Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Bian Manja Lagi


__ADS_3

Bian mencium lagi istrinya lama setelah berhasil memompa bensinnya. "Terimakasih, Sayang."


"Hmm.." jawab Amara tanpa membuka matanya.


"Pagi ini terasa lebih bersemangat karena kebutuhan vitaminku terpenuhi pagi."


"Hmm.. kamunya aja yang terlalu..."


"Ssttt..." Bian langsung menutup mulut istrinya. "Jangan katakan apapun kalau kamu mau bebas. Kalau kamu banyak bicara, aku akan memangsa kamu untuk yang kedua kalinya."


"Ish," Amara melayangkan satu cubitan di perut suaminya.


"Aduuuh... sakit, Ra. Kamu ini kok jadi sadis gini sih.." Bian mengusap-usap perutnya yang sudah pasti memerah karena ulah istrinya.


"Ini bukan kemauan aku, Mas. Ini.. tangan aku yang gatal mau mencubit kamu. Kayaknya ini kemauan anak kamu deh. Aku jadi gemes melihat kulit putih mulus kamu. Sayang banget kan, kalau nggak ada bekas cubitanku." Amara cekikian melihat tampang suaminya.


"Kamu ini ada-ada aja deh." Menarik tubuh Amara sampai menempel di tubuhnya.


"Mas..." Amara mendorong tubuh Bian menjauh. "Nanti kalau adeknya bangun lagi, bagaimana? Kamu mau kerja loh.."


"Hmm... itu mah urusan kecil, Sayang. Kalau adeknya bangun, kamu tinggal memberiku izin untuk mencetak gol lagi."


"Ish," Amara kembali mencubit perut Bian. Hal itu membuat Bian meringis dan menutup bagian yang dicubit tadi. "Ra, jangan sadis gini, Sayang."


"Udah makanya bangun, Mas. Mau pergi kerja, masih aja malas-malasan."


Bian menatap istrinya dengan sendu. "Kayaknya aku nggak akan bisa pergi kerja kalau terus-terusan di siksa kayak gini. Perut aku ngilu, Sayang."


"Makanya jangan mesum terus. Kayaknya kamu kurang zikir akhir-akhir ini. Sedikit-dikit, pikiran kamu melayang ke situ." Amara langsung bangkit setelah selesai bicara. "Alu bangun, Mas. Mandi dan langsung berangkat kerja." Menarik tangan Bian yang masih terlihat malas.


Amara tersentak saat handphone suaminya berbunyi dengan nyaring. "Tuh kan, pasti telepon dari Pak Daniel. Jangan terlalu santai makanya, Mas."


"Jawab saja, Ra." Menutup kepalanya dengan bantal agar tidak terganggu suara berisik dari handphonenya sendiri.


"Aku harus bilang apa, Mas?" Mengambil handphone suaminya, menjawab panggilan yang datang dari Daniel. "H.. halo, selamat pagi, Pak Daniel."


"........"


"Mm.. Mas Bian masih rebahan di atas ranjang, Pak. Saya sedang memaksanya untuk bangun. Tapi, dia masih ngeyel."


"......."


"Oh, Direktur Konveksi Z sudah menunggu di kantor. Baik, Pak Daniel."


".........."


"Saya akan memintanya untuk segera berangkat. Selamat pagi..." Amara langsung meletakkan handphone suaminya dan melayangkan tatapan tajam untuk prianya itu. "Tamu sudah menunggu kamu, Mas. Katanya setengah jam bisa selesai. Apanya yang selesai setengah jam? Ini sudah jam sembilan, Mas Bianku yang paling tampan tapi banyak akal.." giliran pipi Bian yang menjadi sasaran cubitan tangan Amara.


"Iya.. iya.. aku bangun. Tapi jangan main cubit lagi." Menahan tangan Amara yang sudah siap untuk mencubitnya lagi. Bergegas ke kamar mandi karena tatapan istrinya sudah berubah tidak bersahabat.

__ADS_1


Amara menghela nafas berat. Entah kenapa suaminya berubah menjadi laki-laki pemalas pagi ini. Ia memasang pakaiannya dan mulai memungut pakaian suaminya yang ditaruh sembarangan yang tergelatak di mana-mana.


Sepuluh menit kemudian...


"Ra, aku lupa bawa handuk."


"Ya Allah, Mas. Kok kamu jadi manja begini sih?!"


"Aku lupa tadi. Kan aku takut di cubit lagi, makanya langsung lari ke kamar mandi."


"Mm.. ini handuknya. Mau apa lagi?"


"Siapkan pakaian kerjaku, Sayang." Keluar dengan telanjang dada. Mengelap rambutnya dengan santai. Namun, ia langsung tersenyum melotot ke arah istrinya saat menyadari kalau Amara sedang menatapnya dengan tajam.


"Jangan menatapku seperti itu. Aku nggak bisa berkedip nih." Mengalihkan pandangannya karena Amara semakin menajamkan pandangannya. "Aku mau shalat duha dulu. Kalau kamu tidak mau menyiapkan pakaian, aku akan mengambilnya sendiri setelah selesai shalat nanti." Melirik istrinya lalu berjalan menjauh sambil tersenyum meringis.


"Aku akan ambilkan karena aku masih sadar statusku sebagai istri Mas Bian. Tapi, kamu terdengar sangat manja saat semua keperluanmu harus disiapkan oleh ku." Mengekor di belakang suaminya. "Iya... walaupun sebenarnya itu sangat menyenangkan untukku." Menggelar sajadah di depan Bian.


"Hmm.. kalau menyenangkan ngapain harus menatapku seperti itu. Bikin orang takut aja." Timpal Bian lirih hampir tak terdengar.


"Kamu bilang apa, Mas?" Menautkan alisnya karena tidak mendengar apa yang diucapkan suaminya.


"Nggak ada. Geser sana, aku mau shalat dulu."


"Huh," Amara mendengus seraya berjalan menjauh. Memilih mempersiapkan pakaian untuk suaminya. Ia akan mandi setelah Bian berangkat kerja nanti. Tidak mau Bian memanggilnya saat dia sedang mandi, karena membutuhkan sesuatu.


************


"Selamat pagi.." Bian langsung duduk di balik meja kerjanya. "Kata Kak Daniel Direktur dari Konveksi Z sudah datang. Lalu dimana orangnya sekarang?" Menyandarkan tubuhnya seraya menatap Daniel.


"Dia memang sudah datang, Tuan. Tapi, dia keluar untuk mencari sarapan. Dia bilang tidak sempat sarapan karena khawatir terlambat menemui Tuan."


Bian menautkan alisnya mendengar ucapan Daniel. "Terdengar sedikit aneh. Orangnya tiba jam berapa tadi?" Menegakkan duduknya.


"Jam delapan lewat sepuluh menit, Tuan. Tepat dua puluh menit setelah saya sampai dan menyiapkan ruang kerja Tuan."


"Apa Kak Daniel yang memintanya untuk datang pagi-pagi? Aku rasa, jam segitu bukan waktunya untuk menerima tamu. Karyawan pasti masih melakukan briefing jam segitu."


"Saya tidak pernah mengatur jadwal pertemuan dengannya, Tuan. Orang itu bilang, dia mengenal baik Tuan dan merupakan teman SMA Tuan."


Bian kembali memperbaiki posisi duduknya. Ia akhirnya penasaran dengan orang yang dimaksud Daniel. "Hmm... teman SMA-ku. Orangnya laki-laki atau perempuan?"


"Perempuan, Tuan."


"Hah, perempuan?!" Bian tidak bisa mengekspresikan rasa terkejutnya. "Aku tidak pernah dekat dengan wanita manapun saat aku SMA. Aku memberikan sikap yang sama pada semua. Tidak ada yang lebih, apalagi sampai yang spesial."


Daniel tercengang karena tidak menyangka Bian akan memberikan reaksi yang terlihat berlebihan. "Saya tidak bilang orangnya spesial, Tuan. Orang itu bilang, dia mengenal baik Tuan karena dia adalah teman SMA Tuan."


Bian terdiam beberapa saat. Menatap Daniel yang menatapnya dengan ekspresi aneh. "Iya.. iya.. aku yang salah menangkap ucapan Kak Daniel. Aku juga baru ingat kalau aku melewatkan sarapan gara-gara Rara tadi."

__ADS_1


Daniel semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan tuannya. "Mau Tuan apa sekarang?" Akhirnya kalimat itu yang keluar dari mulut Daniel.


"Aku lupa sarapan, Kak. Tadi cuman sarapan ringan dengan sepotong roti. Apa Kak Daniel bisa memesankan sarapan untukku?"


"Baik, Tuan." Daniel sedikit menunduk seraya berjalan keluar. Sikap Bian benar-benar aneh pagi ini. Dia harus segera menyingkir agar tidak pusing dengan permintaan aneh tuannya.


Bian tersenyum kecil setelah Daniel keluar. Ia belum bisa fokus ke ranah pekerjaan karena masih memikirkan ekspresi istrinya pas dia berangkat tadi.


Ia meraih handphonenya. Bibirnya mengulas senyum saat melihat foto istrinya. Tangannya langsung gatal menekan nomor Amara. Amara yang tidak pernah mengabaikan panggilan suaminya pun, langsung menjawab panggilan dari suaminya itu.


"Eh, ternyata kamu langsung jawab."


"Ada apa, Mas?"


"Aku cuman mau cerita ke kamu."


Amara terdiam menunggu apa yang akan diceritakan suaminya. Namun, beberapa detik menunggu Bian tak kunjung bicara.


"Mas, kamu mau menceritakan apa?"


"Aku.. aku lupa sarapan tadi, Sayang." Menjawab sambil menahan senyum.


"Loh," Amara terdiam. "Masa sih, Mas?" Sambungnya setelah lama terdiam. "Apa aku perlu mengantarkan sarapan untukmu?"


"Mm.. tidak perlu, Sayang. Aku sudah meminta Kak Daniel untuk memesankan di Kafe."


"Iya udah kalau begitu. Aku mau tidur kalau Kak Bian tidak mau diantarkan sarapan."


"Istirahatlah.. nanti siang aku pulang menengok keadaan kamu."


"Mm.. assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikum salam, Sayang."


Bian meletakkan handphonenya. Ia langsung menatap ke arah Daniel yang sudah berdiri di depan pintu. "Tamunya sudah menunggu di luar. Apa Tuan mau sarapan dulu sebelum menemuinya, atau mungkin mau menemuinya baru setelah itu sarapan?"


"Huh," Bian mendengus. "Kak Daniel mau membuat aku terserang penyakit maag. Aku hanya membutuhkan waktu sepuluh menit untuk sarapan. Kalau pertemuan itu, kita nggak tau kapan akan berakhir."


"I.. iya, Tuan. Saya akan memintanya untuk menunggu sebentar." Daniel meletakkan sarapan Bian dan beranjak keluar untuk memberitahukan pada Direktur Konveksi Z.


Lima belas menit kemudian, Daniel masuk ke dalam ruangan Bian bersama seorang wanita yang bergaya elegan. Bian langsung berdiri melihat kedatangan wanita itu.


"K.. kamu..?"


"Hai..!" Wanita itu melambai dengan gaya elegan pada Bian.


"Ini Direktur dari Konveksi Z yang akan me bahas tentang rencana kerjasama dengan Perusahaan kita, Tuan."


Bian melirik Daniel lalu kembali menatap wanita itu. "Silahkan duduk."

__ADS_1


*************


************


__ADS_2