
Amara mengerjap-ngerjap mendengar jawaban suaminya. Tidak menyangka kalau suaminya sampai ngompol di celana gara-gara terlalu tegang pas mengambilkan buah kelengkeng untuknya. Padahal dia juga menggunakan tangga. "Astagfirullah, Mas.. tau kayak gitu aku manjat aja sendiri. Aku itu jago manjat loh."
Bian mendengus mendengar jawaban istrinya. "Kamu itu perempuan, Ra. Bagaimana coba kalau kamu yang manjat. Nanti kamu loncat sana loncat sini. Keadaan kamu juga kayak gitu. Bian bergidik ngeri membayangkan penampakan istrinya yang memanjat pohon kelengkeng yang segitu besarnya.
"Itu sebenarnya sangat mudah, Mas. Aku aja bisa naik walaupun tanpa tangga. Tapi, aku kan sedang hamil anak kamu, Mas. Belum lagi aku baru sembuh. Aku juga masih agak lemes. Lain kali kalau aku mau makan kelengkeng lagi, aku akan petik sendiri saja." Amara tersenyum jahil. Mendekatkan mulutnya ke dekat telinga suaminya. "Aku nggak mau suamiku sampai ngompol gara-gara manjat pohon. Gkgkgk.."
"Ih, kayak orang yang bahagia banget lihat suaminya menderita." Bian menggosok-gosok daun telinganya karena geli. "Kamu ini.. makanya jangan ngidam yang aneh-aneh. Ujung-ujungnya suami yang jadi korban."
Amara tersenyum seraya mencubit gemas pipi suaminya. "Aku mau mengeluarkan fatwa yang diberikan Ibu padaku."
Bian mengernyit. "Fatwa apaan? Jangan berkata yang aneh-aneh deh. Aku..." Bian menghentikan ucapannya karena melihat istrinya tertawa. Amara terlihat sangat menikmati melihat suaminya kesal. "Mas Bian... jangan ngebuntingin istri kalau kamu tidak mau berkorban untuknya. Baru aja di minta panjat pohon kelengkeng, di depan rumah lagi. Kamu itu udah kayak orang yang disiksa aja. Belum ada hasil udah bergaya." Amara membuang pandangannya.
Bian mengangkat sebelah bibirnya. "Eh, itu apa namanya, Sayang?" Menunjuk ke arah buah kelengkeng yang baru dimakan beberapa biji oleh istrinya. "Ini juga apa?" Beralih menunjuk celananya yang basah.
"Hmm..." Amara mengangkat kantong plastik berisi buah kelengkeng hasil perjuangan suaminya. "Yang ini baru namanya pengorbanan, Mas. Kalau yang itu," menunjuk celana suaminya. "Kamu aja yang jorok sampai ngompol di celana."
Bian kembali mendengus mendengar ucapan istrinya. "Kamu ini, Sayang. Kok bahagia banget sih, melihat aku menderita kayak gini. Kamu nggak tau, seumur hidup aku nggak pernah manjat pohon. Jangankan yang besar kayak pohon kelengkeng itu. Yang kecil aja nggak pernah. Udah ah, aku mau mandi dulu. Habis shalat isya nanti, kamu harus tanggung jawab karena sudah membutku kayak gini." Berlalu dari hadapan istrinya ke ruang ganti. Padahal celananya basah sedikit. Tapi... tetap saja tidak enak di dengar karena dia adalah pria dewasa. Belum lagi sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.
"Hah... tanggung jawab apaan, Mas?"
Bian tersenyum tipis saat mendengar suara istrinya berteriak dari kamar. "Iya... di pikirlah, Sayang." Kamu sudah berani meminta suami kamu melakukan hal yang tidak pernah dia lakukan seumur hidupnya." Keluar dari ruang ganti sambil menenteng celananya yang kotor tadi.
"Loh, Mas. Itu... celananya mau dibawa kemana?"
Bian menatap celananya. "Mau aku cuci sendiri, Sayang. Malu ah sama Bi Sumi. Nanti dia malah berpikir yang tidak-tidak karena ada bau aneh di celana ini."
Amara tertegun, hanya menatap suaminya masuk ke dalam kamar mandi tanpa bicara sepatah kata pun.
************
"Aku berangkat dulu. Kamu jaga diri baik-baik di rumah. Kalau kamu bosan, pergi saja ke rumah Ibu. Kayaknya aku pulang malam hari ini, Ra." Bian terduduk lemah di samping istrinya sambil memasang kaos kakinya
"Nggak apa-apa, Mas. Yang penting pekerjaan kamu kelar. Aku nggak suka melihat kamu mengerjakan pekerjaan di rumah. Rumah itu bukan tempat menampung pekerjaan kantor kamu. Rumah itu tempat beristirahat. Tempat kebersamaan dengan keluarga."
"Iya.. iya, Sayang. Marahnya kok sampai sekarang." Mencubit pelan pipi istrinya. "Pipi kamu terlihat tirus, Ra. Sepertinya ini dipengaruhi oleh faktor makanan yang kamu makan keluar lagi ke tempat semula."
"Nggak tau, Mas." Tersenyum miris pada dirinya sendiri. "Tapi.. eh, Mas. Aku nggak mual loh pagi ini." Senyuman miris berubah menjadi senyum kebahagiaan karena tidak merasakan mual seperti sebelumnya.
__ADS_1
"Alhamdulillah, mudah-mudahan yang kemarin membuat kamu drop adalah sakit terakhir yang kamu alami." Bian bangkit karena sudah selesai memasang sepatunya. "Aku berangkat dulu. Kalau kamu mau makan sesuatu atau butuh sesuatu, segera hubungi aku. Kalau nomor telepon aku tidak aktif. Kamu bisa menghubungiku lewat Daniel." Menarik dahi istrinya dan memberikan sati ciuman untuknya. Menarik tubuhnya sampai jatuh ke dalam pelukannya. "Kamu memang lebih kurus, Ra. Ini aja dipeluk kayak lebih longgar gitu."
"Ih, kamu ngeluh terus deh, Mas."
Bian tersenyum lembut. "Aku lebih senang dengan istriku yang berisi. Kalau kamu kurus, aku khawatir orang menyangka kamu tidak bahagia menikah denganku." Menatap istrinya yang sedang mendongak menatapnya.
"Jangan ngomong kayak gitu ah, Mas. Aku nggak seneng dengarnya." Amara menarik diri dari pelukan suaminya. "Kamu berangkat gih. Nanti siang aku antarkan makan siang."
"Jangan dipaksakan. Kalau kamu nggak enak badan, aku makan di Kantin saja." Mengusap-usap wajah istrinya seraya berlalu keluar. "Assalamualaikum..."
"Wa'alaikum salam..." Amara menatap kepergian suaminya. Kembali duduk di sisi ranjang setelah suaminya hilang dari pandangan. Bian tidak pernah menuntut Amara lagi untuk mengantarnya turun ke bawah semenjak istrinya sering muntah.
Malam itu....
Bian pulang setelah lewat jam sepuluh malam. Amara sampai ketiduran di sofa ruang tamu karena menunggu suaminya pulang.
Saat melihat istrinya meringkuk di sofa, timbul rasa bersalah karena dirinya yang pulang terlalu malam. Ia sudah mengulurkan tangannya bersiap untuk membangunkan Amara. Namun, ia urungkan dan memilih untuk membopong tubuh istrinya itu.
Amara mengerjap-ngerjap saat merasakan tubuhnya melayang. "Mas..." ucapnya lirih, melingkarkan tangannya di leher suaminya lalu menutup kembali matanya.
Bian tersenyum kecil melihat tingkah istrinya. Membawa Amara menaiki anak tangga secara perlahan. Tubuh Amara memang kurus. Namun, tubuh kurus itu lumayan menguras tenaga jika di bopong menaiki anak tangga.
Amara terjaga pukul satu dini hari. Merasakan dekapan hangat suaminya membuatnya menyunggingkan senyum tipis. Tapi, ia terjaga bukan karena dekapan tangan Bian. Namun, perutnya meronta minta diisi.
"Mas..." Amara menggoyang-goyang tangan Bian yang melingkar di pinggangnya. Namun, Bian tidak merespon.
"Mas Bian..."
"Mm..." Jawab Bian tanpa bergerak sedikit pun.
"Mas, aku lapar."
"Hah.." Bian membuka matanya perlahan. Memicingkan matanya untuk melihat jam berapa. "Sayang... yang benar saja. Ini jam satu loh. Memangnya kamu tidak makan malam tadi?"
"Makan sih, Mas. Aku makan malam sama Ibu. Tapi, nggak tau aja kenapa aku lapar lagi."
Bian mengusap wajahnya beberapa kali untuk mengusir kantuk yang masih menderanya. "Kamu mau makan apa?"
__ADS_1
"Aku mau makan mie instan aja, Mas. Temani aku saja. Nanti mienya aku masak sendiri."
"Eh, kamu itu lagi hamil. Nggak boleh makan mie, Sayang."
"Yang nggak boleh itu kalau terlalu sering, Mas. Aku kan nggak pernah makan mie sebelumnya."
"Tapi..."
"Ayolah, Mas. Sekali ini saja.." Amara menatap suaminya dengan tatapan memohon.
Bian menghela nafas berat. "Iya udah, ayo bangun." Kembali mengusap wajahnya karena kepalanya terasa berat.
"Kamu masih ngantuk ya, Mas." Menatap suaminya dengan prihatin.
"Mm... sedikit. Tapi nggak apa-apa kok. Ayo, aku temani." Kembali mengusap wajahnya sebelum akhirnya turun dari ranjang.
"Kamu duduk saja, biar aku yang masak untukmu." Bian mengambil alih teflon dari tangan istrinya.
"Aku ambil mienya dulu ya, Mas." Amara segera berpindah tempat. Tidak enak rasanya kalau harus membiarkan suaminya bekerja sendiri.
Tapi...
"Ya Allah.. kok stok mienya malah nggak ada." Amara duduk dengan kecewa saat tidak mendapatkan apa yang diinginkannya.
"Ada apa, Sayang?" Bian menongolkan kepalanya dari balik pintu lemari yang menganga.
Amara menatap suaminya dengan kecewa. "Nggak ada stok mienya, Mas."
"Hah..?! Tapi, itu airnya mau mendidih, Ra."
"Iya... mau bagaimana lagi, Mas. Dimatikan saja apinya." Berucap dengan suara kecewa.
"Tapi kamu kan lapar."
"Aku tahan aja sampai besok. Aku nggak akan mati kok, kalau menahannya sampai besok pagi." Amara beranjak bangkit.
"Kamu tunggu disini. Aku coba carikan mienya. Mudah-mudahan toko di gang depan masih buka." Bian langsung berlalu tanpa menunggu persetujuan istrinya.
__ADS_1
Amara menarik nafas panjang. Ada rasa menyesal kenapa harus membangunkan suaminya. Padahal Bian belum istirahat dengan benar. Pas dia menunggunya jam sepuluh tadi, suaminya masih belum pulang.