Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Tragedi di Acara Makan Malam


__ADS_3

Santi terdiam saat Bu Ainun bilang kalau Pak Akmal dan Bu Fatimah juga akan ikut dalam acara makan malam nanti. Ia beberapa kali melirik ke arah Amara. Ada kekhawatiran pada gadis itu jika Bu Fatimah benar-benar datang. Bagaimanapun juga, Bu Fatimah masih menentang Amara untuk masuk di keluarga besar mereka.


"Ibu kenapa.. kok kayak tidak bersemangat gitu?" Amara menyentuh tangan Bu Santi karena wanita itu tidak merespon ucapan Bu Ainun.


Spontan Bu Santi beralih menatap Amara. "Eh, tidak ada apa-apa, Nak." Bu Santi menarik nafas dalam seraya beristighfar. Dia harus segera membuang pikiran jahat yang merayap di kepalanya.


"Rara ... Rara ... kamu di mana?!" Suara teriakan Humaira memecah kesunyian di dapur. Para pelayanan bahkan sampai menghentikan aktifitasnya mengiris bawang merah. Bu Ainun menggeleng-geleng pelan. Putrinya yang satu ini agak sulit diatur.


Amara bangkit dan berlari kecil menghampiri Humaira. "Aku disini, Kak." Ucapnya setelah berdiri di depan Humaira.


Humaira menghentikan langkahnya. "Heh, ngapain kamu di dapur?" Celingukan ke dalam dapur untuk melihat ada siapa di sana, kenapa Amara sampai keluar dari sana.


"Di ajak Ibu barusan, Kak. Ada apa mencari ku?" Amara menarik tangan Humaira agar kembali ke posisinya semula.


"Aku butuh teman untuk keluar. Abah tidak mengizinkan ku keluar, karena mengira aku akan pergi ketemuan." Berbisik di dekat telinga Amara. "Huh, ini yang membuat aku nggak betah lama-lama di rumah. Semua aktivitas pasti dibatasi." Melipat tangannya di dada sambil memanyunkan bibirnya.


"Ayo, aku temani.." Amara menggandeng tangan Humaira agar wanita itu segera mengikuti langkahnya. Sepertinya Humaira tidak tau kalau ada ummi nya di dapur.


Humaira masuk ke dalam mobil setelah menemani Amara berganti pakaian terlebih dahulu. "Rara, kamu aja yang nyetir. Aku mau menikmati perjalanan ini, menikmati pemandangan pinggir jalan tanpa harus fokus menatap jalan raya."


Amara terdiam, matanya menatap fokus Humaira yang sudah pindah posisi di samping kemudi.


Humaira yang baru sadar dengan tatapan Amara langsung memperbaiki posisi duduknya karena merasa ada yang salah. "K.. kenapa menatapku seperti itu, Rara?"


"Aku nggak bisa bawa mobil, Kak." Amara menjawab dengan ekspresi datar. Matanya masih fokus menatap Humaira. "Aku besar di lingkungan yang berbeda dengan Kakak. Papaku punya mobil, tapi aku punya ibu tiri yang selalu membatasi gerakku."


"Oh," Humaira langsung mengalihkan pandangannya. "M.. maafkan aku, Rara. Aku.. aku nggak ada niat untuk.."


Amara tersenyum kecil. "Tidak apa-apa kok, Kak. Kenapa Kak Mayra malah merasa bersalah. Kan aku memang nggak bisa dari sononya." Segera memeotong karena melihat ekspresi Humaira yang seperti orang yang bersalah.


"Hmm.. ya sudah, kamu naik lewat sini kalau begitu." Humaira akhirnya kembali turun dan mengambil tempat di balik kemudi. Wanita itu menghela nafas berat. Hatinya sedikit ragu mendengar pengakuan Amara tadi. Apa iya, wanita secantik itu Amara tidak bisa bawa mobil.


*********


Malam yang tegang untuk Amara. Malam ini terasa lebih mendebarkan daripada malam pertamanya di rumah itu. Untuk kedua kalinya dia berada dalam lingkaran keluarga besar Bian.


Tapi..


Malam ini Bian sudah duduk di sampingnya. Begitu juga dengan Ardian, pria itu juga sudah duduk di samping istrinya. Tangan Chayra dan Ardian bahkan bertautan satu sama lain karena enggan saling melepaskan setelah empat hari berpisah.

__ADS_1


Percakapan tentang pengalaman Bian pertama kali naik pesawat menjadi tranding topik malam itu. Semua diceritakan Bian dan Ardian sambil sesekali tertawa di sela-sela cerita mereka.


Namun ...


Ada pemandangan yang berbeda di balik tawa mereka. Bu Fatimah terlihat tidak menikmati suasana malam itu. Wanita itu beberapa kali terdengar berdecak. Sepertinya, kehadiran Amara menjadi alasan kenapa wanita itu tidak bisa tersenyum di tengah-tengah keluarga besarnya.


Pak Akmal memimpin doa untuk membuka acara makan malam itu dengan doa panjang. Di saat semua orang sudah bersiap untuk makan, Bu Fatimah tiba-tiba berdehem keras saat wanita itu melihat Bian mengambilkan lauk untuk Amara.


"Khmm.. khmm.. apa kamu tidak punya tangan sehingga cucuku yang harus mengambilkan apa-apa untukmu?" Ucapnya ketus sambil menatap Amara dengan tajam.


Amara yang terkejut langsung menatap Bu Fatimah. "Eh, b.. bukan seperti itu, Nek. K.. Kak Bian sendiri yang mau melakukan itu."


"Heleh, kamu sepertinya terlalu kampungan sehingga tidak bisa menyesuaikan diri di keluarga ini. Kamu seharusnya sadar diri.."


"Fatimah..!"


"Ummi..!"


"Nenek..!"


Semua yang ada di lingkaran meja makan itu serentak menegur Bu Fatimah.


"Abi yang mengundang Amara untuk datang kemari. Jadi, kamu jangan coba-coba mengatakan hal bodoh seperti tadi."


Amara mengangguk seraya beranjak bangkit. Mengikuti langkah lebar Bian dengan sedikit berlari. Bian berbalik setelah mereka sampai di depan mobil. "Masuklah..!" Amara langsung masuk. Hatinya masih sakit karena ucapan Bu Fatimah tadi. Ingin menangis, tetapi ia berusaha menahan air matanya agar tidak keluar. Ia sengaja menggosok-gosok tangannya yang mengeluarkan keringat dingin. Hal itu biasa terjadi kalau dirinya sedang gugup.


"Kak, handphoneku ketinggalan di sana." Amara berkata takut-takut sambil melirik Bian. Ia baru sadar saat tangannya menyentuh saku celananya.


"Kamu tinggalkan dimana, di kamar atau di meja makan tadi?" Bian menatap Amara dengan heran.


"Di meja makan tadi, Kak."


Bian mengusap wajahnya dengan kasar. "Ambillah, aku tunggu kamu di sini."


Amara mengangguk seraya turun kembali. Namun, kakinya sedikit kaku saat akan melangkah kembali ke dalam rumah. Ia menarik nafas dalam, melafazkan basmalah sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam rumah.


Langkahnya terhenti saat mendengar keramaian di ruang makan. Sedang terjadi perdebatan antara Bu Fatimah dengan anggota keluarga yang lain.


"Dia itu wanita nggak jelas. Entah darimana kalian memandangnya sebagai wanita baik-baik."

__ADS_1


"Ummi selalu sama merasa diri paling benar. Apa Ummi tidak sadar, kalau perbuatan Ummi yang menyakiti Amara adalah dosa, Ummi." Pak Akmal akhirnya berdiri. Istrinya semakin tak terkendali.


Amara memejamkan matanya. Ia harus masuk untuk mengambil barangnya yang ketinggalan. Kalau tetap diam di sana, Bian akan lelah menunggunya. Setelah cukup lama berperang dengan pikirannya, Amara mendorong pintu itu sampai terbuka. "P.. permisi, aku.. aku mau mengambil handphoneku." Mendekati kursi tempatnya duduk tadi.


"Sampai kapan kamu akan terus meracuni cucuku, wanita miskin?" Kata sambutan yang benar-benar menyesakkan dada.


"Astagfirullah, Ummi..! Perbuatan Ummi ini sudah kelewatan." Bu Ainun mendekati ibunya. Mencegah wanita itu untuk mendekati Amara.


"Ummi tidak ada urusan dengan kamu, Ainun. Ummi hanya mau memperingati gadis tidak tau diri ini."


Bu Santi berlari mendekati Amara dan langsung memeluk tubuh gadis itu. "Jangan coba-coba menyentuhnya, Ummi. Aku akan menjaga dia agar terhindar dari kekejaman Ummi."


"Minggir kamu, Santi! Jangan sampai Ummi lepas kendali dan mengatakan yang tidak-tidak tentang kamu."


"Sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan Ummi menyakiti Amara." Bu Santi semakin erat memeluk Amara.


Bu Fatimah mengernyit. "Oh, jadi kamu lebih membelanya?" Berkata dengan ekspresi meremehkan.


"Iya, aku membelanya karena dia adalah wanita yang dicintai putraku."


Bu Fatimah mendengus. "Heh, pantas saja kamu membelanya. Ummi hampir lupa, kalau kamu juga berasal sari keluarga yang tidak jelas."


"Hentikan, Ummi!" Pak Akmal menarik nafas dalam seraya beristighfar untuk meredam amarah yang hampir naik ke ubun-ubun.


Sementara itu, Bian yang masih menunggu di mobil merasa heran karena Amara tak kunjung kembali. Pria itu akhirnya memilih turun dari mobilnya untuk mencari tau apa yang terjadi.


Bian tertegun saat sampai di depan pintu ruang makan. Terdengar jelas teriakan demi teriakan neneknya. Entah itu ditujukan untuk siapa.


Namun, Bian menelan ludahnya saat membuka pintu. Kejadian yang tidak pernah ia bayangan sebelumnya. Ibunya yang sedang memeluk Amara agar terhindar dari amukan macan tua di depannya.


"Hentikan, Nenek..!" Tangan Bian terkepal menahan kesal. "Apa yang telah Nenek lakukan pada Ibu dan Amara?!" Berkata sambil mengeratkan giginya kesal.


"Nenek tidak pernah menyakiti ibumu, Sayang. Dia saja yang sengaja mencari muka seperti itu." Bu Fatimah sedikit gugup. "Oh iya, Sayang. Nenek sudah membawakan foto beberapa wanita yang cocok untuk kamu." Bu Fatimah kembali ke tempatnya semula. Mengambil beberapa lembar foto dari dalam tasnya.


Bian tersenyum ketus sambil menatap ke sembarang arah.


"Ini, kamu bisa lihat wanita-wanita ini. Mereka jauh lebih cantik dari wanita itu. Mereka adalah putri-putri bangsawan di negeri ini.


Bian menerima foto-foto yang diserahkan neneknya. Pria itu melihat satu persatu sambil tersenyum ketus. "Ini.." ucapnya setelah melihat semuanya. "Aku tidak tertarik sama sekali." Melempar semua foto itu sampai berterbangan lalu jatuh bercecer di lantai.

__ADS_1


"Ayo, Sayang." Bian menarik Amara dari pelukan ibunya. "Kita pergi dari sini." Menggenggam erat tangan Amara lalu membawanya pergi dari tempat itu.


**********


__ADS_2