Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Bian Cemburu kah?


__ADS_3

Amara tertegun mendengar ucapan Bu Santi. Hanya matanya yang mengerjap-ngerjap untuk menyesuaikan perasaan dan kesadarannya.


"I.. Ibu.."


Bu Santi semakin menggenggam erat tangan Amara. "Ibu yakin, kamu pasti bisa, Nak. Ibu percaya sama kamu. Ibu ingin bebas dari keterikatan ini, Nak. Sampai saat ini, Ibu sering merasa tertekan karena pengawasan yang terlalu ketat dari kedua orang tua Almarhum. Terutama Abi. Dia terlalu berlebihan dalam menyayangi cucunya. Ummi juga begitu sekarang, terlihat sangat berlebihan dalam menyayangi Ayra dan Bian. Padahal dulu dia selalu mengabaikan kami. Mas Ari sampai membawa Ibu pergi karena Ummi yang tidak menyukai Ibu." Bu Santi menghela nafas berat. "Ibu ingin terlepas dari semua ini, Nak. Ibu Ingin putra Ibu menentukan sendiri wanita pilihannya." Melepaskan tangan Amara perlahan.


"Nak,"


Amara langsung mengangkat wajahnya. "I.. iya, Bu."


Bu Santi tersenyum. "Ibu tidak salah mengira kan?"


"M.. maksud Ibu?" Amara memperbaiki posisi duduknya.


"Kamu mencintai putra Ibu." Jawab Bu Santi tanpa basa-basi.


Amara langsung menelan ludahnya. Hatinya sudah mengiyakan ucapan Bu Santi. Tapi, mulutnya tidak bisa mengatakan apapun. Hanya bibirnya Yang terlihat sedikit bergetar.


Bu Santi menarik nafas dalam. "Sudahlah, Nak. Tidak baik memutuskan sesuatu dengan tergesa. Jika memang kalian jodoh, Allah pasti akan menyatukan kalian suatu hari nanti. Intinya, Ibu ingin kamu tetap berusaha untuk hal itu. Ibu tau kamu wanita baik dan kuat. Kamu sudah biasa dalam keterasingan. Kamu sudah biasa hidup di sepelekan. Dulunya Ibu juga seperti kamu. Orang-orang selalu menyepelekan Ibu. Ibu menemukan kedamaian setelah tinggal di Pesantren." Bu Santi tersenyum menatap Amara. "Derajat hidup itu tidak perlu terlalu dikejar, Nak. Yang perlu itu derajat di hadapan Allah SWT."


"T.. terimakasih nasihatnya, Bu." Amara membalas senyuman Bu Santi. Mengusap air mata yang tidak dia sadari kapan keluarnya.


"Ayo kita masak, nanti Bian keburu pulang. Atau Adzra keburu mau mengambil kamu dari Ibu."


Amara tersenyum meringis. Kedekatan Adzra dengannya memang tidak bisa tersaingi lagi. Anak itu akan langsung nemplok padanya jika mereka bertemu.


*********


Amara duduk diam di atas tempat tidurnya. Ucapan Bu Santi sore tadi terngiang-ngiang di telinganya. Apakah selama ini kelakuannya terlalu kentara, sehingga Bu Santi bisa menebak kalau dirinya mencintai Bian.


Tapi..


Amara sekali lagi harus mempertimbangkan ucapan Bu Santi itu. Dia tidak pantas mendampingi Bian karena statusnya yang bukan orang kaya di mata Kakek dan Nenek pria itu.


"Huh," Amara membuang nafasnya dengan kasar. "Katanya, jadi orang kaya itu tidak enak. Tapi, menjadi orang miskin malah terasa lebih tidak enak lagi. Aku merasa disepelekan karena itu." Amara berucap sendiri seraya mengetuk-ngetuk dagunya.


Ting..!


Amara melirik benda gepeng yang tergeletak di sampingnya. Ada chat masuk dari Ameena. Meraih benda itu karena penasaran dengan pesan yang dikirim temannya itu.

__ADS_1


Mara, lho kenapa hilang kabar? Bagaimana keadaan lho sekarang? Ibunya Kak Bian tidak ngomong yang aneh-aneh kan ke lho.


Amara mengernyit membaca pesan itu. Bisa-bisanya temannya itu menanyakan hal itu. Padahal dia tau sendiri kalau Bu Santi sangat menjaga tutur bahasanya.


Lho salah tanya, Na. Yang ada gue malah diminta menjadi menantunya. Wkwkwk...


Amara tersenyum sendiri menunggu balasan Ameena. "Mau ngomong apa lagi lho sekarang. Gkgkgk..."


Ting..!


Huek.. huek... jangan mimpi di siang bolong, Mara. Orang yang sudah sukses aja masih dia ragukan. Bagiamana dengan lho yang anaknya masih menjadi Mahasiswi..????


Pesan Ameena dilengkapi dengan emoji orang berpikir keras. Hal itu membuat Amara tertawa terpingkal-pingkal.


Kalau nggak percaya, kamu tanya aja sendiri sama dia. Aku mah yang penting udah ngomong jujur. Nggak peduli lho mau percaya atau tidak.


Amara mengirim jawaban sambil senyum-senyum. Mengerjai Ameena dalam kondisi perasaannya yang belum stabil ternyata membuatnya terasa sedikit lebih baik.


Gue ke sana sekarang. Awas, pintunya jangan di kunci dulu.


Amara kembali tertawa kecil. Ameena orangnya paling tidak kuat penasaran. Dia akan mencari tai dengan segala cara, jika penasarannya tidak mendapati titik terang. Ia akhirnya meletakan handphonenya. Dia tidak jadi tidur sendiri malam ini karena Ameena.


Amara membuka pesan dari Chayra terlebih dahulu.


Assalamu'alaikum, Dek. Maaf kalau Kakak mengganggu tidurmu. Adzra merengek-rengek sama Kakak. Dia nangis mau di antar ke tempatmu. Apa kamu bisa video call, biar dia percaya kalau kamu tidur di kost? Dia kira kamu masih di rumah neneknya.


"Oh, ya Allah.. kasihan sekali Kak Ayra. Dia pasti kewalahan karena kelakuan si Gembul."


Wa'alaikumsalam.. bisa, Kak. Aku juga belum tidur kok. Aku akan video call sekarang..


Sekitar dua puluh menit menenangkan Adzra lewat video call, Amara akhirnya bisa bernafas lega karena anak itu bisa tidur juga. Chayra berulang kali mengucapkan terimakasih karena ia meluangkan waktu untuk membantu menenangkan Adzra yang terkadang kelewatan rewel. Amara akhirnya tertidur dan tidak sadar kapan Ameena sampai. Paginya, dia sudah menemukan temannya itu tidur di sampingnya.


Usai shalat subuh, Amara membuat roti panggang dengan alat seadanya. Dia sudah janji pada Adzra semalam untuk datang ke rumah anak itu pagi-pagi. Berjanji akan mengantarnya ke sekolah.


"Na, bangun.. gue mau pergi nih."


Tidak ada respon. Ameena terlihat masih tidur pulas. Amara berdecak seraya masuk kembali ke dalam kamar untuk membangunkan temannya itu.


"Na, bangun.. lho belum shalat subuh. Setengah jam lagi mau terbit." Amara menggoyang-goyang tubuh Ameena.

__ADS_1


Ameena menggeliat pelan seraya membuka matanya yang terlihat masih berat untuk terbuka. "Masa sih.. perasaan gue baru aja terlelap."


"Memangnya lho tidur jam berapa semalam?" Amara bertanya sambil melipat selimutnya. Takutnya kalau selimut itu tidak segera dilipat, Ameena akan menariknya kembali.


"Gue nggak tau jam berapa gue tidur. Intinya semalam gue nunggu lho bangun. Tapi.. lho benar-benar pulas. Kedatangan gue aja kayaknya lho nggak menyadari. Huh, untung aja kostan ini aman. Lho membiarkan pintu tidak di kunci, sedangkan lho udah mimpi sedang berciuman dengan Kak Bian."


"Eh, astaghfirullah.. ngomong apa sih lu.." spontan tangan Amara melempar selimut yang sedang dipegangnya. "Shalat sana.. jangan kebanyakan ngayal, ini masih pagi."


"Hehehe.. kayak takut banget deh lho, padahal kepingin juga." Ameena melirik Amara sambil menyisir rambutnya dengan jari-jarinya.


"Ameena.. lho belum shalat. Nanti malaikat pencatat amal subuh keburu naik dan lho nggak dapat apa-apa." Amara melotot menatap Ameena yang terlihat menikmati kekesalannya.


"Huh, iya.. ini juga gue mau shalat." Ameena beranjak bangkit sambil bersungut-sungut. Sejak temannya itu mendapat hidayah, Ameena tidak pernah bisa shalat terlambat. Amara akan selalu memperingatinya untuk shalat di awal waktu.


Ameena melirik Amara yang terlihat sedang menyisir rapi rambutnya di depan cermin. Mengambil jilbab segi empat dan memasangnya rapi. "Mau kemana lho pagi-pagi udah rapi?"


"Mm.. gue mau ke rumah Kak Ayra. Semalam udah janji sama Adzra untuk mengantarnya ke sekolah hari ini." Amara menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari cermin. "Lho antar gue ya.. sebentar." Berbalik menatap Ameena setelah urusannya di depan cermin selesai.


"Yah, gue nggak bawa motor, Mara. Semalam gue diantar Papa."


"Mm.. ya udah, gue pakai ojol aja kalau gitu." Amara bangkit, meraih tas selempang dan memasukkan benda-benda yang akan dibawanya.


"Jangan pesan ojol, Mara. Gue juga mau ikut. Gue nggak nyaman sendirian disini. Nggak bakalan seru deh, kalau nggak ada teman ngobrol."


"Terserah kamu. Mau ikut ke rumah Kak Ayra juga nggak apa-apa."


"No, gue mau pulang aja."


Amara dan Ameena akhirnya meninggalkan kostan mereka setelah mereka berdua selesai, bersiap. Tapi, kedua wanita itu cukup terkejut saat melihat mobil Bian terparkir di dekat pos Satpam.


"Dek, dari subuh tadi udah ditunggu. Kasihan tau pacarnya capek nunggu." Pak Satpam langsung menegur Amara dan Ameena saat kedua wanita itu melewati pos.


"Kamu kemana aja, Mara?" Bian tiba-tiba muncul dari dalam pos. Menatap tajam ke arah Amara.


"Eh, k.. kenapa Kak Bian ada disini?"


"Teleponan sama siapa kamu, sampai nggak sempat baca chat yang aku kirim? Semalaman aku nunggu, tapi kamu tetap nggak ada respon. Ngeselin tau nggak?!"


Amara mengerjap-ngerjap bingung mendengar pertanyaan Bian.

__ADS_1


********


__ADS_2