Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Bersiap patah hati


__ADS_3

Pak Akmal menatap Amara yang sedang memeluk hangat tubuh Adzra. "Kamu yakin nyaman di tempat ini? Ini tempat umum loh, Nak. Tempat ini akan mengganggu privasi kamu."


"Aku nggak akan rebahan, Kek. Aku akan duduk seperti ini sampai Kak Ayra dipindahkan ke ruang perawatan."


Pak Akmal menautkan alisnya, benar-benar tidak percaya mendengar jawaban Amara. "Hmm.. kok Kakek ragu mendengar jawaban kamu. Jangan-jangan Bian sudah mengatur ini sebelumnya."


Bian langsung tersentak. "Loh, kok aku. Aku mana ada sempat untuk memikirkan hal kayak begitu, Kek. Dari rumah yang ada cuma panik karena melihat Kak Ayra kesakitan. Untung aja Kak Ayra orangnya penyabar."


Bu Fatimah tiba-tiba muncul dibelakang mereka dengan tergopoh. Bian tersenyum pada neneknya. Melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya pada Pak Akmal sebelumnya. "Nenek sehat.."


"Alhamdulillah, sehat Sayang. Hmm.. cucu nenek kayaknya udah cocok untuk mencari pasangan." Bu Fatimah mencubit pelan pipi Bian.


"Ah, Nenek apaan sih? Bian belum kepikiran kesitu, Nek. Masih fokus menuntut ilmu."


"Kalau menunggu kamu selesai menuntut ilmu, sampai mati pun, kamu tidak akan berhenti menuntut ilmu. Orang seperti kamu itu selalu haus dengan pengetahuan." Pak Akmal ikut menimpali. "Pokoknya, kamu harus menikah setelah kamu wisuda nanti. Atau kalau tidak begitu, kamu menikah maksimal di umur kamu yang ke dua puluh lima tahun. Kakek tidak mau kamu menikah terlalu dewasa. Cobaan melajang itu berat, Nak. Kalau kamu sudah menikah, ada istri yang bisa mendampingi kamu menjalani hari-hari. Kamu bisa berbagi keluh kesah dengannya. Apalagi kamu akan S2 di luar negeri nanti. Kamu bisa bersama istri sekalian bulan madu nantinya."


Bian menanggapi dengan ekspresi datar. Ia enggan berkomentar kalau kakeknya yang bicara. Kakeknya sering bersikap otoriter jika itu berhubungan dengan keluarganya. Perlakuan pada keluarganya dan karyawannya sangat jauh berbeda. Kalau di Perusahaan, Pak Akmal selalu bermusyawarah sebelum mengambil keputusan.


"Kebetulan Nenek punya kenalan, orangnya cantik, Sayang. Itu anaknya teman Nenek. Wanitanya sangat anggun dan shalihah. Sangat cocok dengan karakter kamu."


Deg..!


Amara mengangkat kepalanya mendengar ucapan Bu Fatimah. Terlihat jelas kalau wanita itu sangat kaget. Ia hanya bisa menelan ludahnya. Hanya bisa menatap ke sembarang arah untuk mengusir perasaan yang semakin kalut.


Tidak kalah terkejut dengan Amara, Bian juga hampir menunjukkan ekspresi yang sama. Pria itu bahkan spontan langsung menatap ke arah Amara. Dia langsung teringat dengan ucapan Amara saat mereka sedang di Kafe tadi.


"A.. aku.. aku belum kepikiran sampai ke sana, Nek." Bian berkata sambil melirik ke arah Amara dan Bu Fatimah secara bergantian.


"Jangan langsung dipaksa. Biarkan dia mencari sendiri." Pak Akmal menimpali sambil menatap Bian. Sepertinya dia juga mengerti dengan situasi ini.


"Hmm.., Ummi cuman mau mengenalkan aja, Abi. Iya.. kalau memang Bian tidak suka, Ummi juga tidak memaksa. Sudah cukup kesalahan Ummi di masa lalu. Ummi tidak mau merusak masa depan Bian juga. Sudah cukup Ari yang menanggung kebodohan Ummi." Bu Fatimah berkata sambil menunduk.


Pak Akmal menghela nafas berat. "Sudah, jangan ingat masa lalu. Itu semua sudah menjadi takdirnya."


Bian tersenyum hambar menanggapi. Cerita itu sudah ia ketahui dari kakeknya sebelumnya. Masalah ibunya yang dibenci oleh Bu Fatimah karena berasal dari keluarga yang tidak jelas.

__ADS_1


Bian POV...


Aku menelan ludahku beberapa kali mendengar ucapan Nenek. Aku mengerti mengapa Kakek langsung menepuk-nepuk punggung Nenek saat Nenek menyebut masalah itu.


Hmm.. masalah itu.. Ya Allah, dadaku sering terasa sesak mengingat itu. Saat Kakek menceritakan itu, aku sampai terisak menangis. Aku langsung memeluk Ibu saat pulang ke rumah waktu itu. Ternyata Ibu berjuang cukup kerasa selama ini. Pantas saja Ibu tidak pernah mau menceritakan kehidupannya yang dulu. Bapak sampai rela membawa Ibu kabur dari rumah karena diminta Nenek menceraikan Ibu.


Sudahlah, untuk apa aku mempermasalahkan itu. Ibu saja yang mengalami itu tidak mau mengingatnya lagi. Ibuku itu orang baik dan tidak suka dendam.


Aku melirik Amara. Hatiku tersentak saat Nenek mengatakan ingin mengenalkan aku dengan seseorang tadi. Hmm.. Ternyata perasaanku tidak meleset. Wanita itu sedang menatap ke sembarang arah. Terlihat jelas kalau dia juga terkejut, dan pastinya tidak nyaman. Aku langsung menatapnya karena merasa tidak enak padanya.


"A.. aku.. aku belum kepikiran sampai ke sana, Nek." Ucapku menghindar. Aku tidak mungkin mengiyakan permintaan Nenek, sedangkan Amara pernah menyatakan cinta padaku dan aku tidak memberikan jawaban untuknya. Jika aku mengiyakan permintaan Nenek, takut Amara kembali tersinggung dan merubah sikapnya lagi seperti kemarin.


Hah, Ya Allah.. ternyata menjadi dewasa itu tidak semudah yang aku bayangkan. Tuntutan untuk segera mencari pasangan, tuntutan untuk menyelesaikan pendidikan tepat waktu, tanggung jawab Perusahaan yang sudah menanti. Hah, kalau memikirkan itu rasanya aku ingin kembali kecil lagi. Aki bebas menikmati hari-hari dengan bermain. Pergi ke taman bermain bersama Kak Ayra. Tidak ada yang memintaku untuk melakukan ini dan itu.


_________


"Chay mau dipindah sekarang." Ardian tiba-tiba keluar dari ruang tindakan.


"Bagaimana keadaan istri dan anak kamu?" Pak Akmal langsung mendekati Ardian.


"Jam berapa anakmu keluar?"


"Tadi jam sembilan, Kek."


"Kenapa kamu tidak keluar dari tadi?" Pak Akmal mendekati pintu dan melihat situasi di dalam ruangan.


"Mm.." Ardian menggaruk-garuk kepalanya bingung.


"Ibu kamu mana?" Pak Akmal berbalik menatap Ardian.


"Masih mengganti pakaian Chay, Kek."


"Fatimah, ayo kita masuk."


Ardian ikut masuk setelah Bu Fatimah masuk bersama Pak Akmal. Tinggallah Amara dan Bian di luar. Sebenarnya kaki Amara sudah gatal ingin masuk. Tapi, dia harus mengalah dulu. Membiarkan keluarga besar itu melihat anggota baru keluarga mereka.

__ADS_1


"M.. Mara.." Bian menatap Amara yang sedang duduk menunduk menatap Adzra.


"Eh, i.. iya, Kak." Amara mengangkat wajahnya dan menatap Bian.


"Maaf untuk yang tadi. Nenek tidak tau tentang..."


"Ng.. nggak apa-apa lah, Kak. Kita kan sudah berjanji akan berteman baik dalam keadaan suka maupun duka. Jadi, apapun keputusan Kak Bian dan keluarga, insya Allah aku akan baik-baik saja, Kak. Kita kan, b.. berteman." Amara mengakhiri kalimatnya disertai dengan senyuman. Matanya langsung menatap ke lain arah.


********


Amara menendang kerikil-kerikil kecil di sepanjang jalan yang dilewatinya. Hari ini dia mencoba untuk jalan pagi. Usai shalat subuh tadi, ia langsung bersiap untuk jalan pagi. Carissa juga ikut serta bersamanya. Anak itu akan menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya jika dia sedang di rumah.


"Tumben Kakak mengajak Rissa jalan pagi." Carissa menatap kakaknya yang sedang meneguk air mineral. Mereka sedang beristirahat di sebuah kios kecil di pinggir jalan.


Amara tersenyum menatap adiknya. "Memangnya kamu tidak suka jalan pagi? Kakak hanya bosan, Dek. Nggak ada kegiatan membuat Kakak boring. Kakak lebih suka kalau ada kesibukan."


"Hmm.. kalau Kakak sibuk, Kakak pasti tidak ada di rumah. Kakak sering menghabiskan waktu di rumah anak yang gendut itu."


"Anak itu namanya Adzra, Dek. Gendut-gendut gitu, dia itu menggemaskan loh, Dek." Amara kembali meneguk air mineralnya.


"Huh, palingan Kak Mara suka pacaran sama laki-laki yang sering mengantar Kakak pulang itu."


Bbrruutt...


Amara langsung menyemburkan air di mulutnya. "Astagfirullah, Rissa.. siapa yang ajarin kamu berkata begitu, Dek. Rissa masih kecil, belum boleh membicarakan hal seperti tadi."


"Mm.. Mama yang ajarin, Kak. Kata Mama, Kak Mara jarang di rumah karena tinggal di rumah pacarnya. Kalau ditanya tetangga, Mama juga selalu bilang begitu."


Amara tertegun mendengar cerita adiknya. Ternyata selama dia pergi, sang ibu tiri masih punya cara untuk menyakitinya. "Astagfirullah.." Amara berucap lirih. Mengira ibu tirinya jarang marah, bahkan hampir tidak pernah menyapanya. Ternyata namanya dihancurkan perlahan oleh sang ibu tiri.


"Kapan Mama kamu bilang begitu?" Amara mecoba bertanya lagi.


"Sering, Kak." Jawab Carissa pendek.


*******

__ADS_1


__ADS_2