Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Pertimbangan


__ADS_3

"Hmm... m.. maksud Kakak?" Bian menelan ludahnya seraya memperbaiki posisi duduknya kembali.


"Jangan terlalu lama membiarkan hubungan yang tidak halal berjalan. Segera halalkan biar Allah ridho, Dek."


"Aku akan menikah setelah studiku selesai, Kak. Itu adalah janjiku pada Papa." Amara menimpali dengan kepala tertunduk. Bian hanya menatap wanita itu, tidak berani berkomentar.


Chayra beralih menatap ibunya setelah mendengar jawaban Amara. Kamu akan wisuda tahun depan. Setelah wisuda, kamu akan melanjutkan studi untuak mendapatkan profesi kamu. Itu berarti kalian akan menunda sampai tiga tahunan." Chayra menautkan alisnya menunggu jawaban Amara dan Bian.


"Aku juga berpikir seperti itu, Kak." Bian menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari Amara. "Saat Rara selesai nanti, aku juga menargetkan akan selesai S2."


"Tidak usah terlalu terburu-buru, Nak. Ibu yakin, Amara juga pasti sudah menyusun rencana untuk masa depannya. Jangan sampai rencana mendadak kita membuatnya harus menghapus semau rencana yang sudah dia susun dari jauh-jauh hari."


Amara hanya tersenyum kaku mendengar ucapan Bu Santi. Sebenarnya, hatinya belum siap jika harus masuk ke keluarga Bian secepat ini. Mengingat ucapan Bu Santi beberapa waktu yang lalu, yang memintanya untuk memantaskan diri di depan Kakek dan Nenek Bian.


"Kalian pertimbangkan kembali usul Kakak kalian tadi. Sebenarnya, Ibu sangat mendukung permintaan Ayra. Tapi, jika kalian berdua belum siap, iya.. Ibu tidak bisa berbuat apa-apa. Ibu hanya berharap, semoga Allah menunjukkan jalan yang terbaik untuk kalian. Bu Santi tersenyum kepada Amara. " Kalian shalat istikharah ya.." mengusap-usap kepala Amara dengan lembut.


"Tunggu sebentar di sini, aku mau mengambil mukenah yang udah aku janjikan tadi." Chayra beranjak bangkit.


"Mukenah apa yang dijanjikan Kakak kamu, Nak?" Bu Santi mengangkat dagu Amara dengan jari telunjuknya.


"Eh," Amara mendongak menatap Bu Santi. "M.. mukenah travel s.. seperti yang dibawa Kak Ayra tadi, Bu."


"Hmm.. kenapa kamu nggak minta Bian membelikan kamu?"


"Hah.." Amara diam salah tingkah. "A.. aku.. aku.."


"Dia tidak memintanya pada Kak Ayra, Bu."


"Iya.. Bu. Kak Ayra yang menawarkan itu padaku tadi pas kami shalat maghrib bersama."


Bu Santi tersenyum. "Itu adalah hal sepele yang perlu perhatikan oleh laki-laki, Nak."


"Dia itu malas diajak belanja, Bu. Tadi aja aku suruh beli jaket, dia pakai acara menolak segala. Padahal dia itu nggak kuat dengan angin malam."


"Wanita seperti ini yang perlu dipertahankan, Nak. Tidak doyan shoping, tapi lebih suka menyimpan uang." Bu Santi kembali menatap Amara. "Mau ikut ke rumah Ibu, atau mau diantar kembali ke kost? Ibu tau kamu tidak akan nyaman kalau Ummi dan Abi ada di rumah kami. Tapi, lain kali kamu harus datang ke rumah."


Amara memeluk tubuh Bu Santi. "Ibu adalah wanita yang paling pengertian. Insya Allah, aku akan datang lain waktu."


"Kalau begitu, Ibu mau ikut mengantar kamu ke kost kamu. Ibu juga penasaran dengan tempat tinggal kamu yang sekarang. Kelihatannya kamu nyaman di tempat itu."


Amara melepaskan pelukannya lalu menatap Bu Santi dengan heran. "Ibu nggak usah repot-repot. Aku nggak mau merepotkan Ibu. Ibu sudah capek seharian bekerja."


"Ibu ke toko itu tidak bekerja, Nak. Ibu ke sana cuman melihat-lihat karyawan saja. Ibu sudah mempercayakan seseorang untuk mengelola toko itu."

__ADS_1


"Tapi...."


"Udah, nggak apa-apa."


"Huh," Bian tiba-tiba mendengus.


"Ada apa, Bi?" Bu Santi beralih menatap putranya.


"Heh, giliran dibawakan calon mantu, Ibu cuek sama anak sendiri. Dari tadi yang dipeluk, yang dielus-elus, yang dicium cuma Rara."


Bu Santi dan Amara saling pandang sambil tersenyum. "Kak Bian cemburu ya... gkgkgk..." sengaja memeluk kembali tubuh Bu Santi.


"Siapa yang nggak cemburu coba? Yang punya Ibu, aku. Yang dipeluk, kok kamu."


"Sudah, kenapa meributkan hal itu."


"Ra, kamu beneran mau pulang ke kost kamu?" Bian beralih menatap Amara untuk memastikan keputusan gadis itu.


"Iya, Kak. Aku nggak enak kalau harus mengganggu kebersamaan keluarga besar Kak Bian."


Bian menghela nafas berat. Tidak mungkin akan memaksa gadis itu untuk tinggal sementara dia tidak nyaman. "Terserah kamu saja, Ra." Beralih melirik jam tangannya. "Mm.. sepertinya kita harus berangkat ke kost sekarang, Ra. Kalau terlalu malam, takutnya nanti kita di palak lagi sama Satpam yang kemarin."


"Satpamnya udah dipermalukan sama Ibu Kost kemarin, Kak. Insya Allah, kejadian seperti itu tidak akan terulang kembali."


********


Bian menarik nafas panjang menatap Amara yang sudah masuk ke dalam kostnya. Yang membuatnya bingung, Ibunya ikut masuk ke area itu. Sebenarnya, ia berat untuk membawa Amara kembali secepat itu. Namun, dia tidak boleh mementingkan egonya sendiri. Kedatangan keluarga besarnya tentu saja membuat gadis itu tidak nyaman.


Sepuluh menit berlalu, tetapi Bu Santi belum ada tanda-tanda akan keluar. Bian mendengus, ibunya selalu saja lupa waktu kalau sudah merasa akrab dengan seseorang. Ia mengambil handphonenya untuk menghubungi Amara.


"Assalamu'alaikum, Ra.. Ibu nggak mau ikut pulang bersamaku?"


"Wa'alaikumsalam, Kak. Tunggu sebentar, aku sedang memijitnya. Kepala Ibu pusing, aku sedang memijit kepalanya biar lebih rileks." Masih memijit kepala Bu Santi, walaupun wanita itu sudah tidur. Pijitan Amara terasa sangat menenangkan sehingga membuatnya langsung tidur.


"Modus saja Ibu itu. Kalau bersamaku, nggak pernah tuh, minta dipijit atau apa. Kalau aku ajak ngobrol lebih lama, dia pasti kabur ke dalam kamarnya."


"Udah, nanti Kak Bian berdebat kalau udah pulang. Ibu sedang istirahat sebentar. Nanti aku bangunkan." Amara menjawab dengan santai.


"Astagfirullah.. Ibu tidur, Ra. Kenapa kamu membiarkannya tidur? Kamu kan tau kalau aku sendirian di luar." Bian hanya bisa berdecak. Tumben sekali ibunya bisa tidur di tempat baru. Padahal ibunya paling sulit beradaptasi di tempat baru. Apakah tempat Amara sangat nyaman, sehingga ibunya itu langsung nyaman.


"Ra, bisa kasih handphonenya ke Ibu nggak?"


"Eh, aku nggak enak membangunkannya sekarang, Kak. Tidurnya terlihat sangat pulas."

__ADS_1


"Huh, ya udah kalau begitu. Kamu jangan matikan sambungan teleponnya kalau begitu. Kamu harus tanggung jawab menemaniku sampai Ibu bangun."


"Ya ampun, Kak." Amara berkata dengan suara pelan.


"Aku kesepian, Rara.."


"Kan ada Pak Anton di sana. Kenapa Kak Bian nggak ngobrol sama dia?"


Bian melengos mendengar ucapan Amara. "Apaan Pak Anton. Orang menyebalkan kayak gitu. Dia nggak nyambung kalau ngomong sama aku, Ra. Dianya terlalu kaku."


Amara tergelak. "Kalau begitu, Kak Bian masuk ke Post Satpam."


"Malas keluar dari mobil, Ra. Di luar kayaknya sangat dingin. aku cuman pakai kaos berlengan pendek kayak gini."


"Bilang aja kalau Kak Bian mau ngobrol sama aku."


Bian menahan senyum. "Memang itu kenyataannya kok. Dari tadi kita tidak ada waktu untuk ngobrol berdua. Pas di Mall tadi kamu kebanyakan ngobrol sama Kak Ayra. Pas sampai rumah, kamu malah langsung di ambil alih oleh Ibu. Apa kamu tidak menyadari sesuatu, Ra.. Ra..?" Bian memperbaiki posisi duduknya. Kalau ada teman ngobrol seperti ini, walaupun hanya lewat handphone. Setidaknya dia tidak akan merasakan lelah dan kesalnya menunggu.


"M.. menyadari apa, Kak?" Amara merebahkan tubuhnya di atas sofa. Dia pindah ke ruang tamu karena takut mengganggu istirahat Bu Santi, karena wanita itu benar-benar tidur pulas.


"Rara.. kamu.. kamu benar-benar membuatku cemburu." Bian tersenyum sendiri. "Kamu sudah merebut hati Ibu dan Kak Ayra. Kehadiran kamu membuatku di sepelekan."


Amara kembali tergelak. "Hah, itu terjadi karena aku sudah lama tidak bertemu mereka, Kak. Seandainya Ibu melihatku setiap hari seperti Kak Bian, Ibu tidak akan terlihat berlebihan."


"Terserah kamu saja mau bilang apa." Menghela nafas berat. Diam beberapa saat, sedang memikirkan pembicaraan selanjutnya.


"Kak.."


"Rara.."


Amara dan Bian berkata serentak. Hal itu membuat mereka tersenyum.


"Kamu mau bilang apa tadi, Ra?"


"Mm.. aku lupa mau ngomong apa. Kak Bian tadi mau ngomong apa?" Amara balik bertanya.


Bian diam beberapa saat. Menarik nafas panjang beberapa kali. "Mm.. Ra, aku ingin mempertimbangkan ucapan Kak Ayra dan Ibu itu. Perkataan mereka itu ada benarnya. Untuk apa kita menunda niat baik, sedangkan kita sudah mendapatkan kecocokan satu sama lain."


Amara tersentak. Sejauh ini dia belum berpikir sampai sejauh itu. Dia hanya masih memikirkan perkataan Bu Santi beberapa waktu yang lalu. Dia harus memantaskan diri dulu sebelum ingin bersanding dengan Bian.


Status bukanlah menjadi masalah bagi Bu Santi. Tapi, hal itu menjadi maslaah bagi Neneknya Bian. Jika tidak memiliki harta yang banyak, setidaknya Amara sudah memiliki pendidikan yang tinggi, yang akan ditunjukkannya pada Bu Fatimah nantinya.


*********

__ADS_1


__ADS_2