
Bian menarik nafas panjang seraya menyandarkan tubuhnya. Hari ini terasa sedikit berat karena pekerjaan yang tertunda beberapa hari yang lalu. Malam pertama yang menguras energi dan menguras emosi membuatnya selalu pulang cepat untuk membujuk istrinya agar memberikan nafkah batin untuknya.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Perutnya sudah berbunyi karena tidak sarapan dengan baik saat berangkat tadi. Hanya makan setangkup sandwich buatan istrinya.
"Tuan..." Daniel membuka pintu ruangan Bian. "Tuan istirahat dulu. Waktu makan siang sudah tiba."
Bian hanya melirik Daniel lalu meraih handphonenya. "Kak Daniel keluar saja. Aku sudah minta Rara mengantarkan makan siang."
Daniel menegakkan posisinya. "Apa Nona Amara sudah tidak ngambek lagi, Tuan?" Bertanya sambil menahan senyum.
"Dia cuman ngambek hari itu saja. Setelah try again and try again, ternyata dia tidak merasakan sakit. Hah, dia selalu bersikap manis sekarang. Aku terkadang tidak bisa membalas ucapannya dan hanya bisa tersenyum." Ucap Bian sambil tersenyum. Pikirannya jauh menerawang memikirkan sikap istrinya dua minggu belakangan ini.
"Mm... apa saya boleh ikut makan siang bersama Tuan?" Daniel mencoba menawarkan diri. Ingin mengetes tuannya, apakah setelah punya istri tuannya itu masih suka berbagi dengannya.
Bian melirik Daniel. "Tidak untuk kali ini. Tapi, insya Allah aku akan mengajak Kak Daniel lain kali."
Daniel langsung berdehem. Bian kembali melirik. "Jangan melakukan protes. Aku masih pengantin baru lho. Masa iya, Kak Daniel tega mengganggu waktu pribadiku dengan Rara."
Daniel mengernyit. Atas dasar apa tuannya itu mengatakan dirinya pengantin baru. Mengingat dirinya yang sudah satu bulan setengah menikah. "Tuan bukan pengantin baru lagi."
"Masih.. aku baru dua minggu ini bersama dengan Rara. Sisanya diambil alih oleh Rumah Sakit." Meletakkan handphone di telinganya untuk mencoba menghubungi istrinya.
Tuuuut...
"Kamu sudah sampai mana, Ra? Aku benar-benar lapar."
Daniel menyebikkan bibirnya. Memilih untuk meninggalkan Bian. Tuannya itu sering lupa waktu kalau sudah bicara dengan istrinya. Dia tidak akan perduli dengan keadaan sekitar.
"Kak Daniel mau kemana? Rara sudah di lantai bawah. Kak Daniel pergi ke bawah jemput Rara atau hubungi siapa pun yang bisa mengantar Rara kemari. Aku tidak mau istriku tersesat di kantor suaminya sendiri."
__ADS_1
"Baik, Tuan... saya akan menjemput Nona Amara dan mengajaknya berselingkuh saat berjalan berdua dengannya nanti." Ucap Daniek tanpa ekspresi.
Bian langsung berdiri seraya melotot ke arah Daniel. "Rara akan menolak ajakan Kak Daniel mentah-mentah. Udah punya istri juga, masih aja gatal cari daun yang lebih muda. Kak Daniel jangan macam-macam sama Rara. Rara itu istriku. Kalau Kak Daniel masih malu hidup, camkan ucapanku ini ." Bian berkata sinis. Tetapi, Daniel hanya tersenyum mengejek seraya melanjutkan langkahnya.
Bian merapikan meja kerjanya sambil menunggu kedatangan Amara. Dia merasa harus merapikan mejanya karena tidak mau Amara yang melakukan itu untuknya.
Daniel langsung mengajak Amara naik ke lantai lima begitu melihat wanita itu duduk di sofa.
Amara tersenyum seraya mengucapkan terimakasih pada Daniel. Ia mengetuk-ngetuk pelan pintu ruangan Bian. "Assalamu'alaikum ..." menongolkan kepalanya ke dalam ruangan karena ruangan suaminya terlihat sepi.
"Nona masuk saja. Sepertinya Tuan sedang di kamar mandi." Daniel membuka pintu dengan lebar. Mempersilahkan Amara untuk masuk. Sepersekian detik pria itu tertegun saat melihat meja kerja Bian. Meja itu terlihat sangat rapi. Kehadiran Amara benar-benar merubah seorang Bian. Biasanya Bian selalu berteriak memanggilnya untuk merapikan meja itu ketika waktu makan siang sudah tiba.
"Silahkan Nona duduk sebentar. Saya mau kembali ke ruangan saya."
"Eh, Pak Daniel jangan kemana-mana. Pak Daniel belum makan siang kan?" Ucap Amara, menghentikan langkah Daniel.
"Aku juga sudah mempersiapkan makan siang untuk Pak Daniel. Aku sempat berpikir kalau Pak Daniel pasti belum sempat makan siang karena mengurus Kak Bian." Amara mengeluarkan tiga kotak bekal yang dibawanya.
"Nggak usah memberi perhatian padanya, Ra." Bian menatap tajam istrinya.
"Eh," Amara langsung menoleh ke arah pintu kamar mandi. Suaminya terlihat sedang memperbaiki lengan bajunya yang berantakan, walaupun tatapan matanya tajam padanya.
"Dia itu Asisten kurang asem. Biar aku saja yang
memakan bekal yang sudah kamu buat." Ucapnya lagi sambil mendekati istrinya. Ucapan Daniel yang mengatakan ingin mengajak istrinya selingkuh membuat Bian kesal sampai saat ini. Ia bahkan melewati Daniel yang berdiri menunduk di sebelah sofa tempat Amara duduk. Tidak melirik sedikit pun pada asistennya itu.
Daniel semakin menunduk dalam. Padahal ia sedang menahan senyum karena Bian bersikap seperti ini padanya. Kalau sedang butuh, Bian akan bicara dengan lembut padanya. Sekarang saat istrinya datang, dia merasa bagaikan orang asing untuk Bian. Tapi, hal itu malah membuatnya betah bekerja pada Bian karena bosnya ini tidak banyak menuntut.
"Aku membuatkan dua porsi untuk Kak Bian. Yakin masih mampu menghabiskan milik Pak Daniel juga?" Amara membuka kotak bekal untuk suaminya. Kotak bekal itu terlihat mau memuntahkan isinya karena terlalu penuh.
__ADS_1
"Ini juga resepnya berbeda loh, Kak. Bekal untuk Kak Bian aku buat dengan resep penuh cinta." Menatap suaminya yang sudah duduk di sebelahnya. Tidak lupa tatapan itu dilengkapi dengan senyuman manis, agar Bian semakin kelepek-kelepek.
"Hmmm... masa sih?!" Bertanya sambil menahan senyum. "Kalau makanan untukku dibuat dengan resep penuh cinta, lalu makanan untuk Kak Daniel kamu buat pakai resep apa?" Masih mempermasalahkan makanan karena keberatan istrinya memberikan perhatian pada pria lain. Ia sampai menarik tubuh Amara sampai jatuh ke dalam pelukannya. Ia sengaja melakukan itu untuk memperlihatkan kepada Daniel kalau Amara adalah miliknya.
Amara terkejut dengan kelakuan suaminya. Tapi, ia langsung sadar dengan keadaan. Sengaja pura-pura berpikir sebelum menjawab pertanyaan suaminya. "Aku membuatnya dengan resep penuh rasa kemanusiaan." Jawabnya sambil tersenyum meringis. "Kan kasihan dia, Kak. Dari pagi melayani Kak Bian yang banyak maunya." Mengangkat kepalanya perlahan dari dada Bian.
Bian mengernyit, kembali menarik kepala istrinya agar kembali bersandar. "dia melakukan itu karena di bayar, Ra. Kalau kamu kan tidak pernah di bayar. Kamu melayaniku dengan tulus ikhlas lahir dan batin."
Amara melengos. "Huh, namanya juga bekerja. Ngapain sekolah tinggi kalau hanya di suruh melayani orang. Apalagi kalau di suruh percuma. Hidup itu membutuhkan uang, Mas..." Amara menggerak-gerakkan jarinya di depan wajah Bian. Ia segera mengangkat kepalanya saat suaminya terlihat lengah. "Sudah ah, jangan bahas hal tak berguna seperti itu. Kita makan siang dulu." Amara mempersiapkan makanan untuk suaminya. Ia juga meminta Daniel untuk duduk, agar mereka bisa makan bersama. Menyodorkan kotak bekal ke hadapan Daniel.
***********
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Bian mendengus saat Daniel masuk ke dalam ruangannya dan mengatakan ada tamu tak terduga datang di jam pulang. Ada Zidane yang datang dan menunda Bian untuk pulang ke rumahnya.
Mau tidak mau, Bian akhirnya duduk di sofa menemani kakak sepupunya itu. "Ada apa gerangan, kenapa Kak Zidane tiba-tiba datang ke Perusahaan tanpa ada konfirmasi terlebih dahulu?"
"Ah, kamu itu kayak orang yang tidak suka dikunjungi saja." Jawab Zidane santai. Menyandarkan tubuhnya seraya mengangkat sebelah kakinya.
"Bukannya begitu. Aku hanya ingin segera pulang, Kak. Capek dari pagi berperang dengan berkas yang tak habis-habis. Kalau sudah di rumah, setidaknya aku ada waktu untuk rehat walau sejenak."
Zidane melirik Bian lalu menegakkan posisi duduknya. "Kantor cabang di kota B sepertinya bermasalah, Dek. Kakak lihat ada ketidak sesuaian data antara di kantor pusat dan kantor cabang itu. Data keuangannya berbeda."
Bian menautkan alisnya. "Itu kan tugas Kak Zidane."
Zidane mendengus. "Ini memang tugas Kakak. Tapi kamu juga harus ikut turun tangan, Dek. Pimpinan tertinggi ada di tangan kamu." Menatap Bian tanpa berkedip. "Kalau kamu capek, besok kita bahas lagi. Kakak juga capek sebenarnya. Baru mendarat dan langsung meluncur kemari." Zidane beranjak bangkit. "Iya sudah, nanti Kita bertemu di rumah."
Mereka keluar beriringan tanpa ada percakapan. Ternyata Zidane juga lelah. Cuman, karena keadaan darurat, ia harus segera menyampaikan berita ini pada Bian, agar pelakunya tidak bergerak semakin jauh.
**********
__ADS_1