
Bu Santi tersenyum lebar melihat kedatanganku mobil putranya. Dia sudah yakin, Bian pasti datang bersama Amara. Wanita itu sedang duduk di teras rumah Bu Ainun. Begitu melihat mobil Bian berhenti, dia langsung bangkit untuk menyambut kedatangan putra dan calon menantunya.
"Assalamu'alaikum, Bu." Bian langsung mengucap salam begitu turun dari mobil. Mengulurkan tangannya untuk salaman setelah berdiri di depan ibunya.
"Wa'alaikum salam, Nak. Amara mana, Sayang?" Bu Santi bertanya lembut setelah puas memeluk putranya. Tangannya bahkan mengusap-usap pipi Bian dengan lembut.
Bian tersenyum lembut. Perlakuan ibunya yang seperti itu selalu saja membuat hatinya tenang. "Rara di mobil, Bu. Kayaknya malu dia sama Ummi dan Abah."
"Hmm.. kenapa nggak diajak turun, Nak? Namanya juga di tempat baru, sudah pasti malu."
"Ibu aja yang ajak dia. Rara sedang nangis, Bu." Bian berkata sambil tersenyum. Tidak menyangka kalau hal itu malah membuat ibunya tersentak. "Loh, nangis kenapa? Kamu apakan dia kenapa sampai nangis?" Bu Santi langsung menatap tajam putranya. "Ibu sudah peringatkan kamu, Bian. Jangan pernah menyakiti wanita. Kamu ini, baru satu tahun mengatakan jatuh cinta sama Amara, sekarang kamu sudah berani membuatnya menangis." Bu Santi berkata dengan nada suara sedikit tinggi. Hal itu membuat Bian menelan ludahnya. Ibunya itu jarang sekali bicara dengan nada tinggi. Jika sudah seperti ini, itu berarti ibunya benar-benar marah padanya.
"I.. Ibu.. aku nggak pernah menyakiti Ra..."
"Terus kenapa dia nangis?" Masih menatap putranya dengan tajam. Tidak mengizinkan putranya mangemukakan alasan apa pun.
Bian membuang nafasnya dengan kasar. "Bian belum selesai ngomong, Bu."
"Kalau dia benar-benar tidak menangis karena kamu, ajak dia keluar sekarang. Ibu tunggu kamu di sini." Memerintah dengan membuang pandangan. Masih bersikeras karena menganggap putranya bersalah. Kembali duduk di sofa panjang tempatnya duduk tadi. Yang dianggap bersalah kembali menelan ludahnya karena tidak mengerti. Bian akhirnya menggaruk-garuk kepalanya seraya berbalik untuk kembali ke mobil.
Sekitar lima menit menunggu, Bian sudah kembali dengan Amara yang mengekor di belakangnya. Bu Santi hanya melirik lalu kembali menatap ke lain arah. Hal itu membuat Bian menarik nafas dalam. "Ibu, ini aku sudah membawa Rara ke hadapan Ibu." Bian berkata dengan sangat pelan. Takut kalau salah ngomong dan membuat ibunya marah lagi.
"Minta maaf sama Amara sekarang. Ibu tidak mau kamu sampai menyakitinya, sedangkan nanti kamu akan jauh darinya." Masih menatap ke lain arah. Bu Santi benar-benar membuat putranya bingung. Wanita itu sampai melipat tangannya di dada seperti orang yang enggan menatap putranya sendiri.
"Bu," Amara mendekat seraya menyentuh lengan Bu Santi.
Bu Santi menarik nafas dalam seraya memejamkan matanya. Perlahan, ia berbalik dan menatap Amara. "M.. maafkan putra Ibu, Nak. Dia memang belum ada pengalaman dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis." Tangannya mencengkram pundak Amara. "Kamu adalah satu-satunya wanita yang dia perkenalkan sebagai wanita yang dia cintai."
"T.. tapi Ibu salah paham." Timpal Amara. Dia tidak mau salah paham ini berlanjut dan menjadi beban pikiran Bian. "Aku menangis bukan karena Kak Bian menyakitiku, Bu."
Bu Santi menautkan alisnya. "Terus kenapa kamu nangis, Sayang?" Menangkup pipi Amara, menatap gadis itu dengan lembut.
__ADS_1
"Ah," Amara menundukkan pandangannya. Tidak kuat rasanya bertatapan dengan wanita yang lemah lembut itu. "Aku.. aku cuman sedih karena Kak Bian akan pergi. Dia tidak memberitahuku sama sekali sebelum ini, Bu. Eh, pas di mobil tadi dia batu bilang kalau akan berangkat ke Singapura sore nanti."
"Oh," Bu Santi akhirnya menurunkan tangannya. Menahan senyum mendengar pengakuan Amara. Beralih menatap putranya yang masih terlihat cemas menunggu keputusannya. "Kenapa menatap Ibu seperti itu?" Bertanya seperti tanpa dosa.
"Ibu ..."
"Iya, Nak?"
"Apa Ibu tidak mau bertanya, apa aku baik-baik saja?"
"Hmm..." tersenyum kecil lalu merentangkan tangannya pada Bian. "Maaf, Nak. Ibu salah paham tadi." mencium dahi putranya dengan penuh sayang.
"Hah, aku kira Ibu akan tetap marah padaku."
Bu Santi menggeleng-geleng pelan. "Ayo kita masuk. Semuanya sudah menunggu di dalam. Kamu bisa istirahat dulu kalau capek. Kamar sudah disediakan untuk kamu." Merangkul Bian di sebelah kiri dan Amara di sebelah kanan.
Amara menghentikan langkahnya. "Koperku masih di mobil, Bu."
Amara langsung tersenyum kaku. Jantungnya kembali berdetak tidak normal. Tempat yang dia datangi ini benar-benar terasa berbeda. Pemandangan sekeliling yang begitu asri. Kolam-kolam besar yang indah dengan deretan gazebo di tepiannya.
"Ra, nanti aku ajak kamu jalan-jalan. Kamu terlihat kagum dengan pemandangan di tempat ini." Ucap Bian yang ternyata diam-diam memperhatikan Amara.
"Kamu tidak bisa bebas di sini, Bian. Kamu harus ingat itu. Sebagai keponakan ketua yayasan ini, kamu harus pandai menjaga sikap." Timpal Bu Santi dengan tegas.
Bian menghela nafas berat. "Iya, Bu. Lagian Bian juga akan pergi. Mungkin ini adalah pertemuan terakhir Bian dan Rara. Insya Allah, hari minggu baru bisa bertemu lagi." Bian menatap sekeliling. Tempat itu memang cukup indah.
"Masuklah..!"
Amara mengangguk sopan. Pantas saja Bian sangat patuh pada ibunya. Ternyata selain lemah lembut, Bu Santi juga tegas dalam mendidik anak-anaknya.
********
__ADS_1
"Ra, aku mau ngomong sebentar, keluarlah.." Bian berdiri di depan pintu rumah Ummi nya. Sebentar lagi dia akan berangkat ke Bandara. Tapi, sebelum kepergiannya, dia harus memastikan sesuatu terlebih dahulu.
Amara langsung meletakkan handphonenya dan bergegas keluar rumah. Tapi, gadis itu benar-benar terkejut saat suasana di luar benar-benar ramai. Dia baru sadar, kalau rumah tempatnya akan menginap ini satu lingkungan dengan Asrama Santriwati.
"Duduk sini, Ra." Bian menunjuk sofa di depannya. "Kita harus pandai menjaga sikap karena Kita sedang berada di lingkungan Pesantren. Di tempat ini, laki-laki dan perempuan yang bukan mahram tidak boleh berdiskusi di ruangan tertutup."
"Mm.." Amara mengangguk patuh, walaupun dia tidak sedikit nyaman karena banyaknya pasang mata yang lalu lalang melihat mereka.
"Aku akan berangkat, Ra. Jangan lupa do'akan aku biar aku tidak tegang saat naik pesawat nanti."
"Insya Allah, aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuk Kak Bian." Memberikan senyuman kecil pada pria itu. "Yang aku tau, biasanya orang akan minta doa agar dimudahkan segala urusannya. Permintaan Kak Bian, kok terdengar sedikit aneh." Amara menatap ke sembarang arah sambil menahan senyum.
"Huh," Bian mendengus. "Kamu kan tau sendiri, Ra. Mana pernah aku gugup gara-gara ujian."
"Iya.. iya.. aku hampir lupa kalau Kak Bian adalah orang pintar dan pandai mengendalikan emosi."
"Apaan "Coba maksudnya.." giliran Bian yang menahan senyum. Ingin rasanya dia mencubit pipi Amara yang terlihat sangat lembut untuk di cubit.
"Nggak ada apa-apa. Aku cuma bercanda saja."
Hening...
Bian menarik nafas dalam setelah cukup lama mereka diam. "Ra, nanti malam adalah acara makan malam keluarga besar. Aku harap kamu tidak terlalu berat dan bisa menyesuaikan diri. Sekiranya ada anggota keluargaku yang bicara tidak sopan padamu, aku berharap kamu bisa menanggapinya dengan bijak. Jaga dirimu baik-baik selama aku pergi. Aku akan sangat merindukanmu."
"Ih, Kak Bian kok berkata begitu. Insya Allah, semua akan baik-baik saja. Dan... untuk masalah rindu.." Amara memberanikan diri menatap mata Bian. "Aku juga pasti akan merindukan Kak Bian. Siapa coba yang nggak rindu pada pujaan hati." Mengalihkan pandangannya karena tiba-tiba jantungnya seperti mau meloncat keluar dari dadanya.
Bian tersenyum seraya beranjak bangkit. "Aku pergi sekarang, Ra. Assalamu'alaikum.. "
"Wa'alaikum salam.." Amara tersenyum lemah melihat kepergian Bian. Ia masih terus menatap mobil yang semakin berjalan menjauh. Mengusap air matanya yang tidak ia sadari kapan keluarnya. Gadis itu masuk ke dalam rumah setelah mobil yang ditumpangi Bian hilang dari pandangannya. Langsung masuk ke dalam kamar lagi. Dia benar-benar masih asing dengan suasana tempat itu. Belum lagi, dia belum bertemu dengan pemilik rumah itu. Bu Santi bilang, pemiliknya ke luar kota dan akan kembali sore nanti.
********
__ADS_1