
Amara bergegas menuju gerbang besar rumah Bian. Dia harus segera meninggalkan tempat ini, jika tidak ingin ada yang menemuinya lagi. Berulang kali ia mengusap air mata yang masih saja mengalir di pipinya.
"Loh, Neng Amara kenapa?" Pak Amir yang duduk berbincang di post satpam heran melihat tampang Amara yang terlihat berantakan.
Amara tidak menjawab. Ia terus bergegas tanpa menghiraukan kanan kiri. Ia hanya ingin segera sampai di kostan biar bisa menumpahkan rasa sesak di dadanya. Ia fokus menatap ke arah kendaraan yang lalu lalang saat sampai di pinggir jalan. Segera membuka sebuah aplikasi di handphonenya untuk memesan kendaraan online. Takutnya ada orang yang mengejarnya dan mencegahnya untuk pergi.
Tapi, sepertinya semua itu hanya angan-angan gadis itu saja. Bian tidak mungkin mencegahnya pergi di saat dia sedang kedatangan tamu spesialnya. Hanya Chayra yang mulai tidak tenang setelah Bi Idah berbisik di telinganya.
Amara menghempaskan tubuhnya begitu sampai di kostan. Sudah tidak perduli lagi dengan benda gepeng yang terus berbunyi nyaring sejak dia masih di dalam mobil tadi. Saat ini, ia hanya ingin menangis melampiaskan semua yang menyesakkan dadanya. Ia mengambil bantal untuk menutup wajahnya. Ia terisak keras menumpahkan semuanya.
"Kak Bian, maafkan aku tidak bisa menjadi teman yang baik untuk Kak Bian." Amara berucap lirih di sela isak tangisnya. "Ya Allah, aku mencintai pria itu. Aku tidak kuat saat mendengarnya akan menikah dengan wanita lain." Amara menarik nafas dalam. Kembali terisak keras. Sepertinya harapannya untuk mendapati hati pria itu, sudah cukup sampai disini. Ia terus menangis sampai terlelap karena terlalu lelah menangis.
Amara terbangun setelah pukul lima sore. Matanya sulit terbuka karena bengkak. "Ehm.. aduh, mata aku kenapa berat kayak gini." Menggosok-gosok matanya karena benar-benar terasa berat. Ia cukup terkejut saat melihat matanya yang seperti bekas sengatan lebah. Niat hati untuk keluar mencari makanan ia urungkan. Bagaimana mungkin dia akan keluar dengan tampang seperti itu. Bisa-bisa semua orang yang dia jumpai akan bertanya, kenapa matanya sampai seperti itu.
********
Malam itu, Amara sudah tidak kuat lagi menahan rasa laparnya. Tapi, untuk keluar ia masih enggan karena matanya yang terlalu bengkak. Setelah capek berpikir, ia akhirnya memutuskan untuk menghubungi Ameena. Hanya temannya itu satu-satunya harapan Amara.
"Assalamu'alaikum, Na. Kamu sedang apa dan kamu berada di mana?" Spontan Amara mengeluarkan dua pertanyaan untuk Ameena begitu panggilan tersambung ke gadis itu.
"Eh, kalau nanya satu-satu, Mara. Gue sedang di luar bersama Papa. Kenapa emangnya?" Ameena berjalan sedikit menjauh dari hadapan keluarganya karena suara Amara yang sedikit serak. Perasaannya sudah tidak enak. Temannya itu pasti ada masalah lagi dengan ibu tirinya.
"Gue lapar, Na. Bisa bantuin beliin sesuatu yang bisa dimakan nggak?" Amara meneguk air terakhir di botol minumnya.
"Loh, memangnya lho dimana, Mara?" Ameena menautkan alisnya. Kenapa temannya minta bantuan padanya saat malam seperti ini.
Amara mendengus mendengar pertanyaan Ameena. "Gue di kostan, Na. Tapi, gue belum makan dar tadi siang. Gue nggak bisa keluar, makanya minta bantuan sama lho.
"Hah, ngapain lho ke kostan, Mara? Kita kan sedang libur. Mm.. bukannya lho ke rumah Kak Ayra tadi pagi. Kan lho sendiri yang cerita kalau lho mau ke rumah Kak Ayra. Tumben sekali lho sampai lapar."
Amara terdiam beberapa saat. "Mm.. gue pulang cepat tadi siang, Na." Hanya itu alasan yang paling logis yang bisa ia ucapkan.
"Terus lho mau makan apa sekarang?" Ameena akhirnya mengalah. Suara Amara terdengar serak. Sepetinya temannya itu benar-benar tidak bisa keluar untuk membeli sendiri.
"Apa aja deh, Na. Yang penting ada yang bisa gue makan." Amara menarik nafas lega setelah mendengar jawaban Ameena. "Bawakan minuman juga ya. Gue kehabisan minum disini. Nanti gue ganti uang lho."
"Ok, wait me over there. Tiga puluh menit, gue sudah di kostan." Ameena langsung memutus sambungan telepon. Amara hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya menyikapi sikap Ameena. Tersenyum sendiri mendengar temannya itu yang memakai bahasa inggris. Entah apa penyebabnya, gadis itu mulai membiasakan diri menggunakan bahasa asing untuk percakapan kecil dengan Amara.
__ADS_1
Amara segera bangkit untuk mengambil air wudhu. Ia memutuskan untuk shalat Isya terlebih dahulu sebelum Ameena sampai.
Ameena sampai di kostan dua puluh menit setelah kontak terakhir mereka. Gadis itu membawakan satu bungkus nasi campur dan beberapa roti basah, agar Amara bisa mengganjal perutnya sewaktu-waktu.
"Mara, gue datang.." Ameena langsung nyelonong masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Kebiasaan deh lho. Ketuk pintu dulu apa, biar gue nggak terkejut. Hampir aja gue teriakin lho maling tadi." Amara menatap kesal temannya.
"Ew, lho ini dibantu kenapa nggak ada terimakasihnya sama sekali sih. Gue bela-belain datang kemari untuk mengantarkan lho makanan. Nyawa lho kan udah di ujung tanduk karena kelaparan. Lagian, lho ini udah tau punya riwayat penyakit maag, masih aja nggak teratur makannya." Tatapan Ameena fokus pada mata Amara yang bengkak.
Amara hanya tersenyum kecil menanggapi. Mulutnya ikut berat untuk bicara, seperti matanya yang berat karena terlalu banyak menangis.
"Mara,"
Amara mengangkat wajahnya saat mendengar Ameena menyebut namanya. "Mm.." jawabnya pendek seraya kembali menunduk. Pura-pura sibuk membuka nasi campur yang dibawakan Ameena untuknya.
"Kenapa mata lho bengkak kayak gini?" Ameena mengangkat wajah Amara dan memperhatikan mata Amara.
Amara menepis tangan Ameena, menunduk kembali agar temannya itu tidak terus-terusan mempermasalahkan matanya yang bengkak. "Gue habis nangis," jawabnya.
Ameena terdiam beberapa saat. Temannya itu jarang sekali menangis. Tapi, sekalinya menangis, efeknya akan menyebar sampai mata. "Ada apa, Mara?"
"Tapi, apa? Lho ini kok berubah aneh begini, sih?" Ameena berdecak kesal.
Amara tersenyum kecil. "Kak Bian, Na."
"Hah, Kak Bian.. ada apa dengan Kak Bian?!" Ameena semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan Amara.
Amara terdiam, berperang dalam pikirannya, antara mau menceritakan semua atau mengarang ceria lain.
"Kok kamu dia, Mara. Gue nanya, ada apa dengan Kak Bian?"
"D.. dia.. dia.." Amara melirik Ameena lagi. Terlihat jelas kalau dirinya masih ragu.
"Huh, lho ini menyebalkan. Cerita yang jelas biar gue nggak kesal. Kalau nggak percaya sama gue, iya.. lebih baik nggak usah cerita." Ameena mendengus seraya membuang pandangannya.
"Kak Bian akan menikah, Na." Spontan Amara menjawab.
__ADS_1
"What..?!" Ameena langsung menatap Amara lagi. Benar-benar terkejut mendengar ucapan temannya itu. "Kak Bian mau nikah? Yang benar aja, Mara. Nikah sama siapa?"
"Dengan.." ucapan Amara terhenti karena terkejut oleh handphonenya yang berbunyi nyaring. Untuk pertama kalinya setelah pulang tadi, Amara menengok benda gepeng itu.
"Dia nelpon, Na. Lho bisa angkat nggak. Kalau dia menanyakan gue, bilang aja kalau gue sedang istirahat karena nggak enak badan."
"Lho kecewa sama dia."
Amara tersenyum getir. "Gue nggak bisa menjelaskan apapun, Na. Gue juga nggak tau, perasaan apa yang sedang mengusik hati gue ini." Amara kembali melirik handphonenya karena berhenti berdering. Baru akan meraihnya, benda itu berbunyi lagi. "Ups, hampir saja terjawab."
"Lho jawab aja, Mara. Kasihan Kak Bian terus menghubungi lho kayak gitu."
"Tapi, gue nggak akan bisa ngomong, Na. Please, lho bantuin gue. Gue butuh menenangkan diri sebelum bisa menjelaskan keadaan ini padanya." Amara bangkit dan masuk ke dalam kamar meninggalkan Ameena.
"Ck, kok gue lagi sih. Ni orang kenapa coba lari dari masalah. Kok kayak bukan Amara yang gue kenal." Ameena akhirnya meraih handphone yang terus berbunyi itu.
"Hallo, selamat malam.."
"Assalamu'alaikum.."
"Eheheh, lupa ucap salam, Kak. Wa'alaikumsalam.."
"Na, Mara kemana, kenapa dia tidak menjawab panggilanku dari tadi?"
"Mm.. Mara sedang tidur, Kak. K.. kurang enak badan sejak tadi siang. Badannya menggigil tadi, kepalanya juga pusing. D.. dia paling tidak kuat sakit kepala, Kak. Matanya aja bengkak karena menangis."
"Hah, nangis.. nangis kenapa?" Ameena tersenyum saat mendengar nada kekhawatiran suara Bian.
"Mm.. aku kan udah bilang, Amara tidak kuat sakit kepala, Kak. Dia sering nangis kalau kepalanya sakit."
"Oh, begitu. K.. kalian dimana sekarang?"
"Di kostan. Tadi dia menghubungiku dan memintaku untuk datang menemaninya."
"Aku kesana sekarang, Assalamu'alaikum.."
Tut.. tut.. tut..
__ADS_1
Sambungan telpon diputus secara sepihak. "Wa'alaikumsalam, laki-laki baik." Ameena tersenyum sendiri. Seumur hidupnya, baru kali ini dia mendengar suara pria yang mengkhawatirkan temannya.
*********