
Empat bulan kemudian...
"Jaga diri baik-baik, Mas." Amara mengusap-usap pipi Bian sambil memberikan senyuman terbaik untuk suaminya itu. Hari ini Bian akan keluar kota untuk memantau perkembangan Perusahaan cabang yang di bukanya beberapa bulan yang lalu.
"Kamu yang jaga diri baik-baik, Sayang. Insya Allah, aku tidak akan lama di sana. Empat hari saja, Ra. Kamu baik-baik di rumah ya." Menarik tubuh istrinya sampai jatuh ke dalam pelukannya.
Amara kembali tersenyum. "Iya, Mas. Insya Allah.. aku bisa Jaga diri. Lagian kan ada Ibu yang akan menemaniku di rumah." Menarik nafas dalam menghirup aroma tubuh suaminya.
"Setelah aku pulang nanti, kita akan pergi periksa keadaan si kecil. Mudah-mudahan pertumbuhannya semakin baik." Mengusap-usap perut istrinya yang semakin membuncit. Amara bahkan sudah kewalahan beraktivitas karena perutnya yang semakin membesar.
"Iya, Mas. Sepertinya pemeriksaan nanti adalah pemerikasaan terakhir sebelum baby nya lahir. HPL-nya masih tiga minggu lagi sih. Tapi, aku sudah mulai khawatir dari sekarang. Deg-degan banget rasanya." Ikut mengusap perutnya seperti yang dilakukan suaminya.
"Serahkan semuanya pada Allah. Percaya kalau semua akan baik-baik saja." Berjongkok dan mencium perut Amara. "Adek baik-baik di sana ya. Jangan menyusahkan mama." Berdiri dan memberikan ciuman di dahi istrinya. "Kalau kamu ada perlu atau apa, segera hubungi aku. Kalau aku tidak bisa dihubungi, kamu segera minta bantuan Ibu." Mengusap kepala istrinya. Perjalanannya hari ini terasa berat. Mungkin karena keadaan istrinya yang sedang hamil tua. Tapi, dia harus pergi karena ada laporan yang sedikit ganjil dari Perusahaan cabang yang baru berjalan seumur jagung itu.
"Aku berangkat, Ra. Assalamu'alaikum..." Bian masuk ke dalam mobil sambil menarik nafas panjang. Ia benar-benar terasa berat untuk meninggalkan rumah. Melambaikan tangan pada istrinya untuk yang terakhir kalinya.
Amara menghela nafas berat. Tersenyum lemah sebelum akhirnya masuk kembali ke dalam rumah.
***********
Pagi itu...
Amara dikejutkan dengan suara deringan ponselnya. Ia mengernyit saat melihat ada nomor tak dikenal menghubunginya. Ia membiarkan panggilan itu berakhir dengan sendirinya. Tidak berniat menjawab sama sekali karena biasanya orang yang menghubunginya tanpa konfirmasi terlebih dahulu hanyalah orang yang suka iseng.
Namun, baru saja meletakkan handphonenya, nomor asing itu kembali menghubunginya. Amara akhirnya meraih kembali benda gepeng itu.
"Assalamu'alaikum ..." Amara mengusap salam dengan ragu.
"Selamat pagi Nyonya CEO. Wah... kayaknya Nyonya sedang khawatir pagi ini. Suami tersayang tidak bisa di hubungi. Hmm..."
Amara tertegun mendengar suara itu. Sama sekali tidak asing. Tapi... dimana dia mendengar suara itu.
__ADS_1
"Aku akan mengirimkan gambar yang membuat Pak Bian yang terhormat sampai lupa pada Nyonya CEO. Aku sih.. senang aja dengan hal itu."
"Khanza, ini... ini kamu kan?!"
Tut... tut... tut...
"Halo ... halo ... Khanza ..."
Amara langsung menatap layar handphonenya. Mencoba menghubungi nomor itu kembali. Tapi, berulang kali ia mencoba, panggilannya selalu ditolak. "Astagfirullahal'adzim ..." menarik nafas panjang untuk menenangkan pikirannya yang mulai kacau.
Ting..!
Ting..!
Ting..!
Tiga pesan masuk beruntun ke handphonenya. Amara menatap benda itu.
Foto, foto dan foto. Amara meletakkan benda gepeng itu. Perasaannya masih ragu untuk membuka pesan gambar itu. Menarik nafas panjang beberapa kali. Melirik ke arah handphonenya yang masih berkedip. Ingin mengabaikan, tetapi ia penasaran. Bagaimana kalau terjadi apa-apa pada suaminya. Walaupun ragu, ia akhirnya mengambil kembali benda gepeng itu. Ia mulai mempersiapkan hatinya untuk melihat gambar di balik pesan itu. Memantapkan hatinya untuk kemungkinan terburuk yang mungkin dilihatnya pada pesan gambar itu.
"Astagfirullahal'azim..." Amara menutup mulutnya tidak percaya. Suaminya menggendong wanita itu. Belum lagi Khanza melingkarkan tangannya di leher suaminya.
"Ya Allah.. ya Allah..." Amara memukul-mukul dadanya yang terasa sesak. Bibirnya bergetar menahan isak tangis yang terasa mau meledak. Tubuhnya merosot jatuh ke sisi ranjang. "M.. Mas.. Bian... a.. apa yang kamu lakukan, Mas... hiks ... hiks. Apa ini alasan kamu tidak bisa di hubungi dari kemarin? Kamu.. kamu pergi bersama wanita itu. Apa dari kemarin kamu hanya akting membencinya?" Kembali memukul-mukul
Amara mencoba untuk bangkit karena perutnya terasa kram. Ia menelan ludahnya beberapa kali karena merasakan sakit yang luar biasa. Tidak ada orang yang bersamanya saat ini. Subuh tadi Bu Santi pamit pulang untuk berganti pakaian.
Untuk menghubungi Bian pun, tidak bisa ia lakukan. Suaminya itu tidak bisa dihubungi sejak semalam. Belum lagi karena sakit hati karena gambar yang di kirim wanita itu. Ia merasa tidak ingin menghubungi pria itu saat inu. Ini adalah hari kedua Bian di luar kota. Tapi, Bian hanya mengabarinya ketika dia sudah sampai kemarin.
Amara menarik nafas panjang. Perasaan khawatir semakin merasuki hatinya. Untuk sekedar berdiri pun terasa sangat sulit karena rasa sakit yang menyerangnya.
Perasaan khawatir itu semakin tak terkendali. Ia mulai berandai-andai. Pikiran buruk tentang melahirkan mulai memenuhi otaknya. Air mata bercucuran tak terbendung. Ia memukul-mukul dadanya yang terasa semakin sesak. Pandangannya mulai berputar-putar. Amara mengerjap-ngejap tak tau apa yang harus di lakukannya. Tiba-tiba, tubuhnya jatuh ke lantai tak sadarkan diri.
__ADS_1
********
"Lakukan yang terbaik, Dok. Suaminya tidak ada di sini. Suaminya sedang perjalanan bisnis ke luar kota." Bu Santi mulai panik. Chayra yang baru tiba juga ikut panik. Kondisi Amara benar-benar drop dan harus segera melakukan operasi cesar karena air ketubannya pecah.
"Kondisi pasien drop, Bu. Apa ada faktor pemicu, sehingga pasien sampai tidak sadarkan diri?"
"Saya rasa tidak ada, Dok. Sebelum saya meninggalkannya tadi, dia sangat baik dan tidak ada tanda-tanda akan seperti ini."
"Siapa yang akan bertanggung jawab jika saya mengambil tindakan sekarang?" Dokter itu kembali bertanya.
Bu Santi dan Chayra saling pandang. "Kami yang akan tanggung jawab, Dok." Ucapnya serentak, menandakan harapan mereka yang sangat tinggi akan keselamatan Amara dan bayinya.
"Jika kami harus menyelamatkan salah satu antara ibu atau bayinya, siapa yang akan kami selamatkan terlebih dahulu?"
Bu Santi dan Chayra tertegun mendengar pertanyaan itu. Saling pandang karena tidak tau apa yang akan mereka katakan pada Dokter itu. "Apa.. apa kami harus memilih, Dok?" Tanya Chayra dengan ragu. "Tidak bisakah Dokter menyelamatkan dua-duanya, agar kami tidak perlu memilih?"
"Kami harus memastikan hal itu, Bu. Keadaan pasien sangat memprihatinkan. Itulah mengapa kami harus segera mengambil tindakan. Jika ditunda, kami takut ketubannya kering dan itu mengancam nyawa bayi dalam kandungannya."
"Apa itu adalah kemungkinan terburuknya, Dok?" Giliran Bu Santi yang bertanya. Ia benar-benar terlihat pasrah saat ini.
Dokter itu menghela nafas berat. Menatap Bu Santi dan Chayra secara bergantian. "Kemungkinan terburuknya adalah dua-duanya tidak bisa terselamatkan, Bu. Tapi, hal itu sangat jarang terjadi. Kita doakan saja yang terbaik untuk pasien. Kita sama-sama berdoa, semoga ibu dan anaknya bisa selamat." Dokter itu beranjak bangkit, meninggalkan Bu Santi dan Chyara untuk segera melakukan tindakan.
Bu Santi memeluk tubuh Chayra dengan isak tangis yang tak terbendung. Pikirannya dipenuhi dengan Amara yang terlihat sangat memprihatinkan. Belum lagi rasa kesalnya pada Bian karena putranya itu tidak bisa dihubungi sampai saat ini.
"Coba kamu hubungi adik kamu lagi, Nak. Kenapa dia sangat sulit di hubungi. Apa yang akan kita katakan nanti padanya. Kita tidak bisa menunggunya pulang karena keadaan ini benar-benar darurat."
"Nomornya tidak aktif, Bu. Aku akan menghubungi Kakek agar dia bisa menghubungi Daniel. Aku tidak mempunyai kontak pria itu."
"Segera hubungi kakek kamu. Adikmu itu benar-benar keterlaluan. Ibu tidak habis pikir, dia gila kerja sampai seperti ini. Dari kemarin Amara selalu menghubunginya. Tapi, nomornya tidak bisa dihubungi."
"Sudah, Bu. Nggak baik saling menyalahkan dalam keadaan seperti ini. Mungkin Bian sedang sibuk-sibuknya sehingga memilih untuk menonaktifkan handphonenya. Lebih baik kita berdoa untuk kebaikan semuanya." Chayra menuntun ibunya untuk bangkit. "Aku antar Ibu ke ruang operasi sekarang. Ibu harus menguatkan Amara. Kalau Ibu lemah seperti ini, bagaimana dengan Amara. Ibu harus kuat, agar Amara juga kuat. Aku juga akan menghubungi Pak Arif, agar dia segera datang."
__ADS_1
Bu Santi hanya mengangguk pasrah. Dia benar-benar tidak bisa berpikir dengan jernih saat ini. Pikirannya campur aduk, antara kesal pada putranya dan memikirkan keadaan Amara yang kritis.
*********