
"Terimakasih atas kerjasamanya, Pak. Semoga ke depannya kita selalu saling mendukung." Bian mengakhiri pertemuan pentingnya hari ini. Pria itu menarik nafas lega karena berhasil bekerjasama dengan Peternak ulat sutra dari kota C. Kesempatan ini sudah ia tunggu-tunggu sejak dulu. Namun, karena Amara hilang waktu itu, mereka harus menunda pertemuan yang harus menghadirkan kedua belah pihak.
"Mari, Pak. Saya pamit duluan." Peternak ulat sutra itu keluar terlebih dahulu dari dalam ruangan.
"Kita pulang sekarang, Kak." Bian bangkit dari duduknya. Membuka jas yang membalut tubuhnya karena merasa gerah.
"Mm... a.. apa Tuan tidak mau makan dulu?"
Bian menautkan alisnya. Tidak biasanya Daniel menawarkan makan setelah rapat. Biasanya pria itu malah ingin segera pulang setelah selesai rapat. "Apa Kak Daniel lapar?"
"Hah?!" Daniel menatap Bian dengan heran. "T.. tidak, Tuan. T.. tapi.. Tuan belum makan siang."
"Aku puasa, Kak. Ayo, kita pulang sekarang, biar aku bisa buka di rumah bersama Ibu."
"Apa Nyonya juga puasa?" Daniel kembali bertanya.
"Ibuku selalu puasa senin kamis." Jawab Bian. Melirik Daniel karena penasaran dengan perubahan sikap Daniel. Biasanya pria itu selalu menurut tanpa ada neko-neko. "Kak Daniel bereskan semua berkas itu. Aku tunggu di luar."
"Tuan tunggu di sini saja. Saya tidak akan lama." Daniel segera menyusun tumpukan kertas di atas meja.
"Kak Daniel... ada apa sih?! Biasanya Kak Daniel tidak pernah seperti ini." Bian akhirnya duduk kembali. Matanya masih terus memantau Daniel.
"T.. tidak ada apa-apa, Tuan. Saya hanya khawatir, kalau Tuan menunggu di luar. Cuaca masih lumayan panas walaupun sudah sore." Daniel kembali merapikan berkas.
"Hah, sudahlah. Aku tunggu di luar." Kembali bangkit dan langsung pergi tanpa menoleh pada Daniel. Hal itu membuat Daniel hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Sebentar lagi, bom emosi akan meledak.
Sampai di depan hotel, Bian memicingkan matanya mencoba memastikan apa yang dilihatnya. Setelah yakin dengan yang dilihatnya, Bian menggenggam erat tangannya menahan kesal. Bagaimana tidak kesal. Neneknya yang sudah lumpuh dan berjalan menggunakan kursi roda sedang duduk dikelilingi boleh para penjaga. Tanpa berpikir panjang, Bian langsung mendekat.
Brak..!
Bian menggebrak meja di depan neneknya. "Apa yang sedang nenek lakukan di sini?" Menatap wanita paruh baya itu dengan tatapan tajam.
__ADS_1
Bu Fatimah benar-benar terkejut melihat keberadaan Bian di tempat itu. Tangannya sampai gemetar karena tidak bisa mengendalikan diri. "N.. N.. Nenek s.. s.. sedang..." Bu Fatimah tergagap dan hampir tidak bisa bicara. Wanita itu memang agak sulit bicara sejak kecelakaan itu.
Bian menarik nafas dalam seraya memejamkan matanya. Ia harus bisa menahan emosinya. Membuka kembali matanya, menatap tajam neneknya. Duduk di samping kursi roda wanita itu. "Apa yang sedang Nenek lakukan di sini?" Bertanya tepat di depan wajah Bu Fatimah. Namun, kali ini suaranya lemah lembut agar tidak memancing perhatian orang yang lalu lalang.
Bibir Bu Fatimah gemetar. Tetapi, untuk bicara sepatah katapun tidak bisa keluar dari mulutnya. "Apa Nenek tidak sadar dengan keadaan Nenek yang sekarang? Seharusnya Nenek tidak usah keluar. Nenek cukup ibadah di rumah. Ingat pada Allah yang masih memberikan umur panjang pada Nenek sampai saat ini."
"Maaf, Tuan Muda. Nyonya Besar kemari karena mau memberikan gaji kami." Salah seorang penjaga mencoba menjelaskan pada Bian.
"Apa kalian tidak bisa datang ke rumah untuk mengambil gaji kalian?" Bian bangkit seraya menatap penjaga itu satu persatu. "Dimana hati nurani kalian sehingga tega mengajak nenekku bertemu di luar? Berapa gaji yang kalian terima untuk melakukan kejahatan?!"
"Tuan..!" Daniel berjalan cepat mendekati Bian. "Tuan, maafkan saya, Tuan." Menunduk hormat di hadapan tuannya.
"Heh, jadi ini alasan Kak Daniel mencegahku untuk langsung keluar tadi?" Bian tersenyum sinis tanpa mengalihkan pandangannya dari Bu Fatimah.
Daniel hanya menatap Bian lalu menunduk. Pria itu tidak mungkin ngelak karena perubahan sikapnya terlihat sangat kentara. "M.. maafkan saya, Tuan." Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutnya.
"Cek penerbangan ke kota A, Kak. Nenek harus segera kembali. Kalau bisa hari ini juga."
Daniel mengangkat wajahnya. "T.. tapi, Tuan. A.. apa tidak sebaiknya Nyonya Besar kembali bersama kita besok?"
"K.. kami sudah menerimanya, Tuan." Salah satu dari mereka menimpali.
Bian kembali menatap neneknya. Rasanya ingin sekali marah pada wanita di depannya. Namun, pesan ibunya yang memintanya untuk selalu menjaga sikap pada neneknya, selalu menjadi rem, sehingga dia bisa menahan diri. Menarik nafas dalam sebelum mulai bicara lagi. "Mulai sekarang aku akan memblokir semua alat pembayaran yang Nenek pegang. Aku akan selalu memberikan uang cash pada Nenek. Nenek sering menyalah gunakan uang."
"B.. B.. Bian.. j.. jangan.. l.. lakukan i.. i.. itu.."
"Aku akan melakukan itu, Nek. Selama ini Nenek terlalu diberi kabebasan, sehingga Nenek ngelunjak. Mulai sekarang, Nenek nggak usah memikirkan dunia lagi." Bian meraih kursi roda Bu Fatimah. Mendorongnya untuk membawa wanita itu pulang.
"Tuan, kami yang membawa Nyonya Besar kemari. Kami juga membawa mobil beliau."
"Kalian bawa mobil itu, antar ke rumah Ibuku. Kita bertemu nanti di sana."
__ADS_1
Semua hanya bisa mengangguk patuh. Ucapan Bian adalah perintah yang tidak boleh mereka tentang. Bagi mereka, Bian adalah sosok Pak Akmal versi muda.
*********
"Kita mau kemana setelah ini, Tuan?" Daniel bertanya setelah mereka mengantar Bu Fatimah pulang. Bian tidak menjelaskan arah tujuan mereka. Pria itu hanya meminta Daniel untuk mengantarnya.
"Aku mau ke rumah Rara, Kak. Ada yang perlu aku bicarakan dengan Papa Arif." Bian menyandarkan tubuhnya. Tatapan matanya terlihat kosong. Ekspresi wajahnya pasti berubah setiap kali menyebut nama Amara.
"Apa Tuan yakin kalau Nona Amara masih hidup?" Pertanyaan itu tiba-tiba terlontar dari mulut Daniel.
Bian tersentak kaget. "Apa yang Kak Daniel katakan?! Rara pasti masih hidup. Jangan coba-coba mengatakan hal bodoh itu lagi, Kak. Kalau Kak Daniel masih ngomong ngelantur, aku tidal akan segan-segan menyumbat mulut Kakak dengan kain." Bian membuang pandangannya setelah selesai bicara. Ia sedikit kesal mendengar Daniel mengatakan hal itu.
Daniel menelan ludahnya dengan susah payah. Ucapan tuannya ini terdengar sangat seram. "Maaf, Tuan. N.. Nona Amara pasti masih hidup."
"Hmm.." Bian hanya melirik lalu kembali menatap keluar. Mengingat Amara membuat perasaannya kembali tak karuan. Harapannya untuk menemukan gadis itu semakin pupus karena tak kunjung membuahkan hasil. Hampir satu tahun gadis itu menghilang dan belum ada tanda-tanda akan ditemukan.
Sisa perjalanan hanya diisi kesunyian. Daniel tidak berani mengucapkan apapun lagi. Takutnya dia salah ngomong dan membuat Bian marah lagi.
"Kita sudah sampai, Tuan."
"Ah, benarkah.." Bian menatap ke depan yang menampakkan rumah Amara. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis. Sudah beberapa bulan dia tidak berkunjung ke rumah itu karena terlalu sibuk. Menjadi pemimpin perusahaan membuatnya harus kerja totalitas dan memprioritaskan pekerjaannya.
"Kak Daniel mau ikut masuk?" Bian mengurungkan niatnya untuk membuka pintu dan bertanya terlebih dahulu pada Daniel.
"Saya akan tunggu di sini saja, Tuan. Atau nanti saya tunggu di teras rumah." Daniel segera keluar dari mobil untuk membukakan pintu untuk Bian.
"Seharusnya Kak Daniel tidak usah melakukan ini." Ucap Bian. Pria itu sedang sibuk melipat lengan kemejanya.
Daniel menanggapi dengan senyuman kaku. "Silahkan, Tuan. Mobil Pak Arif ada di rumah. Pintu rumahnya juga terbuka."
"Terimakasih, Kak." Bian beranjak keluar. Pria itu berdiri cukup lama sambil menatap rumah di depannya. Terlalu banyak kenangan indahnya bersama Amara di rumah itu.
__ADS_1
"Hah, bismillah.." Bian menarik nafas dalam sebelum menginjakkan kaki di teras rumah. Tiba-tiba dadanya terasa sesak saat menginjak teras rumah itu. "Rara..."
********