
"Mara, Kak Bian mau kemari..!" Ameena berteriak dari luar. Yang dipanggil tidak ada tanda-tanda akan keluar dari dalam kamar.
"Lho aja yang ajak ngobrol kalau dia beneran datang. Gue beneran nggak kuat kayaknya kalau harus bertemu dia."
"Mara, gue juga kayaknya nggak akan kuat. Kalau duduk lama-lama dengannya, bisa-bisa gue nggak kuat untuk tidak mencium atau tidak memeluknya."
Amara menghela nafas berat. "Gue yakin lho nggak akan sebodoh itu, Na. Lho itu masih punya iman, kan. Lagian, kalau lho sampai kayak gitu, yakinlah kalau Kak Bian akan langsung ilfil sama lho."
"Huh," Ameena mendengus. "Makanya lho keluar sini. Kan lho sendiri yang selalu ceramah, kalau laki-laki dan perempuan yang bukan mahram tidak boleh duduk berduaan."
Amara membuang nafas dengan kasar. "Gue akan keluar kalau orangnya sendiri yang minta gue untuk keluar nanti."
Ameena mengernyit mendengar jawaban Amara. "Lho banyak tingkah deh. Udah dibantuin, dianterin makanan, ditemenin, eh malah meminta gue untuk menemani pria tampan duduk di sini. Katanya patah hati karena pujaan hati. Kok malah semakin mundur."
Hening..
Amara tidak menimpali lagi ocehan Ameena. Temannya yang satu itu tidak akan berhenti ngomong kalau dia tidak mengakhirinya duluan.
"Mara.."
"Amara.."
"Amara Andini, apa lho tidur?" Ameena bangkit untuk melihat ke dalam kamar. Untungnya Amara tidak mengunci kamar itu, sehingga Ameena langsung masuk.
"Lho kenapa menutup telinga, Mara..?" Ameena menarik bantal guling yang menutup telinga Amara. "Gue belum selesai ceramah, lho udah main tutup segala."
"Gue mau istirahat, Na. Kepala gue beneran pusing nih." Amara memijit pelipisnya.
"Hmm.." Ameena menyebikkan bibirnya. "Lho ini, Mara. Lho ini pusing bukan karena sakit, tapi karena lho kebanyakan mikir. Beban di kepala lho melebihi kapasitas normal, makanya eror dan ujung-ujungnya loading. Huh," Ameena duduk membelakangi Amara seraya membuang pandangan.
"Udah ah, tinggalin gue sendirian. Gue butuh penenangan biar bisa berfikir jernih seperti sebelumnya."
Ameena tertawa mengejek. "Baru tau rasanya patah hati lho. Makanya jangan suka menghina. Dulu aja lho suka ngejek gue pas putus cinta." Ameena bangkit seraya berjalan keluar. "Lebih baik patah gigi.. daripada patah hati.." Ameena bernyanyi ria menyindir Amara yang uring-uringan.
Bug..!
Bantal melayang tepat mengenai kepala Ameena. "Gue lagi nggak mau bercanda, Na. Nggak usah nyanyi ngawur ngelantur kayak gitu. Huh, mana ada orang yang lebih memilih patah gigi daripada patah hati." Amara akhirnya bangkit. Duduk seraya menatap Ameena yang masih mengusap-usap kepalanya yang terkena lemparan bantal darinya. Sebenarnya dia juga ingin tertawa mendengar nyanyian Ameena. Sering patah hati ternyata membuat temannya itu berpengalaman.
*********
Bian duduk di teras kostan Amara. Penjagaan ketat oleh Satpam khusus membuatnya hampir saja tidak diizinkan masuk tadi. Tapi, pria itu berhasil meyakinkan kalau dirinya tidak ada niat buruk. Hanya ingin menjenguk temannya yang sakit.
"Amara beneran tidak mau keluar, Na?" Bian melirik Ameena dengan raut wajah khawatir. Dia sudah bersusah payah agar bisa masuk ke tempat ini. Sangat disayangkan kalau Amara benar-benar tidak mau menemuinya.
__ADS_1
"Sepertinya begitu, Kak." Ameena menghela nafas berat. "Sebenarnya.. Amara..."
"Aku disini.."
Ameena dan Bian tersentak kaget. Langsung menatap ke arah Amara yang berdiri di depan pintu.
Amara berjalan mendekat sambil tersenyum kecil. "Maaf membuat Kak Bian menunggu. Aku.. aku nggak enak badan."
Bian tersenyum seraya bangkit. "Nggak apa-apa, Mara. Aku juga baru sampai kok."
Amara duduk di samping Ameena yang berhadapan dengan Bian. "Kenapa Kak Bian kemari?" Amara menatap Bian lama.
"Aku mengkhawatirkan kamu. Tadi siang kamu pergi tanpa pamit dari rumah. Begitu tamu itu pergi, Ibu langsung memintaku untuk menghubungimu. Tapi, kamu malah tidak ada respon."
"Oh," Amara tersenyum kaku. "Aku langsung tidur begitu sampai tadi siang, Kak. Belum sempat lihat handphone sampai sekarang. Tadi cuman bangun shalat aja, setelah itu aku langsung tidur lagi."
Bian menautkan alisnya menatap Amara. Wanita itu langsung mengalihkan pandangannya begitu bertatapan dengannya. "Mm.. begitu.." Bian menyandarkan tubuhnya di kursi kayu yang keras, sampai membuat punggungnya terasa sakit.
Kok lama-lama ni orang kayak Kakek Akmal. Tatapannya mengintimidasi kayak gini. Huh, kok gue jadi gerogi gini ya..
Amara menggembungkan pipinya, menampung oksigen untuk menghilangkan kegugupannya.
"Aku lapar, Mara. Apa kamu punya makanan di tempat ini?"
"Hah..?" Ameena yang terkejut mendengar pertanyaan Bian. "Tadi aja dia kelaparan, Kak. Makanannya aja belum sempat dia makan. Aku bungkus lagi, soalnya takutnya dia mencarinya lagi nanti."
"Aku nggak selera makan. Kalau Kak Bian beneran lapar, aku ambilkan makanan itu."
"Boleh.." Bian menjawab tanpa ragu. Kembali menegakkan duduknya.
Amara langsung bangkit untuk mengambilkan makanan itu untuk Bian.
"Kak, Amara belum makan dari siang. Tadi aja aku lihat dia meringis menahan sakit. Sepertinya lambungnya perih. Aku yakin, dia pasti kelaparan. Cuman, karena perasaannya yang tidak enak, itu yang membuatnya tidak mau makan." Ameena berucap lirih hampir tak terdengar.
"Aku tau itu. Aku seharusnya minta maaf sama dia. Aku tidak memberi tahunya masalah yang terjadi tadi siang. Ingin memberi tahunya, tapi aku khawatir menyakitinya. Aku hanya berniat menjaga perasaannya." Bian menunduk seraya membuang nafas kasar. "Tapi, Allah berkehendak lain. kak Ayra membawanya ke rumah setengah jam sebelum tamu itu datang." Bian melirik Ameena sekilas lalu kembali menunduk, menutup wajahnya dengan telapak tangan. Mengusap-usap wajahnya seperti orang yang kebingungan.
Ameena menatap ke arah pintu. Takutnya Amara kembali saat dia sedang bertanya pada Bian. "Mm.. apa benar Kak Bian mau nikah?"
"Hah, siapa yang mau nikah?!" Bian hampir terjatuh dari kursinya karena terlalu kaget mendengar pertanyaan Ameena.
"Kan Kak Bian yang mau nikah. Tadi siang kan calonnya datang berkunjung mau memantau wajah calon suaminya."
"Hah," Bian menautkan alisnya menatap Amara yang baru keluar. "Ng.. nggak kayak gitu ceritanya, Mara." Bian membuang nafas dengan kasar seraya menggeleng-geleng pelan. "Kakek membawanya hanya. Tolong kamu garis bawahi kata 'hanya' itu, Mara."
__ADS_1
"Hanya apa, Kak?" Ameena yang menyahut. Si tidak kuat penasaran langsung memasang telinga baik-baik. Amara hanya duduk santai sambil membuka bungkusan makanannya.
"Kami hanya berkenalan. Jika memang kami ada ketertarikan satu sama lain, kami akan lanjut ke tahap selanjutnya."
"Mm.." hanya itu jawaban Amara.
"Apa karena itu kamu kabur tadi siang? Kamu kira aku akan menikah tanpa melewati proses apa-apa?"
Amara tidak menimpali. Ia hanya fokus menatap makanan di depannya. Melihat makanan itu membuat lambungnya terasa panas. Sepertinya, lambungnya memang sedang membutuhkan makanan.
"Kenapa diam, Mara?"
"Eh, ng.. nggak ada apa-apa, Kak. Maaf karena aky terlalu cepat menyimpulkan semuanya. Aku hanya khawatir, seandainya Kak Bian benar-benar menikah, aku tidak akan bisa berteman lagi dengan Kak Bian. Istri Kak Bian pasti nggak suka suaminya berteman dengan wanita."
"No.. no.. no. You wrong, Mara. Actually not like that."
"Thank you, Kak. Sorry, aku terlalu cepat menyimpulkan tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu.
"No problem. Lain kali jangan kayak gini lagi" Bian tersenyum lembut pada Amara. Hal itu membuat Ameena yang duduk diantara mereka, merasa seperti nyamuk pengganggu.
Amara tersenyum meringis sambil menunduk malu. Perasaannya menjadi lebih baik setelah mendengar penjelasan Bian.
"Kalau nggak salah dengar, sepertinya aku mendengar suara perut yang minta diisi barusan."
"Ah, masa sih?" Amara bertanya dengan malu-malu. Padahal dia sendiri mendengar suara perutnya dari tadi.
"Kita makan bersama ya. Aku nggak mau kamu sakit. Kalau kamu sakit, nanti nggak ada yang menyemangati aku. Kamu kan teman terbaikku saat ini."
Ameena menelan ludahnya mendengar ucapan Bian. Pantas saja Amara sampai uring-uringan saat mendengar Bian akan menikah. Jika itu benar-benar terjadi, Amara akan kehilangan perhatian dari pria itu.
"Nggak apa-apa kan, kalau aku minta sedikit jatah makan kamu?"
"M.. maksudnya?" Amara melirik Bian, masih dengan ekspresi malu-malu.
"Aku lapar, Mara. Aku nggak sempat makan sejak tadi siang karena kepikiran kamu yang hilang tanpa jejak."
"Oh, ya ampyuun.. so sweet.." Ameena menguyel-uyel pipinya sendiri karena gemas dengan ucapan Bian.
Bian hanya tersenyum kecil menanggapi. "Minta airnya sedikit, aku mau cuci tangan."
"Ini ada sendok, Kak." Amara menyerahkan sendok pada Bian.
"Aku nggak suka makan pakai sendok, Mara. Aku rasa kamu sudah tau hal itu."
__ADS_1
Amara tersenyum kaku menanggapi. Apakah dia terlalu bahagia sehingga lupa kebiasaan pria di depannya.
Tidak lupa Ameena mengabadikan momen romantis dua insan di depannya.