Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Allah Membayar Tunai


__ADS_3

Bian menghempaskan tubuhnya setelah sampai di Apartemen. Bibir pria itu mengulas senyum karena puas dengan hasil kinerjanya hari ini. Besok dia akan kembali ke rumahnya untuk mengurus acara pertunangannya dengan Amara. Rencana kerjanya benar-benar mencapai target dan selesai tepat waktu.


"Eh," Bian bangkit saat mengingat pesan A me yang sempat dibalasnya saat masih rapat tadi. Ia mengambil handphone yang terselip di saku jasnya.


Mata Bian terbelalak saat melihat pesan yang dia abaikan tadi.


AMARA HILANG, KAK. KAMI BELUM MENEMUKANNYA SAMPAI SEKARANG. APA PEKERJAAN ITU LEBIH PENTING DARIPADA AMARA...????!!!


"Allahuakbar...!" Bian langsung melempar handphone itu. Badannya bergetar seperti tersengat listrik. "Rara.." meraih kembali handphone yang dilemparnya tadi. Tangannya bergetar hebat mencari nomor Daniel.


"Kak Daniel..."


Daniel yang baru berniat untuk istirahat tersentak saat mendengar Bian berat sejak di telepon. Ia sampai menjauhkan handphone yang menempel di telinganya karena kencangnya suara pria itu.


"RARA HILANG, KAK..!" Nafas Bian naik turun karena tidak bisa mengendalikan perasaannya. Tubuhnya tersungkur di pinggir ranjang. Tiba-tiba matanya memanas. "Rara hilang kontak, Kak. Tolong kerahkan anak buah Kak Daniel untuk mencarinya."


Daniel diam beberapa saat mencoba mencerna ucapan Bian. "B.. bagaimana itu bisa terjadi, Tuan? Mereka selalu mengawasi Nona Amara. Tuan bisa mengkonfirmasi berita yang masuk sebelum memutuskan mengatakan hal ini." Menarik nafas dalam untuk menormalkan detak jantungnya.


"Coba Kak Daniel menghubungi mereka. Aku tidak bisa menghubungi siapa pun saat ini." Ucap Bian lagi. Badannya benar-benar terasa lemas.


"Baik, Tuan." Daniel beranjak bangkit seraya memijit pelipisnya. Baru saja mereka menandatangani berkas atas keberhasilan mencapai target penjualan. Ternyata, kepuasan itu tidak bisa dinikmati berlama-lama karena muncul masalah baru yang lebih serius. Ia beranjak keluar kamar. Tidak ada ucapan yang keluar dari mulutnya. Pria itu menyambar kunci mobil dan bergegas keluar rumah.


Daniel masuk ke dalam mobil sambil memeriksa jadwal penerbangan terdekat. Sebentar lagi Bian pasti menghubunginya untuk memintanya mengecek hal itu.


"Awasi gerakan Nyonya Besar. Kalau benar Nona Amara hilang, Nyonya Besar pasti terlibat dalam hal ini." Daniel mengirim pesan suara pada seseorang. Tak berselang lama, pria itu langsung mendapatkan pesan balasan.


"Nyonya Besar sedang istirahat di kamar hotelnya. Dia tidak bersama siapapun. Dua jam yang lalu dia kembali dari sebuah pertemuan dengan tiga orang rekannya."


"Ok, terus awasi gerakannya." Daniel meletakkan handphonenya. Pria itu membawa mobilnya menuju Apartemen Bian.


Sementara itu...

__ADS_1


Bian mencoba menghubungi neneknya. Da bertekad tidak akan berhenti menghubungi wanita itu sampai panggilannya terjawab. Baru kemarin dia mengatakan tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika terjadi apa-apa pada Amara selama dia pergi. Kini, ia mendapatkan kabar kalau gadis itu menghilang dan belum di temukan.


Tepat pada panggilan kelima, Bu Fatimah menjawab panggilan darinya. Suara wanita itu serak karena Bian mengganggu istirahatnya.


"Assalamu'alaikum, Nenek." Bian berkata tegas. Neneknya itu sangat pandai bersilat lidah. "Dimana Nenek menyembunyikan Rara? Jangan coba-coba berbohong karena aku selalu memantau Nenek."


Bu Fatimah tersenyum sinis mendengar ucapan cucunya. Bian tidak tau, kalau orang yang dibayarnya untuk mengawasi sang nenek sudah berkhianat karena mendapatkan yang lebih menjanjikan dari Bu Fatimah. "Maksud kamu apa, Bian? Nenek sedang istirahat di Hotel. Besok Nenek akan pulang. Urusan pertemuan dengan rekan Nenek sudah selesai di tempat ini."


"Jangan memutar lidah, Nek. Katakan dimana Nenek menyembunyikan Rara?!" Bian meninggikan suaranya.


"Hah, Nenek tidak pernah sudi berurusan dengan wanita miskin itu. Kamu saja yang mengurusnya. Kalau memang Nenek berniat seperti itu, Nenek akan langsung membunuhnya."


Bian terdiam mendengar ucapan neneknya. Hanya kakinya yang mondar-mandir tak tentu arah. "Apa yang bisa menjadi jaminan agar aku tidak terus menuduh Nenek.."


"Hahaha.. ternyata kamu tidak percaya pada Nenek kamu sendiri, Bian. Dengarkan ucapan Nenek. Kalau memang Nenek pelakunya, Nenek akan mengalami kecelakaan karena telah berdusta pada cucu kesayangan Nenek sendiri."


Bian menelan ludahnya seraya mengeratkan giginya kesal. "Baik.. aku akan memegang ucapan Nenek ini. Ingat, Nek. Allah Maha Mendengar. Jangan sampai ucapan Nenek itu menjadi bumerang untuk Nenek sendiri." Mematikan sambungan telepon tanpa berniat mengakhiri dengan salam.


Bian langsung meluncur menuju rumah Amara begitu keluar dari pesawat. Perasaan was-was, khawatir dan entah apa lagi yang pria itu rasakan saat ini. Dia hanya ingin segera sampai dan mendapatkan titik terang.


Sampai di rumah gadis itu...


Bian mendapatkan tatapan yang tidak mengenakkan dari Ameena. Gadis itu terus menatapnya dengan tajam. "Ini semua pasti ulah nenek itu. Mau dia memberikan keterangan apapun, aku tidak akan pernah mempercayai ucapannya. Amara... kamu dimana.." Ameena mengusap-usap wajahnya dengan kasar. Wanita itu sedang duduk bersama keluarga besar Bian di ruang tamu rumah Amara.


Bu Santi yang berada di tempat itu pun hanya bisa menangis tersedu. Keadaan ini mengingatkannya pada kenangan buruk di masa lalu. Chayra yang pernah diculik dan dikembalikan dalam keadaan memprihatinkan.


"Anak buah Kak Daniel selalu memantau aktivitas Nenek, Na. Nenek sedang di kamar hotelnya saat ini." Bian berusaha menjelaskan karena Ameena terus-terusan menyebut neneknya sebagai otak dari masalah ini. "Aku juga sudah mengkonfirmasi pada Nenek. Tapi Nenek berani mengatakan, kalau hal yang buruk akan terjadi padanya jika memang benar dia pelakunya. Aku akan mencoba mencarinya lagi di tempat lain." Bian beranjak bangkit. Pria itu hanya bisa berdoa, semoga Allah segera menunjukkan kebesarannya.


"Huh, aku tetap tidak percaya." Timpal Ameena sambil menatap kepergian Bian.


Sementara itu...

__ADS_1


Bu Fatimah tersenyum puas setelah berhasil menyingkirkan Amara. Wanita tua itu benar-benar menyusun rencana dengan sangat matang. Setelah anak buahnya berhasil membawa Amara ke luar negeri, kini dia bisa bernafas lega.


Wanita itu menenteng tasnya dengan bangga saat keluar dari parkiran Bandara. Ternyata, wanita itu mendatangi Bandar Udara hanya untuk mengucapkan selamat tinggal pada Amara. Sudah dua hari Amara bersamanya, tetapi tidak sekalipun dia mengizinkan gadis itu membuka matanya. Obat tidur terus-terusan disuntikkan ke tubuh Amara agar gadis itu tidak membuka matanya. Tidak memikirkan efek samping yang akan dirasakan Amara nantinya. Intinya, dia hanya ingin menyingkirkan gadis itu dari kehidupan cucunya.


"Kita kembali ke Hotel. Kemenangan ini harus dirayakan." Bu Fatimah menepuk pundak pria yang menjadi sopirnya.


"Baik Nyonya."


"Lajukan kendaraan lebih cepat! Aku tidak sabar untuk segera sampai." Ucapnya lagi.


Sopir itu hanya bisa mengangguk seraya menahan kantuk. Menjaga Amara dua hari dua malam membuatnya hampir tidak pernah tidur. Bu Fatimah memintanya untuk selalu standby menjaga Amara.


"Sudah, jangan menguap lagi! Kamu ini, baru dikasih tugas begituan udah lemah."


"Maaf, Nyoya. Tapi mata saya benar-benar terasa berat. Jika boleh diizinkan, saya ingin istirahat setelah mengabmntar Nyonya kembali." Sopir itu berkata sambil berbalik menatap Bu Fatimah. Pria itu lupa kalau dirinya sedang membawa mobil dan berada di jalan raya.


"Iya.. iya... Eh, Pak lihat depan. Aaaaaaaa....."


Brak..!


Dug..!


Mobil yang ditumpangi Bu Fatimah menabrak tembok pembatas jalan raya. Sopir itu langsung tidak sadarkan diri. Sementara tubuh Bu Fatimah terperosok ke bawah jok karena wanita itu tidak memakai sabuk pengaman.


Kecelakaan itu langsung mengundang perhatian para pengguna jalan. Dua orang yang tidak sadar kan diri itu langsung dilarikan ke Rumah Sakit terdekat agar segera mendapatkan pertolongan.


Setelah satu jam mendapatkan pertolongan dari tenaga medis, Bu Fatimah dipindahkan ke ruang ICU karena keadaannya yang kritis. Tim medis Rumah Sakit itu menghubungi keluarga korban setelah selesai mengurus korban itu.


Bian dan yang lain bergegas menuju Rumah Sakit setelah mendapatkan kabar. Perasaan pria itu benar-benar hancur saat ini. Dua cobaan berat yang menimpanya benar-benar menguji kekuatan imannya.


Pria itu menatap neneknya yang terbaring lemah. "Apakah kemarin malam Nenek membohongiku? Nenek menyumpahi diri Nenek sendiri. Dan sekarang Nenek jadi seperti ini. Ternyata, Allah membayar tunai perbuatan Nenek. Semoga Allah mengampuni dosa Nenek dan memberikan hidayah untuk Nenek." Ucapnya pelan.

__ADS_1


*********$


__ADS_2