
Flashback on...
Khanza tersenyum sumringah saat berhasil meyakinkan papanya, kalau dia akan bekerja dengan baik.
Perjalanan bisnis Bian kali ini ternyata melibatkan banyak pihak. Dimana beberapa konveksi yang melakukan kerjasama dengan Perusahaan Tekstil miliknya harus ikut untuk membahas banyak hal perihal kerjasama mereka. Perjalanan ini juga melibatkan Pak Akmal, sang pendiri Pabrik Tekstil terbesar di negaranya. Walaupun pria itu tidak langsung hadir saat pembukaan acara.
Khanza benar-benar tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Kapan lagi dia ada perjalanan dengan Bian tanpa adanya bayangan Amara di samping pria itu. Ia memutar keras otaknya untuk mencari cara agar bisa dekat dengan pria itu selama ada di lokasi
Begitu sampai lokasi, acara sambutan langsung di adakan untuk Bian. Khanza sudah tidak bisa menahan perasaannya. Ingin rasanya dia mendekat dan langsung memeluk Bian. Segila itu cintanya pada pria itu.
Pukul delapan malam, di adakan acara makan malam untuk semua rekan di tempat yang sudah dipersiapkan.
Bian sudah mengambil handphonenya untuk menghubungi istrinya. Namun, baru saja menekan nomor Amara, Daniel memanggilnya karena acara makan malam akan segera dimulai. Pas saat Bian keluar dari kamarnya, Khanza juga baru keluar dari kamarnya. Kamar mereka hanya berjarak beberapa kamar. Ia langsung mengejar langkah Bian dan mengajak pria itu ngobrol santai.
Ketika acara makan malam akan berakhir, Bian pamit ke toilet.
"Kak, nanti kalau Rara menghubungiku, tolong Kak Daniel jawab ya. Aku mau ke toilet sebentar." Menyodorkan handphonenya ke dekat Daniel agar asistennya itu lebih mudah menjawab kalau ada panggilan masuk.
"Baik, Tuan." Jawab Daniel dengan sigap. Namun, baru beberapa detik Bian pergi, Daniel mendapatkan panggilan dari Pak Akmal. Hal itu membuat Daniel segera keluar dari ruangan itu untuk menjawab panggilan itu.
Melihat handphone Bian tergeletak di hadapannya tanpa penjaga menimbulkan niat jahat Khanza. Wanita itu menggeser mangkok besar untuk menutupi handphone itu. Namun, handphone itu terjatuh karena ia menggeser terlalu kuat. Ia segera berjongkok untuk mengambilnya. Menjatuhkannya malah membuatnya lebih mudah mengambil benda gepeng itu.
"Mm.. Pak, Bu. Saya ke toilet dulu." Ucapnya seraya berlalu. Wanita iru berhasil sukses karena tidak ada yang curiga dengan perbuatannya.
Bian kembali ke rekan-rekannya sekitar lima menit setelah handphonenya dibawa kabur oleh Khanza. Ia langsung menanyakan keberadaan Daniel pada rekannya yang lain. Namun, dia tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan karena tidak ada yang terlalu memperhatikan kemana pria itu pergi.
Bian akhirnya memilih untuk kembali ke kamar. Berharap Daniel sudah di kamar menunggunya. Namun, tidak menjumpai siapa pun saat dia sudah sampai di kamar. Bian duduk menunggu karena tidak tau mau mencarinya ke mana.
Bian mengangkat wajah nya saat mendengar ketukan di pintu kamar hotel yang ditempatinya saat ini.
"Tuan, maaf ... tadi saya menerima telepon dari Tuan Besar. Besok Tuan Besar meminta saya untuk menjemput beliau di Bandara."
"Heh, Kakek itu terlalu sombong. Perjalanan dekat juga, ngapain pakai pesawat segala. Handphone saya, Kak. Aku belum menghubungi Rara dari tadi." Menyodorkan tangannya pada Daniel hang berdiri tidak jauh dari tempat duduknya.
"Eh, b.. bukannya Tuan sudah membawanya masuk?" Raut wajah Daniel langsung berubah.
"Loh, kan tadi aku meminta Kak Daniel yang bawakan. Aku langsung ke kamar karena tidak melihat handphone itu di sana. Aku tidak mungkin meninggalkannya kalau melihatnya tergelatak di sana."
"Astagfirullah, maafkan saya, Tuan. Saya akan keluar untuk mencarinya."
"Biarkan saja, Kak. Sepertinya ada yang tertarik dengan handphone itu. Tapi, handphone itu menggunakan sidik jari. Tidak mudah bagi siapapun untuk membukanya."
"Tapi, bagaimana kalau ada rahasia Perusahaan di sana, Tuan."
__ADS_1
"Rahasia Perusahaan ada di tab itu." Menunjuk ke arah tab yang tergeletak di atas meja. "Kak Daniel belikan saja yang baru untukku."
"Saya akan membelikannya untuk Tuan sekarang."
"Tidak usah sekarang. Besok saja kita pergi bersama. Kak Daniel pasti capek dan butuh istirahat."
"Baik, Tuan. Saya mau keluar sebentar karena ada urusan."
"Mm..."
Daniel langsung pergi setelah melihat anggukan kepala tuannya. Sebenarnya tidak ada urusan penting. Daniel keluar untuk mencari handphone Bian. Dia merasa bersalah karena menyepelekan perintah tuannya. Mendapat telepon dari Pak Akmal membuatnya sedikit panik dan lupa dengan handphone itu.
Sementara itu...
Khanza berulang kali mencoba membuka handphone Bian menggunakan password. Namun, usahanya tidak membuahkan hasil. Ponsel itu terkunci secara permanen karena terlalu banyak upaya gagal. Ia juga khawatir, ada yang menghubungi nomor handphone itu sementara dia belum berhasil membukanya.
Karena kesal tidak bisa membukanya, Khanza akhirnya membanting handphone itu ke lantai. Menginjaknya dengan high hells yang di pakainya sampai benda gepeng itu tidak berbentuk lagi.
Di hari kedua...
Bian dan semua rekan meninjau di lokasi pabrik. Saat akan pulang, Khanza tertabrak sebuah sepeda motor yang melaju sangat kencang di jalan raya dekat pabrik. Wanita itu menangis tersedu-sedu saat ia tidak bisa berdiri karena kakinya keseleo.
"Bu Khanza, apa Ibu baik-baik saja?" Daniel mendekat dan mencoba menolong Khanza.
"Kak Daniel, kejar pelakunya. Dia mencoba melarikan diri."
Bian langsung berjongkok untuk melihat keadaan Khanza. "Apanya yang sakit?"
"Kaki.. kakiku sepertinya keseleo, Kak."
"Sudah tau mau meninjau di lokasi pabrik, kenapa kamu pakai sepatu kayak gini?" Menunjuk sepatu Khanza yang tingginya lima centimeter. "Sini, buka sepatunya." Bian melepas sepatu itu dengan sedikit kasar.
"Maaf, Kak. Aku tidak tau kalau jalanan di sekitar pabrik tidak bersahabat dengan kita."
"Aku sudah menjelaskan dari awal. Sepertinya kamu tidak menyimak dengan baik penjelasan itu." Bian mendengus seraya beranjak bangkit. "Bisa jalan nggak?"
Khanza langsung menggeleng lemah. Bian menatap sekitar. Beberapa rekannya terlihat angkat tangan. Hal itu membuat Bian menghela nafas berat. "Sini, aku bantu kamu jalan."
Khanza langsung tersenyum sumringah, meraih tangan Bian. Tapi, ia langsung meringis saat merasakan sakit di mata kakinya. "S.. sepertinya saya tidak akan bisa berjalan, Kak. Kaki aku benar-benar sakit."
Bian mendengus. Terpaksa ia membopong tubuh wanita itu atas dasar kemanusiaan.
Bian menghentikan langkahnya saat tiba-tiba Khanza melingkarkan tangannya di leher pria itu. "Singkirkan tanganmu atau aku akan membiarkan kamu tergeletak di tengah jalan."
__ADS_1
"Eh, m.. maaf, aku hanya takut jatuh kalau tidak berpegangan dengan baik." Memindahkan tangannya agar tidak membuat Bian semakin marah.
Bian kembali menghentikan langkahnya saat melihat Daniel sudah kembali. "Kak Daniel bawa dia ke Rumah Sakit terdekat. Aku tidak mau dibilang tidak bertanggung jawab karena kejadian ini." Menyerahkan tubuh Khanza ke Daniel. "Mana pemuda yang menabraknya tadi?"
"Kecelakan ini tidak alami, Tuan." Daniel memasukkan tubuh Khanza ke dalam mobil untuk segera membawanya ke Rumah Sakit.
Bian tersenyum getir mendengar kata tidak alami keluar dari mulut Daniel. "Berikan pengobatan terbaik, agar dia tidak pincang saat pulang nanti." menggeleng-geleng pelan seraya menjauhi mobil. Dulu, dia hanya mendengar di sinetron masalah-masalah seperti ini. Tapi, sekarang dia sendiri yang mengalami hal bodoh ini.
Flashback off...
***********
Chayra bergegas meninggalkan ruang operasi setelah mengantar ibunya masuk. Duduk di bangku panjang yanh sepi. Sengaja memilih tempat itu agar tidak terganggu suara berisik pengunjung lain.
Satu persatu anggota keluarga di hubunginya. Terakhir ia menghungi sang kakek.
"Kakek, apa Ayra boleh minta nomor asisten Bian. Nomor Bian tidak bisa dihubungi."
"Apa yang terjadi, Nak?" Pak Akmal bertanya karena suara Chayra yang sedikit panik. "Kebetulan Kakek sedang bersama Bian di sini."
"Amara masuk Rumah Sakit. Dianl ditemukan tidak sadarkan diri di dalam kamarnya. Sekarang sedang dilakukan operasi cesar karena nyawa bayinya dalam bahaya kalau tidak segera dilakukan tindakan. Air ketubannya juga pecah sebelum waktunya."
"Astagfirullah... lalu bagaimana keadaannya sekarang."
"Aku tidak tau mau bilang apa, Kek. Kondisinya sangat memprihatinkan. Kakek infokan ke Bian sesegera mungkin. Terpaksa Ibu tanda tangan agar Amara bisa segera tertolong."
"Baik, Sayang. Dia pasti sudah di sana sebelum malam datang."
Pak Akmal mendekati Bian yang sedang sibuk menjelaskan keunggulan-keunggulan Perusahaannya pada beberapa orang Ya yang menjalin kerja sama dengannya. "Bian..." berjalan mendekati Bian.
Bian menghentikan penjelasannya dan beralih menatap Pak Akmal. "Ada apa, Kek?"
"Pulanglah sekarang, Nak. Ada sesuatu yang benar-benar urgent."
"Maksud Kakek apa?"
"Berangkat pulang sekarang atau kamu akan menyesal seumur hidupmu."
"Aku nggak ngerti maksud Kakek."
"Jangan keras kepala, Bian. Kamu pualng lah sekarang. Ada yang sedang menunggu kamu di rumah. Jangan pulang pakai kendaraan darat, karena itu membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Kamu naik pesawat Kakek untuk menghemat waktu."
Pak Akmal mengangkat tangannya saat melihat Bian mau bicara lagi. "Berangkat sekarang, Bian. Biar barang-barang kamu di bawa Daniel saat dia pulang nanti."
__ADS_1
Bian benar-benar bingung. Tapi, ia segera pergi dari lokasi sesuai permintaan sang kakek.
**********