Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Fakta di Balik Berita


__ADS_3

Bian benar-benar memangsa istrinya pagi itu. Amara hanya bisa menghela nafas berat setelah suaminya terkapar di sampingnya. Jika sedang memejamkan mata seperti itu, Bian terlihat sangat tenang. Seperti tidak ada beban yang sedang ditanggungnya.


Setelah lelah memperhatikan wajah suaminya, Amara ikut terlelap. Wanita itu juga capek setelah gawangnya terbobol untuk yang kesekian kalinya.


Baru akan melayang ke alam mimpi, Amara dikejutkan oleh ketukan di pintu, Kamar. Terdengar suara Sumi memanggil-manggilnya dan beberapa kali memanggil Bian. Hal itu membuat Amara terpaksa bangkit. Tangannya sudah terangkat untuk membangunkan suaminya. Namun, ia urungkan karena kasihan pada Bian. Suaminya tidak pernah ada waktu untuk istirahat seperti yang dilihatnya saat ini. Minggu-minggu sebelumnya, Bian selalu ada kesibukan dan jarang bisa bersantai seperti ini. Ia akhirnya hanya mengusap-usap wajah Bian. Memakai pakaiannya yang dibuka suaminya sebelum memberikan bekal tadi. Berjalan mendekati pintu untuk mencari tau apa yang terjadi, sehingga Sumi berulang kali memanggilnya.


"Maaf, Bik, aku ketiduran. Ada apa?" Amara membuka sedikit pintu kamarnya.


Sumi menggigit ujung jarinya. Beberapa kali melirik majikannya. Wanita paruh baya itu terlihat cemas.


Melihat ekspresi Sumi membuat Amara keluar dari kamar. Menutup kembali pintu kamar itu karena ada suaminya yang sedang istirahat di dalamnya. "Bik, ada apa? Bibi tidak mungkin memanggilku kalau tidak ada apa-apa." Menyentuh pelan pundak Sumi. "Katakan saja, Bik.." menatap asisten rumahnya itu dengan penuh keyakinan.


"Mm.. anu, Nyonya, ada.. ada Tuan Besar tadi. Beliau mencari Tuan dan Nyonya. Tapi, saat saya bilang Tuan dan Nyonya sedang istirahat, beliau ke Rumah Ibu. Tapi...." Sumi menggaruk-garuk kepalanya bingung.


"Lanjutkan, Bibi mau bilang apa?"


"Mm... sekarang.. ada Ibu di bawah menunggu Tuan dan Nyonya. Beliau meminta saya untuk membangunkan Tuan dan Nyonya." Sumi tersenyum meringis.


"Oh," Amara tertegun. "Mm.. aku akan membangunkan Mas Bian dulu. Bibi turun saja duluan. Bilang ke Ibu, kalau kami akan bersiap dan langsung ke rumahnya."


"Baik Nyonya." Sumi membungkukkan tubuhnya seraya berlalu dari hadapan Amara.


Amara langsung menarik nafas panjang setelah Sumi berlalu. Pak Akmal benar-benar sulit di tebak orangnya. Baru saja suaminya bercerita kalau kakeknya itu memintanya untuk menghadap ke rumahnya. Sekarang, dia sendiri yang sudah di sini mendatangi cucunya.


Amara akhirnya masuk kembali ke dalam kamar. Ia langsung ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Mendirikan empat rakaat shalat duha, sebelum akhirnya menghampiri suaminya yang masih terlelap.


Amara tersenyum kecil menatap prianya itu. Mengusap-usap pipi Bian dengan lembut. "Mas, bangun.."


"Mm..." gumam Bian dengan mata masih terpejam. Menahan tangan istrinya yang memberikan sentuhan lembut di pipinya.


Amara kembali tersenyum. Mendekatkan wajahnya lalu mencium pipi suaminya. "Mas.. ada Kakek di rumah Ibu. Dia mencari kita.."


"Hah..." Bian langsung bangun karena terkejut. "Jangan bercanda berlebihan, Sayang. Ya Allah.." mengusap wajahnya dengan kasar. Kepalanya sampai berdenyut karena terkejut. Menatap istrinya yang juga sedang menatapnya.

__ADS_1


"Aku nggak bercanda, Mas. Bi Sumi yang bilang. Dia juga sampai terlihat sungkan gitu tadi pas aku buka pintu. Mungkin karen dia berulang kali mengetuk pintu, tapi akunya lama membuka karena hampir ikut terlelap bersama kamu.


Bian menghela nafas berat. "Aduh, kepalaku malah pusing gini lagi." Memijit pelipisnya yang masih berdenyut hebat.


"Maaf, Mas." Amara tersenyum meringis. "Sini, aku bantu pijitin biar enakan." Mendekat seraya menekan sedikit demi sedikit kepala suaminya. "Setelah ini kamu langsung mandi ya, Mas." Ucap Amara sambil terus memijit kepala suaminya.


"Mandiin aku ya, Ra. Kepalaku benar-benar pusing nih. Kamu sendiri yang bilang kalau kakek sudah menunggu kita. Kan nggak enak kalau kita di tunggu terlalu lama oleh orang tua."


"Eh, tapi ... kamu itu suka nyeleneh nantinya. Yang ada kakek malah semakin capek menunggu kita."


"Nggak untuk kali ini, Sayang. Aku yakin imanku kuat untuk bertahan. Aku udah bilang, kalau kepalaku pusing. Mungkin karena tidak terbiasa tidur jam segini." Bian beringsut ke pinggir ranjang. "Kita harus benar-benar gerak cepat. Sudah jam berapa sih?" Melirik ke arah jam dinding. Menelan ludahnya saat menyadari kalau waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. "Aku belum duha lagi.." kembali menatap istrinya. "Kok kamu nggak bangunin aku dari tadi, Sayang.."


"Sekarang juga bisa shalat kok, Mas. Kamu mandi aja dulu. Aku akan turun duluan dan bilang ke Kakek kalau kamu masih bersiap. Mandi sendiri ya. Aku mau siapkan pakaian ganti."


"Mm.. iya..." Bian mengangguk lemah. Berusaha turun dari ranjang walaupun kepalanya masih berdenyut. Dia tidak mungkin memaksa istrinya karena Amara juga terlihat tidak nyaman. Amara juga pasti terkejut karena kedatangan Pak Akmal yang secara tiba-tiba.


Usai mendirikan shalat, Bian melangkah pasti menuruni anak tangga rumahnya. Pria itu terlihat cukup tenang. Saat sampai bawah, ternyata ibu dan istrinya masih ngobrol santai di ruang keluarga.


"Itu Mas Bian, Bu." Amara menunjuk dengan ekor matanya ke arah Bian yang akan memasuki ruang keluarga.


"Nenek ikut juga, Bu.." Bian bertanya heran. Istrinya pasti tidak akan nyaman jika itu benar adanya.


"Untuk apa Ibu menyebutnya kalau memang orangnya tidak ada di rumah. Ayo," Bu Santi bangkit. Menarik tangan Amara agar menantunya itu ikut bangkit. "Ada kakak kamu yang menemaninya di rumah. Itulah mengapa Ibu enak hati berlama di rumah kalian." Tersenyum sambil menatap anak menantunya secara bergantian.


Sampai di rumah ibunya...


Bian langsung mendapatkan tatapan yang tajam dari kakeknya. Hal itu membuat Bian hanya bisa menghela nafas berat. Kakeknya pasti beranggapan kalau semua itu adalah kesalahannya.


"Kita bicara di dalam. Kamu terlalu menguras emosi Kakek dari kemarin. Telepon tak diangkat. Sombong sekali kamu sekarang. Sudah merasa menjadi orang besar, sehingga kamu semaunya seperti ini."


Bian tidak menjawab. Hanya bibirnya yang mengulas senyum tipis mendengar ucapan pedas kakeknya. Ia mengikuti langkah kakeknya menuju ruangan yang dulunya menjadi ruang kerja Almarhum Bapaknya.


Brak....!

__ADS_1


Langkah Bian langsung terhenti di depan pintu mendengar suara meja yang digebrak dengan sangat keras. Menarik nafas panjang sebelum melanjutkan langkahnya.


"Ini adalah kesalahan fatal yang kamu perbuat setelah sekian tahun Kakek mempercayakan Perusahaan padamu." Pak Akmal kembali melayangkan tatapan tajam pada cucu kesayangannya.


Bian masih diam. Dia akan mendengar apapun yang ingin diucapkan kakeknya sebelum melayangkan kata pembelaan.


"Mereka bahkan sampai mengancam akan menyebarkan berita itu pada rekan-rekan Kakek yang lain." Pak Akmal menjeda kalimatnya. Pria paruh baya itu agak kesulitan bernafas dengan normal.


"Katakan lagi apa yang ingin Kakek katakan." Bian berusaha tenang walaupun dalam hatinya sedikit gentar melihat amarah kakeknya.


"Sudah, itu saja. Kamu tinggal lakukan pembelaan sekarang. Kakek ingin mendengar masalah itu versi kamu, walaupun Daniel sudah menjelaskannya pada Kakek."


"Apa Kakek lebih mempercayai orang lain daripada cucu Kakek sendiri. Apa yang diceritakan Kak Daniel itulah yang akan Kakek dengarkan dariku."


"Daniel bilang, Khanza menghina Amara. Tapi dia tidak menjelaskan kalimat penghinaan itu pada Kakek. Kakek ingin mendengarkan kalimat itu dari kamu."


"Apa yang dikatakan wanita itu pada Kakek?" Tanya Bian datar. Menatap lurus ke depan tanpa sedikit pun melirik kakeknya.


Pak Akmal langsung menceritakan secara detail apapun yang dilaporkan orang tua Khanza padanya. Hampir tidak ada satu kata pun yang tertinggal. Pria itu menghela nafas berat setelah ceritanya berakhir. "Putrinya sampai nangis tersedu-sedu karena kalimat tidak sopan yang kamu tunjukkan padanya."


"Lalu apa yang Kakek inginkan sekarang? Apa Kakek lebih mempercayai perkataan orang lain daripada orang dekat Kakek? Kecuali Kakek lebih mempercayai akting wanita itu daripada Kak Daniel."


"Kakek membutuhkan kejelasan dari kamu, Bian. Dalam hal ini, Daniel hanya berstatus sebagai seorang saksi. Pelaku penghinaan itu adalah kamu atau mungkin Khanza." Menatap cucunya dengan tatapan meremehkan. Bian harus buka suara, agar masalah ini selesai sampai di sini."


"DIA MENGATAKAN ISTRIKU MURAHAN!" Bian meninggikan suaranya. "Aku.. aku.. sangat tidak terima hal itu." Berusaha menetralkan pikirannya yang mulai kacau karena mengingat hal itu. "Itu yang membuat darahku langsung mendidih. Sakit hatinya di masa lalu pada Amara ia sangkut pautkan dengan rencana kerjasama itu. Dia juga mengatakan istriku memakai susuk, sehingga bisa menaklukkan aku." Bian menelan ludahnya dengan susah payah. Menarik nafas panjang beberapa kali seraya mengusap wajahnya dengan kasar.


Pak Akmal terdiam. Pantas saja Daniel tidak mau menyebutkan kalimat itu tadi. Asisten cucunya itu hanya mengatakan ucapan Khanza sangat tidak pantas di ucapkan oleh seorang wanita berpendidikan seperti Khanza.


"Kakek sudah cukup lama berteman dengan orang tua Khanza."


"Aku tidak perduli berapa puluh tahun Kakek menjalin persahabatan dengannya. Lebih baik aku tidak bekerjasama dengannya. Atau mungkin.." Bian beralih menatap kakeknya. "Kakek memintaku untuk mengundurkan diri, karena aku tidak pantas lagi menjadi seorang pemimpin." Beranjak bangkit.


"Satu yang perlu Kakek ingat." Giliran Bian yang melayangkan tatapan tajam untuk Pak Akmal. "Istriku lebih berharga daripada jabatan itu." Melangkah dengan gontai dari ruangan itu tanpa ada niat untuk berbalik pada kakeknya.

__ADS_1


*******


__ADS_2