cuman lagi kangen-kangenan, makanya bicara dengan bisik-bisik biar lho nggak dengar. Gue khawatir aja sama lho. Lho kan lagi broken heart. Kalau gue ngomong di depan lho, yang ada nanti lho malah nangis lagi."


"Hmm... apaan sih..?!" Amara melengos, masuk kembali ke dalam kamar karena tidak suka dengan apa yang diucapkan Ameena.


"Huh, dasar lu. Punya suami tampan gitu seharusnya tidak usah di sia-siakan terus. Siapa sih yang sempurna di dunia ini. Sesempurna apapun dia, pasti ada saja kesalahannya." Mengikuti Amara masuk ke dalam kamar sambil mendorong-dorong punggung sahabatnya itu.


"Bukannya gue tidak mau memaafkan, Na. Gue cuman butuh waktu. Sakit banget rasanya tau nggak. Aku bukannya merasa sakit karena diabaikan saja. Ucapan pedasnya itu yang membuat gue sakit hati sampai saat ini. Coba lho yang ada di posisi gue. Kakaknya lho bakalan...."


"Guw bakalan ngamuk dan bacok tuh cowok. Di kasih istri baik-baik, malah berprasanga buruk." Timpal Ameena sambil mengikat rambutnya. "Sudah ah, gue mau keluar ambil air. Lho mau diambilin apa?" Mengalihkan pembicaraan karena khawatir Bian sebentar lagi sampai dan tidak ada orang yang membukakan pintu. Meraih jilbab instan dan langsung memakainya.


"Nggak ada. Gue mau tidur aja, Na. Maaf ya karena gue ngerepotin lho beberapa hari terakhir ini."


"Udah tidur sana. Ngomong apa sih.." Ameena menatap Amara yang hanya tersenyum lemah karena merepotkannya akhir-akhir ini. Dia juga tidak tau kenapa temannya itu berubah menjadi wanita cengeng tapi keras kepala. "Lho tidur duluan. Kasihan janin lho kalau di ajak nangis terus."


"Iya.."


Ameena keluar dari kamar setelah Amara merebahkan kembali tubuhnya. Segera menghubungi Bian untuk menanyakan posisi pria itu. "Kak Bian sampai mana?" Langsung melontarkan pertanyaan begitu panggilannya terjawab.


"Aku baru keluar dari gerbang rumah. Minta izin dulu sama Ibu tadi, biar setiap langkah perjuangan inu disertai dengan doanya."


"Ya elah, Bang. Setiap Ibu pasti mendoakan yang terbaik untuk anaknya. Aku udah nunggu di ruang tamu nih. Kak Bian cepetan aja."


"Iya.. iya.."


Ameena meletakkan handphonenya setelah panggilan terputus. Ia mulai berpikir, dimana dia akan tidur kalau Bian nginap di rumahnya. Namun, ia memutuskan untuk memikirkan hal itu nanti kalau Bian sudah ada di depannya.


Ia memilih menghubungi Bian lagi karena pria itu tidak kunjung sampai di rumahnya.


"Aku sudah di depan rumah kamu, Na. Minta tolong bukakan pintu gerbang agar aku bisa memasukkan mobilku."


"Eh, turun dari mobil dan buka sendiri gerbangnya. Enak aja pakai request gue untuk keluar. Capek tau Tunggu dari tadi. Aku sudah membukakan pintu nih. Nggak enak juga kalau dilihat tetangga nanti. Apalagi aku hanya tinggal sendiri di rumah ini."


Bian menghela nafas berat. "Iya dah, aku buka sendiri kalau begitu."

__ADS_1


"Jangan lupa untuk mengunci lagi gerbang itu kalau mobil Kak Bian sudah masuk."


"Iya, Na.. ya Allah... cerewet banget sih ni orang."


"Heh, kenapa malah..."


Tut... tut.. tut...


Bian langsung memutus sambungan telepon. Berdebat dengan Ameena tidak akan ada ujungnya karena gadis itu benar-benar banyak bicara. Membuang nafas dengan kasar seraya menghidupkan kembali mobilnya. Memasukkan mobilnya ke halaman rumah Ameena.


Bian menatap rumah sederhana itu seraya menarik nafas dalam. Ia harus mempersiapkan hatinya untuk bertemu dengan istrinya. Belum bertemu saja jantungnya sudah berdetak tidak normal. Bagaimana saat bertemu nanti. Belum lagi dia harus mempersiapkan mentalnya untuk menghadapi sikap yang akan ditunjukkan istrinya untuknya nanti. Intinya, dia harus bersiap untuk apapun kemungkinan yang akan terjadi. Melangkah dengan ragu mendekati pintu rumah.


"Buruan masuk, Kak. Kalau ada yang lihat, akan ada berita miring yang tersebar. Aku nggak mau nama baikku tercoreng karena Kak Bian."


Bian hanya menggeleng-geleng pelan. Dia masih mengkhayalkan apa yang akan terjadi saat Amara melihat kedatangannya. Tapi, ucapan Ameena langsung membuyarkan semua khayalan itu.


"Ikut aku, Amara ada di kamarku."


Bian mengekor di belakang tanpa protes sedikit pun. Dadanya semakin berdebar saat Ameena memutar kenop pintu kamarnya. Menghentikan langkahnya saat melihat isyarat dari Ameena.


"Mara, lho udah tidur?" Ameena naik ke atas ranjang dengan hati-hati.


"Mm.. maunya sih begitu. Tapi, hati ini yang tidak bisa tenang, Na."


"Hmm.. kamu rindu nggak sama Kak Bian?"


"Ck.. kenapa menanyakan itu sih?!" Amara memukul lengan Ameena dengan kesal.


"Iya... kan kalau lho rindu, siapa tau dia bisa mendengar suara hati lho dan datang mencari lho saat ini. Atau.. mungkin lho benci sama dia karena ucapannya yang mendiskripsikan lho yang seolah-olah seperti wanita murahan, yang semaunya menerima bantuan dan memakai pakaian pria lain."


"Na... please deh. Gue sedang berusaha melupakan kejadian itu. Kalau lho mengingatkan gue terus, sampai kapan gue bisa bertahan dalam situasi ini."


"Hehehe..." Ameena tidak memperdulikan ucapan Amara. Dia malah memperbaiki posisi duduknya. "Mm... kalau seandainya Kak Bian tiba-tiba datang malam ini. Apa yang akan lho lakukan?"


Amara tersenyum sinis. "Kayaknya itu adalah sebuah mimpi, Na. Kak Bian adalah orang yang gila kerja. Kalau sudah bekerja, tidak ada yang boleh mengganggunya. Aku pun dilihatnya seperti pengganggu jika dia sudah fokus pada pembahasan yang menyangkut pekerjaan." Mengusap air mata yang keluar tiba-tiba.

__ADS_1


"Eh, tapi kalau dia benar-benar datang, apa yang akan lho lakukan?"


Amara mengangkat bahu. "Gue nggak berani mengharapkan apapun, Na."


Bian menelan ludahnya beberapa kali mendengar percakapan istrinya. Ternyata hal ini yang membuat istrinya memilih menghindar daripada harus melihatnya setiap hari. Dirinya yang tidak boleh diganggu kalau sudah fokus kerja. Ternyata, Amara tidak hanya memikirkan masalah malam itu, karena selama ini dia memikirkan Bian yang selalu pulang malam.


"Aku akan memeluknya dengan penuh syukur kalau dia datang, Na. Jika itu benar-benar terjadi, itu berarti Mas Bian masih memikirkan aku dan membutuhkanku."


Ameena mengangguk-angguk mendengar ucapan Amara. "Udah, nggak usah dipikirkan kalau begitu. Tidur gih.. wanita hamil sangat dianjurkan untuk tidur lebih awal."


"Makasih, Na. Gue nggak tau akan lari kemana seandainya tidak ada lho."


Ameena tersenyum seraya memeluk tubuh Amara. Air matanya ikut jatuh mendengar pengakuan temannya itu. Ternyata, tidak semua hubungan itu akan sempurna, jika kesempurnaan itu tidak diciptakan.


"Gue mau ke kamar mandi sebentar." Ameena menurunkan tangan Amara yang melingkar di lehernya. Beranjak bangkit meninggalkan temannya itu. Bian sudah mendengarkan semua yang dikatakan Amara. Ia menutup pintu kamar dengan hati-hati agar Amara tidak menyadari kalau dia keluar dari kamar. Menghampiri Bian yang masih berdiri mematung di depan kamarnya.


"Maaf membuat Kak Bian lelah menunggu."


"Ng.. nggak apa-apa, Na."


Ameena mengerjap-ngerjap melihat Bian yang mengusap-usap matanya. Apakah pria itu menangis atau matanya memang kelilipan.


"Kak Bian masuk saja. Amara sudah tidur kok. Maaf ya, sepertinya Kak Bian capek berdiri. Maklum, rumahku kecil. Aku juga tidak mampu menyediakan sofa di depan kamar seperti Kak Bian."


Bian mengangkat wajahnya, menatap Ameena dengan heran. "Itu tidak masalah, Na. Tapi, kalau aku masuk ke dalam, lalu kamu tidur dimana, Na?"


"Mm..." Ameena langsung menatap sekeliling. "Nanti aku tidur di kamar sebelah. Di sini Masih ada satu kamar kosong walaupun tidak ada ranjangnya. Nanti aku gelar karpet dan kasur lantai." Tersenyum meringis. "Ayo buruan masuk. Aku nggak mau Amara bangun dsn menyadari keberadaan Kak Bian sebelum Kak Bian memeluk tubuhnya. Aku.. aku.. mau Kak Bian tidak usah memberitahukan kedatangan Kak Bian. Cukup peluk tubuhnya dari belakang saja. Biar waktu yang menjawab nantinya."


Bian mengangguk mengerti. "Terimakasih, Na. Aku tidak tau bagaimana akan membalas kebaikanmu ini."


"Sudah, jangan ngomong terus. Masuk sana buruan.." mendorong punggung Bian masuk ke dalam kamarnya.


Bian berdiri mematung setelah masuk ke dalam kamar. Matanya menatap nanar ke arah istrinya yang meringkuk di bawah selimut. Dengan ragu, ia melangkah mendekat. Naik ke atas ranjang dengan hati-hati. Merebahkan tubuhnya di belakang tubuh istrinya. Memeluk tubuh yang sangat dirindukannya itu. Perlahan, ia mencium kepala Amara dan ikut memejamkan mata.


**********

__ADS_1


__ADS_2