
Amara menatap pantulan wajahnya di depan cermin. Menghapus sisa-sisa air mata kebahagiaan yang masih ingin keluar sampai saat ini.
"Nak..."
Amara berbalik saat melihat mertuanya berjalan mendekatinya. "Iya, Bu.."
"Mm.. bagaimana keadaan kamu sekarang?" Menatap menantunya dalam. "Apa.. apa rasa pusing itu masih kuat, Nak?"
Amara terdiam sejenak. Mencoba merasakan keadaan tubuhnya saat ini. "Mm.. masih pusing, Bu. Tapi, nggak terlalu menyiksa. Ibu bisa lihat sendiri, aku mampu berdiri lama dan tidak oleng kayak tadi."
Bu Santi tersenyum kecil mendengar jawaban menantunya. Sebenarnya menantunya itu merasakan sakit ini karena adanya janin dalam rahimnya. "Mudah-mudahan sakit ini tidak bertahan lama, Nak. Kasihan kamu kalau setiap pagi harus menggigil kayak tadi. Kalau masalah muntah-muntah, hal itu biasa di alami oleh wanita yang hamil muda."
Amara mengangguk-angguk mendengar penjelasan mertuanya.
"Kamu istirahat saja sekarang. Ibu mau ke Toko sebentar. Ada briefing pagi yang harus di lakukan sebelum para karyawan mulai bekerja. Nanti Ibu akan kemari untuk melihat keadaan kamu."
Mengingat ibu mertuanya yang sangat disiplin membuat Amara tersenyum mendengar alasan wanita itu. "Ibu pergi saja. Insya Allah, aku baik-baik saja Bu." Menyentuh tangan Bu Santi yang bertengger di pundaknya.
"Terimakasih, Nak. Kamu belum sarapan kan?" Menatap sekitar kamar. Tidak terlihat ada piring bekas sarapan menantunya.
"Sudah, Bu. Aku di suapi Mas Bian tadi sebelum dia berangkat kerja."
Bu Santi menautkan alisnya. "Hmm... tapi itu sudah keluar semua tadi. Sekarang kamu Makan lagi. Sedikit-sedikit tapi sering. Kalau masih sering mual, perut tidak usah diisi banyak-banyak. Hal itu malah membuat perut terasa semakin tidak nyaman. Nanti Ibu minta Bibi bawakan sarapan ke kamar." Bu Santi menepuk-nepuk pelan pundak Amara seraya berlalu keluar. Ia sudah bertekad tidak akan memberitahukan perihal kehamilan menantunya pada siapapun termasuk Bian. Biarkan Amara yang melakukannya sendiri, supaya Bian merasa lebih terkesan.
Siang itu...
Amara menghubungi Bu Santi untuk memberitahunya, kalau dia akan mengantarkan makan siang untuk suaminya. Karena ingin memberi surprise pada Bian, ia bertekad tidak akan memberitahukan kedatangannya pada suaminya itu.
Setelah mendapatkan persetujuan dari mertuanya, Amara membersihkan badannya. Ia keluar dari kamar setelah merasa penampilannya terlihat sempurna. Mengambil bekal makan siang yang sudah dipersiapkan untuk suaminya di atas meja makan. "Bi, aku mau berangkat. Titip rumah ya.." melirik ke arah ruangan tempat salah seorang asistennya sedang menyetrika pakaian.
"Baik, Nona."
Di Kantor Bian...
Amara langsung naik ke ruangan suaminya. Namun, langkahnya di cegah oleh seorang wanita begitu dia keluar dari lift.
"Maaf, anda mau bertemu dengan siapa?" Wanita itu bertanya dengan sopan dengan menundukkan sedikit badannya.
Amara tersenyum ramah. "Saya mau bertemu dengan Pak Bian, Mbak. Saya adalah istrinya. Saya datang kemari mau mengantarkan makan siang untuknya."
"Oh, astaga.. maaf, Bu, saya tidak tau kalau Ibu adalah istrinya Pak Bian." Keluar dari mejanya seraya menunduk beberapa kali di hadapan Amara.
"Pak Biannya ada kan, Mbak?"
__ADS_1
"Mm.. Pak Bian dan Pak Daniel ada pertemuan di luar, Bu. Saya akan mencoba menghubungi Pak Daniel untuk menanyakan jam berapa beliau akan kembali."
"Tidak usah, Mbak." Amara mengangkat tangannya untuk mencegah wanita itu menghubungi Daniel. "Biar saya yang akan menghubungi Mas Bian." Amara berlalu dari hadapan wanita itu. Ia memilih duduk di sofa panjang depan ruangan suaminya. Mencoba menghubungi nomor suaminya untuk memastikan kapan Bian akan kembali ke kantornya.
Tut.. tut... tut...
Tidak ada jawaban. Amara mencoba sekali lagi. Beberapa saat menunggu, sudut bibirnya tertarik saat suaminya menjawab panggilannya. "Assalamu'alaikum, Mas.. aku..."
"Wa'alaikum salam.. aku sedang ada pertemuan penting, Ra. Nanti aku hubungi kamu lagi."
tut.. tut.. tut...
Amara menatap layar handphonenya saat panggilannya terputus secara sepihak oleh suaminya. Mengernyit heran, termenung mendapati hal itu. Suaminya pasti sangat sibuk sehingga benar-benar tidak bisa bicara dengannya.
Maaf, Ra. Aku benar-benar sedang sibuk. Kata Ibu kamu sudah baikan. Kamu bersiap saja. Nanti malam kita akan menghadiri pesta keluarga besar kita. Ini adalah undangan langsung dari Kakek. Untuk gaunnya, aku sudah meminta Kak Ayra mengambilnya di Butik A. Kamu istirahat saja, biar nanti malam kondisi kamu semakin membaik.
Amara menghela nafas berat. Ternyata suaminya benar-benar sibuk sehingga merasa terganggu dengan panggilannya.
Oh, maafkan aku, Mas. Aku ada di Kantor Mas Bian. Aku mengantarkan makan siang untuk Mas Bian. Aku akan tinggalkan makanan ini pada wanita yang sedang duduk di depan. Nanti Mas Bian yang ambil.
Pesannya langsung terkirim, tetapi tidak di baca. Ia kembali menghela nafas berat. Memasukkan handphone ke dalam tasnya dan memilih untuk pulang.
"Mbak," Amara mengetuk pelan meja dimana wanita tadi sedang sibuk menulis.
"Namanya siapa sih, Mbak.. biar kita nyaman berkomunikasi."
"Oh, nama saya Mina, Bu."
"Oh, ini loh Mbak Mina, saya mau titip makan siangnya Mas Bian. Nanti kalau dia balik, Mbak berikan saja padanya."
"Mm.. kenapa Ibu tidak menunggunya saja? Pak Bian itu orangnya sangat dingin pada saya."
"Hah..?!" Amara tercengang mendengar cerita Mina. Selama ini suaminya terkenal dengan sikap ramahnya pada setiap orang. "Masa sih, Mbak?"
"I.. iya, Bu. Saya jadi agak segan ngomong dengan beliau. Andaikan Pak Akmal tidak meminta saya untuk menjadi sekretarisnya Pak Daniel, saya lebih suka di kantor cabang saja. Saya tidak terlalu nyaman berada di antara orang-orang penting."
Amara tersenyum kecil mendengar cerita Mina. "Suami saya baik kok orangnya. Cuman.. mungkin terlalu banyak tuntutan kerja yang membuatnya terlihat seperti itu. Kalau suami saya nggak kembali sampai jam dua nanti. Mbak saja yang makan itu. Takutnya nasinya jadi mubazir. Saya pamit kalau begitu, Mbak. Terimakasih untuk bantuannya. Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikum salam, Bu.." Mina tersenyum lembut. Dia kira akan mendapati perlakuan yang tidak baik, karena biasanya istri Bos yang dia ketahui sering sombong.
*********
Bian menghubungi Amara saat waktu Maghrib hampir tiba. Pertemuan panjangnya berakhir setelah masuk waktu ashar. Ada rasa kesal karena kakeknya memintanya menemui orang asing yang permintaannya bertele-tele dan membuat kesabarannya hampir habis.
__ADS_1
"Ra....."
"Mas Bian kemana saja kenapa baru sekarang mengabari aku?!"
Bian menelan ludahnya. "S.. sayang... aku.."
"Dimana perasaan Mas Bian? Dari siang nggak ada kabar. Mas Bian tidak menghargai aku sama sekali. Aku sampai bela-belain ke kantor kamu, Mas. Aku mau kasih surprise sama kamu, tapi apa?"
Bian mengerjap-ngerjap bingung. "Astagfirullah, Sayang..."
"Mas Bian mau bilang apa lagi? Sudahlah..! Kalau mau pergi ke pesta itu, pergi saja sendiri. Aku nggak mau menemani kamu."
Tut... tut... tut...
"Astagfirullahal'adzim.." Bian meletakkan handphonenya tanpa ada niat untuk meliriknya lagi. Perasaan bersalah tiba-tiba merayap di pikirannya.
"Ada apa, Tuan?" Daniel yang duduk di balik kemudi melirik ke belakang karena melihat ekspresi tuannya yang berubah.
Bian memperbaiki posisi duduknya. "Kita kembali ke kantor sebentar, Kak. Rara bilang, dia datang tadi siang membawakan makan siang untukku."
"Loh, tapi..."
"Putar balik, Kak. Aku akan memakan makanan itu kalau Mina tidak memberikannya kepada siapapun."
Sepersekian detik Daniel tertegun. Mereka sudah masuk ke komplek perumahan Bian. Kalaupun putar balik, itu hanya membuang waktu untuk hal yang sia-sia. Makanan itu pasti sudah rusak dan tidak bisa dimakan lagi.
Daniel akhirnya menarik nafas dalam. "Tuan yakin mau putar balik. Bagaimana kalau saya menghubungi Mina dan menanyakan soal makanan itu? Kita hampir sampai di rumah Tuan. Tuan juga capek dari pagi. Belum lagi nanti malam ada acara lagi kan? Kalau Tuan kembali ke kantor, Tuan tidak ada waktu untuk istirahat karena akan langsung bersiap untuk acara nanti malam."
Bian terdiam beberapa saat, mencoba mempertimbangkan ucapan Daniel. "Mm.. kalau begitu Kak Daniel hubungi Mina sekarang. Mudah-mudahan dia sudah memakan makanan itu."
Daniel mengernyit mendengar ucapan Bian. Mana mungkin Mina akan berani memakan makanan yang diperuntukkan untuk Bos mereka. "Saya akan mencobanya dulu, Tuan." Daniel menepikan kendaraannya agar tidak mengganggu pengguna jalan lainnya.
Bian menyandarkan tubuhnya seraya menghela nafas berat. Mimpi apa dia semalam, sehingga istrinya memberinya kejutan seperti ini.
"Mina tidak menjawab, Tuan." Giliran Daniel yang menghela nafas berat, diam beberapa saat. "Ini adalah surprise pertama untuk Tuan selama menikah."
Bian menegakkan duduknya seraya menatap Daniel. "Maksud Kak Daniel?"
"Marah pertama istri Tuan selama menikah, itu adalah surprise untuk Tuan."
Bian langsung mendengus mendengar ucapan Daniel.
***********
__ADS_1