Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Keputusan Amara


__ADS_3

Amara sedang mempersiapkan pakaian yang akan dibawanya ke Pesantren. Perasaannya sedikit gundah. Namun, untuk menolak permintaan Pak Akmal tidak mungkin ia lakukan. Terlalu banyak kebaikan pria itu yang tidak bisa ia balas.


"Mara ..." Ameena menggoyang-goyang paha Amara sambil menatapnya dengan sendu.


"Ada apa, Na..? Lho ini kok bersikap aneh sih. Dari tadi nempel terus sama gue."


Bukannya menjauh, Ameena malah semakin mendekat lalu memeluk tubuh Amara dengan erat. "Mara, kok lho tega sih, ninggalin gue sendirian." Mengendus-endus pundak Amara.


"Na, apaan sih? Geli ... jangan mengendus-endus ah. Kayak kucing garong.."


Plak..!


Ameena memukul punggung Amara dengan keras. "Gue itu kayak gini karena gue itu berat pisah sama lho, Mara. Lho kenapa sih harus mendatangi keluarganya Kak Bian? Kenapa nggak mereka aja yang mendatangi kita."


"Hus, memangnya mau lamaran. Aku cuman mau mengenal keluarga besarnya saja, Na. Rencana pernikahan masih sangat jauh."


Ameena bangkit, berjalan pelan menjauhi Amara. "Kalau lho pergi, otomatis lho nggak bisa masuk kuliah. Lho seharusnya sadar, Mara. Semester ini lho banyakan nggak masuk kuliah." Berbalik menatap Amara.


"Tapi, gue juga tidak tau, Na. Pas gue mau minta izin tadi, eh, gue malah sudah diizinkan. Lagian gue juga nggak akan lama kok, Na. Hari senin nanti, insya Allah gue udah bersama lho lagi disini. Kalau ada lho, gue kan bisa minta lho menjelaskan sekiranya ada materi yang tidak gue pahami nantinya."


Ameena menghela nafas berat, merenung sejenak sambil menatap Amara dengan tajam. "Sekarang hari apa?" Jari-jarinya sudah terbuka untuk mulai berhitung.


"Hari selasa." Amara menjawab datar. Menunggu apa yang akan dilakukan Ameena karena tampang Ameena terlihat serius. "Mm.. rabu, kamis, jum'at, sabtu, minggu." Matanya melotot menatap Amara. "Lah, ini.. lho mau pergi sampai lima hari, Mara.."


"Masalahnya apa, Na? Izinnya aja boleh sampai satu minggu." Amara mengangkat bahu sambil melipat bibirnya.


"Ah, lho kok jadi nggak asyik gini sih." Menepis pelan lengan Amara. "Kalau lho kembali nanti, jangan lupa belikan gue oleh-oleh. Gue nggak ridho banget kalau lho pulang dengan tangan kosong." Sambungnya sambil melengos kesal. Sebenarnya, Ameena ingin Amara mengajaknya ikut serta ke Pesantren, itulah dia banyak tingkah sejak temannya mengatakan akan pergi. Tapi, ternyata Amara tidak peka dengan kodenya.


Amara hanya melongo bingung. Akhirnya ia memilih untuk mempersiapkan barang bawaannya kembali.


"Mara..!"


Amara mengangkat wajahnya, kembali menatap Ameena dengan bingung. Temannya itu bertingkah cukup aneh. "Mmm..."


Ameena menarik nafas dalam. "Kalau ada yang tidak baik sama lho di sana, lho cepat-cepat hubungi gue."


Amara tersenyum sambil menggeleng-geleng pelan.


*******


Amara celingukan menatap sekitar. Tidak ada orang yang dia kenal di tempat itu. Dia baru saja turun dari pesawat dan sedang mencari siapa yang datang menjemputnya.


Gadis itu mengeluarkan handphone dari tas selempang kecil yang di pakainya. Mencari nomor handphone Bian untuk bertanya pada pria itu.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Ra.."


"Wa'alaikumsalam, Kak. Aku udah keluar nih. Tapi, tidak ada orang yang aku kenal di sini."


"Aku di sini, Sayang. Jelaskan kostum yang kamu pakai, biar aku tidak kesulitan mencari kamu."


"Aku pakai setelan warna toska, Kak. Untuk jilbab, aku memakai pashmina dengan warna senada, tapi sedikit pucat."


Bian langsung mengedarkan pandangannya. Bibirnya mengulas senyum saat melihat Amara yang sedang celingukan sekitar sepuluh meter. Padatnya manusia di area kedatangan membuat wanita itu sedikit kesulitan mencari keberadaan Bian.


"Aku berada tidak jauh dari posisi kamu, Sayang. Kamu coba menatap ke utara. Aku memakai baju hitam dengan kaca mata hitam. Celana jeans warna cream dan sepatu warna putih. Aku sedang bersandar di mobil warna merah."


Amara menyebikkan bibirnya saat melihat Bian. Pantas saja dia tidak mengenal pria itu. Penampilannya kali ini benar-benar terlihat berbeda. Ia akhirnya berjalan mendekati pria yang masih bergaya itu. Menarik nafas panjang sebelum sampai di hadapan pria itu. Melihat Bian seperti itu membuat jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.


"Bagaimana penampilanku, Ra?" Bian menegakkan tubuhnya seraya menaik turunkan alisnya dengan bangga.


"Hmm..." Amara pura-pura berpikir keras.


"Ih, kamu kok pakai acara mikir segala sih, Ra."


Amara akhirnya tersenyum. "Heh, Kak Bian tetap terlihat tampan. Walaupun hanya pakai celana kolor pun, Kak Bian tetap terlihat tampan."


Bian tersenyum meringis. Membukakan pintu mobil untuk Amara. Hal itu membuat "Amara tersipu malu. Pipinya sampai menyemburkan rona merah. "T.. terimakasih, Kak," ucapnya kaku.


Deg..!


Bian duduk di sebelah Amara. Melihat tatapan Amara, pria itu langsung mengerti. "Nggak usah menatapku seperti itu, Ra. Dia itu asisten pribadi sekaligus pengawal khusus yang akan mengawasi ku setiap saat. Namanya Daniel, dia adalah anak sulung Pak Anton. Untuk umur, dia dua tahun lebih tua dariku."


Amara tersenyum samar. Oh, pantesan cuek orangnya. Ternyata anaknya Pak Anton. Bapaknya saja kaku kayak kanebo kering, batin Amara.


"Dia tidak akan menegur jika tidak ada yang menurutnya salah. Tapi, aku menyarankan, Kamu sebaiknya jaga jarak dengannya."


"Mm.." Amara mengangguk patuh agar urusan cepat selesai.


Bian menepuk-nepuk kepal Amara dangan sayang. "Sekarang kita ke Butik sebentar."


"Ke Butik, untuk apa, Kak?"


"Untuk membelikan kamu beberapa pakaian. Aku takut kamu nggak bisa beli apa-apa karena malu sama keluarga aku."


"Seharusnya Kak Bian tidak perlu melakukan ini, Kak. Aku sudah mempersiapkan semuanya dari rumah."


"Aku akan pergi nanti sore, Ra." Bian berkata tanpa menatap Amara.

__ADS_1


Amara sedikit terkejut. "P.. pergi kemana, Kak?" Bertanya dengan ragu. "Jangan bilang kalau Kak Bian mau pulang lalu meninggalkan aku bersama keluarga Kak Bian di sini."


"Ish, kamu ini ngomong apa sih." Bian kembali mengusap kepala Amara. "Aku mau ke Singapura, Sayang. Aku mau ikut tes. Tes apa aku juga nggak tau. Kakek cuman bilang, aku harus pergi untuk mengikuti tes itu." Menatap Amara dengan dalam. Semakin kesini, perasaannya pada gadis itu semakin dalam. Tidak bisa dipungkiri, kalau perasaan yang ia rasakan ini benar-benar terasa indah dan membuat hatinya selalu berbunga-bunga. "Ra..."


"Mm.." Amara yang sedang menunduk spontan mengangkat wajahnya menatap Bian. "Eh," kembali menunduk saat menyadari kalau jarak Bian begitu dekat dengannya.


"M.. Maaf membuatmu tidak nyaman, Ra." Menggeser duduknya seraya menurunkan tangannya yang masih bertengger di kepala Amara. "Astagfirullah, ya Allah.. apa yang aku lakukan.." ucapnya lirih, mengusap wajahnya dengan kasar seraya membuang nafasnya.


"T.. tidak apa-apa, Kak." Jawab Amara sedikit kaku. Dada gadis itu juga bergemuruh saat menyadari posisinya dengan Bian tadi.


Bian tersenyum kecil seraya melirik Amara. Tidak berani lagi menatap gadis itu dengan lama karena takut terhipnotis seperti tadi. "A.. aku akan pergi sekitar empat hari, Ra."


"Hah..?!" Amara langsung melotot pada Bian. "E.. empat hari, Kak..?!" Menatap dengan tidak percaya. "Itu berarti Kak Bian benar-benar meninggalkan aku di sini bersama keluarga besar Kak Bian."


Bian menghela nafas berat. "Aku juga tidak mengerti dengan keinginan Kakek. Tapi, aku sudah berjanji untuk mengikuti permainannya."


Hening..


Tidak ada lagi yang bicara setelah itu. Amara yang memikirkan keadaannya empat hari ke depan bersama keluarga besar Bian. Bian sendiri tenggelam dalam pikiran yang sedang campur aduk. Sedangkan Daniel, pria itu benar-benar seperti robot. Kaku dan tidak merespon sama sekali.


"Apa kita bisa berangkat sekarang, Tuan?" Akhirnya sang robot bisa bicara setelah cukup lama mereka diam.


"Oh iya.. maaf membuat Kak Daniel menunggu terlalu lama."


"Jangan berkata begitu, Tuan. Sudah manjadi kewajiban saya untuk melayani Tuan."


Mobil akhirnya bejalan meninggalkan Bandara. Sesekali, Bian melirik Amara yang terlihat masih tegang. Sepertinya gadis itu benar-benar terkejut dengan rencana kepergiannya.


"Jangan tegang gitu, Rara." Ucapan Bian memecah keheningan yang cukup lama tercipta.


Amara mengangkat wajahnya. "Aku.. aku hanya khawatir, Kak. B.. bagaimana aku akan bersikap pada keluarga Kak Bian nanti."


"Mengapa mengkhawatirkan itu? Kamu kan sudah biasa berinteraksi dengan Ibu dan Kak Ayra. Di sana cuman akan bertambah dengan Abah, Ummi dan keempat anaknya. Kak Alesha kamu juga sudah tau kan?"


Amara mengangguk. Namun, gadis Itu terllihat masih cemas. Ia menarik nafas dalam. "Bismillah, mudah-mudahan aku bisa."


********


Assalamu'alaikum...


Othor minta maaf pada teman-teman tercinta yang selalu setia membaca cerita receh ini. Akhir-akhir ini othor benar-benar sibuk karena sedang renovasi rumah yang bocor dimana-mana. Itulah mengapa jadwal updatenya acak-acakan dan terkadang tidak bisa update. Insya Allah, Othor akan kembali rutin update kalau semua urusan sudah kelar.


Love you all sekebon..😘😘😘

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya..


Wassalam..


__ADS_2