Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Aqiqah Sekaligus Pemberian Nama


__ADS_3

"Kamu kenapa senyum-senyum seperti itu?" Pak Akmal menatap Bian sambil mengernyit. "Kamu harus punya banyak anak. Jangan seperti Kakek yang cuman punya dua anak. Saat Bapak kamu meninggal dulu, rasa penyesalan karena punya dua anak benar-benar terasa. Punya satu anak itu membuat kita akan terasa sepi di hari tua. Itulah mengapa Kakek minta kamu untuk punya banyak anak selagi bisa." Menepuk-nepuk pundak Bian. "Tapi, alhamdulillah.. sekarang hidup Kakek terasa rame lagi karena kelahiran cicit-cicit Kakek."


"Hmm..." Bian tidak bisa mengatakan apapun. Hanya tersenyum kaku pada kakeknya.


"Ayo kita masuk dulu. Kamu belum memberi tahu Kakek nama yang sudah kamu siapkan untuk anak kamu. Hmm... seharusnya anak kamu sudah di kasih nama dari jauh-jauh hari. Umur anak kamu hampir satu bulan, tapi belum memiliki nama."


"Keadaan, Kek. Kan Kakek yang punya kemauan untuk tidak asal memberi nama tanpa melibatkan adat keluarga. Aku sih mau bagaimana pun, oke oke aja."


"Nggak bisa kayak gitu juga, Nak. Ayo..." mendorong pelan punggung Bian agar melanjutkan langkahnya.


"Membicarakan hal itu kayaknya lebih nyaman di sini, Kek. Di sini sejuknya alami. Kalau di dalam sejuknya terhembus dari AC."


Pak Akmal menghentikan langkahnya. "Boleh juga, Nak. Panggilkan yang lain. Sekalian kita makan bersama. Kamu juga jemput Amara, biar dia tidak kesepian di dalam kamar sendirian."


Bian terdiam beberapa saat. Ia agak enggan untuk memanggil istrinya karena dia khawatir kalau Amara terlalu sering turun naik tangga. "Mm.. tadi Rara bilang mau istirahat, Kek. Lebih baik dia makan di kamar saja nanti." Beranjak bangkit seraya berlalu. Sebenarnya ia juga berniat untuk menjaga jarak antara istrinya dengan sang nenek. Dia hanya khawatir kalau neneknya tidak bisa menjaga ucapannya seperti yang pernah terjadi sebelumnya.


"Ah, kenapa dia harus tidur jam segini. Nggak baik tidur setelah shalat ashar, Nak. Apa kamu khawatir karena dia naik turun tangga?" Tebakan yang mengenai sasaran.


"Mm.. iya juga sih, Kek."


"Hah, kamu ini. Kamu kan bisa membopongnya biar dia tidak perlu jalan sendiri. Atau kalau perlu kamu pasangkan lift di rumah ini."


"Hah," Bian langsung melengos. "Kedengarannya kok sombong banget, Kek. Rumah aku cuman dua lantai. Luasnya juga tidak beberapa. Ngapain ngeluarin uang untuk hal yang tidak berguna seperti itu. Lebih baik di pakai bersedekah biar lebih bermanfaat."


"Wah, jawaban cucuku terdengar sangat bijak. Tapi, kamu tetap harus membawa istrimu turun. Mumpung semua anggota keluarga ada di sini. Kalau istri kamu tidak hadir, personil keluarga Akmal akan bolong."


"Tapi, Kek."


"Nggak ada kata tapi. Nanti Amara duduk di samping Kakek. Atau mungkin kita dudukkan dia antara engkau dan aku."


Bian menyebikkan bibirnya. "Kakek harus bisa menjamin, kalau Kakek bisa menjaganya dari Nenek. Kakek juga harus bisa mengerem Nenek, agar tidak menyakitinya nanti.'


"Insya Allah, itu tidak akan terjadi. Kamu ini kok berpikiran buruk sih, sama Nenek kamu."


"Bukannya begitu, Kek. Hanya belajar dari pengalaman saja. Itu tidak terjadi sekali dua kali kan?"


"Iya.. Kakek mengerti, Nak. Tapi, insya Allah, nenek kamu sudah lebih baik sekarang. Dia hanya berkumpul dengan ibu-ibu di pengajian. Alesha selalu mengomelinya kalau ada ucapannya yang salah." Pak Akmal menghela nafas berat. "Kakak ipar kamu yang satu itu selalu ngelawan kalau Nenek kamu marah. Mungkin itu yang membuatnya sadar. Sekarang, kalau dia mengomentari sesuatu, dia akan ngomel sendiri di dalam kamar."


"Hah, Nenek melampiaskan semuanya pada Kakek?"


"Hmm.." Pak Akmal melirik cucunya dengan kesal. "Mana ada kayak gitu. Memangnya wajah terhormatku cocok di jadikan pelampiasan? Nggak akan pernah..." menggeleng-geleng dengan angkuh.

__ADS_1


"Heh, sombongnya kambuh lagi." Bian kembali menyebikkan bibirnya seraya berlalu pergi. Tidak mau lagi melayani pembicaraan kakeknya yang mulai keluar dari kenormalan.


**********


Pagi itu...


Suasana di rumah Bian mulai di datangi para tamu undangan. Hari ini adalah hari aqiqah sekaligus pemberian nama untuk putrinya.


Tidak sedikit dari teman SMA mereka yang hadir dalam acara itu. Padahal hanya acara aqiqah. Tapi, pasangan itu seperti mengadakan acara pesta.


Bu Santi mengambil alih cucunya dari gendongan Amara saat teman-teman Amara berkerumunan mendekati menantunya. Wanita itu tersenyum melihat menantunya yang tersenyum bahagia karena kehadiran teman-temannya.


"Sayang..." Bian menyentuh pundak istrinya karena Amara terlihat benar-benar asyik bernostalgia dengan teman-temannya.


"Eh, iya, Mas."


"Cie... Kak Bian... nggak nyangka bakalan nikah dengan Amara."


Bian tersenyum kaku mendengar candaan salah satu teman Amara. "Alhamdulillah, wanita yang baik ini adalah takdirnya Bian." Merangkul pundak istrinya dengan bangga. Beralih menatap istrinya seraya memberikan senyuman lembut untuknya. "Kakek meminta kita untuk ke sana dulu. Acara aqiqahnya akan segera dimulai."


"Iya, Mas."


Sebelum acara aqiqah di mulai. Pak Akmal mempersilahkan Bian untuk mengumumkan nama putrinya. Setelah melakukan pembukaan singkat, Bian akhirnya mengumumkan nama putrinya.


"Namanya ..." Bian melirik ke arah istrinya sebelum menyebut nama yang sudah di sepakati dengan istrinya sejak bayi masih dalam kandungan.


Hening...


Semua orang yang berada di ruangan itu menunggu kelanjutan ucapan Bian. Sedangkan Amara mengangguk pasti pada suaminya, agar suaminya itu melanjutkan apa yang akan di ucapkan suaminya.


"Aku dan Amara sudah menyepakati nama yang akan kami sematkan pada putri pertama kami."


"Ih, Kak Bian lama.. sengaja ya menunda-nunda waktu, agar kami semakin penasaran." Suara Ameena yang cempreng memecah kesunyian. Semua pasang mata langsung menoleh ke arah gadis itu.


"Bukan begitu, Na." Bian menahan senyum. "Kamu aja tuh, yang melakukan protes. Yang lain anteng-anteng aja menunggu."


"Huh," Ameena hanya melengos seraya menahan senyum. Ingin rasanya ia menimpali lagi. Tapi, ia masih sadar kalau sedang banyak orang di tempat itu.


Bian masih menunggu jawaban Ameena. Tapi, sahabat istrinya itu tidak bicara lagi. Bian menarik nafas panjang, masih menatap ke arah Ameena. Gadis itu tidak tau apapun tentang keadaan Amara sebelum ini. Andaikan dia mengetahui. Entah, bagaimana reaksinya. Sepertinya, dia akan langsung pergi melabrak Khanza dan mencekik wanita itu seperti yang dilakukannya. Atau mungkin lebih dari itu.


Bian menarik nafas dalam untuk melanjutkan agendanya yang tertunda karena Ameena tadi. Nama putri kami.. Adreena Putri Bimara.."

__ADS_1


"Maknanya apa itu? Jangan asal kasih nama, kalau tidak punya makna yang indah." Suara Ameena kembali memecah kesunyian.


"Untuk arti namanya, cukup aku dan Amara yang tau. Kalau kalian penasaran, kalian bisa browsing sendiri. Aku tidak mau bicara terlalu panjang lebar."


"Harus dijelaskan.."


"Ameena.. acara intinya belum di mulai. Kalau aku terlalu banyak omong, nanti aku kena tabok Kakek." Bian menutup dengan salam lalu menyerahkan mikrofon pada pembawa acara. Bian mengajak istrinya untuk duduk karena Amara terlihat lelah. "Adreena biar aku yang gendong, Ra. Kamu duduk saja."


Amara menyerahkan putrinya pada Bian. Ia memang merasa lelah karena cukup lama berdiri.


Setelah acara Aqiqah selesai ...


Bian langsung meminta Amara untuk kembali ke rumah.


"Aku baik-baik saja, Mas. Jangan khawatir berlebihan."


"Kamu terlihat lelah, Sayang. Nanti biar aku yang menjelaskan pada teman-teman. Mereka pasti mengerti." Masih memaksa istrinya untuk masuk ke dalam rumah.


"Mara, Kak Bian.."


Bian dan Amara menghentikan langkahnya saat mendengar suara cempreng itu lagi. "Mas, ada Ameena. Kalau aku masuk, dia akan menanyakan banyak hal nanti."


"Mau kemana?" Menyentuh pelan pundak Amara. "Aku mau menanyakan banyak hal pada kamu, Mara. Lama nggak ada kabar, sekalinya ngasih kabar, kamunya udah meledak. Aku nggak di kasih informasi sama sekali loh. Apa kamu nggak merasa berdosa padaku karena menyembunyikan kelahiran anak kamu?" Menatap tajam pada temannya itu.


Amara menelan ludahnya. Menatap suaminya untuk meminta pendapat, apa yang akan dikatakannya pada temannya itu.


"Ceritanya panjang, Na. Kalau kamu mau di jelaskan semuanya, datanglah di lain waktu. Kamu juga belum menjenguk Amara kan?"


Ameena menarik sudut bibirnya. "Baiklah," memperbaiki hijabnya yang tidak berantakan. "Sikap kalian sedikit aneh. Aku rasa ada yang kalian sembunyikan dari diriku. Acara ini juga..." menjeda ucapannya seraya menatap ke arah sekeliling. "Kalian sangat telat mengadakannya. Kak Bian itu orang kaya. Nggak mungkin telat aqiqah karena menunggu ada dana kan?"


Amara menghela nafas berat. Menatap suaminya lalu beralih menatap Ameena. "Kamu ini kebiasaan deh, Na. Jangan memikirkan hal yang tidak-tidak. Apa ada yang terlihat ganjil dari hubunganku dengan Mas Bian. Apa kami terlihat kaku saat berkomunikasi?" Menatap mata Ameena untuk meyakinkan sahabatnya itu.


"Kamu jarang bermasalah dengan suami kamu. Tapi, masalahnya datang dari orang-orang yang tidak suka dengan pernikahan kalian."


Amara hanya diam karena tidak tau mau menjawab dengan kalimat apa. Ucapan Ameena adalah kenyataan yang tidak bisa dibantah.


***********


Assalamu'alaikum teman-teman. Maaf ya, Othornya telat update karena tidak bisa ngehalu dari kemarin. Ada tetangga yang meninggal dunia, sehingga dunia halu ditinggalkan sejenak.


Love you sekebon... 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2