Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Sikap Aneh Bian


__ADS_3

Amara masih setia menunggu Bian selesai makan. Pria di depannya ini benar-benar menikmati setiap suap yang masuk ke mulutnya. Terbukti dengan lambatnya dia menelan makanannya.


"Kak Bian nggak capek apa kalau mengunyah makanan terlalu lama seperti itu?" Amara bertanya dengan hati-hati. Takutnya Bian malah tersinggung mendengar pertanyaannya.


"Mm.." Bian mengangkat wajahnya. Dari tadi dia hanya menunduk menikmati makanannya. Sebenarnya dia menunduk karena sedang berpikir keras. Dia sedang memikirkan kata-kata yang akan diucapkannya pada Amara setelah selesai makan nanti.


"Sepertinya kamu perlu tau hal ini. Aku selalu mengunyah makanan minimal empat puluh kali."


"Ah, masa sih?!" Amara terlihat tidak percaya mendengar pengakuan Bian.


"Kedepannya kamu harus belajar untuk mengetahui kebiasaan Bian. Aku tidak mau orang-orang meragukan kamu lagi. Kamu mesti tau banyak tentang Bian.


" Mm.. hehehe.." kali ini Amara tidak mengerti dengan ucapan Bian. Wanita itu hanya diam, mencoba mencerna maksud ucapan pria di depannya.


"Jangan pikirkan maksud ucapanku. Perlahan-lahan kamu akan paham dengan sendirinya." Bian akhirnya bicara karena melihat Amara yang terlihat bingung mendengar ucapannya.


Amara akhirnya mengangguk, walaupun pada kenyataannya dia masih bingung. Hanya melirik Bian lalu menunduk kembali.


Tepat setelah Bian selesai makan, azan Ashar berkumandang. Bian mengurungkan niatnya untuk bicara. Pria itu diam mendengarkan dan meresapi alunan azan yang merdu.


"Kita shalat dulu. Nanti kalau ada waktu, aku akan bicara. Kita utamakan kewajiban terlebih dahulu." Bian langsung bangkit dari duduknya. "Oh iya, aku belum bayar." Bian tersenyum meringis saat melihat waiters berjalan mendekat ke arahnya. Ia akhirnya meninggalkan selembar uang di atas nampan. "Kembaliannya untuk Mbak saja," ucapnya sambil tersenyum ramah pada waiters. Untungnya ada uang cash yang tidak jadi diberikan pada Viona tadi.


"Terimakasih.." waiters itu langsung berlalu dengan senyum sumringah.


"Tadinya aku berniat mau membayar pakai kartu yang aku pegang, Kak." Amara menatap Bian. Dia jadi tidak enak karena salah satu kartu debit Bian ada padanya.


"Ngapain pakai itu. Aku kan punya uang cash sekarang. Apa kamu sudah lupa, kalau kamu hampir kena denda si Viona tadi?"


"Hehehehe.." Amara tersenyum salah tingkah.


Bian tersenyum seraya menggeleng-geleng pelan. "Aku duluan ke Musholla ya. Nanti kita bertemu di parkiran."


"Iya, Kak." Amara tersenyum kaku seraya menatap kepergian Bian. Ia mengusap-usap dadanya yang tiba-tiba berdebar.


Amara POV...


Huh, aku menarik nafas dalam lalu menghembuskannya dengan kasar. Apa yang terjadi pada Kak Bian. Aku merasa sikapnya agak aneh sejak kami keluar dari Kafe tempat aku mendapat masalah tadi. Dia udah berapa kali memberikan senyuman yang terlihat begitu indah kalau di pandang. Dan ... dia juga beberapa kali menatapku dengan durasi yang tidak biasa. Biasanya dia hanya menatapku dua atau tiga detik. Tapi, kali ini berbeda. Tatapannya terlihat dalam dan membuatku klepek-klepek.

__ADS_1


Aku masih berdiri mematung walaupun Kak Bian sudah berbelok ke arah Musholla di belakang Kafe ini. Perasaanku masih terasa aneh. Tapi, detak jantungku perlahan-lahan terasa normal kembali.


Ya Allah, sepertinya saat ini aku tidak bisa mengendalikan perasaanku. Jujur, aku merasa bahagia merasa di perlakukan dengan istimewa oleh seorang Bian. Hmm.. aku cuma berharap, semoga ini adalah kenyataan dan bukan hanya sebatas perasaan saja.


Tapi.. rasa penasaranku bertambah lagi. Tadinya aku hanya penasaran mendengarnya mengatakan ingin membicarakan sesuatu denganku. Kini, aku juga penasaran dengan maksud ucapannya yang memintaku untuk mengenalnya lebih jauh lagi. Dia memintaku untuk mengenal kebiasaannya. Apalagi ucapannya yang mengatakan agar orang-orang tidak meragukanku lagi. Ah, mendengarkan itu kok membuat rasa percaya diriku tumbuh. Bukankah itu seharusnya dikatakan pada seseorang yang istimewa baginya. Mm.. apa.. mungkin aku ini istimewa baginya..?


Aku terlalu berpikir jauh. Kak Bian itu orangnya sangat sulit ditebak. Apalagi melihat kebiasaannya yang baik kepada siapapun. Huh, mengingat hal itu membuat rasa percaya diriku yang tadinya sudah tumbuh, kini surut kembali. Amara.. Amara.. kerasukan apa kamu sampai berani berpikir sampai sejauh itu.


_________


Amara mengusap wajahnya dengan kasar. Setelah lelah menghayal, ia akhirnya melangkah ke Musholla untuk menunaikan kewajiban shalat Ashar.


Usai shalat, Amara bergegas menuju parkiran. Takutnya bian sudah menunggunya lama. Kebiasannya yang sering duduk lama setelah shalat membuatnya lupa tempatnya sekarang.


Sampai parkiran, Amara menarik nafas lega. Ternyata Bian belum berada di tempat itu. Itu berarti pria itu masih di Musholla. Amara akhirnya menyandarkan tubuhnya di mobil sambil menunggu Bian kembali.


Sekitar sepuluh menit menunggu, Bian akhirnya datang juga. Pria itu menempelkan handphone di telinganya. Terlihat sibuk bicara dengan seseorang dari telepon. Amara hanya menatap dari depan mobil tanpa ada niat untuk bertanya.


"Aku bersama Amara dan Ameena, Kak. Memangnya aku bisa kemana coba. Kak Ayra kan tau, kalau selalu ada cctv berjalan yang selalu mengawasi aktivitasku."


Amara bisa menebak dengan siapa Bian bicara setelah pria itu di dekatnya.


"........."


"Iya, Kak.. sekarang aku akan ke sana. Aku tanya dulu sama Amara, apa dia bisa ikut atau tidak."


"........."


"Kakak kasihlah pengertian sama dia. Aku kan nggak janji bisa membawa Amara."


".........."


"Aku tanya orangnya dulu. Nanti aku hubungi Kakak lagi. Atau nanti kita bertemu di sana. Assalamu'alaikum..." Bian memasukkan handphonenya ke dalam tas kecil miliknya. Beralih menatap Amara yang pura-pura sibuk dengan mengaduk-aduk isi tasnya.


"Mara,"


"Eh," Amara sedikit terkejut dan langsung mengangkat kepalanya. "A.. ada apa, Kak?"

__ADS_1


"Adzra ingin bertemu kamu. Memiliki pengasuh baru tidak membuatnya bisa melupakan kamu. Sepertinya posisi kamu tidak bisa digeser oleh siapapun." Bian berkata sambil tersenyum kecil. "Mungkin hal itu memang udah menjadi pembawaan kamu. Orang yang sudah kepincut kebaikan kamu akan sulit melupakan kamu."


Amara terkesiap mendengar ucapan Bian. Ia tidak bisa berkata-kata. Ia akhirnya hanya membalas ucapan Bian dengan tersenyum simpul.


"Hah, sudahlah.." Bian menghela nafas berat. "Apa kamu mau menemuinya, atau bagaimana?" Bian menatap Amara menunggu jawaban wanita itu.


"Kalau aku sudah ke sana, aku pasti malas pulang nantinya, Kak. Terlalu banyak cobaan dari orang baik di rumah itu." Amara menjawab sambil memanyunkan bibirnya. Hal itu membuat Bian tersenyum.


"Kamu jangan seperti itu di depanku. Bagaimana kalau aku tidak bisa menahan tanganku untuk tidak mencubit pipi kamu."


"Eh," Amara langsung menyentuh pipinya. "Kak Bian ... kenapa ngomong gitu?" Amara malah memanyunkan bibirnya lagi. "Aku terlihat jelek ya, kalau kayak gitu."


Bian kembali tersenyum. "Dibilangin jangan manyun kayak gitu. Kamu ini jangan pernah berniat menguji iman seseorang. Kalau kejadian yang salah malah terjadi, bagaimana? Apa kamu berani bertanggung jawab?"


Amara menautkan alisnya, tetapi bibirnya menahan senyum. "Memangnya aku mau menguji iman siapa?"


Bian terdiam sejenak, menatap Amara yang sepertinya menantangnya untuk berdebat lebih jauh. "Jangan sampai kamu syok mendengar jawabanku nanti. Kamu sepertinya kurang pengalaman berdebat dengan Bian Putra..."


"Iya.. iya.. aku paham maksud Kak Bian. Baiklah, aku tidak akan memperpanjang masalah. Ayo kita ke rumah Kak Ayra sekarang." Tangan Amara sudah bersiap membuka pintu belakang.


"Duduk di depan kayak tadi. Aku bukan sopir angkot yang menampung penumpang."


Amara melototkan matanya. "Ahhahaha.. siapa juga yang bilang Kak Bian sopir angkot. Mana ada sopir angkot setampan Kakak."


"Oh, ternyata kamu menyadari juga." Bian mengusap rambutnya ke belakang. Bergaya seolah-olah yang dikatakan Amara itu adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri kebenarannya.


"Huh," Amara melengos, tetapi ia menelan ludahnya. Melihat Bian bergaya seperti itu membuat dadanya kembali berdebar. "Kalau ada orang yang mengatakan Kak Bian tidak tampan, itu berarti orang itu buta warna."


Sepersekian detik Bian melongo. "Buhahaha.. kamu ini ada-ada saja." Tawanya pecah setelah bisa mencerna ucapan Amara.


Amara langsung menatap Bian. Selama mengenal pria itu, baru kali ini ia mendengar Bian tertawa renyah seperti itu. "Apa aku salah kalau mengatakan ini pada Kakak?" Menatap Bian dengan tatapan aneh.


Bian menghentikan tawanya. "Kamu mau bilang apa, bilang aja." Ucapnya seraya beristighfar karena sudah tertawa lebar.


"Perasaan, Kak Bian bertingkah aneh terus dari tadi."


Bian langsung menatap Amara. Sepersekian detik dia tidak bisa berkata apa-apa. Sepertinya ia terlampau bahagia sehingga tidak sadar dengan keanehan dirinya.

__ADS_1


******


__ADS_2