
Bian memegang ubun-ubun istrinya seraya memanjatkan doa. Mencium pucuk kepala istrinya setelah doanya selesai.
"Terimakasih, Kak." Air mata Amara bercucuran. Wanita itu benar-benar tidak bisa membendung air mata kebahagiaannya.
"Terimakasih sudah menerimaku dengan segala kekuranganku." Bian berbisik pelan di telinga istrinya. Amara tidak bisa menjawab. Hanya kepalanya yang mengangguk-anggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban untuk suaminya.
"Apa.. apa aku boleh membuka mukenah ini sekarang?" Bian memegang sedikit mukenah yang dipakai Amara.
Amara kembali mengangguk. Mulutnya masih enggan mengeluarkan suara. Hanya tangannya yang sibuk mengusap sisa air mata yang berhasil dia kendalikan.
Dengan ragu, Bian meraih bagian kepala mukenah istrinya. Melepasnya perlahan dari tubuh istrinya. "Masa Allah.. " ia menunduk seraya memejamkan matanya. "Terimakasih ya Allah. Engkau telah menganugerahkan istri yang sangat cantik dan solehah sebagai pendamping hidupku." Membuka matanya seraya menatap istrinya. Tangannya terangkat mengusap-usap wajah Amara.
"Kenapa kamu memotong rambut kamu seperti ini, Ra?" Bian memperhatikan rambut pendek Amara yang sudah berubah model menjadi bob di atas bahunya.
"Ha.." Amara mengangkat wajahnya. "Apa Kak Bian tidak suka?" Bertanya ragu karena tampang suaminya terlihat sedikit aneh.
"Bukan seperti itu, Sayang. Kamu terlalu imut dengan model rambut seperti ini. Kamu akan terlihat lebih dewasa dengan rambut panjang seperti kemarin."
"Aku hanya ingin mencoba hal baru di kehidupan baruku. Tapi, kalau Kak Bian tidak suka. Lain kali aku tidak akan memotongnya dengan model seperti ini lagi."
"Kamu tetap cantik, Sayang. Cuman, mungkin karena aku lebih suka melihat kamu dengan rambut yang lebih panjang. Kamu terlihat seperti ABG yang baru masuk SMA."
Amara tidak menimpali. Dia hanya menunduk mendengar nasehat suaminya.
"Kenapa kamu pakai jaket, Ra? Kamu sengaja ya, biar aku tidak mudah membuka hidangannya?" Bian kembali menggoda istrinya. Sengaja mengalihkan pembicaraan agar Amara tidak menunduk terus-menerus.
"Eh," Amara mengangkat wajahnya. Menatap suaminya sambil memanyunkan bibirnya. "Aku nggak ada niat seperti itu, Kak. Aku cuman nggak kuat dengan udara dingin di kamar ini. Aku takut kulitku jadi bentol-bentol nantinya." Timpal Amara tanpa menatap Bian.
"Astagfirullah... kenapa kamu nggak bilang dari tadi? Kalau kamu nggak kuat, aku akan mematikan AC nya." Bian langsung mengambil remote AC dan mematikannya. "Maaf ya, Ra. Aku kira kamu cuma tidak kuat dengan udara malam di luar ruangan."
"Tidak apa-apa, Kak. Seiring berjalannya waktu, kita akan semakin saling mengenal dan mengetahui kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dan..." Amara menatap mata suaminya. "Aku berharap Kak Bian tidak akan berubah saat mengetahui kekuranganku nantinya."
Bian tersenyum kecil."Semoga Allah selalu menjaga perasaan kita dari hal-hal yang tidak diinginkan."
"Aamiin.." Amara kembali menunduk.
Bian menatap istrinya yang masih menunduk. Dia harus memulai malam ini agar Amara benar-benar menjadi miliknya seutuhnya. "Rara..."
Amara mengangkat wajahnya saat mendengar suara lembut suaminya mendayu-dayu di telinganya. Jantungnya berpacu semakin cepat saat menyadari kalau Bian sedang menatapnya dalam. Perlahan, Bian mendekatkan wajahnya. Memanjatkan doa lalu mencium ubun-ubun istrinya. Pria itu tersenyum lembut sebelum akhirnya menyatukan b******* dengan b**** Amara. Pasangan baru itu merasakan ketegangan yang sama karena hal ini sama-sama menjadi yang pertama bagi mereka.
__ADS_1
"Kita harus melakukan pemanasan sebelum olahraga. Menurut yang aku pelajari, wanita itu diibaratkan sebuah mesin motor. Mesin itu akan licin jika di beri pelumas yang baik terlebih dahulu."
Amara mengangguk seraya menyunggingkan senyum kecil. Bibirnya terasa berdenyut karena di ***** habis oleh Bian tadi.
"Jaketnya aku buka ya.." Bian meraih resleting jaket Amara. Setelah melihat anggukan kepala Amara, ia membuka resleting itu dengan sangat hati-hati. Matanya terasa sulit untuk berkedip melihat pemandangan di depannya. Ini adalah pertama kalinya dia melihat pemandangan seperti ini dengan jarak yang sangat dekat.
"Tunggu, Kak!"Amara menahan tangan Bian yang sudah meraih tengkuknya.
"Ada apa?" Bian menatap istrinya dengan heran.
"Aku hanya ingin mengatakan sesuatu, Kak." Ucap Amara cepat.
"Katakan saja. Aku akan mendengarnya."
Amara menarik nafas dalam. "Aku hanya ingin Kak Bian berjanji padaku, kalau Kak Bian akan menerima apapun keadaanku nantinya. Malam ini, aku akan menyerahkan seluruh jiwa dan ragaku pada Kak Bian. Akan tetapi, bagaimana pun keadaanku nantinya, aku ingin Kak Bian menerima itu."
Bian mengernyit mendengar ucapan istrinya. "Maksud kamu apa?"
"Aku tidak tau keadaanku, Kak. Apakah aku masih perawan atau tidak. Tiga hari aku tidak pernah membuka mata waktu Nyonya membawa ku ke Singapura. Aku tidak tau keadaanku. Itulah mengapa aku berkata begitu. Aku ingin Kak Bian berjanji akan menerima apapun keadaanku." Amara menatap suaminya penuh harap.
Seketika raut wajah Bian terlihat berubah. Pria itu sangat yakin kalau dirinya adalah satu-satunya orang yang akan menyentuh Amara. Namun, ucapan istrinya tadi membuat keyakinannya itu goyah. "Apa aku harus berjanji untuk hal itu?" Melirik Amara lalu menatap lurus ke depan.
"Tentu saja. Aku harus memastikan kalau aku akan baik-baik saja setelah malam ini. Aku tidak mau terbuang jika Kak Bian kecewa padaku malam ini."
"Terimakasih, Kak." Amara membalas pelukan suaminya dengan melingkarkan tangannya di leher pria itu.
"Kita lanjutkan..."
Amara menatap Bian sebelum akhirnya mengangguk pelan.
Bian tersenyum, mengecup bibir Amara sekilas. "Aku yakin, Ra. Aku adalah satu-satunya yang akan melakukannya untukmu."
"Aku juga berharap begitu." Jawab Amara lirih.
Malam panjang itu berlangsung dengan olahraga pasangan suami istri itu. Setelah satu jam bertanding di atas ranjang. Amara terkapar dan dinyatakan kalah dalam pertandingan. Tubuhnya lemas dengan keringat bercucuran.
Bian tersenyum melihat istrinya yang tidak berani membuka matanya. Pria itu sungguh bahagia dan mengucap syukur saat melihat bercak darah di tempatnya mencetak gol tadi.
"Bagaimana rasanya, Sayang?" Berbisik pelan di telinga istrinya seraya menggigit pelan daun telinga Amara.
__ADS_1
"Ih, jangan kayak gini, aku geli..." Amara membuka matanya. Matanya langsung bertatapan dengan mata Bian dengan jarak yang sangat dekat. "B.. bagaimana keadaanku, Kak?" Bertanya ragu karena Bian tidak mengatakan apapun setelah berhasil membobol gawang pertahanannya.
"Apa yang kamu rasakan?" Bian menarik tubuh Amara sampai menempel di tubuhnya tanpa ada tirai pembatas. Balik Bertanya tanpa memperdulikan raut wajah cemas istrinya.
"Aku bertanya pada Kak Bian. Jangan sampai kekhawatiranku tadi..."
"Sssttt..." Bian meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Amara. "Jangan katakan apapun, Sayang. Kamu adalah yang terbaik." Menenggelamkan wajahnya di leher istrinya. Pria itu masih kaku untuk me**** t**** istrinya karena ini adalah pengalaman pertama mereka.
Amara menelan ludahnya seraya menarik kepala Bian agar menatapnya. "Aku masih ori, itu maksud Kak Bian?" Menatap suaminya penuh harap.
Bian tertawa kecil. "Memangnya ada Amara versi kw?"
"Ck.. please deh, Kak. Aku khawatir banget nih.." Amara memukul-mukul dada Bian karena kesal.
"Kita kan sudah ada kan perjanjian tadi. Apapun yang terjadi aku harus menerima keadaan kamu."
Amara menunduk. Giliran dirinya yang menenggelamkan wajahnya di dada Bian. "Aku hanya ingin tau saja."
"Kalau kamu ingin tau, kamu bisa bangun dan melihat spray di bawah gawang kamu. Kalau ada noda merah, itu berarti gawang kamu masih ori karena tidak pernah di pakai sebelumnya."
Amara menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Baru saja akan bangkit, ia meringis karena gawangnya terasa sakit.
"Aw..." Amara meringis dan kembali merebahkan tubuhnya. Melihat istrinya menahan sakit membuat Bian beranjak bangkit. Mengambil pakaiannya dan memasangnya.
"Apanya yang sakit, Ra?"
Amara kembali meringis. Menatap Bian dengan tatapan sendu. Hidungnya kembang kempis bingung bagaimana menceritakan rasa sakit yang dia rasakan pada suaminya. "Hiks... hiks... hiks..."
"Hey.. mana yang sakit, Sayang..?" Bian meraih tubuh istrinya lalu memeluknya. "Katakan mana yang sakit. Kita ke Rumah Sakit kalau kamu tidak kuat."
"Aaa... gawang aku sakit, Kak. Orang bilang, main bola itu rasanya enak. Tapi.. tapi.. hiks.. hiks.. ini kenapa sakit sekali.." Amara kembali memukul-mukul dada Bian.
Bian diam beberapa saat mendengar ucapan istrinya. Namun, pria itu akhirnya tertawa setelah paham maksud istrinya. "Apa perlu aku membantumu bangun?"
"Tidak.. aku mau tidur lagi." Amara merebahkan tubuhnya kembali.
Bian menahan senyum seraya mendekati istrinya. "Tapi, kamu beneran sakit kan, Ra?" Mengernyit heran.
"Memangnya aku terlihat sednmang bersandiwara?" Amara merenggut kesal. "Tau begini, aku akan berpikir dua kali tadi."
__ADS_1
Bian masih mengernyit. "Aku harus mencari tau hal ini."
*********