
Bian membawa istrinya pulang setelah Amara menyatakan kalau dirinya sudah baik-baik saja. Namun, karena berada di satu komplek bahkan satu gerbang yang sama dengan rumah ibunya. Bian meninggalkan mobilnya di garasi ibunya dan mengajak istrinya pulang dengan berjalan kaki.
"Ya udah, besok pagi Ibu datang melihat kondisi kamu. Jaga diri baik-baik ya, Nak." Bu Santi memeluk tubuh Amara sebelum melepasnya untuk pulang."
"Ibu berlebihan deh, padahal kalau mau peluk Rara, Ibu tinggal melangkah beberapa langkah saja. Toh rumahnya juga nggak jauh-jauh amat." Bian melayangkan protes saat ibunya berulang kali memeluk tubuh istrinya. Sebenarnya dia iri karena ibunya hanya memeluknya satu kali saja.
Mata Bu Santi langsung menatap putranya dengan tajam. "Walaupun rumah bersebelahan, Ibu tidak bisa bertemu menantu Ibu, kalau kamu tidak mengizinkannya datang ke rumah. Dibilangin juga nggak usah bangun rumah. Kamu terlalu keras kepala. Rumah ini aja ruangannya banyak yang tidak terpakai."
Bian hanya menghela nafas berat. Sebenarnya dia tidak ingin melakukan itu. Tapi, kakeknya yang bersikeras agar dia membangun rumah sendiri. Bagaimanapun juga, tinggal di rumah orang tua tidak akan seenak tinggal di rumah sendiri. Hal itu selalu diucapkan Pak Akmal untuknya, agar dia tidak membantah lagi. "Sudah terlanjur, Bu. Masalah yang sudah lewat tidak usah di bahas lagi." Akhirnya kata itu yang keluar dari mulutnya.
Giliran Bu Santi yang menghela nafas berat. "Astagfirullahal'adziim... maafkan Ibu, Nak. Ya sudah, kamu bawa istri kamu pulang. Kalau kondisinya tidak kunjung membaik sampai besok, segera hubungi Ibu. Kita harus memeriksanya ke Dokter."
"Iya, Bu." Bian meraih tangan ibunya lalu menciumnya. Beralih menggandeng Amara dan mempererat genggaman tangannya. "Assalamu'alaikum, Bu.." ucap keduanya serentak.
"Wa'alaikum salam.." Bu Santi tersenyum melihat kepergian anak menantunya. Wanita itu masuk ke dalam rumah setelah Amara dan Bian sampai di depan rumah mereka.
**********
Pagi itu...
Tubuh Amara kembali menggigil saat waktu subuh menjelang. Ia sampai meminta Bian untuk mempererat selimutnya. Suhu tubuhnya juga tinggi. Hal itu membuat Bian sangat cemas. Untungnya dia tidak minta jatah semalam. Seandainya dia menuruti keinginan hawa nafsunya. Dia tidak tau bagaimana akan menghadapi pagi ini.
Sebenarnya ada hal yang ingin disampaikannya pada Amara. Namun, ia mengurungkan niatnya saat melihat kondisi istrinya. Ia segera menghubungi ibunya agar bisa pergi bekerja dengan tenang.
"Jangan hubungi Ibu dulu, Mas." Amara memegang tangan suaminya yang segera memutus panggilan saat mendengar ucapannya. "Kenapa, Sayang?" Menatap istrinya dengan sendu.
"Kasihan Ibu, dia juga pasti capek kan. Nanti juga aku pasti membaik dengan sendirinya. Kamu wudhu saja dulu, Mas. Nanti aku wudhu kalau Mas Bian sudah selesai. Kita shalat jamaah di rumah."
Bian mengernyit, "kamu yakin bisa shalat jamaah? Kalau nggak kuat, jangan dipaksakan. Aku akan shalat sendirian."
Amara terdiam. Rasa pusingnya masih kuat, sehingga tidak bisa mengiyakan ataupun menolak ucapan suaminya.
"Atau... kamu mau aku yang menemanimu di rumah.." mencoba menebak sambil menatap istrinya untuk meyakinkan.
Amara hanya melirik tanpa berkata apapun. Hal itu membuat Bian membuang nafasnya dengan kasar. "Bilang saja, Sayang. Kalau kamu mau ditemani aku, aku tidak akan ke Kantor hari ini."
__ADS_1
Amara menggeleng lemah. "Mas Bian pergi saja. Aku akan ditemani Ibu."
"Apa kamu yakin?"
"I.. iya.." mengangguk ragu sambil melirik suaminya.
Bian meraba dahi istrinya yang masih terasa demam. "Kamu yakin bisa shalat jamaah?"
"Mm.." kembali menggelengkan kepalanya. "K.. kamu shalat duluan saja, Mas. Kayaknya aku nggak kuat berdiri."
Bian membuang nafasnya dengan kasar untuk yang kesekian kalinya. Namun, kali ini ia tersenyum menatap istrinya. "Ya sudah.. nanti aku bantu kamu ke kamar mandi." Meletakkan tangannya di belakang kepala istrinya. "Aku bantu kamu rebahan lagi."
"Nggak usah, Mas. Kalau aku tidur lagi, yang ada kepalaku makin berat nanti."
Bian akhirnya membiarkan apapun yang diinginkan istrinya. Ia meninggalkan Amara untuk mengambil air wudhu karena adzan subuh sudah berkumandang.
Usai mendirikan shalat subuh, Bian kembali menghubungi ibunya. Perasaannya semakin khawatir karena tubuh Amara tidak menunjukkan adanya perbaikan.
________
"Kok Ibu jadi curiga dengan kondisi kamu yang seperti ini, Nak." Ucap Bu Santi sambil mengurut-urut tengkuk Amara yang sedang muntah-muntah di wastafel. Amara membersihkan mulutnya lalu beralih menatap mertuanya. "Maksud Ibu apa?"
Amara mengerjap-ngerjap mendengar pertanyaan mertuanya. "Kapan terakhir aku datang bulan ... maksud Ibu ... aku...?" Menunjuk dirinya sendiri.
"Mm ... mm.." Bu Santi mengangguk yakin.
Mata Amara langsung berbinar senang. "Aku coba ambil tes pack dulu, Bu." Bergegas meninggalkan mertuanya tanpa berpikir dua kali. Rasa pusing yang begitu hebat yang dia rasakan dari tadi terasa sirna saking bahagianya.
Melihat tingkah menantunya membuat Bu Santi bingung sendiri. Amara terlihat begitu bahagia saat dirinya memprediksi hal yang dialami menantunya. Dia hanya berdoa, semoga perkiraannya tidak meleset sehingga menantunya tidak terlalu kecewa. Iya bergegas mengikuti Amara yang sudah masuk ke dalam kamarnya.
"Sejak kapan kamu menyediakan tes pack, Nak?"
"Hah..?!" Amara berbalik menatap ibu mertuanya. "Mm.. dari dulu, Bu. Cuman sebagai persiapan aja."
Bu Santi berjalan mendekat. "Apa kamu pernah mengetesnya sebelum ini?"
__ADS_1
"Mm.." Amara berjalan mendekati ranjang dan duduk di sisi ranjang. "Sudah dua kali aku mencobanya, Bu. Tapi ... ujung-ujungnya aku yang kecewa sendiri. Aku jadinya menyimpan tes pack yang sudah terlanjur aku beli."
"Apa kamu yakin untuk mencobanya kali ini?"
"Hmm... bagaimana ya, Bu..?" Amara menatap ibu mertuanya ragu. "Lillahitaala aja, Bu. Aku mau coba saja. Mudah-mudahan tidak mengecewakan." Mengambil toples kecil untuk menampung urinenya. Mengambil semua tes pack dan membawanya ke kamar mandi.
"Bismillah, Nak." Bu Santi duduk di sisi ranjang tempat Amara duduk tadi sambil memperhatikan sekitar kamar itu. Bibirnya mengulas senyum saat menyadari kamar yang begitu rapi walaupun penghuninya sedang tidak enak badan.
Lima menit Bu Santi menunggu, tapi tidak ada tanda-tanda Amara akan keluar dari kamar mandi. Ia akhirnya mendekati pintu kamar mandi. "Bagaimana, Nak?"
"Sebentar, Bu.. aku masih ragu." Jawab Amara dari kamar mandi. Ia sedang mencoba mencelupkan semua tes pack yang dibawanya tadi.
"Kok lama sekali, Nak?" Bu Santi kembali mengetuk pintu kamar mandi. Ia ikut deg-degan menunggu berita yang akan dibawa menantunya saat keluar nanti.
"Sabar, Bu.."
"Hah..." Bu Santi menghela nafas berat. Dia sampai gregetan sendiri. Dia benar-benar tidak bisa mengekspresikan perasaannya saat ini.
Ceklek..!
Bu Santi langsung berbalik saat pintu kamar mandi terbuka. Ia menatap Amara yang berlinang air mata. "B.. bagaimana, Nak?"
Amara tidak bisa berkata apa-apa. Hanya air matanya yang semakin deras mengalir. Melihat eksprsi Amara membuat Bu Santi ikut terdiam. Ia berjalan mendekati Amara yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi. Menarik tubuh Amara, memeluk tubuh menantunya itu dengan penuh rasa bersalah. "Maafkan Ibu yang terlalu berharap, Nak. Maafkan Ibu karena membuatmu harus merasakan kecewa untuk yang kesekian kalinya."
"Bukan Ibu ya..."
"Jangan katakan apapun, Nak. Ibu tau kamu pasti kecewa." Bu Santi memotong ucapan Amara, tidak membiarkan menantunya itu menyelesaikan kalimatnya.
"Ibu.. dengarkan aku dulu." Menarik tubuhnya dari dekapan mertuanya. Mengeluarkan beberapa tes pack yang sudah digunakannya tadi. "Ini.. ini hasilnya, Bu. Alhamdulillah, Allah akhirnya mempercayakan amanah ini padaku dan Mas Bian, Bu."
Bu Santi mengerjap-ngerjap, antara percaya dan tidak dengan apa yang dilihatnya. Beberapa tes pack di telapak tangan Amara yang menunjukkan dua garis. "Masya Allah, Nak..." menutup mulutnya tidak percaya.
"Mara sangat bersyukur, Bu. Alhamdulillah.." Menggoyang-goyang tangan mertuanya. "Hampir enak bulan Kamu ikhtiar, Bu. Aku.. aku ingin segera memberitahukan ini pada Mas Bian."
"Jangan, Nak. Kamu ceritakan hal ini saat dia pulang nanti. Kamu buat kejutan untuknya."
__ADS_1
Senyum Amara mengembang sempurna mendengar saran mertuanya. "Terimakasih sarannya, Bu. Aku akan memikirkan cara menyampaikan hadiah ini pada Kak Bian." Ucapnya masih menahan haru karena rasa bahagia yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
************