
"Bajunya diganti ya, Ra. Please.." Bian menatap istrinya dengan tampang memelas.
Amara menatap suaminya lama. "Enak aja. Orang udah nyaman banget pakai yang ini. Masalahnya apa sih, Mas, untuk kamu?" Amara membalik tubuhnya menghadap cermin. Pura-pura sibuk memperbaiki penampilannya, padahal dia sedang memperhatikan tampang suaminya yang terlihat semakin tersiksa. "Padahal udah biasa melihat aku tidur dengan pakaian seperti ini." Sambungnya, melirik Bian dari cermin.
"Ini jelas jadi masalah untukku, Sayang. Kamu memintaku untuk menemani kamu tidur. Itu pun hanya sekedar menemani. Tapi, kalau keadaan kamu seperti ini, aku tidak akan bisa hanya sekedar menemani, Sayang. Aku pasti akan minta jatah lebih ke kamu. Seharusnya kamu bisa baca kondisi dong. Kalau benar-benar hanya ingin ditemani saja, pakaiannya jangan pakai yang kayak gini. Ini sih, kamu sengaja menguji kekuatan iman namanya." Ucap Bian. Kini ia menampakkan seluruh tubuhnya di ruang ganti. Melangkah mendekati istrinya seraya memeluk tubuhnya dari belakang. "Aku nggak kuat, Sayang." Berbisik lembut di telinga istrinya.
"Mas.. apaan sih.. geli tau nggak." Amara menggosok-gosok daun telinganya yang terganggu karena ulah suaminya.
"Raja akan memangsa Ratu malam ini." Bisiknya lagi.
"Eh, mana ada seperti itu. Barusan juga sudah janji. Kamu sendiri yang bilang, kalau kamu memintaku untuk menggaris bawahi kata hanya menemani. Belum aja satu jam, Mas." Sedikit mendongak menatap suaminya.
"Mmm..." Bian pura-pura berpikir. "Kamu tau nggak, Sayang.." masih melingkarkan tangannya di pinggang Amara.
"Tau apaan?" Timpal Amara ketus.
Tersenyum jahil. "Seorang istri itu wajib taat pada suaminya."
"Mm.."
"Oleh sebab itu..." memberikan satu ciuman di pipi istrinya.
"Cepetan ngomongnya, Mas. Aku udah ngantuk nih.."
"Kamu harus jadi istri yang berbakti dong, Sayang." Kembali mencium pipi istrinya.
Amara mengernyit seraya membalik tubuhnya. Mendongak menatap suaminya. "Aku kurang bakti apa coba sama kamu, Mas?" Mengelus-elus pipi suaminya dengan lembut.
"Kamu memang sudah berbakti, Sayang. Tapi, akan semakin baik kalau kamu lebih berbakti lagi malam ini." Mempererat pelukannya di pinggang istrinya.
Amara mengernyit. Mencoba mencerna maksud ucapan suaminya. Dia menarik sudut bibirnya setelah dia mengerti. Harus bisa membalas akal bulus suaminya. "Oh, gitu ya, Mas." Mengangguk-angguk seolah-olah mengerti maksud ucapan suaminya.
"Istriku memang cerdas." Tersenyum sumringah seraya mencubit pelan pipi istrinya.
"Oke... kalau begitu.. kamu keluar duluan ya, Mas. Aku mau mempersiapkan diri untuk menjadi istri yang berbakti malam ini."
__ADS_1
Bian tersenyum lebar. Melepaskan pelukannya perlahan. "Aku tunggu kamu di atas ranjang." Menaikkan sebelah alisnya seraya berjalan mundur.
Amara mengacungkan jari jempolnya dengan semangat. Namun, begitu Bian hilang dari pandangan, ia langsung melengos. "Dasar, katanya aja sok manis. Gayanya selangit bilang 'hanya menemani'. Taunya imannya tidak lebih dari seujung kuku. Baru di goda pakai pakaian seperti ini saja, langsung keluar dalil. Hah, untungnya kamu pintar berdalil, Mas." Menggeleng-geleng pelan sambil melihat penampilannya di depan cermin.
"Jangan kira cuman kamu yang pandai berdalil, Mas. Kamu pandai berdalil, aku pintar memutar balikkan keadaan." Tertawa kecil membayangkan ekspresi Bian saat melihatnya keluar nanti. Mengambil kembali dress yang sudah di letakkannya di dalam keranjang tadi. Membuka lingerie merah menyala, menggantinya dengan dress itu. Tidak lupa memakai jilbab instan untuk melengkapi penampilannya.
Setelah merasa semua sempurna, Amara keluar dari ruang ganti dengan senyuman yang sangat manis. Pura-pura cuek pada Bian yang sedang sibuk dengan handphonenya. Langsung merebahkan tubuhnya dengan posisi membelakangi suaminya. Menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya.
"Sayang, kamu sudah selesai bersiap?" Bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari benda gepeng selingkuhannya.
"Mm.." gumam Amara. "Udah ah, aku mau tidur." Menahan senyum menunggu reaksi suaminya.
Bian langsung meletakkan handphonenya. Ikut merebahkan tubuhnya. Memeluk tubuh istrinya yang sudah tertutup selimut. "Kamu benar-benar mau tidur, Ra?" Menarik pelan jilbab Amara.
"Iya iyalah, Mas. Masa aku harus ikut begadang menyelesaikan pekerjaan kamu." Semakin mempererat selimut yang membalut tubuhnya.
"Katanya mau menjadi istri yang lebih berbakti lagi malam ini."
"Jangan merayu lagi, Mas. Aku sudah menuruti semua keinginanmu. Ganti baju sudah. Mau kamu apalagi sekarang.
Amara ingin tertawa, namun ia menahan sekuat tenaga agar tawanya tidak meledak. "Kan kamu sendiri yang memintaku untuk berganti pakaian tadi. Iya.. aku ganti lagi yang penting mendapatkan ridho dari kamu walaupun akunya tidak nyaman sekalipun. Aku kan sudah bilang, kalau aku mau menjadi istri yang berbakti. Kalau aku nggak ganti baju, itu berarti aku tidak mematuhi perintah suamiku tercinta."
Bian menatap istrinya dengan ekspresi aneh. Entah apa yang ada di pikiran istrinya itu sehingga itu yang ditangkapnya dari sekian banyak kalimat yang dilontarkannya tadi. Menghela nafas berat seraya menutup kembali selimut yang membalut tubuh istrinya. "Iya udah, istirahatlah kalau begitu." Ucapnya, memeluk kembali tubuh istrinya dari balik selimut.
***********
Sejak kejadian malam itu, Bian tidak pernah lagi mengeluarkan dalil untuk istrinya. Dia juga puasa pompa bensin karena tidak enak untuk meminta hal itu pada Amara. Apalagi Amara semakin sering muntah akhir-akhir ini. Sebenarnya, ia terlalu sibuk menyelesaikan pekerjaan yang terbengkalai. Itu lah mengapa ia kebanyakan menghabiskan waktu di ruang kerjanya.
Pagi itu, Amara memaksakan diri untuk melayani suaminya di dapur. Bian sudah terbiasa bergantung padanya, karena pria itu tidak pernah lagi mengurus kebutuhannya sendiri. Apapun yang kurang, pasti Amara yang ditanya.
"Kamu istirahat saja, Ra. Aku bisa kok mempersiapkan semuanya sendiri." Menatap istrinya dengan prihatin. Mengambil alih setangkup roti tawar yang sudah dikasih selai oleh istrinya.
Baru akan menimpali, perhatian Amara dialihkan dengan ketukan di pintu depan. Bian menahan tangan istrinya yang sudah bersiap berbalik untuk membuka pintu. "Kamu jangan kemana-mana, Ra. Biar Bi Sumi atau Ida yang membukakan pintu. Kamu duduk saja, temani aku sarapan."
Amara langsung duduk tanpa melakukan banyak protes. Kondisi badannya yang lemas karena kebanyakan muntah, tidak memungkinkan untuk mengajak suaminya berdebat lagi.
__ADS_1
"Tuan, ada Tuan Daniel di depan. Dia menunggu Tuan di ruang tamu." Sumi mendekati pasangan suami istri itu dengan sedikit sungkan.
"Aku akan menemuinya setelah selesai sarapan." Jawab Bian tenang.
"Kenapa tidak di ajak kemari saja, Bik? Siapa tau Pak Daniel belum sarapan." Amara melirik Sumi yang masih berdiri di dekat pintu.
"Nggak usah memberi perhatian padanya, Ra. Kak Daniel itu punya istri. Istrinya pasti sudah memberinya bekal atau kalau tidak dia sudah sarapan di rumahnya."
Amara mengernyit. "Itu kan kalimat basa-basi, Mas. Iya.. kalau dia belum sarapan, ya alhamdulillah. Tapi, kalau sudah juga nggak apa-apa. Yang penting kita sudah menawarkan."
Bian melengos. "Kamu terlalu baik, Ra. Lagian dia juga tidak melihat kita sedang sarapan kan? Tetap saja aku nggak suka kamu memberikan perhatian yang lebih pada orang lain. Perhatian dalam jenis apapun itu, hanya boleh diberikan kepadaku. Laki-laki yang memilikimu lahir dan batin." Kembali menyuapkan setangkup roti ke mulutnya.
Amara hanya menghela nafas berat. Suaminya ini benar-benar keterlaluan posesifnya. "Terserah kamu dah, Mas." Duduk menopang dagu memperhatikan suaminya. Untungnya dia memiliki suami yang tampan dan mapan. Andaikan wajah Bian pas-pasan dan memiliki ekonomi yang pas-pasan pula. Dia pasti sudah membacok suaminya itu, kalau bersiap tidak wajar seperti itu.
Usai sarapan, Bian langsung menemui Daniel. Asistennya itu terlihat sedang sibuk bicara dengan seseorang via telepon.
"Baik, Tuan. Saya akan langsung menyampaikan pesan Tuan kepada Tuan Muda." Daniel memasukkan handphonenya setelah pembicaraannya selesai. Beralih menatap Bian yang sudah duduk di sofa di sebelahnya.
"Ada apa Kak Daniel mencari ku pagi-pagi? Kenapa tidak menungguku di kantor saja?"
"Tuan Besar yang meminta saya untuk menemui Tuan. Kita diperintahkan untuk ke luar kota hari ini, Tuan."
"Apa..?!" Bian terkejut bukan main. Sejak Amara hamil, dia tidak pernah mau lagi ke luar kota. Dia khawatir terjadi apa-apa pada istrinya saat dirinya sedang tidak ada di rumah.
"Tuan harus meninjau sebidang tanah yang sudah dipersiapkan sebagai tempat pabrik cabang, Tuan."
"Apa Kak Daniel tidak bisa pergi sendiri saja? Istriku masih ngidam. Dia masih sering muntah-muntah." Jawab Bian spontan. Benar-benar tidak menyangka kalau kakeknya akan memberikan tugas seperti itu padanya.
"Ini perintah Tuan Besar."
Bian akhirnya hanya bisa menarik nafas panjang. Keputusan kakeknya itu benar-benar sulit di tentang. Namun, yang menjadi beban pikirannya saat ini. Dia sudah libur beberapa hari terakhir ini minta jatah pada istrinya. Sekarang kakeknya malah memintanya. Apakah pikirannya akan baik-baik saja di luar kota nantinya.
Sepertinya, dia harus minta jatah pagi ini sebagai bekal beberapa hari ke depan.
***********
__ADS_1