
Dua hari kemudian ...
Daniel datang ke Rumah Sakit dengan membawa sebuah kotak kecil kepada Bian. Menghampiri Bian yang sedang duduk di dekat pembaringan istrinya.
"Assalamu'alaikum, Tuan."
Bian mengangkat wajahnya saat mendengar suara Daniel. "Wa'alaikum salam ... eh, Kak Daniel kapan pulang? Duduk sini.." menepuk tempat kosong di sebelahnya.
"Baru saja saya sampai, Tuan." Daniel menatap ke arah ranjang Amara. "Bagaimana keadaan Nyonya Amara?"
Bian tersenyum lemah. "Seperti yang Kak Daniel lihat. Dia masih tidur. Aku belum melihat senyumannya untuk menyambut kepulanganku." Menatap lemah ke arah istrinya.
"Semoga Allah segera mengangkat penyakit Nyonya Amara." Ikut menatap prihatin ke arah Amara.
"Aku merindukan senyumannya, Kak." Bian menunduk dalam. Menahan gejolak perasaan di hatinya. Air matanya terasa ingin tumpah setiap kali mengingat semua yang menimpa keluarga kecilnya ini.
"Apa keadaan Nyonya kurang baik ketika Tuan berangkat kemarin?"
Bian menggeleng lemah seraya mengusap wajahnya pelan. "Keadaannya sangat baik, Kak. Dia bahkan memintaku untuk menjaga diri dengan baik."
Daniel menghela nafas berat. "Ada yang ingin saya sampaikan pada Tuan."
Bian beralih menatap Daniel. "Jangan bahas masalah Perusahaan dulu, Kak. Aku benar-benar tidak berminat untuk membahas hal itu."
"B.. bukan itu, Tuan. "Ini," menyerahkan kotak kecil yang dibawanya pada Bian. "Ini serpihan handphone Tuan. Cleaning Servis di hotel yang kita tempati menemukannya di bak sampah depan kamar Tuan."
Bian menautkan alisnya heran. "Kenapa bisa ...?" Bian tidak melanjutkan ucapannya.
"Ketika saya memberitahukan hal ini pada Tuan Besar. Tuan Besar langsung mememinta saya untuk mengecek semua rekaman cctv di hotel itu."
Bian hanya menyimak tanpa ada niat untuk menyela. Saat ini, dia tidak ada niat untuk memikirkan hal itu, karena hanya ada istrinya dalam pikirannya.
"Apa Tuan tidak mau mengetahui siapa pelakunya?"
Bian tersenyum getir. "Apa gunanya aku tau, Kak. Handphonenya juga sudah rusak. Aku hanya ingin melihat istriku membuka matanya, Kak."
"Tapi, Tuan.."
"Hah, aku akan mengurus itu nanti, Kak. Atau mungkin Kak Daniel mau membantuku menyelesaikannya."
Daniel menarik nafas dalam. "Apa Tuan juga tidak mau tau, siapa dalang di balik penabrakan Nona Khanza?"
Bian mendengus. "Aku sudah bilang, aku tidak mau sibuk memikirkan masalah apapun itu, Kak. Aku hanya ingin melihat istriku membuka matanya. Aku ingin melihatnya tersenyum lagi."
"Mm.. kalau begitu, saya akan membantu Tuan menyelidiki kasus ini."
"Mm.. terserah Kak Daniel."
"Kalau begitu saya pamit, Tuan. Tuan Besar akan kemari untuk menengok Nyonya Amara besok. Sekarang beliau sedang di Perusahaan menggantikan Tuan sementara waktu."
"Mm..." hanya itu jawaban Bian. Dia benar-benar mati rasa untuk membahas masalah apapun itu.
__ADS_1
*********
Tiga hari kemudian...
Bian masih setia menunggu istrinya membuka mata. Setiap hari yang dilakukannya hanya menunggu dan menunggu. Selain menunggu, ia juga selalu rajin membersihkan tubuh istrinya dengan tisu basah.
Siang itu...
Usai mendirikan shalat zuhur, Bian membuka kitab suci dan melantunkannya di dekat pembaringan istrinya. Baru membaca beberapa ayat, Bian terkejut karena melihat jari tangan kanan Amara bergerak pelan. Ia langsung berdiri untuk lebih memastikan. "Masya Allah, Allahuakbar ..." Bian menutup mulutnya seraya mendekati Nurse Call untuk menghubungi perawat agar segera datang ke ruang perawatan istrinya.
Beberapa menit kemudian, seorang Dokter dan dua orang Perawat datang ke ruangan Amara untuk memeriksa keadaan Amara.
"Buka matanya cantik. Perkembangan yang luar biasa. Tekanan darahnya semakin bagus. Denyut nadinya juga normal."
Bian mendengus melihat Dokter itu memaksa Amara membuka matanya.
"Suaminya setia banget loh. Nggak pernah sedikitpun meninggalkan ruang perawatan. Rajin baca Al Qur'an setiap ada kesempatan. Ayo buka matanya, Cantik."
"Biar saya yang coba, Dokter."
"Silahkan, Pak. Mungkin kalau suaminya yang minta, dia mau membuka matanya."
Bian tersenyum seraya lebih mendekat ke kepala istrinya. "Ra, ini aku Sayang. Bangun ya.. sudah berapa hari kamu tidur. Aku menunggu kamu, Sayang."
Mata Amara mulai mengerjap pelan. Perlahan, mata itu terbuka.
"Alhamdulillah ya Allah.. Engkau masih mengizinkan hamba melihat istri hamba kembali." Bian mengusap wajahnya. Air matanya jatuh tetes demi tetes. Mencium dahi istrinya dengan lembut. Tidak perduli dengan tatapan Dokter dan Perawat yang masih berada di depannya.
Bian duduk kembali. Senyum kebahagiaan mengembang sempurna di wajah tampannya. Menatap istrinya dengan penuh cinta. Siapapun yang akan melihatnya pasti tau, kalau pria itu sedang sangat bahagia. "Sayang..." tersenyum manis di depan wajah istrinya.
"Mas.." Amara menautkan alisnya menatap suaminya.
"Iya, Ra. Ini aku, Sayang."
"K.. kenapa kamu ada di sini, Mas? Bukannya kamu pergi keluar kota dengan Khanza." Amara memalingkan wajahnya. Ia seperti enggan menatap wajah suaminya.
"Loh," Bian tersentak mendengar pertanyaan istrinya. Istrinya baru sadar, tetapi ia langsung mengatakan hal yang terdengar bodoh itu. Sebelumnya dia juga tidak pernah mengatakan akan pergi dan wanita itu ikut serta. "Siapa yang bilang aku pergi bersamanya, Sayang? Jangan memikirkan hal yang tidak-tidak. Apa kamu mau melihat anak kita?" Mencoba mengalihkan pembicaraan agar istrinya tidak memikirkan hal buruk itu.
"Pergilah, Mas. Aku tidak mau melihatmu saat ini." Masih memalingkan wajahnya.
"Rara.. kenapa kamu ngomong begitu? Saat aku tau kamu masuk Rumah Sakit, aku langsung pulang, Sayang. Aku juga tidak pernah..."
"Pergilah, Mas. Jangan membuat aku semakin menderita dengan kebohonganmu. Tinggalkan aku sendiri."
"Rara..."
"Aku bilang, pergi..."
Bian tercengang. Senyuman kebahagiaan yang baru terbit langsung hilang di telan bumi. Tubuhnya mundur perlahan keluar dari ruang perawatan istrinya.
Bu Santi yang berada di depan melihat putranya keluar dari ruangan. Baru saja dia mendapatkan kabar tentang menantunya yang sudah sadar. Tapi ... dia melihat putranya keluar dengan air mata yang masih membekas. "Bian... ada apa, Nak?"
__ADS_1
"I.. Ibu ... Rara tidak ingin melihaku, Bu. Dia marah padaku."
"Maksud kamu apa, Nak?" Bu Santi beranjak bangkit karena terkejut mendengar ucapan putranya.
"Rara marah padaku, Bu. Dia bilang hal aneh yang membuatku bingung."
"Coba Ibu yang masuk ya, Nak. Istri kamu baru sadar. Seharusnya dia tidak seperti ini."
"Bian juga nggak tau, Bu." Bian mengacak-acak rambutnya frustasi. Bu Santi langsung masuk untuk melihat keadaan menantunya.
Sekitar lima belas menit Bu Santi berusaha bicara baik-baik pada Amara. Namun, Amara hanya menangis dan mengatakan suaminya berselingkuh dengan wanita lain. Hal itu membuat Bu Santi tidak mau untuk menanyakan apapun dan memilih untuk memeluk tubuh menantunya itu.
"Nanti Ibu akan menasehati suami kamu jika benar itu yang terjadi, Nak. Ibu akan menghukumnya jika dia benar seperti itu. Sudah ya, sekarang kamu istirahat dulu."
"Aku.. aku ingin melihat anakku, Bu."
Bu Santi tersenyum seraya mengusap-usap kepala menantunya. "Tunggu sebentar ya, Ibu akan mengambilnya untukmu." Keluar dari ruangan dan langsung duduk di samping Bian yang masih duduk di depan ruangan.
"Sepertinya ada sebuah kesalah pahaman, Nak. Lebih baik sekarang kamu pulang dulu. Kamu cari tau apa yang membuag istrimu berkata seperti ini. Mungkin saja hal ini yang membuatnya drop dan tak sadarkan diri."
"Tapi, Bu. Aku nggak mungkin meninggalkannya sedangkan keadaannya seperti ini."
"Jangan membantah, Nak. Buktikan kalau kamj adalah pria baik-baik. Buktikan padanya kalau kamu tidak pernah melakukan seperti yang dituduhkannya itu."
Bian menghela nafas berat. Bangkit dengan malas. "Aku akan pulang, Bu. Aku mau istirahat sebentar untuk menenangkan pikiranku."
"Iya.." Bu Santi menepuk-nepuk pundak putranya untuk menguatkan. "Biar Ibu yang jaga istri dan anak kamu."
"Terimakasih, Bu." Bian melangkahkan kakinya perlahan menjauh dari ruangan itu. Terasa berat, tapi dia harus melakukannya.
Sampai rumah...
Sumi dan Ida hanya melihat Bian naik ke kamarnya. Sebenarnya dua asistennya itu sangat penasaran dengan keadaan Amara. Namun, melihat wajah tuannya terlihat lesu, mereka tidak berani bertanya. Setelah membukakan pintu untuk Bian, mereka hanya menatap tuannya itu tanpa ada yang buka mulut.
"Bi Sumi, Ida..."
Sumi dan Ida langsung saling pandang saat mendengar panggilan Bian. Bergegas naik ke lantai dua untuk menemui tuannya itu.
"Ada apa, Tuan?" Tanya Sumi dan Ida serentak seraya menunduk sopan di hadapan Bian.
"Kamar saya sangat berantakan. Kenapa Bi Sumi tidak pernah mengurusnya?"
"Mm.. maaf, Tuan. Saya tidak berani masuk karena tidak ada Tuan dan Nyonya di rumah. Saya dan Ida akan segera membersihkannya sekarang."
"Mm.. saya mau sholat dulu di Musholla. Kamarnya harus sudah rapi dan bersih saat saya kembali nanti."
"Baik, Tuan."
Bian berlalu setelah melihat Sumi dan Ida mulai merapikan kamarnya.
**********
__ADS_1