
"Huh," Ameena langsung menghempaskan tubuhnya setelah selesai beres-beres. "Ya Allah, Mara.. kenapa Kak Bian tega menyuruh ibunya datang kemari saat kita sedang di sini.." menguap lebar setelah selesai bicara.
"Lah, ini kan tempat anaknya, Na. Mau datang kapanpun terserah dia dong."
Ameena kembali menguap. "Iya.. iya terserah lho aja mau bilang apa. Gue mau tidur sebentar ya.." beranjak bangkit sambil menggeliat pelan.
"Apa kamu sudah lupa dengan pesan Kak Bian tadi? Kamu diminta untuk mandi. Tidak boleh terlihat jorok saat Ibu datang nanti."
"Hmm..." Ameena merengut kesal. "Iya.. iya.. ini gue mandi sekarang. Apa gue juga perlu dangan lengkap untuk menyambutnya?" Menatap Amara dengan ekspresi datar.
"Nggak usah sampai dandan lengkap, Na. Lho cuman perlu mandi aja. Lho nggak pakai deodorant dari semalam. Jangan sampai ketek lho mengeluarkan aroma tak sedap nanti."
"Heh," tersenyum sinis. "Lho yang punya calon mertua, kok gue ikutan repot." Beranjak pergi untuk mandi.
Amara hanya bisa tersenyum lemah. Ameena memang tidak suka di atur. Namun, saat ini wanita itu tidak ada pilihan selain nurut. Sadar diri kalau dirinya sedang numpang di tempat orang.
Pukul sepuluh lewat dua belas menit. Pintu Apartemen diketuk. Amara dengan sigap membuka pintu. Tapi, Amara menyebikkan bibirnya saat melihat Bian yang datang, bukan orang yang ditunggu-tunggu nya dari tadi.
Bian tersenyum lebar melihat tatapan tajam Amara. "Kenapa menatapku seperti itu?" Tanyanya sambil melangkah masuk.
"Kata Kak Bian Ibu mau datang. Tapi, kenapa orangnya belum datang sampai sekarang?" Mengikuti langkah Bian dari belakang.
"Ibu nggak jadi datang. Ada sedikit masalah di rumah." Jawabnya santai seraya mendudukkan tubuhnya. Mengusap-usap wajahnya untuk melampiaskan beban pikiran yang memenuhi otaknya. "Ra..."
"Mm.." Amara langsung menoleh. Melihat tatapan Bian yang sendu membuatnya sedikit tidak nyaman. "A.. ada apa, Kak?"
Bian menarik nafas dalam. "Mau diam di sini atau aku antar ke Kost. Aku mau pulang, itulah mengapa aku bertanya padamu." Memperbaiki posisi duduknya. Sebenarnya dia tidak ingin Amara pergi. Tapi, permintaan ibunya yang memintanya untuk segera pulang membuatnya harus melakukan ini.
"Kalau Kak Bian buru-buru, aku dan Ameena pulang pakai taksi aja. Sekarang kan tidak susah mencari kendaraan online."
"Tidak, Ra. Aku yang membawamu kemari, aku harus bertanggung jawab untuk mengantarmu pulang." Bian mengedarkan pandangan nya. "Ameena mana, Ra?"
"Di kamar, Kak. Dia sedang tidur." Amara menjawab seadanya. Tidak ada niat untuk bercanda karena suara Bian yang terdengar lemah.
Hening.. hanya hembusan nafas panjang Bian yang terdengar beberapa kali. Melihat hal itu membuat Amara semakin tidak tenang. Wanita itu beranjak bangkit. Ia berniat untuk mengambil barang-barangnya di kamar sambil membangunkan Ameena.
__ADS_1
"Mau ke mana, Ra?" Ucapan Bian menghentikan langkah Amara. "Aku mau mengambil tas di dalam kamar. Sekalian mau membangunkan Ameena untuk mengajaknya pulang."
"Tunggu, Ra!"
Amara tidak mengatakan apapun, tetapi tidak mengalihkan pandangannya dari Bian. Tatapan mata itu seolah-olah meminta penjelasan pada Bian. "Aku.. aku ingin mengajak kamu ke rumah, Ra. Apa.. apa kamu mau?"
"Ke rumah Kak Bian, untuk apa? Di rumah Kak Bian kan sedang ada Kakek dan Nenek. Aku ma..."
"Justru karena ada Kakek dan Nenek. Aku ingin memperkenalkan kamu pada Nenekku." Ucap Bian memotong. "Aku tidak mau terus-terusan menyembunyikan kamu, sedangkan Nenek terus mendesakku untuk segera menikah."
Amara tersentak, menelan ludahnya mendengar pengakuan pria di depannya. "T.. tapi.. aku.."
"Ikutlah denganku, Ra. Aku hanya ingin Nenek tau, kalau aku sudah memilih wanitaku sendiri." Bian sampai berdiri untuk meyakinkan Amara.
"Apa.. apa Nenek akan menerimaku, Kak. Selama ini.. yang Nenek tau, aku hanya seorang pengasuh Adzra."
"Bismillah tawakkal tu 'alallah.." mengangguk seraya tersenyum meyakinkan.
*********
Pria itu beberapa kali melirik Amara yang duduk di sebelahnya. Wanita itu terlihat panik. Ingin meyakinkan kalau semuanya akan baik-baik saja, tetapi dia sendiri meragukan hal itu.
"Gugup, Ra?"
"Hehe.." Amara tersenyum meringis menanggapi. "Jelas gugup lah, Kak. Seumur hidup aku nggak pernah menghadapi tahap seperti ini. Aku hanya pernah berandai-andai. Tapi.. khayalan itu ternyata jauh lebih indah dari realita. Belum sampai, tapi jantungku sudah berdetak kencang." Meraba-raba dadanya. Detak jantungnya yang melebihi batas normal menjadi bukti kalau dirinya benar-benar gugup saat ini.
"Kamu hanya tinggal bilang siap untuk menjadi istriku. Kita sudah mengadakan perjanjian untuk saling menjaga hati, kan? Jadi, selebihnya biar Allah yang mengatur. Kita hanya bisa berencana, Ra. Allah tau yang terbaik untuk kita."
Amara mengangguk-angguk. Walupun pikirannya belum bisa diajak kompromi, tetapi dia harus pasrahkan semuanya pada Allah.
Mobil Bian berhenti dengan sempurna di halaman rumahnya. Pria itu tersenyum lebar menatap halaman rumah yang luas. "Kita turun, Ra."
Amara tidak merespon. Gadis itu masih terlihat ragu. Hanya matanya yang menatap sekeliling rumah itu. Padahal dia sangat sering ke rumah ini. Tapi, kali ini semua terasa berbeda. Kakinya terasa kaku untuk turun.
"Bu, kami udah di depan. Tapi, Rara nggak mau turun. Sepertinya dia kurang siap untuk bertemu dengan Nenek." Bian memasukkan kembali handphonenya ke dalam saku. "Tunggu sebentar, Ra. Ibu akan keluar."
__ADS_1
"I..iya, Kak. Maaf merepotkan.."
"Nggak apa-apa. Udah, tenangkan pikiran kamu. Nenek aku nggak jahat kok."
"B.. bukannya begitu, Kak. Aku cuman grogi karena sebelumnya nggak pernah ngalamin hal seperti ini." Amara menatap lurus ke depan seraya menarik nafas dalam.
Rasa gundahnya sedikit berkurang saat melihat Bu Santi keluar dari dalam rumah. "Itu Ibu, Kak."
"Ayo kita turun."
Bu Santi memeluk hangat tubuh Amara begitu gadis itu turun dari mobil putranya. "Masuk dulu, Nak. Yang lain sudah menunggu di dalam. Ayra juga di dalam bersama Adzra dan adiknya.
" I.. iya, Bu."
"Sudah, jangan kaku. Kamu kayak mau ketemu malaikat maut saja. Muka kamu pucat, Sayang." Bu Santi menangkup pipi Amara. Menatap gadis itu dengan senyuman lembut. Hal itu berhasil membuat Amara sedikit lebih tenang. "Semua akan baik-baik saja." Mengakhiri ucapannya dengan mencium dahi Amara. Menggiring wanita itu masuk ke dalam rumah. Bian yang melihat hal itu hanya bisa menghela nafas berat. Ibunya bahkan tidak memperhatikan tangannya yang terulur untuk salim.
"Ibu... jangan sampai Ibu marah nanti. Aku sudah mengulurkan tangan loh, untuk salim sama Ibu. Tapi, Ibu terlalu sibuk dengan mantu Ibu." Bian berkata sambil tersenyum. Sebenarnya dia senang melihat hal itu. Pura-pura protes hanya untuk basa-basi saja.
"Itu masalah kecil. Kamu bisa puas memeluk dan mencium Ibu kapan pun kamu mau, Nak. Tapi, Ibu hanya bisa memeluk dan mencium Amara kalau dia datang kemari."
"Iya.. terserah Ibu kalau begitu.." akhirnya ikut melangkah masuk.
Tatapan Amara langsung tertuju pada Adzra begitu masuk ke ruang keluarga.
"Kakak Mara...!" Adzra berlari mendekat lalu memeluk kaki Amara. Hal itu membuat Pak Akmal tertawa. "Wah.. wah.. wah.. ini yang mau memperkenalkan calonnya Bian. Tapi kenapa Adzra yang sepertinya belum move on. Hati-hati, Bi. Jangan sampai bulan madu kalian terhalang nantinya karena Adzra yang akan menempel di istri kamu."
Amara langsung menunduk. Pipinya langsung berubah merah seperti kepiting rebus.
Bu Fatimah langsung bangkit. "Jadi, yang dimaksud calon sama ibu kamu itu, Amara?"
"Iya, Nek." Jawab Bian dengan ekspresi datar. Malas rasanya untuk menjawab panjang lebar. Tidak mau kalau neneknya itu malah memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan harapan. Hening beberapa saat karena tidak ada yang menimpali Bu Fatimah hanya berdiri mematung. Wanita paruh baya itu seperti kehilangan kata-kata untuk melanjutkan apresiasinya.
"Ajak Mara duduk dulu, Nak." Ucapan Bu Santi memecah keheningan yang tercipta.
"Ayo, Ra.." Bian mengisyaratkan dengan tatapan matanya pada Amara. Amara mengangguk seraya mengangkat tubuh Adzra, menggendongnya sampai mereka duduk di sofa.
__ADS_1
**********