
Amara membuka matanya saat merasakan dekapan hangat di belakangnya. "Na, meluknya jangan terlalu kuat. Aku jadinya merasa aneh gitu." Mencoba memindahkan tangan yang melingkar di pinggangnya.
"Maafkan aku, Ra. Aku yang terlalu egois. Tidak memikirkan perasaan kamu malam itu."
Amara terdiam mendengar suara itu. Ia menelan ludahnya, tidak tau apa yang akan dilakukannya saat ini.
"Maafkan aku, Sayang. Aku sudah menyadari kesalahanku yang hanya mementingkan urusan pribadiku tanpa melibatkan orang yang berperan penting dalam hidupku."
Amara masih diam. Dia benar-benar tidak menyangka kalau Bian benar-benar datang menemuinya.
"Aku akan terima hukuman apapun yang akan kamu berikan padaku."
"Lepaskan aku, Mas."
"Pelase, Ra. Jangan seperti ini. Hukum aku atas kesalahanku ini. Tapi, aku mohon kamu pulang ke rumah, Sayang. Sudah empat hari, Ra."
"Kenapa Kak Bian mencari ku kemari? Aku akan pulang kalau hatiku sudah baik-baik saja."
Bian bangkit dan memaksa istrinya ikut bangkit. "Tatap aku, Sayang."
"Nggak, Mas."
"Rara... tatap aku." Menarik wajah Amara agar mau menatapnya.
"Untuk apa, Mas? Melihatmu hanya akan membuat hati ini semakin sakit."
"Apakah seburuk itu aku di matamu? Sampai-sampai kamu menyimpan semua kesalahan yang aku perbuat karena ketidak sengajaan itu. Aku mengaku salah, Ra. Tapi, malam itu aku benar-benar tidak bisa mengendalikan perasaanku sendiri. Empat hari ini, aku selalu belajar cara menghargai pasangan. Aku juga sudah meminta Kak Daniel untuk merubah semua jadwal kerjaku. Beri aku kesempatan, Sayang." Meraih tangan Amara dan menggenggamnya erat. Menatap tepat di mata istrinya. "Kalau kamu masih merasa tidak dihargai sampai satu tahun ke depan. Aku membebaskan kamu mengambil keputusan yang menurutmu terbaik." Semakin mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya. "Jangan menunduk! Tatap aku, Ra. Masalah ini tidak akan selesai kalau kita tidak menyelesaikannya.
"Aku sudah memaafkan kamu, Mas. Tapi, aku hanya butuh memulihkan hatiku yang terluka karena sikapmu." Kembali menunduk karena tidak mau menatap Bian terlalu lama.
"Apa tidak ada kata maaf untukku malam ini?"
Amara terdiam. Untuk mengatakan iya, hatinya terasa berat. "Aku menyayangi kamu, Mas." Mengangkat kepalanya perlahan. "Aku pun merasa bersalah karena meninggalkan rumah tanpa izin darimu. Tapi.. tapi aku tidak bisa menahan perasaan sakit saat mengingat yang kamu katakan malam itu padaku."
"Aku akan berusaha untuk memperbaiki semuanya. Insya Allah, aku akan selalu mengutamakan keluarga kita ke depannya. Aku tau pekerjaan itu penting. Tapi, keluarga tetaplah yang paling utama."
Amara memberanikan diri menatap mata suaminya. Diam beberapa saat menatap mata sayu suaminya. Mata itu terlihat lelah. Entah karena lelah kurang istirahat atau mungkin begadang mengerjakan pekerjaan. "Kamu terlihat lelah, Mas." Ucapnya kemudian seraya mengalihkan pandangannya.
Bian menghela nafas berat. "Aku nggak bisa tidur dengan baik setelah kamu pergi. Terhitung sejak malam itu, aku hanya tidur dua jam dan paling lama tiga jam. Aku selalu memimpikan kejadian malam itu."
__ADS_1
"Kalau kamu memikirkan itu, kenapa kamu tidak datang mencariku?" Tatapan Amara berubah tajam.
"Aku tidak tau kamu dimana, Sayang. Aku mungkin bisa minta bantuan pada Kak Daniel. Tapi aku tidak mau orang lain tau masalah ini. Aku yang membuat masalah, aku harus bisa cari sendiri solusinya. Aku pun terus mengontak Ameena. Tapi, dia tidak pernah jujur tentang keberadaan kamu. Yang ada dia selalu marah-marah kalau aku terlalu banyak bertanya. Dia mengatakan semuanya pagi tadi." Bian menunduk lalu kembali menatap istrinya. "Dia bilang kamu selalu menangis. Hal itu malah membuatku semakin merasa bersalah. Apalagi mengingat kondisi kamu sekarang."
Amara tersenyum lemah. Sepertinya, sudah waktunya dia membuka hati untuk memaafkan suaminya itu. "Maafkan aku, Mas."
"Maaf untuk apa, Ra? Kamu tidak salah apa-apa. Justru aku yang terlalu bodoh karena tidak bisa mengontrol ucapanku sendiri." Mencium tangan istrinya karena melihat tatapan istrinya yang lebih bersahabat. Ia tersenyum lembut saat Amara menunduk menyikapi perlakuannya.
"Mas,"
"Mm..." tak sedikit pun Bian mengalihkan pandangannya dari istrinya.
"Aku ingin bilang sesuatu. Tapi.. sepertinya kamu sudah tau hal itu."
"Ngomong saja. Seandainya aku sudah tau pun, pasti rasanya akan berbeda karena kamu yang mengatakannya." Semakin mendekatkan wajahnya pada istrinya. Ingin rasanya dia mencium wajah itu. Tapi, dia berusaha menahan diri. Hati Amara masih dalam tahap pemulihan. Jangan sampai hati itu kembali terluka karena dirinya yang ceroboh.
"Tadinya aku mau kasih surprise sama kamu. Tapi, kamu keburu menemukan bukti itu."
"Hmm.. aku nggak ngerti maksud kamu." Bian pura-pura berpikir. Padahal dia sudah tau maksud istrinya.
Amara menatap suaminya dengan ragu. "Aku.. aku.. aku hamil, Mas."
Bian melototkan matanya pura-pura terkejut. "Alhamdulillah ..." mengusap wajahnya penuh syukur. "Kalimat itu yang aku tunggu-tunggu dari kamu, Sayang." Kembali menggenggam tangan istrinya. Mencium punggung tangannya beberapa kali.
Bian tidak bisa menahan tangannya untuk tidak mencubit pipi istrinya. "Tatapan yang sangat aku rindukan dari kamu."
"Apaan sih..?!" Amara menepis tangan Bian. "Jangan macam-macam dulu. Ini masih pemulihan. Kalau Mas Bian macam-macam lagi, aku khawatir kembali sakit hati. Tau kan, sakit untuk yang kedua kalinya pasti lebih sulit di pulihkan."
"Iya, Sayang.. maaf. Habisnya kamu terlihat sangat menggemaskan kalau menatapku seperti tadi." Bian melirik ke arah jam dinding di kamar itu. Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. "Ra, kenapa kamu belum tidur sampai jam segini?" Beralih menatap Amara yang mengernyit mendengar pertanyaannya.
"Kamu kok jadi aneh gini sih, Mas. Nanyain kenapa aku belum tidur, sedangkan kamu mengajak aku berdebat dari tadi. Coba kamu nggak datang dan mengusik ketenanganku, aku pasti sudah bobok cantik dalam pelukan Ameena."
Bian terdiam beberapa saat. "Mm.. apa kamu mau tidur dalam pelukanku malam ini?"
Amara langsung mengalihkan pandangannya. "Mudah-mudahan aku bisa tidur nyenyak tanpa harus mengingat kenangan pahit itu."
"Sayang..."
"Mm..."
__ADS_1
"Kita pulang saja kalau begitu. Kalau di rumah aku bisa minta maaf dengan cara yang sudah aku persiapkan."
Amara mendelik kesal. "Jangan terlalu mengharapkan hal yang muluk-muluk, Mas. Suasana hatiku selalu berubah-ubah. Entah apa penyebabnya. Mungkin karena aku sedang hamil. Tapi, aku sering kesulitan mengontrol suasana hatiku."
Bian menatap istrinya dalam. Tidak menyangka kalau dia mendapatkan kata maaf itu secepat ini. Sampai saat ini, dia masih membaca sifat istrinya. Walaupun sudah lama saling mengenal. Namun, perkenalan karakter setelah menikah itu pasti ada. "Aku akan berusaha untuk mengerti keinginan kamu kedepannya."
Amara tersenyum sinis. "Mudah-mudahan kamu bisa memegang ucapan kamu, Mas."
"Insya Allah.. semoga Allah selalu mempermudah urusan kita."
"Aamiin.." Amaara mengusap wajahnya. Kembali menatap Bian yang masih terus menatapnya. "Apa kamu tidak bisa tidur di rumah ini, Mas?"
"Mm... kenapa menanyakan itu?"
"Kalau kamu tidak bisa tidur, kamu pulang saja. Kamu pasti butuh istirahat yang baik. Kamu benar-benar terlihat lelah."
"Ra..." Bian membuang nafas kasar. "Untuk apa aku mencarimu kemari kalau pada ujungnya aku akan pulang sendirian. Aku datang kemari untuk menjemput kamu, Sayang. Ayo kita pulang. Kita buka lembaran baru. Kita buang kebodohan-kebodohanku yang sudah lewat. Kita akan memulai hari dengan Bian yang baru pula."
"Benarkah?" Menatap suaminya dengan tatapan meremehkan.
"Ish, tatapan kamu terlihat seram." Bian kembali mencubit pipi Amara.
"Ck...!"
"Jangan protes. Kita pulang ya.. please..." menatap dengan tatapan memohon.
"Hmm.. aku mau tidur di sini malam ini. Aku suka memakai air dingin pas subuh. Itu membuat mata menjadi segar. Mas Bian harus merasakan itu, biar tau rasanya dingin waktu subuh. Biar tau rasanya hidup pas-pasan."
Bian mengernyit. Ia merasa pembahasan istrinya sedikit aneh. Apa hubungannya wudhu dengan air dingin di rumah Ameena dengan di rumahnya. Padahal, dia pun bisa melakukan itu di rumahnya. "Kamu juga bisa wudhu menggunakan air dingin di rumah. Kenapa harus di rumah ini?"
"Rasanya beda aja, Mas. Di sini itu kamar mandinya kan kecil. Aku merasa bisa hidup sederhana kalau tinggal di sini."
Bian menghela nafas berat. Istrinya benar-benar berubah haluan. Entah apa yang diinginkan istrinya itu sehingga membahas hal yang tidak perlu dibahas. "Kita pulang ya.."
Amara hanya diam. Tidak menolak ataupun menerima ajakan Bian. Hanya matanya yang menatap pria itu penuh arti. "Aku akan bicara dengan Ameena dulu. Aku tidak bisa meninggalkannya secara tiba-tiba."
Bibir Bian langsung tersenyum sumringah. "A.. aku akan menunggu kamu di sini."
"Nggak, kamu harus ikut, Mas. Kamu juga harus berterima kasih karena Ameena mau merawatku selama ini."
__ADS_1
Bian menelan ludahnya bingung. Tapi, ia akhirnya bangkit dan mengikuti langkah istrinya. Menolak keinginannya saat ini hanya akan membuat masalah baru.
***********