Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Pertikaian Masih Berlanjut


__ADS_3

Semua tertegun selepas kepergian Bian dan Amara. Bu Santi bahkan menatap tangannya yang sudah kosong, karena Amara sudah dibawa pergi putranya.


Chayra menyerahkan Farel pada Ardian lalu mendekati ibunya. Memeluk ibunya yang ternyata sedang menangis. "Ibu, Ayra ada di sini. Ayra akan menjadi garda terdepan pelindung Ibu jika ada orang yang berniat menyakiti Ibu."


"Heh, apa-apaan kamu, Ayra?!" Bu Fatimah berjalan lebih mendekat, tetapi langkahnya terhalang oleh Ainun. "Jangan mendekati mereka, Ummi."


Bu Fatimah tidak berkata apa-apa, tetapi gerakannya berontak minta dilepaskan. "Kalian bahkan diam melihat Bian menggenggam tangan wanita itu. Mereka bukan mahram. Seharusnya kalian tau itu."


"Bian tidak sadar melakukan itu, Ummi." Untuk pertama kalinya Pak Ismail angkat bicara. Dia sendiri sudah muak melihat tingkah ibu mertuanya yang semakin tak terkendali.


"Halah, itu hanya omong kosong kamu saja. Mana mungkin dia tidak sadar melakukan itu. Dia hanya berniat melindungi wanita itu saja."


Bu Santi mengusap air matanya. Melepaskan pelukan putrinya lalu berbalik menatap Bu Fatimah. "Apa hal itu memberatkan Ummi?"


Bu Fatimah tersenyum ketus seraya membuang pandangannya. "Tentu saja itu memberatkan ku. Kalian saja yang hanya diam dan tidak merasa berdosa melihatnya berbuat demikian."


Giliran Bu Santi yang membuang pandangannya. "Aku heran, kenapa Ummi bisa berkata demikian. Ternyata Ummi sudah lupa dengan dosa besar yang pernah Ummi lakukan di masa lalu. Cara berpikir Ummi itu salah. Gajah di depan mata Ummi sendiri tidak terlihat, karena Ummi terlalu sibuk melihat semut di puncak gunung."


"Perumpamaan macam apa itu. Aku tidak pernah mendengarnya seumur hidup."


"Ibu istirahat dulu sekarang. Ayra tidak mau Ibu kecapekan." Chayra menarik paksa tangan ibunya agar mau meninggalkan tempat itu.


"Jangan membiasakan diri lari dari masalah. Ibumu sudah terlalu biasa lari dari masalah. Dulu dia membawa anakku pergi dengan membawa dosa meninggalkan orang tuanya. Dan sekarang, apakah kamu akan membawa ibumu itu pergi dariku saat masalah belum selesai. Ibumu telah salah dalam mendidik adikmu, Ayra. Ibumu menganggap, laki-laki dan perempuan yang bukan mahram berpegangan tangan tidak berdosa."


Bu Santi membuang nafas dengan kasar. Dia sudah cukup lelah menghadapi ibu mertuanya yang egois ini. "Aku tidak pernah berkata begitu. Masalah itu bisa dibicarakan dengan baik-baik nanti, Ummi. Sekarang ini semua sedang emosi. Masalah itu tidak baik diselesaikan saat kita sedang emosi."


"Kamu itu terlalu banyak bacot, Santi!" Bu Fatimah meninggikan suaranya.


Bu Santi memejamkan matanya. Tangannya terkepal kuat. Emosinya seperti meledak dan tidak bisa ditahan lagi. Mencoba menarik nafas panjang namun tidak ada perubahan.

__ADS_1


"Ummi yang berkoar-koar dari tadi, apa namanya? Bukankah Ummi yang lebih banyak bacot dariku. Putraku sudah dewasa. Sudah tau cara melindungi wanita yang di cintainya dari orang egois seperti Ummi. Ummi hanya sibuk mengurus kehidupan keluargaku. Apa Ummi sudah lupa dosa besar Ummi. Ummi sudah tidur dengan laki-laki lain di saat Ummi sedang menjadi seorang istri."


DUAR...!!!


Semua langsung terdiam. Bahkan semua terasa tidak bisa berkedip mendengar ucapan Bu Santi. Sepertinya wanita itu benar-benar tidak bisa menahan diri. Ucapan Bu Fatimah yang terlalu meremehkannya sangat menyakiti hatinya. Dadanya naik turun menandakan kalau dia benar-benar sedang marah. Seumur hidupnya, baru kali ini dia sampai semarah ini. Sudah terlalu banyak luka yang digoreskan Bu Fatimah dalam perjalanan hidupnya dengan Almarhum suaminya.


Chayra menarik tangan ibunya agar segera pergi dari ruangan itu. "Ayo, sekarang Ibu istirahat. Istighfar, Bu.." Chayra berkata sambil mengusap air matanya. Wanita itu juga tau, betapa ibunya sangat menderita karena neneknya itu.


"Iya, Nak. Ibu sudah istighfar dari tadi. Ibu sadar kalau yang Ibu lakukan ini adalah sebuah kesalahan. Tapi, Ibu capek, Nak. Dari dulu Ibu selalu berusaha menahan diri." Bu Santi memeluk putrinya dengan air mata bercucuran.


"Kita masuk sekarang, Bu." Chayra memapah ibunya untuk kembali ke dalam kamar. Semua masih diam. Pertunjukan malam itu benar-benar luar biasa.


"Oh iya, satu lagi, Ummi." Bu Santi berbalik setelah sampai di depan pintu. "Aku tidak butuh nasehat dari Ummi dalam mendidik anak-anakku. Aku bisa dan punya cara sendiri untuk mendidik mereka tanpa campur tangan Ummi. Jika Ummi masih menyesal memiliki menantu sepertiku. Makam Mas Ari ada di sebelah utara bangunan Pesantren ini. Ummi bisa mendatanginya. Tanyakan kenapa dia bisa mencintai wanita yang tidak jelas asal usulnya sepertiku." Ucapan itu disertai dengan tutupan pintu yang cukup keras. Masih hening.. suasana hangat di awal benar-benar berubah menjadi suasana mencekam. Satu persatu anggota keluarga meninggalkan meja makan. Acara makan malam yang sudah dipersiapkan sejak pagi buta, tidak berjalan sesuai yang diharapkan. Makanan yang terhidang bahkan tidak sempat disentuh.


Sementara itu ...


Bian masih berdiri di samping mobilnya setelah membawa Amara keluar dari ruang keluarga tadi. Pria itu masih setia menemani Amara yang duduk sesenggukan di samping mobilnya. Tidak ada rasa malu walaupun para santriwati yang lewat pasti melihat ke arah mereka. Pria itu diam menunduk menatap Amara. Ingin rasanya dia memeluk gadis itu untuk menenangkannya. Tapi, dia masih tau batasan kebolehannya.


"B.. bagaimana keadaan kamu sekarang?" Bian menatap Amara dengan tatapan nanar. Mata gadis itu terlihat sembab.


Amara tersenyum ketus. "Seperti yang Kak Bian lihat, aku sedang tidak baik-baik saja." Kembali mengusap air matanya yang mengalir. "Kenapa Kak Bian tidak bilang dari awal. Kenapa Kak Bian menyembunyikan semuanya?"


"M.. maksud kamu apa, Ra?!" Bian berlagak bingung. Ini adalah kali pertamanya dia menghadapi wanita yang sedang marah.


"Kenapa Kak Bian nggak bilang, kalau Nenek tidak menginginkan hubungan kita? Kalau Kak Bian bilang, aku akan sadar diri lebih cepat. Aku tau aku bukan orang berada seperti Kak Bian. Aku memang tidak pantas mendapatkan laki-laki seperti Kak Bian." Amara kembali terisak. Mendengar semua hinaan Bu Fatimah membuat dirinya benar-benar merasa hancur. Keberanian dan kepercayaan diri yang dia bangun dengan susah payah, hancur lebur tak tersisa.


"Aku akan memperbaiki semuanya, Ra."


"Nggak, Kak. Aku tidak mau menjadi wanita tidak tau diri." Amara berbalik lalu bergegas meninggalkan Bian.

__ADS_1


"Rara, kamu mau kemana?!" Bian berlari mengejar Amara yang berlari cukup kencang. Tidak perduli lagi dengan tatapan beratus-ratus pasang mata yang menyaksikan kejadian itu. Dia hanya berharap bisa menggapai Amara dan membawanya kembali.


Bruk..!


Bian langsung memeluk tubuh Amara begitu pria itu berhasil menggapainya. Imannya hancur karena wanita. Melihat Amara berlalu dari hadapannya membuatnya tidak kuat untuk tidak mencegahnya.


"Please, jangan pergi, Ra.." masih memeluk tubuh Amara dengan kuat, walaupun Amara berontak minta untuk dilepaskan.


"Lepaskan, Kak! Aku harus pergi dari tempat ini. Tempat ini tidak pantas untuk wanita sepertiku."


"Tidak, Ra. Nenek memang selalu seperti itu. Itulah mengapa Ibu juga menjaga jarak darinya. Aku mohon, kita kembali sekarang. Para Santri sedang memperhatikan kita, Sayang."


Amara mengangkat wajahnya perlahan. Ia tercengang saat melihat para Santriwati sedang menonton siaran live di pinggir kolam besar. Amara menelan ludahnya seraya menundukkan kepalanya kembali. "Kita bicara lagi di mobil." Ucapnya kemudian, membalik tubuhnya memaksa Bian melepaskan pelukannya. Wanita itu berjalan cepat menuju mobil. Ternyata dia berlari cukup jauh sampai di ujung kolam.


*********


Bu Santi terbangun dari tidur singkatnya. Matanya terasa sulit terbuka karena matanya yang bengkak. Wanita itu meraba-raba tempat kepalanya bertumpu. Ia tersenyum saat menyadari kalau dirinya tertidur di atas pangkuan putrinya. Masih terdengar isak tangis Chayra. Pertikaian sengit tadi ternyata benar-benar membuat banyak orang terluka.


"Adik kamu, Ayra. Apa Bian belum kembali membawa Amara?"


Chayra menggeleng, "aku hanya minta bantuan Mayra untuk mengikuti mereka tadi."


"Ibu ingin keluar untuk mencarinya, Nak." Bu Santi beranjak bangkit.


"Tapi, Ibu belum..."


"Ikut Ibu, Nak." Bu Santi memotong ucapan putrinya. Chayra akhirnya mengalah dan mengikuti keinginan ibunya.


Sampai di depan rumah, sudah ada Pak Akmal, Ardian dan Humaira sudah berdiri di sana. Bu Santi terkejut saat melihat putranya sedang memeluk Amara di depan mobil. Ia melangkah maju untuk mengakhiri drama itu. Namun, langkahnya terhenti saat Pak Akmal dan Ardian menahan tangannya.

__ADS_1


"Biarkan dia mengobati luka Amara sejenak, Nak."


********


__ADS_2