Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Bukan Wanita Bersumbu Pendek


__ADS_3

Prang...!


Piring stainless yang sedang di pegang Khanza jatuh tanpa di minta. Mata wanita itu melotot menatap Bian dan Amara. Ludahnya terasa sulit ditelan karena ucapan Bian benar-benar kelewatan batas dalam mengagumi Amara.


"A.. apa Kak Bian salah ucap, a.. atau.. m.. memang aku yang salah dengar?" Khanza bertanya dengan ragu. Matanya tidak berkedip menatap pasangan suami istri itu. Bian yang dulu sangat anti wanita, kini bisa berkata begitu pada pasangannya saat ini. Dia bahkan terlihat sangat santai tanpa beban duduk berdampingan dengan Amara. Tidak perduli sama sekali pada dirinya yang masih jomblo. Jangankan memperdulikan perasaannya. Bian bahkan sengaja menyiram bensin di atas bara api yang sedang membara di hatinya.


"Tidak usah hiraukan kami, Nona." Timpal Amara dengan tenang. "Mas Bian memang sering bersikap berlebihan. Padahal aku cuman memintanya untuk menyuapiku makan saja. Dia mah suka begitu orangnya."


Khanza mendengus kesal. "Cih, nggak ada yang nanya juga." Membuang pandangannya seperti enggan menatap Amara.


"Kamu memang tidak bertanya. Tapi, melihat kamu menjatuhkan piring, sudah pasti kamu terusik dengan kami. Itulah mengapa istriku meminta kamu untuk tidak terlalu menghiraukan kami." Bian beralih menatap istrinya setelah selesai bicara pada Khanza. "Selesai makan siang, kamu tidak usah langsung pulang. Nanti kita pulang bersama saja. Mobil kamu akan di antar pulang oleh orang lain."


"Nggak ah, Mas. Aku nggak mau merepotkan orang lain. Aku juga masih mampu kok bawa mobil sendiri. Sudah, sekarang kamu makan dulu. Masih lanjut rapat kan setelah ini? Aku nggak mau mengganggu kamu bekerja." Amara membereskan bekas makannya dan mengambilkan makanan untuk suaminya. "Kamu makan sendiri saja, Mas. Aku mau ke toilet. Mau cuci muka karena di sini terasa sangat panas." Mengipas wajahnya dengan tangan seraya beranjak bangkit. Harus segera menghindar karena suhu di ruangan itu terasa semakin panas.


Khanza tidak bisa berkata apa-apa melihat kelakuan Amara. Ingin marah, tetapi ia berusaha menahannya. Ia sudah berjanji pada papanya untuk pulang membawa kontrak kerjasama dengan Perusahaan Tekstil Bian.


*************


Amara mengurung diri di Musholla mini di ruangan suaminya. Ia benar-benar menghindar dari Khanza. Tidak mau kejadian hari itu terulang kembali. Dia juga ingin menjaga diri agar tidak termakan omongan pedas wanita itu.


Sampai waktu ashar tiba, belum ada tanda-tanda Bian akan selesai berdiskusi. Amara bangkit dengan kesal. "Huh, kamu benar-benar menyebalkan, Mas. Ngapain coba suruh aku menunggu sampai jam segini. Tau gini aku pulang aja tadi." Menggerutu kesal karena merasa diberikan harapan palsu oleh suaminya. Ia segera menarik nafas panjang. "Astagfirullahal'adzim.." mengelus-elus dadanya. "Ya Allah, suamiku sedang bekerja. Aku nggak boleh berkata yang tidak-tidak." Beranjak bangkit untuk mengambil air wudhu. Berniat untuk mengerjakan shalat terlebih dahulu sambil menunggu suaminya selesai. Mungkin karena di hanya rebahan dari tadi, itu yang membuatnya merasa bosan menunggu.


Sementara itu...


Daniel membereskan kertas yang berserakan di atas meja. Kesepakatan sudah di dapatkan dan kontrak kerjasama juga sudah di tandatangani.


"Terimakasih, Bu Khanza. Ke depannya kita akan sering bertemu untuk membahas kerjasama kita." Bian menangkupkan tangannya. Pria itu tidak berniat berjabat tangan dengan Khanza walaupun kerjasama sudah terjalin. Ia bahkan langsung meninggalkan Khanza dan Daniel ke meja kerjanya. "Kak, aku mau shalat. Kak Daniel silahkan lanjut ngobrol dengan Bu Khanza." Berlalu ke Musholla untuk mencari tau keberadaan istrinya.


Daniel langsung mengernyit. "Saya... saya juga mau shalat, Tuan."


Bian berbalik sambil tersenyum. "Temani dia sebentar saja. Kasihan kan, kalau dia tidak ada teman ngobrol. Aku akan segera mengajak Rara keluar setelah selesai shalat."


"B.. baiklah.."

__ADS_1


"Tidak usah repot-repot, Pak Daniel. Saya harus pergi sekarang." Khanza beranjak bangkit. "Terimakasih jamuannya. Ke depannya, mari kita bekerja sama dengan baik." Mengulurkan tangannya pada Daniel.


"Tentu saja, Bu Khanza. Terimakasih sudah mau bekerja sama dengan Perusahaan kami." Menjabat tangan Khanza. Tidak lupa menyelipkan senyum penghormatan untuk wanita itu.


Bian tersenyum kecil lalu melanjutkan langkahnya. Pada pertemuan kali ini, Khanza terlihat lebih menjaga sikap. Ia hanya berharap, semoga wanita itu semakin baik ke depannya.


Tangan Bian memutar knop pintu perlahan. "Assalamu'alaikum, Rara.." memasuki ruangan perlahan. Ia mendapati Amara sedang shalat. Pantas saja istrinya itu tidak menjawab salamnya.


Amara merapikan Musholla itu sambil menunggu suaminya selesai shalat. "Mas, kalau kamu masih kerja, aku mau pulang duluan."


Bian menatap istrinya. "Kita pulang bersama. Tunggu sebentar, ada yang mau aku diskusikan dengan Kak Daniel."


"Huh, jangan lama-lama, Mas."


"Nggak akan lama. Jam lima juga bakalan keluar semuanya."


"Jam lima, Mas?" Amara langsung mendengus. "Yang tadi aja bosannya minta ampun, Mas. Sekarang kamu malah memintaku menunggu lagi. Huh, kok aku kayak orang nggak ada kerjaan sih."


"Hmm... kamu kan memang nggak ada kerjaan. Daripada cuman menatap layar handphone, lebih baik kamu menunggu suami kamu selesai bekerja.


"Jangan bengong, Sayang." Bian mengusap wajah istrinya. "Aku mau mengajak kamu ke suatu tempat, makanya aku meminta kamu untuk menungguku selesai bekerja." Menarik tubuh Amara dan memeluknya. "Maaf karena memintamu untuk menunggu di sini. Aku tau menunggu itu membosankan. Tapi, kalau kamu pulang tadi, aku tidak akan tenang. Istriku pulang membawa mobil sendiri dalam keadaan hamil. Belum lagi, tadi dia harus mendengarkan beberapa kalimat pedas dari mulut Nona Khanza."


Amara memukul-mukul dada suaminya dengan kesal. "Sebenarnya bukan hanya Nona tadi yang menyebalkan. Kamu juga menyebalkan, Mas. Mulut kamu pedas."


"Eh, maksud kamu apa?" Melepas pelukannya lalu menatap istrinya dengan heran.


"Huh, pura-pura lupa atau memang benar-benar tidak sadar apa yang kamu ucapkan tadi?" Mencubit lengan suaminya.


"Kami seriusan, Ra.. ucapanku yang salah yang mana, Sayang? Aku beneran nggak sadar nih." Menangkup pipi istrinya agar Amara tidak membuang pandangannya. Jangan sampai istrinya ngambek dan urusan jadi bara-bere dan bertele-tele.


"Lepas ah," menurunkan tangan suaminya dengan paksa.


"Jangan ngambek dong, Sayang. Suami kamu masih capek nih. Masa kamu tega membuatnya harus berjuang lagi menenangkan hati kamu." Menahan tangan Amara agar tetap menatapnya.

__ADS_1


"Sumbuku masih panjang, Mas. Insya Allah, kompornya tidak akan mudah meledak kalau bersumbu panjang."


Bian terdiam menatap istrinya. Amara terlihat sangat serius. Sepertinya dia memang ada salah ucao tadi. Meraih tangan Amara dan menatapnya dengan serius. "Aku salah ucap di bagian yang mana, Sayang?"


"Nggak tau." Mengalihkan pandangannya kesal.


"Aku serius, Ra. Kalau kamu tidak bicara sekarang, masalah ini akan merambat ke hari-hari berikutnya."


"I don't care about that." Masih membuang pandangannya. Benar-benar terlihat enggan menatap suaminya.


Bian menarik nafas panjang. Istrinya benar-benar terlihat serius. Itu berarti dia memang ada salah ucap tadi. "Rara... katakan aku salah ucap apa tadi. Kalau kamu diam, aku tidak akan tau salahku apa."


"Nanti kita bahas di rumah. Sekarang kamu selesaiakan pekerjaan kamu dulu." Menatap Bian sekilas lalu kembali mengalihkan pandangannya.


"Nggak bisa. Aku tidak akan bisa bekerja dengan baik kalau kamu bersikap seperti ini."


"Nggak ada yang terlalu serius, Mas. Sudah, kamu keluar sana. Kasihan Pak Daniel sudah menunggu kamu. Jangan paksa aku untuk bicara sekarang karena aku tidak mau."


"Tapi..." Bian menatap istrinya dengan ragu.


"Sudah, kamu keluar sana, Mas."


"Aku..."


"Aku akan mengatakan semuanya nanti. Aku kan sudah bilang, aku bukanlah kompor beesumbu pendek." Beralih melipat sajadah suaminya."


"Kamu harus janji, kalau kamu akan bicara nanti."


"Iya... cerewet banget sih.." mendorong tubuh suaminya sampai keluar dari Musholla. Ia kembali duduk setelah Bian pergi. Menarik nafas dalam untuk meredam emosi yang mengganggu ketenangan jiwanya. Beristighfar beberapa kali.


"Maafkan aku, Mas. Seharusnya aku tidak mempermasalahkan masalah sepele itu. Aku kan memang tidak ada kerajaan. Kenapa aku harus tersinggung saat kamu mengatakan itu." Tersenyum kecut pada dirinya sendiri. "Aku sendiri yang mengatakan sumbuku panjang. Itu berarti aku harus menerima dengan lapang dada semua itu. Suamiku tidak mungkin sengaja menyinggung perasaanku." Ucap Amara lirih pada dirinya sendiri.


Amara tersenyum kecil mengingat bagaimana suaminya berusaha menjaga dirinya agar tidak bisa dihina oleh Khanza. Bagaimana pria itu menurunkan egonya dan berpura-pura menjadi budak cinta demi menjaga perasaannya.

__ADS_1


Kembali menarik nafas dalam seraya beristighfar. Ia sudah memutuskan untuk tidak memperpanjang masalah itu. Ia akan mengatakan dengan baik-baik pada Bian nanti kalimat yang membuatnya sampai tersinggung tadi. Suaminya sudah berjuang banyak untuknya.


__ADS_2