Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Tempat Asing


__ADS_3

Di sebuah Rumah Sakit di Singapura..


Tepatnya di Rumah Sakit Mount Elizabeth.


Amara membuka matanya. Tatapan matanya berputar-putar. Gadis itu tidak bisa bergerak banyak. Ia hanya bisa menatap tangannya yang tertancap jarum infus. Mencoba mengangkat kepalanya yang terasa berat. Air mata tiba-tiba mengalir di pipinya. Perutnya terasa melilit dan perih. Kejadian terakhir yang menimpanya masih terekam jelas di memori otaknya.


"Ya Allah.. dimana ini..?" Amara bergumam sendiri. Ingatannya kembali pada kejadian terakhir yang menimpanya. Tubuhnya bergetar saat mengingat kejadian itu. "Bu Fatimah.." bergumam lirih hampir tak terdengar. Ia menatap sekeliling tempatnya sekarang. Tidak ada orang sama sekali. Hanya dirinya yang terbaring lemah di tempat itu. Matanya tidak sengaja menatap tasnya yang tergeletak di atas meja. Ia mencoba bangkit untuk mengambilnya. Tetapi keadaannya benar-benar lemah.


Amara memejamkan kembali matanya. Perasaannya benar-benar hancur saat ini. Dia bahkan tidak tau dimana dirinya saat ini. Gadis itu hanya bisa pasrah, menyerahkan keadaan ini pada yang memiliki kehidupannya.


Sekitar setengah jam memejamkan matanya. Amara membuka matanya saat mendengar derap langkah kaki mendekat. Ia menutup kembali matanya untuk pura-pura tidur. Saat ada suara mendekat, Amara memasang telinga baik-baik. Namun, dari tiga orang yang bercakap-cakap tidak ada yang Amara kenal suaranya.


Gadis itu akhirnya membuka matanya. Ternyata hanya ada seorang Dokter dan dua orang perawat yang masuk ke ruang perawatannya.


"Oh, ternyata anda sudah sadar, Nona?" Seorang perawat wanita tersenyum ramah pada Amara. "Saya adalah perawat yang akan merawat Nona selama Nona masih sakit. Saya yang ditugaskan untuk...."


"Saya dimana, Mbak?" Amara berucap lemah memotong ucapan wanita itu.


"Mm.." wanita itu langsung menatap Amara. "Kenapa anda menanyakan itu, Nona? Seharusnya anda tau dimana anda berada sekarang?"


Amara kembali terdiam. Matanya kembali menatap sekeliling tempat itu walaupun pandangannya buram dan berputar-putar.


"Nona makanlah dulu. Nona butuh asupan makanan. Sudah dua hari Nona tidak membuka mata."


"Saya pusing, Mbak." Ucap Amara datar. Gadis itu memijit pelipisnya yang berdenyut hebat.


"Nona makanlah dulu, baru setelah itu minum obat. Dari hasil pemeriksaan, Nona overdosis obat penenang."


"Hah..?!" Amara terkejut bukan main. "O.. obat penenang, Mbak?" Bertanya untuk lebih yakin dengan apa yang di dengarnya.

__ADS_1


"Iya. Itulah mengapa sekarang Nona harus makan dulu." Perawat itu mengambil menu makanan yang sudah disiapkan untuk Amara. Hanya bisa menggeleng-geleng pelan dengan kondisi yang dualami gadis di depannya. Gadis cantik yang mengkonsumsi obat penenang. Apakah kehidupan yang dijalaninya tidak secantik wajahnya. Begitu pikirnya dalam hati.


Amara kembali terdiam. Pikirannya jadi campur aduk. Di saat kondisinya seperti ini, seharusnya dia istirahat dan tidak memikirkan apapun agar kondisinya cepat pulih. Hanya matanya yang melirik beberapa kali pada perawat yang sedang sibuk memotong makanan di depannya.


"Nona makan dulu ya. Setelah Nona makan, saya harus kembali ke Apartemen saya sebentar. Saya mau mengantarkan makanan untuk anak saya. Tapi Nona tidak usah khawatir. Saya hanya pulang sebentar. Setelah itu saya akan kembali untuk menemani Nona lagi."


Amara menautkan alisnya menatap perawat itu. Mengapa orang asing itu sangat khawatir meninggalkannya. "Anda pulang saja sekarang. Saya tidak akan kemana-mana."


"B.. bukan begitu, Nona. Tapi, saya takut kalau Nyonya Fatimah menganggap saya tidak menjaga Nona dengan baik."


"Bu Fatimah..?"


"Iya, Nona. Wanita baik itu sudah membayar saya sangat mahal untuk menjaga Nona. Dia bilang, dirinya sangat sibuk sehingga tidak bisa menjaga Nona. Dia sampai mengeluarkan banyak uang untuk membawa Nona berobat ke Rumah Sakit ini. Nasib Nona sangat malang. Kalau aku jadi Nona, aku tidak akan memaafkan pria yang telah menyakiti Nona itu."


"Maksud anda apa berkata begitu?" Amara menatap perawat itu dengan heran.


"Ah, maafkan saya, Nona. Bu Fatimah sudah menceritakan semuanya pada saya. Tapi, cerita itu membuat saya kasihan pada Nona. Wanita secantik Nona sampai harus dihancurkan segila ini sama pria." Perawat itu beranjak bangkit.


********


Malam itu...


Amara mencoba untuk bangkit karena keadaannya sudah lebih stabil. Pandangannya pun tidak berputar lagi. Setelah bicara panjang lebar dengan perawat yang menjaganya, gadis itu sadar kalau dirinya berada sangat jauh dari keluarganya. Perawat yang bernama Myta itu menceritakan banyak hal pada Amara. Namun, tidak sedikit pun Amara menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Semua butuh proses. Semua akan terbongkar dan keberatan pasti terungkap.


Setelah Myta tidur, Amara berjalan mendekati jendela ruang perawatannya. Tatapan matanya terlihat kosong. Gadis itu tersenyum getir pada dirinya sendiri. Seburuk apa dirinya di mata Bu Fatimah sehingga wanita itu membuangnya sampai sejauh ini. Air mata mengalir di pipi bersihnya. Tidak ada yang meminta air mata itu keluar, tetapi semakin lama berdiri di situ, air mata itu malah keluar semakin deras.


Bayangan keluarganya berkelebat di pikirannya. "Kak, nenekmu bertindak sampai sejauh ini padaku. Apakah aku perlu untuk berjuang lagi, agar kita bisa bersama. Ah," Amara mengusap air matanya. "Aku tidak punya siapa-siapa di tempat ini, Kak. Aku cuma punya Allah. Allah yang akan menjagaku di sini. Terimakasih karena mencintaiku dengan begitu sempurna. Tapi, aku tidak akan pernah lupa, tidak ada yang sempurna selain Allah. Dibalik kesempurnaan cinta yang Kak Bian berikan untukku. Ada saja yang membuatnya menjadi tidak sempurna." Amara menunduk menahan isaknya. Gadis itu benar-benar merasa hancur. Entah mengapa saat bayangan Bian muncul, air matanya semakin tidak terbendung.


"Nona Amara.." Myta tiba-tiba menepuk pundaknya. "Apa ada yang terasa sakit?" Memeperhatikan Amara yang menangis dalam diam. Wanita itu menguap lebar karena mengantuk. Menjadi perawat untuk Amara tentu saja membuatnya harus kurang istirahat. Bu Fatimah memintanya untuk memantau perkembangan Amara sejak mereka akan berangkat ke tempat ini. Namun, Myta tidak tahu menahu masalah obat tidur yang terus menerus dimasukkan ke tubuh Amara. Dia hanya seorang perawat yang mendapatkan upah lebih dari cukup dari Bu Fatimah.

__ADS_1


"T.. tidak," Amara menjawab tanpa mengangkat kepalanya.


Myta masih menatap Amara. Jawaban gadis itu terdengar meragukan. "Kalau begitu Nona istirahatlah. Nona butuh banyak istirahat agar cepat pulih."


Amara tersenyum kaku menanggapi. "Aku... aku hanya ingin pulang, Mbak. Tempat ini terasa sangat asing bagiku."


Myta tersenyum seraya menghela nafas berat. "Kita akan pulang setelah Nona Amara benar-benar pulih. Tidak ada orang yang suka tinggal di Rumah Sakit. Tapi, Nona harus tahan selama beberapa hari saja. Saya sudah mempersiapkan Apartemen yang akan ditempati Nona setelah kembali dari Rumah Sakit ini."


Amara memejamkan matanya. "Aku ingin pulang ke rumahku, Mbak. Aku nggak mau tinggal di Apartemen atau apa."


Myta terdiam menatap Amara. Tatapan matanya berubah sendu karena kasihan pada wanita itu. "Nona harus sembuh total. Selama ada trauma, Nona tidak boleh kembali ke rumah Nona. Mendatangi kembali tempat yang menyisakan luka hanya akan menimbulkan rasa sakit." Ucap Myta menjelaskan. Yang dia tau, Amara berada di tempat ini karena trauma yang membuatnya sampai overdosis pada obat-obatan tertentu.


"Heh," Amara tersenyum getir seraya berjalan kembali ke bed-nya. Terlalu awal kalau mengatakan semuanya pada Myta. Lambat laun, wanita yang menemaninya saat ini pasti tau apa yang terjadi sebenarnya. "Mbak Myta istirahat saja. Aku hanya ingin..."


"Saya akan istirahat kalau Nona juga istirahat." Ucap Myta memotong ucapan Amara.


"Sepertinya aku terlalu banyak tidur dari kemarin, sehingga mataku sulit terpejam saat ini. Untungnya aku masih bisa membuka mata lagi dan tidak tidur untuk selama-lamanya."


"Ah, kenapa Nona ngomong begitu?" Myta tersenyum meringis menatap Amara.


"Nggak ada apa-apa. Silahkan Mbak Myta lanjutkan istirahat. Jangan hiraukan aku. Aku akan tidur kalau aku sudah ngantuk nanti."


Myta kembali menatap Amara dengan prihatin. Ia semakin merasa kasihan pada gadis itu. Berada di posisi Amara pasti sangat menyesakkan.


Amara sengaja merebahkan tubuhnya. Memejamkan matanya agar Myta bisa istirahat. Selama dia membuka mata, wanita itu pasti akan terus mengawasinya.


********


Assalamu'alaikum teman-teman. Sebelumnya Othot minta maaf nih karena semalam update part-nya tidak maksimal. Tapi, alhamdulillah tadi pagi Othornya ada waktu senggang sehingga berhasil merevisi Bab sebelumnya. Teman-teman bisa baca ulang biar kesannya dapat.

__ADS_1


Love u all sekebon... 😘😘🙏🙏🙏


Wassalam..


__ADS_2