
Bian duduk termenung di ruang kerjanya. Ia menunda keberangkatannya untuk kembali ke Perusahaannya karena mendapat secercah harapan setelah kembali dari rumah Pak Arif. Tadinya, dia hanya berniat mengunjungi Pak Arif untuk melakukan silaturrahim agar Pak Arif selalu mengingatnya. Namun, hal tak terduga malah dia dapatkan. Hal itu membuatnya beberapa kali tersenyum sendiri tanpa sebab.
Daniel pun sempat keheranan melihat tingkah tuannya itu. Mobilnya bahkan sempat menepi karena ingin bertanya pada Bian. Namun, dia simpan rasa ingin tahunya itu karena Bian tidak pernah menjawab pertanyaannya. Pria itu hanya tersenyum dan meminta Daniel melanjutkan perjalanan.
Bian memutar-mutar kursi kerjanya. Tatapan matanya fokus menatap foto Amara yang seolah-olah sedang tersenyum menatapnya. "Hah, Rara.. Rara.., aku benar-benar bahagia saat ini, Sayang. Aku baru tau kabar kamu saja, aku sangat bahagia. Bagaimana kalau aku bertemu dengan kamu. Apakah aku sanggup bertahan untuk tidak memelukmu?" Bian tersenyum sendiri seraya meraih foto Amara. Mengusap wajah di foto itu. "Aku bahagia bisa mencintai wanita sepertimu. Allah memang Maha Segalanya, Ra. Sekuat apapun dan dengan cara apapun manusia berusaha memisahkan kita. Jika Allah tidak menghendaki hal Itu, maka Allah akan menunjukkan jalan untuk kita bisa bertemu lagi. Aku semakin yakin, kalau kamu adalah takdirku, Ra. Iya ... walaupun aku belum tau kamu ada di mana." Bian menghela nafas berat. Ujian cinta ini menjadi kesan tersendiri dalam hidupnya. Dia adalah tipe laki-laki yang sulit berpaling. Mencintai hanya satu wanita adalah keputusannya yang sulit diganggu gugat.
Bian bangkit setelah cukup lama termenung. Sudah jam sebelas malam. Seharusnya pria itu sudah istirahat. Mengingat jadwal kerjanya yang padat. Pulang ke rumahnya tidak membuatnya libur bekerja. Yang ada email yang diterimanya malah semakin banyak.
Baru saja membuka pintu ruang kerjanya, Bian terkejut saat mendapati ibunya sudah berdiri di depan pintu. "Ibu.." tersenyum kecil pada ibunya. "Ibu kok belum tidur?"
Bu Santi menatap putranya lalu menghela nafas berat. "Ibu yang seharusnya bertanya, kenapa kamu belum tidur, Nak? Kamu itu super sibuk loh, sekarang. Apakah sampai jam segini ada pekerjaan yang harus diselesaikan?"
"Mm..." Bian menuntun ibunya untuk duduk di sofa depan ruang kerjanya. "Nggak ada kerjaan sih, Bu. Tapi Bian hanya merenung saja tadi. Tadi sebelum Ashar itu Bian menemui Papa Arif, Bu."
Bu Santi menatap putranya dengan alis tertaut. "Oh, kamu nggak pernah cerita sama Ibu." Bu Santi menarik tangan putranya lalu menggenggamnya dengan erat.
"Hmm.. aku kan nggak ketemu Ibu pas pulang tadi. Ibu masih di toko. Aku baru sekarang bertemu Ibu. "
"Hasil pertemuan dengan calon mertua?" Bu Santi menatap mata putranya. Tangannya masih menggenggam erat tangan Bian.
Bian menarik nafas dalam sebelum mulai bercerita. "Papa Arif sudah menemukan Rara, Bu."
Bu Santi tertegun beberapa saat. Antara percaya dan tidak dengan ucapan putranya. "K.. kamu tidak sedang membohongi Ibu kan, Nak?"
"Ibu.. kenapa Ibu ngomong begitu? Untuk apa Bian berbohong, Bu." Bian menatap ibunya sambil menghela nafas berat. "Tapi, Papa tidak mau memberitahu Bian dimana Rara. Papa hanya bilang, Rara baik-baik saja dan sudah bekerja di sana."
__ADS_1
"Amara di kota mana, Nak? Ibu akan mencarinya walaupun dia di ujung Indonesia timur." Bu Santi semakin erat menggenggam tangan putranya. Matanya menatap Bian dengan penuh harap.
Bian menggeleng-geleng pelan. "Sayangnya, Bu. Rara tidak ada walaupun di ujung Indonesia timur. Nenek membuangnya sangat jauh dari kita. Nenek membawa Rara ke luar negeri. Tapi, untuk negaranya Papa Arif tidak mau memberi tahu Bian. Intinya, Rara baik-baik saja, walaupun dia sempat menjalani terapi karena Nenek menyuntikkan obat tidur dosis berat saat membawanya pergi."
"Astagfirullahal'adzim.." Bu Santi mengusap dadanya karena terkejut. "Nenek kamu itu benar-benar, Nak. Huh, Ibu kok malah bersyukur melihatnya mangalami kecelakaan. Dia itu suka bertindak kelewatan batas dan benar-benar menguji kesabaran orang."
Bian menahan senyum mendengar ucapan ibunya. Wanita yang memiliki tingkat kesabaran di atas rata-rata itu ternyata mengeluarkan uneg-unegnya. Biasanya, Bu Santi akan marah kalau Bian ngomong yang tidak-tidak.
"Kenapa ekspresimu kayak gitu, Nak?" Bu Santi menepis tangan Bian yang dalam genggamannya.
"Hah, ternyata Ibuku yang penyabar ini bisa kesal juga." Akhirnya tersenyum karena tidak tahan. "Tumben nih, Ibu nggak belain Nenek. Biasanya juga marah kalau aku ngomongin Nenek."
Giliran Bu Santi yang menautkan alisnya menahan senyum. "Mm.. bagaimana ya, Nak. Kayaknya Ibu terlalu baik kalau terus-terusan membelanya. Yang ada dia malah semakin meremehkan Ibu." Menepuk-nepuk punggung tangan Bian. "Sudahlah, Nak. Itu semua hanya bunga-bunga dalam kehidupan ini. Lebih baik sekarang kamu istirahat. Ibu tau kamu pasti capek. Menjadi pemimpin itu berat, Nak. Ibu tau hari-harimu tidak terlewatkan dengan mudah. Tapi, Ibu juga percaya, kalau putra Ibu adalah orang yang bertanggung jawab."
Perhatian Bian teralihkan saat tiba-tiba benda gepeng di tangan kirinya bergetar. Pria itu menatap handphonenya dengan heran. Nomor telepon yang menghubunginya adalah nomor telepon luar negeri.
Bian melirik ibunya lalu kembali menatap handphonenya. "Ini bukan nomor Indonesia, Bu. Ini kode negaranya +65. Kalau nggak salah, ini adalah kode negara Singapura." Panggilan terhenti karena Bian tidak menjawab. Namun, hanya berselang beberapa detik, nomor itu kembali menghubunginya.
"Dijawab saja, Nak. Siapa tau itu dari rekan kerja kamu."
Bian termenung beberapa saat sebelum akhirnya mengusap ikon telepon berwarna hijau di layar handphonenya. Bian terdiam setelah menjawab panggilan itu. Ingin mengucap salam, tetapi ia urungkan karena panggilan itu dari luar negeri.
"Halo.."
"Halo, ini siapa?"
__ADS_1
Tut.. tut.. tut..
Panggilan terputus secara sepihak. Hal itu membuat Bian semakin keheranan. Jika panggilan itu dari rekan kerja ... tapi itu tidak mungkin. Orang yang bekerjasama dengannya tidak pernah menghubunginya secara langsung. Orang akan menghubunginya lewat Daniel terlebih dahulu.
"Kenapa, Nak?" Bu Santi menyentuh tangan Bian karena melihat putranya seperti orang bingung.
"Nggak tau, Bu. Kayaknya ini orang nyasar. Saat aku bilang ini siapa, dia malah mematikannya." Bian mengangkat bahunya.
"Sudahlah, Nak. Jangan terlalu dipikirkan. Sekarang kamu istirahat. Ibu tau kamu capek. Berada di posisi kamu ini tidaklah mudah, Nak."
"Hah..." Bian menarik nafas panjang. Benar kata ibunya, dia harus istirahat karena beratnya beban yang sedang dipikulnya. "Bian istirahat dulu kalau begitu, Bu. Ibu juga istirahat ya.."
"Iya, Nak." Bu Santi mengecup dahi putranya. Hal itu selalu dilakukannnya sebelum Bian istirahat.
Baru saja Bian masuk ke dalam kamar. Nomor telepon asing itu kembali menghubunginya. Awalnya Bian ingin menolak panggilan itu. Namun, ia kembali mempertimbangkan. "Halo, selamat malam." Mencoba menyapa dengan salam dan suara yang lebih rendah.
Tidak ada suara apapun dari sebrang. Hal itu membuat Bian semakin keheranan. "Selamat malam, ini dengan siapa? Kalau ada yang ingin disampaikan silahkan. Saya sudah dua kali ini menerima panggilan anda, tetapi anda tidak mau bicara. Jika anda belum siap bicara, silahkan hubungi saya di lain waktu. Untuk saat ini saya mau istirahat."
Tut.. tut.. tut...
Panggilan terputus. Bian semakin keheranan. Pria itu mencoba mengingat, apa ada rekan kerja atau siapa di Singapura. "Oh," mata Bian berbinar saat menyadari kalau itu mungkin teman kuliahnya dulu.
Bian memutuskan untuk menghubungi nomor itu besok pagi. Malam sudah cukup larut. Bercakap-cakap dengan teman pasti membutuhkan waktu lama. Ia akhirnya menonaktifkan handphonenya agar tidak menjadi pengganggu waktu istirahatnya.
Bian membuka bajunya dan menggantinya dengan baju tidur. Ia merebahkan tubuhnya seraya menarik nafas panjang, memenuhi rongga hidungnya dengan udara. Hari ini terasa berat dan panjang. Namun, sedikit harapan kebahagiaan memenuhi perasaannya setelah bertemu dengan Pak Arif. Setidaknya beban pikirannya sedikit berkurang setelah mengetahui kalau Amara baik-baik saja. Tinggal mencari tau dimana keberadaan gadis itu. Tapi, itu adalah tugas belakangan. Malam ini tubuh dan pikirannya butuh istirahat dengan baik, agar besok bisa menjalani hari tanpa adanya drama mengantuk saat sedang bekerja.
__ADS_1
Bian benar-benar terlelap. Ia hanya berharap bisa bermimpi bertemu dengan Amara dan bisa memeluk gadis itu dalam mimpinya.
**********