
Suasana yang mencekam. Amara duduk kaku di lingkaran keluarga Bian. Gadis itu benar-benar tidak mengerti dengan tradisi di keluarga besar itu. Chayra yang biasanya selalu berisik saat makan dengan kedua anaknya, kali ini pun benar-benar terlihat berbeda. Gadis itu hanya duduk diam dengan Farel di atas pangkuannya. Adzra juga diam di samping mamanya.
"Sebelum makan malam ini di mulai, mari kita berdoa bersama. Kita harus mensyukuri nikmat Allah yang dilimpahkan pada kita." Pak Ismail sebagai kepala keluarga memimpin untuk membaca doa. Semua serentak mengangkat tangannya. Amara pun ikut mengangkat tangan seperti yang dilakukan yang lain.
Suasana makan malam itu benar-benar hening. Tidak ada satu pun yang berani bicara. Hanya dentingan sendok yang menjadi pengisi kesunyian itu.
Usai makan malam, keluarga besar tidak ada yang meninggalkan meja makan. Ternyata, setelah selesai makan malam ada ceramah singkat yang disampaikan Pak Ismail. Hal itu membuat Amara tercengang. Besar tradisi yang tidak pernah ia temui di keluarga yang lain. Amara duduk diam mengikuti tradisi itu.
Sekitar lima belas menit berlalu, gadis itu bisa bernafas dengan lega karena ceramah itu berakhir.
"Rara, sini..!" Chayra mengisyaratkan pada Amara agar mendekati ke arahnya.
"Iya, Kak." Amara tersenyum sambil menunduk sopan.
"Kamu ngantuk nggak?"
"Ng.. nggak, Kak. Ada apa memangnya?" Jawab Amara sambil duduk di samping Chayra.
"Kamu mau jalan-jalan nggak?"
Amara sedikit terkejut. Jika ia menerima tawaran Chayra, apakah tidak akan menjadi masalah nantinya. Ia melirik Chayra sekilas lalu menunduk untuk mempertimbangkan. "K.. kemana, Kak?" Tanyanya dengan ragu sambil menatap Amara.
Chayra tertawa kecil melihat ekspresi Amara. "Kok kamu kelihatan takut gitu, Dek?"
"Mm.. Mara nggak berani, Kak. Takutnya salah bertindak, dan itu menjadi masalah buat Mara."
Chayra menggeleng-geleng pelan. "Kakak tidak mungkin memposisikan kamu dalam bahaya, Dek. Lagian Kakak cuman mau mengajak kamu jalan-jalan di depan. Kita beli cilok lalu duduk di gazebo di tengah kolam sana." Menunjuk keluar rumah.
Mata Amara langsung berbinar. Dari tadi ia ingin sekali mendatangi gazebo itu. Tapi, Bu Santi langsung mengajaknya masuk setelah menyambut kepulangan Pak Ismail dan Bu Ainun. "Mara mau, Kak." Ucapnya senang. Hampir saja ia berjingkat saking senangnya.
"Kak Ayra, Mayra juga mau ikut." Humaira, putri Pak Akmal yang masih remaja bergelayut manja di lengan kiri Chayra.
__ADS_1
"Loh, nama adek kok mirip dengan nama Kakak?" Amara menunjuk dirinya sendiri.
"Memangnya nama kamu siapa?" Humaira menatap Amara dengan tatapan menantang.
"Amara Andini.." menjawab dengan penuh percaya diri.
"Huh, sangat jauh berbeda. Ismi ... Humaira Putri Ismail. Sekarang ini aku sedang melanjutkan pendidikan S2 Dia salah satu Universitas di Jakarta. Tahun depan, insya Allah aku akan tamat. Jadi, jangan panggil aku adek, karena nyatanya aku lebih tua, bahkan dari Bian juga." Menaik turunkan alisnya dengan tatapan mata masih tajam pada Amara.
"What..?!" Amara melotot karena terkejut. "Oh," akhirnya hanya bisa tersenyum kaku. Putri Pak Ismail yang satu ini terlihat sedikit jutek. Sangat berbeda dengan adiknya yang bernama Amrina. Sepertinya dia tidak suka karena Amara memanggilnya adik.
Humaira bangkit, "padahal kamu terlihat sangat muda. Tapi ... kok bisa-bisanya kamu memanggilku Kakak." Humaira melipat tangan di dada sambil mengelilingi Amara.
"Udah, Dek. Kok kamu mengintimidasi Amara seperti ini sih?! Jangan terlalu jutek. Amara ini calon anggota keluarga kita loh."
Humaira menurunkan tangannya. "Iya .. iya.. maaf, Kak. Bercanda kok." Mencubit pelan dagu Amara yang masih terlihat kaku berinteraksi dengannya. "Jangan kaku, Rara. Aku ini orangnya nggak sejutek tadi sebenarnya. Tapi, aku hanya mau mengetes calon adik ipar aku. Ayo kita keluar.." menarik tangan Amara sampai gadis itu berdiri.
"Ehehe.. i.. iya.." Amara masih terlihat kaku. Gadis itu juga terkejut karena dipanggil Rara.
"Jangan terkejut karena aku memanggilmu, Rara." Ucap Humaira lagi. Ia seolah-olah bisa membaca pikiran Amata yang terkejut mendengar ucapannya tadi. "Aku dengar Kak Ayra memanggilmu seperti itu, makanya aku ikutan. Lagian, nama panggilan kita kan mirip. Nggak apa-apa kan, kalau aku memakai nama panggilan spesial dari Bian untuk memanggilmu?" Humaira kembali menaik turunkan alisnya.
"Panggil aku Kakak mulai sekarang." Humaira menunjuk wajah Amara sambil menatapnya dengan tajam.
"Iya ... Kak." Amara menjawab kaku. Humaira benar-benar tindak ada rasa kasihan padanya.
"Malam ini kamu yang traktir. Aku tau, Bian tidak mungkin meninggalkan kamu di sini tanpa pesangon. Mumpung dia tidak ada di sini, aku akan menindas mu. Jika dia kembali nanti, aku pasti tidak bisa melakukannya."
"Astagfirullah, Mayra. Kamu ini benar-benar deh, Dek." Chayra menepis tangan Humaira yang sedang menikmati permainannya.
Humaira berbalik menatap Chayra. "Ah, Kak Ayra kok nggak seru banget sih. Ayo ah, kita keluar sekarang." Menarik tangan Amara keluar dari rumah.
Humaira benar-benar menindas Amara malam itu. Selain memakai uangnya, gadis itu juga banyak menghabiskan tenaga Amara. Chayra hanya menggeleng-geleng lemah. Jika Bian ada di sini, Humaira bahkan jarang keluar dari kamarnya. Bian terlalu sering memberikan sekak mati untuknya. Apa lagi di usianya yang sekarang, sedangkan ia belum memiliki pasangan. Bian selalu menyinggung itu, jika mereka sampai bertemu.
__ADS_1
"Rara, dari tadi aku menyuruh kamu bolak-balik sana sini, ambil ini ambil itu, tapi kamu kok masih tetap bersemangat. Biasanya anak gadis di luaran sana paling enggan diperlakukan seperti ini." Humaira memanyunkan bibirnya kesal karena Amara terlihat bersemangat dan pantang menyerah.
"Kalau aku kayak gitu, aku cemen dong. Disuruh kayak gini sih, aku udah kebal, Kak.." Amara mengibaskan tangannya sombong. Hampir dua jam ditindas Humaira membuatnya bisa memahami sedikit demi sedikit sifat gadis di depannya. Dia harus bisa mengimbangi permainan Humaira. Selalu siap melakukan perintah gadis itu adalah caranya mengimbangi. Sekarang, Humaira sudah kehabisan ide untuk membuat Amara bergerak lagi.
"Terus, kamu juga belanja bolak-balik beliin aku cemilan. Kamu kenapa tidak pernah mengeluh. Kalau uang kamu habis sebelum waktunya, bagaimana?"
"Uangku tidak akan pernah habis, Kak. Yang aku pakai kan uang Kak Bian. Kalau aku mah, mau dapat uang darimana? Aku kan masih di tanggung orang tua."
Humaira tersentak. "Buset, jadi si Bian benar-benar memberi lho pesangon?" Menatap Amara bingung. Antara percaya dan tidak pada Amara. Apa iya, Bian sebaik itu sampai memberi Amara membawa salah satu kartunya.
"Mm.. mm. Kalau Kak Mayra tidak percaya, Kakak bisa bertanya pada Kak Ayra."
Humaira terdiam beberapa saat. "Ok, aku ngaku kalah. Ternyata kamu wanita tangguh. Pantas saja Bian jatuh cinta sama kamu." Humaira berpikir keras agar bisa menjebak Amara lagi. Ternyata Bian benar-benar jatuh hati pada Amara, sehingga mempercayakan salah satu gudang uangnya dipegang gadis itu. "Hmm.. apa kamu juga bisa masak?"
"Bisa.." Amara menjawab dengan enteng.
"Hmm ..." Humaira kembali berpikir. "Mm.. kamu bisa masak apa saja?"
"Mau apa saja boleh." Masih menjawab dengan enteng.
Humaira menarik nafas dalam. Ternyata, niatnya untuk menindas Amara selama gadis itu di rumahnya tidak akan kesampaian. Tantangan malam ini sudah bisa membuktikan kalau Amara bukanlah gadis cemen. "Aku ingin, besok kamu ikut aku ke pusat perbelanjaan. Kita harus happy selama Bian nggak ada di sini. Huh, dia pasti membatasi ruang gerak kamu."
"Siapa yang kayak gitu, Mayra?" Chayra yang menimpali. Wanita itu sangat tidak setuju saat Humaira meremehkan adiknya. "Mereka itu seminggu sekali pergi keluar, Mayra. Kamu bisa tanya Amara, kalau setiap minggu Bian selalu memaksanya untuk membeli sesuatu."
"Yang dikatakan Kak Ayra itu benar. Kak Bian itu orangnya nggak kayak gitu, kok. Dia cuman nggak suka, kalau aku banyak berinteraksi dengan lawan jenis. Intinya, dia nggak suka kalau aku banyak bicara pada pria lain. Kalau sedang bersamanya, aku harus banyak bicara seperti penyiar radio."
"Mm... begitu ya.."
"Rara.. Kakak mau ngomong serius sama kamu."
Amara langsung fokus Menatap Chayra. "Ngomongin masalah apa, Kak?"
__ADS_1
"Tentang Bian."
********