
Bian langsung mendengus mendengar ucapan Daniel. "Surprise dari Hongkong. Ini mah namanya musibah, Kak. Tadinya aku berniat mau menanyakan dia mau makan apa. Soalnya dari kemarin tidak fit. Aku juga nggak menduga kalau saat menghubungiku tadi siang, dia ada di kantor." Ucap Bian tanpa menatap Daniel. Ia fokus menatap benda gepeng miliknya karena ada beberapa pesan yang belum terbaca.
"Nah, ini nih kesalahan fatal aku. Aku langsung memasukkan handphone ke dalam saku tanpa menunggunya membalas pesanku."
"Hmm.. seharusnya Nona Amara tidak semarah itu pada Tuan. Tapi ... entahlah, Tuan. Karakter wanita itu bermacam-macam dan terkadang sulit di tebak."
Bian menghela nafas berat. "Beberapa hari terakhir ini Rara agak sensitif. Aku terkadang tidak mengerti maunya apa " Mengusap wajahnya dengan kasar. "Kita lanjutkan perjalanan, Kak. Aku harus segera menyelesaikan masalah ini. Jangan sampai Rara benar-benar tidak mau pergi ke pesta itu. Bisa-bisa Kakek tidak mengakui aku sebagai cucunya lagi."
Daniel tidak menimpali. Ia hanya menghidupkan mobil dan melanjutkan perjalanan sesuai dengan perintah tuannya.
Daniel masih diam di dalam mobil, walaupun Bian sudah turun dari tadi. Ia hanya menunggu karena tuannya itu terlihat ragu untuk melangkahkan kakinya ke dalam rumah.
Sekitar sepuluh menit menunggu, Bian membuka pintu. Hal itu membuat Daniel memutar balik kendaraannya, karena merasa semuanya sudah aman terkendali.
Bian hanya tersenyum pada Asisten yang membukakannya pintu rumah. Tidak terlihat ada istrinya di sana. "Dimana Amara, Bi?" Sengaja bertanya karena tidak mau asisten itu curiga.
"Nona Amara ada di dalam kamar bersama Nyonya, Tuan. Nona Amara sedang bersiap untuk acara Tuan nanti malam."
Bian mengernyit mendengar panggilan asisten itu untuk istrinya. "Kenapa Bibi masih memanggil istri saya dengan sebutan Nona? Rara sudah menikah dan dia adalah istriku. Seharusnya Bibi tidak usah pakai kata Nona lagi."
"Ah, Nona Amara masih terlalu muda dan cantik kalau dipanggil Nyonya, Tuan. Saya malahan yang tidak nyaman memanggilnya dengan sebutan itu."
"Hah, terserah Bibi kalau begitu." Bian melanjutkan langkahnya. Menenteng tas kerjanya sendiri sampai ke lantai dua dimana kamarnya berada. Ia merasa sedikit aneh karena biasanya Amara yang langsung mengambil alih tas kerjanya begitu pintu depan terbuka.
Bian menghentikan langkahnya. Mendorong pelan pintu kamarnya yang ternyata terkunci dari dalam. Tangannya langsung memutar-mutar kenop pintu. "Ra .. Rara.. aku pulang, Sayang. Buka pintunya.. aku minta maaf untuk kejadian tadi."
Ceklek...!
Pintu terbuka dari dalam. Namun, bukan wajah Amara yang terlihat, melainkan wajah Bu Santi yang langsung melayangkan tatapan tajam untuknya. "Kamu berisik, Nak. Istri kamu sedang istirahat sebentar. Dia bilang kamu mau mengajaknya ke pesta nanti malam."
__ADS_1
"R.. rencananya sih begitu, Bu. Tapi, kalau kondisi tubuhnya masih tidak memungkinkan, aku tidak mungkin memaksanya."
"Keadaannya alhamdulillah sudah membaik. Tadi juga Ibu membawanya ke Dokter. Maaf karena Ibu tidak memberitahumu. Seharusnya Ibu tidak membawanya untuk memeriksa...." Bu Santi langsung menutup mulutnya karena hampir saja keceplosan mengatakan tentang kandungan Amara. "M.. maksud Ibu, seharusnya Ibu tidak pergi membawanya sebelum mendapatkan izin dari kamu. Amara beberapa kali menghubungi kamu, tapi kamu tidak merespon sama sekali."
"Handphonenya aku silent, Bu. Orang yang aku temui hari ini benar-benar cerewet dan banyak maunya. Pas aku jawab telepon Rara tadi siang saja, orang itu protes. Dia sampai bilang aku tidak profesional segara. Huh, benar-benar menyebalkan. Lain kali kalau Kakek memintaku untuk menemui orang seperti itu, aku akan langsung menolak. Buang-buang kesabaran saja."
"Kontrak kerjasamanya, dapat atau tidak?"
"Dapat sih..."
"Ya udah, itu nilai plusnya untuk kamu."
Bian menyandarkan tubuhnya di sofa seraya mengusap wajahnya dengan kasar. "Apa dia marah padaku, Bu?" Menatap ke arah ranjang dimana Amara sedang beristirahat.
"Ibu tidak tau, Nak. Sepertinya tidak sampai seperti itu."
Bian beralih menatap ibunya. "Tapi, dia ngegas saat menjawab teleponku tadi." Memperbaiki posisi duduknya.
"Hah," Bian menghela nafas berat.
Bu Santi menepuk pundak putranya. "Kamu selesaikan urusanmu dengannya. Jangan selesaikan masalah dengan emosi ya, Nak. Jadi suami itu harus bisa mengontrol emosi. Ibaratnya, kamu harus bisa menjinakkan singa yang sedang lapar. Istrimu saat ini sangat sensitif." Tersenyum menatap putranya yang mengangguk-angguk mendengar nasehatnya. "Ibu mau pulang untuk bersiap dulu. Nanti jam delapan kita berangkat."
"Iya, Bu." Bian menatap ibunya yang keluar dari kamar. Setelah ibunya pergi, Bian mendekati ranjang. Duduk di sisi ranjang di hadapan istrinya. Menarik nafas panjang sebelum mulai bicara.
"Ra, aku tau kamu cuman pura-pura tidur. Kita perlu bicara agar masalah ini tidak berkepanjangan. Kita tidak mungkin menghadiri pesta dengan keadaan seperti ini, Sayang. Orang akan curiga dengan hubungan kita kalau kita tidak berkomunikasi dengan baik nantinya."
"Jangan dibahas, Mas. Aku juga sedang mencoba mengerti dengan kesibukan kamu. Tapi, aku akan jujur saat ini, kalau aku sangat tidak suka diabaikan. Aku paling kesal dengan orang yang mengabaikan aku." Amara menimpali tanpa sedikitpun membuka matanya.
Bian menarik sudut bibirnya mendengar jawaban istrinya. Setidaknya istrinya tidak diam, agar dia tidak bingung bagaimana menghadapinya.
__ADS_1
"Kamu sudah makan atau belum?" Bian mulai merayu untuk menjinakkan singa betinanya.
"Nggak nafsu, Mas. Kamu saja yang makan. Kamu kan capek seharian cari uang. Aku mah apa, kerjaannya cuman menghabiskan uang dan rebahan di rumah." Masih memejamkan mata.
Bian kembali menarik nafas panjang. Sepertinya, tekanan darah istrinya sedikit naik sehingga masalah yang sebenarnya tidak perlu dipermasalah ikut dibahasnya.
"Aku mau makan, Ra. Apa kamu mau menemaniku? Aku tidak bisa makan dengan baik kalau tidak ada kamu. Kemarin saja Ibu marah karena aku hanya mengaduk-aduk makananku dan tidak berselera untuk makan dengan baik."
Amara tidak menjawab. Dia malah merespon suaminya dengan membalik posisi tidurnya. Sebenarnya, dia tidak tega melakukan ini pada Bian. Mengingat suaminya lelah seharian. Belum lagi sampai rumah, dia harus menghadapi dirinya yang seperti ini. Tapi, dia takut suaminya akan terbiasa mengabaikannya kalau dia tidak bersikap seperti ini.
"Ya sudah, kalau kamu tidak mau menemaniku, aku tidak akan makan. Maafkan aku, Sayang. Aku mau mandi dulu. Mau bersiap untuk shalat jamah di Masjid." Bian mengusap-usap kepala istrinya. Mendaratkan satu ciuman di dari Amara sebelum benar-benar bangkit untuk pergi mandi.
Amara membuka matanya setelah yakin kalau suaminya sudah berangkat ke Masjid. Mengusap wajahnya dengan kasar seraya beristighfar beberapa kali. Dia tau kalau sikapnya salah. Tapi, rasa kesal karena sikap suaminya membuatnya hampir gelap mata dan ingin bicara buruk pada Bian. Untungnya dia memiliki mertua yang begitu lemah lembut dan penyabar, sehingga emosinya bisa mereda sedikit demi sedikit sebelum suaminya pulang. Namun, saat mendengar suara Bian, tiba-tiba rasa sakit itu kembali datang. Hal itu malah membuatnya ingin menangis lagi.
Amara menghapusnya air matanya. Mengatur nafasnya beberapa kali sebelum akhirnya pergi mengambil air wudhu karena sudah masuk waktu maghrib.
Usai mendirikan shalat, Amara turun untuk mempersiapkan makan malam suaminya. Ingin mengabaikan lagi, tapi rasa kasihan kembali menyelimuti pikirannya. Pekerjaan itu mungkin terlalu penting dan tidak dikesampingkan dengan urusan keluarga.
Ia duduk menunggu Bian kembali dari Masjid. Walaupun perasaannya sedikit kesal, tapi suami harus tetap di utamakan. Biarlah perasaan kesal itu ia simpan dalam hatinya.
"Assalamu'alaikum,"
Amara mengatur nafasnya saat mendengar suara suaminya. Ia mendengar suara Bi Sumi memberitahukan keberadannya karena Bian bertanya.
"Aku sudah mempersiapkan semuanya, Mas Bian makan saja. Aku mau bersiap untuk acara nanti." Amara beranjak bangkit setelah selesai bicara.
"Jangan kemana-mana, Ra. Temani aku makan dulu. Aku kan sudah bilang, aku tidak bisa makan dengan baik kalau tidak ada kamu."
Amara menelan ludahnya. Air matanya ingin keluar lagi saat harus berhadapan dengan suaminya saat ini. Ia akhirnya duduk kembali tanpa berkata sepatah kata pun. Melihat hal itu, Bian tidak berani melayangkan protes. Segera makan dengan lahap agar suasana canggung itu segera berakhir.
__ADS_1
Bian menahan tangan Amara saat wanita itu berjalan cepat meninggalkannya setelah selesai makan malam. "Tunggu, Sayang." Memeluk tubuh Amara dari belakang. "Jangan seperti ini, Sayang. Aku.. aku benar-benar tidak kuat. Aku lebih senang kamu yang banyak bicara, Ra. Ibu bilang, aku harus belajar menjinakkan singa yang lapar. Ternyata ini maksudnya. Aku harus bisa meredam emosi kamu karena kesalahanku sendiri."
*********