
Bian melirik Bobi yang masih diam di tempat. Padahal dia sudah bersiap untuk keluar bersama Amara dan Ameena.
"Bob, kami mau pulang. Kenapa kamu masih bersantai?"
"Aku mau nginap di sini, Bi. Aku lagi minta uang sama Mami, tapi belum dikasih. Mau ngambek dulu biar cepat cair."
Bian membuang nafas dengan kasar seraya menggeleng-geleng pelan. "Katanya mau sukses dunia akhirat. Tapi kerjaannya nipu orang tua. Kalau kayak gitu, emangnya bisa sukses? Ayo, Ra." Bian berlalu diikuti oleh Amara dan Ameena.
"Kak Bian antar aku pulang dulu. Aku nggak mau ikut ke rumah Kak Bian." Ameena menarik jaket Bian dari belakang. Hal itu membuat Bian tidak nyaman, sehingga pria itu langsung berbalik menatap Ameena dengan tajam. "Jangan tarik-tarik kayak gitu, Na. Kamu terkesan seperti orang cengeng kalau kayak gitu. Bilang saja dangan baik-baik. Kenapa kamu tidak mau ikut ke rumahku? Apa rumahku tidak nyaman untuk orang macam kamu?"
Ameena menyebikkan bibirnya kesal. "Bagaimana mau nyaman, kalau aku di anak tirikan Amara kalau udah bertemu dangan ibunya Kak Bian. Mereka itu kalau udah bertemu lengket kayak perangko. Aku mah seperti nyamuk pengganggu. Kemarin aja pas belum ada apa-apa udah lengket, apa lagi sekarang.. udah jadi c-a-l-o-n m-a-n-t-u." Ameena mengeja dangan memainkan lidahnya.
Amara hanya tersenyum kecil seraya menggeleng-geleng lemah. Tidak bisa dipungkiri, kalau ucapan Ameena itu tidak bisa dielakkan kebenarannya. Dia malas jauh-jauh dari Bu Santi kalau udah bertemu. Beberapa kali hal itu membuat Ameena ngambek dan pulang tanpa izin.
"Ya udah, aku antar kamu pulang dulu kalau begitu. Ayo masuk, Ra." Bian membukakan pintu mobil untuk Amara, tetapi gadis itu menahan tangan itu agar tidak melanjutkan membuka pintu dengan lebar. "Nggak usah seperti ini, Kak. Aku bisa melakukannya sendiri." Tersenyum seraya masuk ke dalam mobil. Sebenarnya Amara tidak nyaman dangan tindakan Bian karena terus diawasi oleh sepasang mata Pak Anton. Pria itu seperti tidak pernah mengedipkan matanya karena terus mengawasi Bian.
"Jangan melihat ke arahnya, Ra. Matanya terlalu tajam. Kamu tidak akan kuat kalau beradu kuat dengannya."
"Eh," Amara terkejut mendengar ucapan Bian. Padahal dia tidak pernah mengatakan apa pun. Tapi, Bian seperti bisa membaca apa yang sedang dilakukannya.
"Cukup kamu nurut sama aku. Jangan membuat keributan dengan ku, Pak Anton tidak akan pernah mengganggu kamu."
Amara tersenyum salah tingkah. "Ehehehe.. m.. maaf, Kak." Ucapnya seraya menegakkan kembali duduknya.
*********
"Kita jalan-jalan sebentar ya, Ra." Bian melirik Amara lalu kembali fokus ke jalan.
Amara mengangkat wajahnya. Dia baru saja bangun karena Ameena yang membangunkannya. Tidak bisa bertahan kalau sudah terkena AC dalam mobil. "Kita mau ke mana, Kak?" Ucapnya sambil menggosok-gosok matanya.
"Temani aku membeli sesuatu. Tadinya aku berniat pergi saat kita keluar dari Apartemen. Tapi, Ameena sepertinya cemburu sama aku." Kembali melirik Amara.
"Hah, cemburu.. cemburu bagaimana maksud Kak Bian?"
"Dia cemburu karena kamu harus membagi perhatian antara aku dan dia. Dulunya kamu akan memberikan perhatian penuh sama dia. Tapi, sekarang malah kebalikannya."
__ADS_1
Amara diam beberapa saat. "Apa.. apa mungkin itu yang membuatnya sering marah-marah tidak jelas sama aku?"
Bian mengangkat bahu. "Maybe yes, maybe no. Kamu bilang, dia juga kan sedang putus cinta. Mungkin saja itu yang menjadi faktor penyebabnya."
"Oh iya, aku lupa."
Bian hanya melirik Amara sambil tersenyum manis pada gadis itu. Hal itu membuat dada Amara berdebar. Jantungnya selalu saja merespon berlebihan kalau ada senyuman manis dari pria itu.
Bian tiba-tiba membelokkan kendaraannya ke salah satu pusat perbelanjaan. Amara menautkan alisnya. Ingin bertanya tetapi lidahnya terasa kaku.
"Aku mau membelikan Kak Ayra sesuatu, Ra. Minggu depan dia ulang tahun. Aku sering memberinya hadiah, tapi dia selalu mengomentari hadiah pemberianku. Bilang hadiahnya terlalu maco lah, terlalu feminim lah, terlalu mahal dan bla.. bla.. bla. Kali ini aku mengajak kamu. Kalau dengan kamu kan, kalian sama-sama perempuan. Mudah-mudahan kali ini aku mendapatkan pujian."
"Ngarep banget. Aku nggak biasa beli hadiah, Kak. Bagaimana kalau Kak Ayra tidak suka?"
"Mmm.." Bian pura-pura berpikir keras. "Kalau Kak Ayra tidak suka, itu berarti kita kurang kompak saat memilihnya.
"Hmm.. t.. tapi... kok orangnya.. bisa ada di.. sini.. Kak?" Amara menatap Bian sekilas lalu menunjuk dengan ekor matanya ke arah sepasang suami istri yang sedang duduk di salah satu food court di Mall itu.
"Oh, no..." Bian menutup wajahnya dengan telapak tangan. "Jangan sampai kita terciduk lagi, Ra." Bian membalik tubuhnya untuk menghindar kalau kakaknya tidak sengaja menatap ke arahnya. Aksinya berhasil, mereka berhasil menjauh tanpa diketahui pasangan suami istri itu.
Amara menautkan alisnya melihat benda itu. "Ini kan pensil, Kak. Untuk apa menunjukkan pensil ini padaku?" Menyentuh ujung pensil lalu beralih menatap Bian dengan heran.
"Aku akan menggenggam salah satu ujung pensil ini. Kamu harus memegang ujungnya yang lain. Kita nggak boleh berpegangan kan? Makanya kamu pegangan pada pensil ini, biar kamu tidak hilang. Tempat ini kan luas, Ra."
"Apaan sih, Kak?" Amara menyembunyikan wajahnya menahan senyum. Rona merah di pipinya menunjukkan, kalau wanita itu salah tingkah mendengar ucapan Bian.
"Ayo, kita ke lantai berikutnya menggunakan eskalator. Kamu berpegangan erat pada pensil ini. Tidak boleh menyentuhmu tidak menghalangiku untuk bisa melindungi mu." Bian tersenyum melihat Amara. Gaya pacaran seperti ini telah dia rencanakan sejak dirinya masih berandai-andai dulu.
"Insya Allah, aku tidak akan hilang, Kak." Amara menarik nafas panjang untuk menetralkan pikirannya. Detak jantungnya semakin tidak normal sejak melihat ada Chayra juga di tempat itu.
"Yes, I know about that, Honey. But, I think.. I must do it to you, 'cause I need you.."
Amara menggeleng-geleng pelan menahan senyum, kembali menundukkan kepalanya. Kalau Bian terus seperti ini, sepertinya dan akan sulit tidur malam ini karena memikirkan pria itu. Perlahan ia menggerakkan tangannya untuk menggenggam pensil yang sudah di genggam erat Bian dari tadi. Bian tersenyum melihat hal itu. Tidak bisa di pungkiri, kalau hal sepele itu bisa mendebarkan dadanya.
"Makasih, Ra."
__ADS_1
"Eh," Amara sedikit mendongak menatap Bian. Tapi, pandangan mereka tiba-tiba terkunci satu sama lain. Masing-masing dari mereka merasa enggan untuk memalingkan wajahnya.
Sekitar dua menit berlalu..
"Permisi.." seorang wanita menyenggol lengan Amara sehingga mereka tersadar kembali.
"Astagfirullah," Amara memalingkan wajahnya dari Bian. "Apa yang kita lakukan, Kak."
"Nggak ada yang memalukan kok. Aku cuman menatap kamu, agar perasaan kita semakin membaik ke depannya. Ayo.." Bian melanjutkan langkahnya diikuti Amara yang sudah menggenggam erat pensil di tangan Bian.
"Kita ke Musholla dulu, Ra. Sebentar lagi masuk waktu Maghrib." Ucap Bian setelah mereka sampai di lantai atas. Pria itu sama sekaki tidak perduli dengan tatapan orang-orang yang laly lalang. Sepertinya, orang-orang itu memperhatikan mereka karena pensil yang mereka genggam.
"I.. iya, Kak."
"Huh," Bian mendengus mendengar jawaban Amara. "Kebiasaan kamu yang seperti ini membuat ku bingung harus membicarakan apa lagi."
"Hah, m.. maksudnya..?" Amara melirik Bian.
Sampai di depan Musholla..
"Bian, Amara, kok kalian ada di sini?"
Bian tersenyum meringis melihat Kakak iparnya. Sedangkan Amara langsung menunduk seraya menelan ludahnya. Untungnya dia sudah melepaskan pensil di tangan Bian. Kalau tidak, sepertinya mereka harus mengakui semuanya dengan jujur pada kakak iparnya itu.
"Mm.. mau shalat, Bang." Kembali tersenyum meringis. "Kak Ayra mana?"
"Sedang mengambil air wudhu'. Kakak tanya kenapa kalian bisa ada di sini?" Ardian tidak Mau kalah. Masih mempertanyakan kenapa adiknya itu keluyuran dengan wanita.
"Kata Kak Bian, sebentar lagi Kak Ayra ulang tahun. Dia memintaku untuk menemaninya mencarikan hadiah yang cocok." Amara membantu menjelaskan karena Bian tak kunjung bicara.
"Siapa yang ulang tahun..?" Ardian menautkan alisnya heran.
"Mmm.. nanti kita bahas lagi, Kak. Aku.. aku mau ambil air wudhu' dulu. Ayo, Ra.." mengisyaratkan pada Amara agar gadis itu mengikutinya. Akan bara-bere ceritanya kalau Ardian terus bertanya. Kakak iparnya itu tidak akan berhenti bertanya kalau belum mendapatkan jawaban yang memuaskan.
*******
__ADS_1