Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Kamu Berarti untukku


__ADS_3

Bian beberapa kali menarik nafas panjang sambil menatap pantulan wajahnya di depan cermin. Ia baru saja kembali dari Masjid mendirikan shalat subuh. Sepertinya, hari ini akan terasa lebih berat.


"Mas, kenapa merenung terus sih?" Amara menepuk pundak suaminya dari belakang.


"Eh, ng.. nggak, Sayang." Segera berbalik untuk menghindari kecurigaan istrinya.


"Kamu lagi ada masalah, Mas?" Menatap mata suaminya. Biasanya, Bian akan menceritakan semuanya jika mata mereka sudah bertemu. Hal yang paling sulit baginya adalah, ketika dia harus menyembunyikan sesuatu dari wanitanya itu.


"Mm.. nggak ada apa-apa, Sayang. Hari ini aku ada pertemuan dengan seseorang. Tapi, kok rasanya agak berat." Menghela nafas berat. "Kamu doain aku ya, semoga aku bisa melewati hari ini dengan baik."


Amara tersenyum kecil, meraba-raba pipi suaminya dengan lembut. "Tumben sekali kamu sampai seperti ini, Mas. Biasanya juga santai walaupun mau bertemu dengan siapapun."


"Hah... nggak tau juga, Ra. Syukurnya kamu benar-benar memberikan aku bekal batin tadi malam. Kalau nggak, nggak tau deh, akan se-suntuk apa aku hari ini."


Tangan Amara langsung menarik pipi suaminya. "Kamu ini, Mas. Ujung-ujungnya pasti kesitu. Perasaan dulu kamu itu kalem banget. Kata Kak Ayra, kamu sering jijik kalau dibicarakan masalah begituan. Tapi sekarang kamu malah paling senang membicarakan itu."


Bian mendorong istrinya agar mengikutinya duduk di sisi ranjang. "Sebenarnya aku nggak jijik, Sayang. Tapi, dulu itu aku nggak ada pegangan tentang ilmu begituan. Membicarakan masalah itu dengan orang lain, tentu saja akan menimbulkan efek bagi tubuh. Sedangkan aku tidak ada tempat pelampiasan. Bukankah menghindari pembicaraan itu akan lebih baik daripada harus menahan syahwat?" Menatap istrinya tajam untuk menunggu jawabannya.


Amara melirik suaminya seraya tersenyum meringis. "Mm.. i.. iya juga sih, Mas. Kamu kok pandai gitu sih?!" Tersenyum manja ke arah suaminya.


"Sudah pandai dari dulu juga. Kenapa baru sekarang sih nyadarnya?" Mengusap-usap kepala istrinya dengan penuh kasih sayang. "Kita turun sekarang ya. Aku akan berangkat lebih pagi untuk mempersiapkan pertemuan itu."


"Sepertinya, kamu akan bertemu dengan orang yang sangat penting ya, Mas.. sampai-sampai kamu harus adakan persiapan terlebih dahulu."


"Mm... biasa aja." Jawab Bian dengan gugup. Sebenarnya dia merasa tidak nyaman karena istrinya terus-menerus membahas hal itu. Dia paling sulit berbohong pada Amara. Kembali menatap istrinya. "Kamu nggak pernah mual sekarang, Ra?" Bertanya sambil tersenyum bahagia. Mengalihkan pembicaraan pada masalah kandungan istrinya sepertinya lebih menarik untuk dibahas.


"Alhamdulillah, sudah beberapa hari ini tubuh aku baik-baik saja, Mas. Udah masuk trimester kedua sekarang. Kemarin kamu nggak bisa ikut periksa gara-gara ada rapat."


Bian tersenyum kecil. Meraba perut istrinya yang sudah mulai terlihat. "Insya Allah, pemeriksaan berikutnya aku akan berusaha untuk bisa hadir." Kembali menatap istrinya. "Kandungannya sudah berapa minggu sih?!"


Amara melipat bibirnya mendengar pertanyaan suaminya. "Usia anak kamu sudah delapan belas minggu, Mas. Huh, jadi calon bapak kok nggak ada antusiasmenya sama sekali sih." Melengos kesal karena Bian terlihat tidak pernah terlalu tertarik untuk membahas kandungannya. Setau Amara, calon bapak akan rutin mempertanyakannya perkembangan janin dalam kandungan istrinya. Tapi, berbeda dengan suaminya. Bian jarang sekali menanyakan itu. Yang ada dia hanya sering menanyakan keadaan istrinya saja.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan istrinya membuat Bian menghela nafas berat seraya tersenyum lemah. "Sayang, dengarkan aku." Meraih tangan istrinya yang masih memberikan tatapan kesal ke arahnya.


"Mau ngomong apa, ngomong aja, Mas."


"Aku lebih mengkhawatirkan keadaan kamu yang kemarin, Ra. Kalau aku terlalu mengkhawatirkan bayi kita, aku takut kamu malah menyangka aku tidak perhatian sama kamu. Siapa sih yang tidak bahagia menjadi ayah, Sayang. Aku juga sangat menanti kehadirannya. Tapi..." Bian menjeda ucapannya, menggenggam erat tangannya seraya menatap manik mata Amara. "Aku lebih mengutamakan kamu dalam hal ini. Kamu adalah wanita yang akan mendampingiku seumur hidupku, Sayang. Sedangkan anak, mereka akan memilih kehidupan mereka sendiri jika mereka sudah dewasa nanti. Hanya kamu yang akan tetap tinggal membersamai setiap langkah suamimu."


Amara terkesiap. Wanita itu sampai sulit mengedipkan matanya mendengar setiap kata yang keluar dari mulut suaminya.


Amara POV...


Ya Allah, jantungku seperti berhenti berdetak mendengar ucapan suamiku. Mendengar ucapannya tadi membuat aku teringat pada ucapan Pak Ridwan Kamil. Hadeh, Amara.. Amara.. sepertinya itu memang sudah menjadi pilihan suami kamu.


Sebenarnya, tadi itu aku hanya iseng menyinggung soal Mas Bian yang jarang sekali menanyakan kondisi kehamilanku. Aku tau dan sangat sadar kalau dia adalah suami yang paling baik dan pengertian. Mengingat dia juga yang sangat sibuk dan jarang ada waktu di rumah. Kalau sudah di Kantor, kami sangat jarang berkomunikasi. Aku hanya masih sering mengirimkan gambar diriku yang sedang beraktivitas. Itu pun kalau Mas Bian sendiri yang minta. Aku bukanlah tipe wanita yang doyan selfi. Handphoneku pun tidak menyimpan banyak gambar pemiliknya. Galerinya hanya di penuhi oleh gambar suamiku dengan berbagai gaya dan ekspresi.


Dua bulan terakhir ini, Mas Bian memang semakin sibuk. Apalagi sejak Kakek membuka kantor cabang lagi. Mas Bian semakin tidak ada waktu untukku. Seharusnya Kakek cepat-cepat mencari pemimpin di kantor cabang itu, agar suamiku bisa lebih santai.


Aku sih pernah mendengar Kakek membahas hal itu dengan Kak Ayra. Tapi, Kak Ayra langsung menolak mentah-mentah karena dia memang tidak tertarik menjadi wanita karir. Baginya, mengurus rumah tangga di atas segalanya. Kakak iparku itu memang berbeda. Aku juga nggak tau bagaimana jalan pikirannya.


"Rara..."


"Mikirin apa sih, Sayang. Aku udah tiga kali manggil kamu. Tapi kamunya malah bengong. Maaf, tadi aku nepuk pipi kamu. Aku hanya takut saja."


"Hehehehe.. nggak apa-apa, Mas." Aku hanya bisa tersenyum meringis. Jadi malu aku karena ketahuan menghayal sama Pak Suami.


"Turun sekarang yuk! Sudah setengah tujuh. Aku akan berangkat cepat hari ini. Aku kan sudah cerita tadi."


"Iya, Mas." Aku beranjak bangkit. "Mau sarapan pakai apa, Mas?"


"Nggak usah repot-repot. Nanti aku makan apapun yang terhidang di atas meja makan. Kamu nggak usah terlalu banyak beraktivitas. Biar saja Bi Sumi dan Ida yang bekerja."


"Iya... Mas Bianku, Sayang." Aku akhirnya tidak tahan untuk tidak menjembel pipinya. Suamiku ini benar-benar tidak suka dibantah. Sekali dibantah, dia akan mengulang-ulang peringatan setiap kali ada kesempatan. Padahal aku hanya sekali melakukan kesalahan. Itupun bukan kesalahan yang fatal. Waktu itu aku memaksakan diri untuk membuatkan sarapan dan aku muntah-muntah setelah mencium aroma bawang putih.

__ADS_1


"Kamu nggak boleh melakukan apapun nanti. Kamu duduk manis dan sarapan bersamaku. Aku tidak mau istriku mondar-mandir saat aku sedang sarapan. Aku hanya senang melihatmu melayaniku di sini saja." Mas Bian menepuk-nepuk kasur yang didudukinya.


Aku menahan senyum mendengar ucapannya. "Kalau hal itu memang hanya aku yang boleh kan, Mas." Aku mulai melayangkan satu godaan. Suasana hatinya sepertinya kurang baik. Tapi, dia akan membaik dengan sendirinya kalau aku sudah mulai menggoda. Saat ini aku sudah punya jurus ampuh untuk melunakkan hatinya jika sedang tidak baik-baik saja.


___________


"Mau sarapan pakai apa, Mas? Mau sarapan ringan atau berat?" Amara langsung melontarkan pertanyaan begitu mereka duduk di depan meja makan. "Bi Sumi memintaku untuk bertanya sama kamu."


Bian menautkan alisnya menatap istrinya. "Aku ikut kamu saja. Kalau kamu sarapan ringan, aku juga sarapan ringan atau sebaliknya."


"Sarapan berat aja, Mas. Akhir-akhir ini aku sering lapar tak terkendali. Kalau sarapan ringan, aku khawatir jam delapan nanti aku lapar lagi."


"Mmm... terserah kamu saja, Sayang."


Setelah mendengar percakapan tuannya. Bi Sumi keluar membawa menu sarapan pagi itu. Bian langsung sigap mengambilkan sarapan untuk istrinya.


"Mas..."


"Ssttt... sekali-kali aku yang akan melayani kamu."


"Mmm.. terimakasih, Mas." Tersenyum kecil menyembunyikan rona merah di pipinya.


Bi Sumi dan Ida hanya tersenyum kesem-sem dari balik pintu dapur mendengar percakapan tuannya. Percakapan romantis mereka menjadi sarapan tersendiri setelah menjadi asisten di rumah itu.


"Mau aku antarkan makan siang nanti?" Amara kembali melontarkan pertanyaan setelah cukup lama mereka diam.


"Uhuk... uhuk..!" Bian langsung terbatuk karena terkejut mendengar pertanyaan Amara.


"Hati-hati, Mas.." menyodorkan segelas air pada suaminya.


Bian segera meneguk air yang disodorkan istrinya. Menarik nafas dalam sebelum menjawab pertanyaan Amara. "Kamu nggak usah ke Kantor. Kamu istirahat saja di rumah. Nanti aku makan siang di Kantin. Aku kan sudah bilang, tidak usah terlalu memikirkan aku. Kamu harus fokus menjaga kesehatan tubuh dan kandungan kamu. Kamu dan anak kita harus sehat." Menatap istrinya dengan penuh keyakinan."

__ADS_1


"Mm... iya udah kalau gitu, Mas."


*********


__ADS_2