Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Kabar dari Orang-Orang Tersayang


__ADS_3

Bian menatap lama Amara. Mereka sedang di Bandara karena Bian akan pulang hari ini. Bian beberapa kali menghela nafas berat karena masih berat meninggalkan Amara. Namun, dia harus segera kembali ke tanah air karena neneknya kritis dan masuk di ruang ICU. Ini adalah kali ketiga Bu Fatimah masuk ke ruang ICU setelah kecelakaan itu.


"Titip salam untuk Ibu, Kak." Amara mendongak menatap Bian. "Untuk Kak Ayra, Kak Ardian, si Gembul dan juga Farel. Aku merindukan mereka semua." Amara mengusap air mata yang tiba-tiba mengalir di pipinya. Segera menundukkan kepalanya untuk menyembunyikannya dari Bian. Tetapi Bian sudah melihat hal itu.


"Hei.." Bian mengangkat dagu Amara. "Sudah, Sayang. Jangan nangis gini." Bian mengusap air mata Amara dengan ibu jarinya. "Aku akan datang untuk menjemput Kamu pulang. Jangan lupa buat surat pengunduran diri. Lakukan segera, jangan pakai acara nanti dulu."


Amara menyusut ingus yang keluar beriringan dengan air matanya. Menatap Bian dengan tatapan sendu. Sepersekian detik menatap pria itu sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya. "Iya, aku akan segera mengundurkan diri. Tapi, saat kembali nanti aku mau bekerja lagi, Kak." Kembali mendongak menatap Bian dengan tatapan penuh harap.


Bian menarik nafas dalam. "Sudah menjadi kewajiban kita untuk mengamalkan ilmu yang kita miliki. Aku tidak akan ingkar janji tentang masalah itu." Bian tersenyum lembut pada wanitanya itu. Amara ikut tersenyum. Masalah janji, Amara tidak pernah meragukan Bian. Pria itu selalu tepat janji dalam masalah apapun itu.


"Aku harus pergi sekarang, Ra."


Amara mengangguk lemah. Tidak mungkin lagi mencegah Bian pergi karena sudah satu minggu pria itu menemaninya. Bagaimana pun juga, Bian memiliki tanggung jawab yang besar di Perusahaannya. "Pergilah, Kak. Aku akan menunggu Kak Bian datang kembali untuk menjemput ku. Kalau Kak Bian tidak menjemput ku, aku tidak akan pulang."


"Huh, dasar kamu.." Bian mencubit gemas pipi Amara. Berulang kali berusaha untuk tidak menyentuh wanita itu. Namun, godaan dari Syaiton selalu saja berhasil melemahkan imannya.


_________


Setelah kembali ke Apartemen, Amara hanya menatap Myta yang sedang main dengan kedua anaknya. Gadis itu langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa ada niat untuk mengapa Myta. Hal itu membuat Myta menautkan alisnya heran, karena tidak biasanya Amara seperti itu. Gadis itu pasti menyapa kedua anaknya di setiap kali bertemu.


"Nona Amara..." mencoba menghentikan langkah Amara yang sudah sampai di depan kamarnya.


Amara hanya berbalik seraya tersenyum hambar menatap Myta. Masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat. Namun, baru saja merebahkan tubuhnya, ada panggilan masuk dari nomor yang tak dikenalnya. Amara terdiam cukup lama sebelum menjawab panggilan itu. Tetapi, panggilan itu berakhir begitu Amara menjawab. Ia akhirnya meletakkan benda gepeng itu dan mencoba memejamkan matanya.


Ting..!


Amara membuka kembali matanya. Mengambil benda gepeng yang menyala di sampingnya.

__ADS_1


Assalamu'alaikum, Dek. Ini Kak Ayra. Bagaimana kabar kamu. Tunggu Kakak di sana. Kakak akan datang menjemput kamu bersama Mas Ardian. Adzra dan Farel juga akan ikut karena Gembul sedang libur sekolah.


Kamu baik-baik saja kan, di sana. Maafkan perbuatan tidak terpuji Nenek, Dek. Kakak tau kamu orang baik dan pemaaf. Kalau Allah mempertemukan kita lagi, aku akan menunjukkan banyak hal padamu.


Bian sangat bersemangat saat menceritakan semuanya pada Kakak. Dia kembali menjadi Bian yang dulu. Kamu tidak tau, kalau dia jarang tersenyum sejak kamu hilang. Tapi, Kakak bersyukur karena dia bahagia sekarang. Bukan hanya dia yang bahagia. Kami sekeluarga juga ikut bahagia. Calon anggota baru keluarga kami telah ditemukan.


Semoga Allah melancarkan rencana pernikahan kalian sampai hari H. Jangan lupa hubungi Kakak kalau kamu ada waktu. Bukan hanya Bian yang merindukan kamu, Kakak juga rindu.


Amara tersenyum membaca beberapa pesan yang beruntun masuk ke handphonenya. Gadis itu termenung. Kenapa tiba-tiba dirinya merasa adalah orang yang paling egois. Baru merasa bersalah karena menyembunyikan keberadaannya dari orang-orang yang menyayanginya. Ia lupa, kalau Bu Santi dan Chayra adalah orang yang selalu membelanya di hadapan wanita yang telah membuangnya. Apakah dia harus mundur hanya karena satu orang yang tidak menyukainya?Sementara di sisi lain lebih banyak orang yang merindukan kehadirannya.


*********


"Amara Andini.. bangun, Sayang.." Ameena berteriak dengan kencang dari balik telepon. Wanita itu melakukan panggilan video pada Amara karena sudah cukup lama mereka tidak saling menghubungi.


"Apaan sih, Na.. berisik banget deh.." jawab Amara dengan mata terpejam.


"Di sana udah Subuh, di sini belum kok. Perbedaan waktunya satu jam." Masih dengan mata terpejam.


"Iya.. walaupun belum subuh, tapi lho bangun dong. Gue kan kangen sama lho, Mara. Apa lho nggak pernah tahajud sekarang? Bukannya waktu di kost dulu, lho adalah orang yang paling rajin shalat?"


Amara menahan senyum mendengar ocehan temannya. Ameena akan mengungkit masa lalu jika ada yang terlihat atau terdengar berbeda dari sebelumnya.


"Gue udah shalat tadi, Na. Tapi gue tidur lagi karena ngantuk. Semalam kurang tidur karena gue terlalu banyak beban pikiran." Amara menghela nafas berat. Menatap Ameena yang sedang menunggu kelanjutan kata-katanya. "Kak Bian udah menemukan gue, Na."


"What..?!" Ameena tersentak. Hampir satu bulan tidak menghubungi Amara, dia jadi ketinggalan berita ber- update tentang perkembangan hubungan sahabatnya itu dengan Bian. "Lho nggak pernah cerita ke gue, Mara." Menggaruk-garuk kepalanya kesal. "Kenapa coba merahasiakan berita sebesar itu dari gue?"


Amara melengos. "Siapa yang main rahasia-rahasiaan, Na? Kan lho sendiri yang terlalu sibuk ikut pelatihan. Gue aja baru sekarang diingat."

__ADS_1


Ameena tersenyum meringis. "Iya.. maaf untuk hal ini. Ini kan kewajiban kerja, Mara. Gue nggak bisa dong sibuk teleponan saat bekerja."


"Itu makanya. Jangan hanya menyalahkan gue karena nggak ada kabar. Yang terlalu sibuk, kan situnya."


"Iya.. iya.. gue ngaku salah." Ameena akhirnya mengaku salah karena memang dirinya yang salah. "Terus ceritain dong, gimana ceritanya Kak Bian bisa menemukan lho?" Ameena memperbaiki posisi duduknya.


"Huh, giliran yang beginian pasti maunya paling cepat. Gue nggak mau cerita sekarang. Nanti gue ceritain semuanya ke lho saat gue udah pulang."


"Aaa... lho menyebalkan deh. Nunggu lho pulang sampai kapan?" Ameena merenggut kesal. Cukup lama dia berhasil tutup mulut untuk tidak mengatakan apapun pada Bian. Sekarang, dia malah terkejut karena berita yang dibawa Amara.


Berbagai macam pertanyaan menari-nari di kepalanya. Siapa yang membocorkan semua ini, sehingga Bian bisa menemukan sahabatnya itu. "Siapa yang memberitahukan keberadaan lho, Mara?"


Amara tersenyum kecil. "Allah, Na. Kebetulan kami bertemu di Rumah Sakit kemarin."


"Rumah Sakit?"


"Iya. Waktu itu tangan Kak Bian terluka. Telapak tangannya tergores pecahan botol kaca karena menyelamatkan anak kecil yang hampir tertabrak mobil."


"Waah.. terdengar keren. Kak Bian memang selalu menjadi garda terdepan jika itu berhubungan dengan kebaikan. Huh, gue jadi heran. Dari mana Nenek lampir itu belajar ilmu kejahatan sehingga tega berbuat demikian sama lho."


Amara langsung memberikan tatapan tajam pada Ameena. "Jangan mulai. Setiap menghubungi gue, ujung-ujungnya pasti ngajak gue bahas Nyonya Besar itu. Gue udah ikhlas kok, Na. Ini memang sudah takdir yang digariskan Allah untuk gue."


"Gue tau lho udah ikhlas. Lho itu kan orang baik. Tapi, melupakan semua perbuatannya itu tidak akan mudah, atau bahkan tidak bisa sama sekali. Apalagi perbuatannya ini terdengar sangat keterlaluan. Gue sih pasti menyimpan dendam kalau gue berada di posisi lho. Gue bahkan tidak akan perduli dengan larangan keluarganya. Gue akan lapor polisi begitu gue sembuh." Ameena mengakhitmri ucapannya dengan tertawa kecil.


Amara melengos. "Itulah mengapa Allah tidak menguji lho dengan cobaan seperti ini."


"Hahaha... iya, karena gue nggak akan mampu. Gue bukan golongan orang yang lembut hatinya kayak lho. Walaupun dulu lho terlihat lebih tomboy dari gue. Tapi, itu semua hanya untuk menutupi penderitaan lho dari kekejaman ibu tiri. Lah, setelah lho dewasa sekarang, kentara deh sifat asli kita. Lho yang keibuan dan lemah lembut, sedangkan gue agak keras sedikit, tapi ada lembutnya juga."

__ADS_1


Amara tersenyum seraya menggeleng-geleng pelan. Kabar dari orang-orang yang menyayanginya membuat perasananya menjadi lebih tenang.


__ADS_2