Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Canggung


__ADS_3

Bian mengernyit mendengar ucapan keponakannya. Ia melirik ke belakang karena mendengar suara orang cekikikan. Ingin tersenyum tetapi ia urungkan karena melihat tampang Ameena yang sepertinya sedang menertawakannya. Akhirnya memilih untuk kembali menatap dua orang di depannya.


"Uncle ndk pelnah ke lumah. Kalau Mama syuluh ke lumah, Uncle pasti syibuk." Adzra melanjutkan aduannya pada Amara.


Amara melirik Bian seraya menelan ludahnya. "Masa sih, Sayang.." mengusap-usap rambut Adzra yang terlihat mulai memanjang. "Terus, Adzra main sama siapa kalau nggak ada Uncle dan Kak Mara?"


Adzra menggeleng-geleng pelan. "Adzla syama Mama. Uncle ndk mahu ke lumah. Syibuk school kata Papa."


Bian menyebikkan bibirnya. Adzra benar-benar mengadukan semuanya pada Amara. Ia berjalan lebih mendekat pada Amara yang masih menggendong keponakannya itu. "Kak Maranya capek, Sayang. Sini, Adzra sama Uncle dulu. Nanti Adzra main lagi sama Kak Mara." Bian menyodorkan tangannya pada Adzra. Mencoba mengalihkan situasi yang membuatnya merasa semakin terpojok. Tapi anak yang ingin diambilnya tidak menatapnya sama sekali.


Ameena semakin menikmati suasana itu. Wanita yang doyan selfi itu tidak lupa mengabadikan momen yang membuatnya terhibur setelah berperang dengan soal saat tes tadi.


"Adzla ndk mahu, nanti Kak Mala pelgi lagi." Adzra memeluk leher Amara dengan erat. Enggan menatap Bian yang masih menyodorkan tangannya.


"Mm.. ng.. nggak apa-apa kok, Kak. Aku juga masih rindu sama ni bocah." Hanya itu jawaban Amara. Setelah itu ia berjalan menjauh dari Bian. Membawa Adzra ikut serta. Mengajak anak itu duduk di bangku di bawah pohon rindang di depan gerbang Kampus.


Bian terdiam, bingung mau melakukan apa. Dia hanya berdiri mematung melihat Amara dan Adzra yang menjauhinya.


"Canggung ya, Kak.."


"Eh," Bian terkejut mendengar suara di belakangnya. Tenyata Ameena masih berdiri di belakangnya.


"Amara sudah menceritakan semuanya. Sejak pengakuannya hari itu, dia merasa malu kalau harus menghubungi Kak Bian. Dia sadar, seharusnya tidak mengatakan itu terlalu cepat. Amara, Khanza, dan aku memang mengagumi Kak Bian. Tapi, karena Amara yang lebih dekat dengan Kak Bian, itulah mengapa dia sampai mengatakan itu." Ameena menarik nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Amara memang begitu orangnya, Kak. Dia tidak pandai menyembunyikan perasaannya. Apa yang ada dipikirannya terkadang terucap dengan spontan. Dia sulit dekat dengan seseorang. Tapi, sekalinya dekat dia akan seperti ini. Malu berinteraksi dengan orang yang dia kagumi tersebut.


Bian menelan ludahnya. Apakah perasaan wanita sangat sensitif, sehingga langsung terasa canggung seperti ini. Ia menghela nafas berat. "Apa aku salah tidak merespon ucapannya waktu Itu?" Bian melirik Ameena. "Aku tidak mau membuatnya berharap sedangkan aku terlalu sibuk. Sampai sejauh ini, aku memang belum berniat untuk dekat dengan wanita. Daripada menghabiskan waktu untuk pacaran, lebih baik menyibukkan diri untuk memantaskan diri dengan jodohku kelak."


Ameena hanya mengangkat bahu untuk menjawab pertanyaan pria itu.

__ADS_1


"So, what will I do now?"


Ameena menyebikkan bibirnya. "Don't use english with me. I can't answer your question. I'm not your Amara." Ameena melengos mengalihkan pandangannya.


"Nah, itu kan kamu bisa." Bian tersenyum melihat reaksi gadis itu.


"Aku nggak bisa ngomong banyak. Cuman, kalau yang sekelas kayak tadi sih, bisa." Ameena sudah bersiap untuk pergi, tetapi Bian segera menghentikannya. "Jangan pergi dulu. Aku butuh solusi, agar bisa berinteraksi seperti biasa dengan Amara." Bian menatap Ameena harap-harap cemas.


"Mm.." Ameena menatap Bian. Tetapi, pandangannya tiba-tiba tidak bisa teralihkan dari Bian. Pria di depannya benar-benar menarik perhatian. Selain memiliki wajah yang tampan, kemapanan dan kesopanannya patut di acungi jempol. "Menatap Kak Bian terlalu lama membuatku terhipnotis." Kata-kata itu spontan keluar dari mulutnya.


"Hah, maksud kamu apa?" Bian menautkan alisnya mendengar ucapan Ameena.


"Ups," Ameena langsung menutup mulutnya. "Maaf, Kak. Itu hanya suara hati jomblo yang tak kesampaian."


"Ck.. aku nggak ngerti bahasa kayak begituan. Kalau ngomong sama aku itu, nggak usah pakai bahasa yang aneh-aneh. Aku nggak akan ngerti maksud kamu nantinya."


Ameena memejamkan matanya untuk menahan jantungnya yang tiba-tiba berdetak semakin cepat. Ngomong lama dengan fans beratnya ternyata mempengaruhi kenormalan detak jantungnya. "Mm.. sebaiknya.. untuk saat-saat ini, Kak Bian berinteraksi melalui chat saja. Untuk bicara sepertinya Amara masih nggak enak. Jangan sampai candaan malah disangkanya serius nanti."


"Ok.. ok.." Ameena mengerlingkan matanya pada Bian seraya berjalan mendekati Amara. Melihat tingkah Ameena, Bian hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.


Mara, kamu ajak Adzra ke mobil ya..


Aku nggak bisa lama-lama di sini karena aku ada jam kuliah jam dua nanti.


Bian mengirim pesan pada Amara. Tidak sopan rasanya jika hanya menyuruh Ameena mengatakan itu pada Amara.


Bian tersenyum saat melihat Amara bangkit dari duduknya.


*********

__ADS_1


Hari demi hari terus berlalu. Tidak ada tanda-tanda Amara akan bicara normal dengan Bian. Masih saja ada rasa canggung saat berinteraksi dengan pria itu. Ada rasa penyesalan dalam hati Amara. Seharusnya dia mengikuti saran Ameena untuk tidak mengungkapkan perasaannya terlalu cepat.


Malam itu, Amara sulit memejamkan mata. Siang tadi, Khanza tiba-tiba muncul di hadapannya saat dia sedang menikmati makan siang dengan Ameena di Kantin sekolahnya. Ucapan Khanza yang menjelek-jelekkan dirinya di depan teman-temannya yang lain menjadi beban pikirannya malam ini. Semua ini tidak luput karena Ameena yang selalu senang memanas-manasi Khanza. Ameena sengaja mengumbar kedekatan Amara dengan Bian. Bukan hanya dilingkungan sekolah, tetapi gadis itu menyebar luaskan foto Amara dan Bian saat mereka bersama.


Bermula dari Ameena yang tersenyum sinis saat melihat Khanza masuk ke dalam Kantin. Entah mengapa, ucapan gadis itu yang mengatakan, kalau dirinya dan Amara adalah benalu masih saja membekas dalam ingatannya. Ameena sengaja menyebut-nyebut nama Bian dengan keras sampai suaranya mengganggu ketenangan seorang Khanza.


Lamunan Amara buyar saat mendengar bunyi notifikasi pesan masuk di handphonenya. Ternyata ada pesan dari Ameena.


Mara, gue kok nggak bisa tidur. Gue masih kepikiran ucapan pedas si Khanza tadi siang.


Amara menarik nafas dalam. Ia langsung menulis pesan balasan untuk Ameena.


Sama, Na. Gue juga nggak bisa tidur. Makanya lain kali lho nggak usah memancing amarah dia. Seharusnya kita maaf-maafan, karena kita resmi berpisah dengan semuanya. Tapi, lho malah menjadi pembuat onar.


Gue masih dendam sama dia, Mara. Gue nggak suka dengan kesombongannya yang kelewatan batas itu.


Saat akan membalas pesan Ameena, ada pesan lain yang masuk di handphone Amara. Ternyata pesan itu dari Bian. Perasaannya semakin tidak karuan menerima pesan dari pria itu.


Assalamu'alaikum, Mara. Udah tidur apa belum? Kalau belum, aku mau menanyakan sesuatu.


Amara hanya membaca pesan itu. Ada perasaan sungkan kalau harus membalasnya. Entah mengapa perasaannya masih saja terasa aneh kalau berinteraksi dengan pria itu. Padahal tidak ada masalah serius sebelumnya. Amara hanya merasa tidak enak karena terlalu cepat menyatakan cinta pada pria itu. Mungkin karena sifatnya yang blak-blakan, itu yang membuatnya lebih suka mengutarakan apa yang ada dalam hatinya. Tetapi, bodohnya dia tidak menunggu reaksi Bian waktu itu. Dia malah langsung kabur membawa Adzra tanpa menunggu jawaban Bian. Terlalu malu rasanya kalau harus berdiam di depan pria itu.


Kamu membaca pesanku, tapi kenapa kamu tidak membalasnya?


Pesan masuk lagi. Ternyata si tukang tuntut sedang memantau status pesan yang dikirimnya. Amara hanya melihat. Tangannya masih terasa kaku kalau harus menulis pesan balasan. Ia hanya menatap benda gepeng yang sengaja ia letakkan di depannya. Pesan masuk lagi.


Aku rindu kamu yang dulu, Mara. Aku nggak enak berinteraksi dengan kamu yang seperti ini. Aku kerasa kayak gimana... gitu.


Amara menarik nafas panjang. Ia harus membalas pesan itu. Bian akan terus-menerus mengirim pesan jika ia tidak menjawabnya sekarang.

__ADS_1


Beri aku waktu. Aku hanya butuh waktu untuk ini. Hanya kalimat itu yang dikirim Amara untuk membalas pesan Bian. Semua masih terasa berat untuk terucap dan terlaksana. Amara juga ingin seperti dulu dengan pria itu. Tidak bisa dipungkiri kalau dirinya juga merindukan canda tawa dengan pria itu. Tapi, seperti yang diucapkannya tadi kalau semua butuh waktu.


*********


__ADS_2