Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Pertemuan Manis Sesungguhnya (part 2)


__ADS_3

Amara tidak berani mengangkat wajahnya. Ia masih menunduk sambil terus mengusap air mata di pipinya. Ingin mencegah air mata itu agar tidak jatuh lagi. Tapi, air mata itu seperti berlomba keluar dari matanya.


"Maafkan aku, Mara. Apakah ucapan ku menyinggung perasaanmu?" Bian mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya. "Angkat wajahmu!"


Amara mengangkat wajahnya. Memejamkan matanya agar air mata yang menggenang di pelupuk matanya jatuh. "T.. tidak ada u.. ucapan Kak Bian yang menyinggung perasaanku. Aku.. aku juga nggak tau, kenapa air mata ini keluar."


Bian tersenyum kecil mendengar pengakuan Amara. Perlahan tangannya mengusap air mata gadis itu dengan sapu tangan di tangannya. "Maaf, aku hanya bisa mengusap air matamu dengan sapu tangan ini. Aku tidak bisa menyentuhmu karena itu tidak boleh. Jangan menangis lagi. Mulai sekarang, marahlah padaku kalau aku tidak ada kabar atau aku terlalu sibuk sehingga lupa menghubungimu. Aku telah memintamu untuk menjaga hatimu untukku. Itu berarti kamu berhak marah kalau aku lalai dalam menjaga perasaanmu."


"Oh, no...." tiba-tiba Ameena berteriak kencang dari tempat duduknya. Hal itu tentu saja membuat Amara dan Bian menoleh ke arahnya. Amara hanya menatap temannya itu dengan bingung. sedangkan Ameena mengangkat kedua jarinya sambil tersenyum meringis. "Jangan terganggu dengan kebisingan yang aku perbuat. Aku cuma baper. Habisnya Kak Bian so sweet, bikin aku terharu biru.." Ameena menutup wajahnya dengan telapak tangan. "Kalau tau kayak gini, aku tidak akan mau menemani Amara kemari. Ternyata Ameena ikut menangis. " Ah, ternyata malam ini adalah malam yang luar biasa untuk mu, Mara." Tersenyum pada temannya seraya mengusap air matanya.


"Kamu sudah makan malam, Ra?"


"Eh," spontan Amara menatap Bian. Rona merah terpancar dari wajah putihnya.


"Aku akan panggil kamu Rara mulai sekarang. Kalau bilang Amara, itu terdengar sangat biasa. Kamu kan orang spesial di hatiku. Otomatis panggilannya juga harus spesial." Bian tersenyum menatap Amara. Gadis itu masih saja terlihat malu-malu. Rona merah semakin terlihat jelas.


"Kak Bian, nggak ada tuh nama Rara tercantum dalam nama panjang Amara. Namanya kan Amara Andini. Atas dasar apa Kak Bian memanggilnya Rara?" Ameena berkata sambil menarik kursinya lebih mendekat lagi.


"Bodoh," Bian melirik Ameena lalu kembali fokus pada Amara. "Nama Rara tercantum dalam kata Amara. Aku hanya mengambil kata 'Ra' saja. Aku menyebutnya dua kali, makanya menjadi Ra-Ra. Gitu aja kok nggak ngerti."


Ameena menyebikkan bibirnya. "Terserah dah.. yang penting kalian bahagia, aku ikut bahagia. Iya.. walaupun aku sedikit terkejut mendengar ucapan Kak Bian tadi. Aku kira, Kak Bian akan mengajak kami makan malam saja malam ini."


"Aku bukan orang bodoh yang mau mengeluarkan banyak uang untuk orang yang nggak penting. Kalian itu orang penting, makanya aku mau mengeluarkan uang."


"Oh, jadinya aku juga orang penting bagi Kak Bian." Ameena tersenyum bersemangat.


"Tentu saja. Kamu kan jadi mata-mata. Kalau ada tindakan mencurigakan Rara, kamu wajib lapor padaku. Kamu juga akan menjadi Satpam untuknya. Kamu harus bisa menjamin dia akan baik-baik saja selama tidak bersamaku."


Ameena mengernyit seraya menelan ludahnya dengan susah payah.

__ADS_1


"Itulah mengapa kamu juga bisa ikut ke salon seperti Rara, bisa ikut belanja di Mall seperti dia. Itu karena aku percaya kalau kamu bisa menjaganya untukku. Ke depannya, kamu akan bersamanya dan menikmati uangku. Tapi.. ada kata tapinya."


Ameena hanya diam menyimak. Dia sedang mencerna semua ucapan Bian yang terdengar menguntungkannya.


"Na, apa kamu mendengar apa yang aku ucapkan?"


Ameena tersentak. "Ha, i.. iya.. aku dengar, Kak. Kak Bian bilang, ke depannya aku akan selalu bersama Amara dan menikmati uang Kak Bian. Tapi.. Kak Bian bilang ada tapinya tadi." Ameena memperbaiki posisi duduknya.


Amara menyentuh tangan Bian dengan ujung sendok. "Jangan seperti ini, Kak. Semuanya terdengar sangat berlebihan. Kak Bian hanya memintaku untuk menjaga hati. Insya Allah, aku akan lakukan itu. Tapi, Kak Bian tidak perlu sampai membiayai kehidupanku. Apalagi sampai membayarkan biaya perawatan seperti kemarin."


"Kenapa..? Apa karena Khanza mengatakan kalian wanita matre waktu kalian di salon kemarin?"


Amara dan Ameena tersentak. Siapa yang melaporkan kejadian itu pada Bian, sehingga pria itu mengetahuinya.


Ameena POV..


Aku masih tidak percaya, Kak Bian mengetahui kejadian di Salon kemarin. Padahal dia kan tidak ada di tempat itu. Apakah di sana ada mata-mata yang mengawasi tingkah laku kami? Hmm.. kok perasaanku jadi tidak enak sih. Apakah ke depannya Amara tidak akan tertekan kalau harus seperti ini. Semua tingkah lakunya akan diketahui pria ini.


Aku beralih menatap Amara. Eh, dia malah sedang bertatapan dengan Kak Bian sambil tersenyum manis. Huh, dasar dua manusia ini. Benar-benar tidak memikirkan perasaanku yang tidak ada pasangan. Awas saja nanti kamu, Mara. Aku akan langsung memintamu memijit bahuku, karena kamu telah membuatku ileran melihat keromantisan kalian.


_________


Bian membalas senyuman Amara kepadanya. "Aku akan semakin berusaha untuk menjaga hati ini untukmu. Aku tau kamu bukan wanita seperti yang dikatakan Khanza kemarin. Anggap saja semua yang dikatakan wanita itu adalah awal cobaan hubungan kita."


Amara kembali tersenyum. " Tetap saja, Kak. Aku tidak akan bisa hidup mandiri kalau Kak Bian sendiri yang mengajarkan aku untuk bergantung pada orang lain."


Bian membuang nafas dengan kasar. "Hah, sepertinya ke depannya, aku harus meningkatkan kualitas kesabaranku. Aku akan berhadapan dengan wanita yang teguh pendiriannya."


"Hhmmm.." hanya itu jawaban Amara.

__ADS_1


"Kalian sudah makan malam atau belum?" Bian kembali ke topik pembicaraan awal.


"Belum, Kak." Ameena yang menjawab. "Kami kira Kak Bian mau mengajak kami makan malam, makanya kami tidak makan dari kost."


Bian melirik jam tangannya. Ameena ikut melirik. Jam tangan pria itu terlihat biasa. Harganya hanya berkisar di jutaan rupiah. Ameena kira, Bian akan memakai jam tangan dengan harga fantastis karena Bian termasuk pria tajir.


"Kalian mau delivery nggak? Soalnya, aku sudah makan malam tadi di rumah."


"Terserah Kak Bian saja." Timpal Amara. Wanita itu mengambil handphone di dalam tasnya.


"Apa ada yang menghubungimu?" Bian menatap curiga pada Amara.


"Nggak.. belum apa-apa udah curigaan aja." Amara melirik Bian lalu kembali menatap handphonenya. "Aku cuman mau lihat jam saja, Kak," sambungnya.


Bian tersenyum. Melihat gaya bicara Amara membuatnya bisa bernafas lega. Sepertinya mood gadis itu sudah membaik, sehingga gaya bicaranya sudah normal kembali. "Kenapa nggak pakai jam tangan aba, biar nggak capek bolak-balik ngeluarin handphone untuk melihat jam?"


"Aku nggak punya jam tangan, Kak." Amara menimpali dengan ketus seraya membuang pandangan.


"Hah, kamu nggak bercanda kan, Ra? Masa kamu nggak punya jam tangan sih? Jam tangan itu sudah termasuk aksesoris wajib loh." Bian malah tertawa kecil menanggapi ucapan Amara.


"Itu hanya bagi Kak Bian. Aku dan Ameena nggak pernah tuh, pakai jam tangan." Timpal Amara lagi.


"Udah, pasangan pengikat hati jangan ribut. Barusan saja mengatakan akan saling menjaga hati, eh sekarang malah memperdebatkan masalah jam tangan. Kalau Kak Bian ingin melihat Amara pakai jam tangan, Kak Bian belikan lah. Kami tidak bisa menabung untuk aksesoris seperti itu." Ameena berkata sambil melengos kesal. "Lain kali kita bahas jam tangan lagi. Gue udah beneran lapar ini. Amara juga kayaknya lapar. Cuman, dia malu bilang gitu sama Kak Bian."


Amara tersenyum. "Lho yang lapar, kok jual gue."


"Sudah, nggak apa-apa. Aku antar kalian pulang sekarang. Aku udah delivery order. Nanti makan malamnya akan di antar ke kost kalian. Sekarang udah jam sembilan. Ke tempat kalian menghabiskan waktu setengah jam. Itu berarti sekitar setengah sepuluh." Bian berpikir keras. Dia harus berurusan dengan Satpam karena membawa dua wanita itu pulang telat.


**********

__ADS_1


__ADS_2