Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Adzra rindu berat


__ADS_3

Bian termenung di ruang tamu rumah kakaknya. Duduk sendiri seperti itu membuatnya merasa kesepian. Biasanya akan ada gadis yang selalu membuat hari-harinya rame setelah menghadapi mata perkuliahan yang padat.


"Baru kerasa sekarang, Mara. Aku malas ke rumah ini sekarang gara-gara kamu nggak ada." Bian berucap lirih sambil menatap sekitar rumah yang sepi.


Bi Idah tiba-tiba datang menghampiri Bian dengan teh hangat di tangannya. "Rumah ini sepi pisan, Tuan. Sejak Neng Amara pergi, Bibi jadi kesepian. Biasanya dia selalu membuat lelucon yang membuat Bibi selalu tertawa."


Bian tersenyum lemah menatap wanita paruh baya itu. "Sama, Bi. Aku juga merasa kesepian. Aku sudah biasa mengganggu dia saat berkunjung kemari. Tapi, sekarang tidak ada yang bisa aku ganggu lagi."


"Hmm.. kita memang akan merasakan kehilangan setelah orangnya pergi, Tuan. Mungkin Tuan juga ada rasa sama Neng Amara. Makanya sekarang tampangnya jadi kusut begitu."


Biam terkesiap mendengar ucapan Bi Idah. "Eh, siapa bilang begitu, Bi? Bibi juga merasa kehilangan Amara. Kok, malah nuduh aku jatuh cinta sama dia." Bian menjawab gelagapan. Hal itu membuat Bi Idah menahan senyum. "Aduh, Tuan malah marah karena Bibi berkata begitu. Itu berarti, ucapan Bibi mengandung kebenaran."


"Nggak adalah, Bi. Aku merasa kehilangan karena kami sudah bersahabat. Maksud aku, aku dan Amara itu sudah menjadi sahabat gitu. Cinta, cinta.. cinta apaan. Bibi ini ada-ada aja deh." Bian membuang pandangannya karena melihat tampang Bi Idah yang sepertinya akan menggodanya lagi.


"Tuan Bian jangan gengsi. Jangan sampai Neng Amaranya di embat orang, baru Tuan menyesal kemudian."


"Nggak, Bi. Beneran aku nggak ada rasa sama dia. Bibi aja yang sok tau kayak orang nggak ada kerjaan yang lain." Bian melengos, kembali membuang pandangannya.


"Kalian sedang meributkan apaan sih?!" Chayra yang baru turun dari lantai dua ikut nimbrung karena mendengar perdebatan adik dan asisten rumahnya. Ia membuang nafas kasar setelah menurunkan Adzra dari gendongannya. "Ya Allah, kok kamu semakin berat aja, Nak. Mama sampai ngos-ngosan karena menggendong kamu."


"Bagaimana nggak ngos-ngosan, beban Kak Ayra double. Adzra udah gede, Kak. Nggak usah digendong apa. Sebentar lagi adiknya keluar." Bian meraih tubuh Adzra dan mendudukkan balita itu di atas pangkuannya.


"Uncle, Kak Mala ndk pelnah kemali lagi?" Adzra mendongak menatap Bian.


"Kak Maranya pergi school, Sayang. Kak Mara kan mau jadi perawat, biar bisa merawat Adzra kalau sakit nanti." Bian mencoba memberikan pengertian pada anak kecil itu.


"Adzla ndk mahu satit. Adzla mau main sama Kak Mala. Uncle, ayo cali Kak Mala.." Adzra menggoyang-goyang tubuh Bian. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.


"Kakak sudah mencoba menghubungi Amara, Dek. Tapi, Amara sedang mengikuti tes masuk Universitas," timpal Chayra. Dia sudah kehabisan akal untuk mengakali putranya. Sejak kepergian Amara satu minggu yang lalu, Adzra tidak henti-hentinya meminta kedua orang tuanya untuk mencari Amara. Bian juga tidak pernah menampakkan diri selama itu. Andaikan Chayra tidak menghubunginya pagi tadi, sepertinya pria itu tidak akan datang ke rumah kakaknya itu.


Bian menatap prihatin pada Adzra. Benar-benar kasihan melihat tampang Adzra. Anak itu terlihat menyedihkan gara-gara rindu pada Amara.


"Ini panas sekali, Sayang. Mm.. bagaimana kalau kita main ke rumah Kak Maranya nanti sore aja."


Adzra langsung menggeleng. "Ndk mahu... Adzla mau Kak Mala syekalang... hua..."

__ADS_1


Bian dan Chayra saling tatap. Chayra mengangkat bahu, menatap adiknya dengan lemah. "Kakak udah kehabisan akal, Dek. Kak Ardian juga masih rapat saat Kakak menghubunginya tadi."


Bian menarik nafas panjang. "Mm.. bagaimana kalau kita ke Kantor Papa Ardian dulu. Nanti setelah dari sana kita mencari Kak Mara. Soalnya, Kak Maranya sedang school sekarang. Kalau orang sedang school itu, kita nggak boleh ganggu."


Adzra diam mendengar penjelasan Bian. "Kita ke kantor Papa Ardian dulu, mau kan?" Bian menatap Adzra dengan penuh harap. Berharap anak itu segera menganggukkan kepalanya.


"Adzla mau beltemu Kak Mala, Uncle. Adzla mau main bulat-bulat dengan Kak Mala." Adzra berkata tanpa mengangkat kepalanya.


Bian kembali menarik nafas panjang. Kali ini dia harus meningkatkan kesabarannya menghadapi keponakannya yang teguh pendiriannya ini.


"Iya, kita akan menemui Kak Mara. Tapi, sebelum ke sana, kita ke kantor Papa Ardian dulu. Memangnya Adzra mau menunggu Kak Mara di pinggir jalan? Uncle kan udah bilang, kalau Kak Maranya masih school sekarang." Bian melirik jam tangannya. Waktu menunjukkan pukul sepuluh lewat dua puluh menit. Ia mengambil handphone di saku bajunya. Berniat mengirim chat pada Amara sebelum menemui gadis itu.


Assalamu'alaikum, Mara. Maaf mengganggu kamu. Kata Kak Ayra, kamu sedang mengikuti tes tulis masuk Universitas. Good luck ya..


Bian tersenyum saat status chatnya langsung centang dua. Senyumnya semakin mengembang saat centang dua berubah menjadi warna biru.


"Chat sama siapa kamu, Dek?" Chayra yang curiga melihat adiknya senyum-senyum tidak tahan untuk tidak bertanya.


Bian melirik Chayra sekilas lalu kembali menatap handphonenya. "Amara, Kak."


"Nggak tau. Pesan yang aku kirim sih, statusnya udah terbaca. Tapi, belum ada tanda-tanda akan dibalas sama dia."


"Mungkin dia masih sibuk." Chayra bangkit dengan tertatih. Hal itu membuat Bi Idah segera mendekat dan membantu Chayra berjalan. "Bibi bantu, Non."


Chayra tersenyum menatap Bi Idah. "Terimakasih, Bi," meraih tangan wanita itu dan berpegangan erat padanya. "Sepertinya waktunya sudah dekat, Non. Bibi lihat, Non Ayra semakin kewalahan beraktivitas."


"Nggak kok, Bi. Mungkin itu hanya pandangan Bibi saja karena melihat perut aku yang semakin membesar."


"Kapan Tuan cuti? Kasihan Non Ayra kalau harus menjaga Tuan Adzra sendirian. Malah Tuan Adzra rewel pisan, sejak Neng Amara pergi. Kalau Bibi kan nggak kuat menjadi pengasuh anak, Non. Yang ada Bibi cepat geregetan, Non."


"Kan ada aku, Bi." Bian menimpali sambil senyum-senyum, tetapi matanya tetap fokus pada benda gepeng di tangannya.


"Ih, Tuan Bian mana datang kalau tidak ditelepon dulu. Coba saat ada Neng Amara disini, nggak diundang pun datang sendiri." Bi Idah menyebikkan bibirnya. "Ayo Non, Bibi antar ke atas." Bi Idah memapah Chayra mendekati anak tangga.


Bian melongo mendengar ucapan Bi Idah. Ingin menimpali, tetapi mulutnya seperti terkunci.

__ADS_1


*********


"Uncle, Kak Mala mana?" Adzra terus menepuk-nepuk pipi Bian. Mereka sudah berada di depan gerbang Kampus tempat Amara sedang mengikuti tes.


"Tunggu sebentar, Sayang. Kak Maranya masih di dalam."


"Uncle telepon ayo, Adzla mau beltemu Kak Mala." Adzra beralih menggoyang-goyang tangan Bian.


Bian akhirnya menatap Adzra. Memasukkan handphonenya ke dalam saku bajunya. "Sabar, Sayang. Kalau Uncle meneleponnya sekarang, Kak Mara akan tau kalau kita datang. Kita kan mau kasih surprise.."


"Sulplise itu apa, Uncle?"


"Diam-diam, ssstt.. kita datang kemari tanpa sepengetahuan Kak Mara. Nanti kalau Kak Mara keluar, Adzra bilang surprise ya.."


"Mm.. mm.." Adzra mengangguk-angguk senang.


Baru saja selesai mengajarkan Adzra mengatakan surprise, Bian melihat Amara keluar dari gedung bersama Ameena. Bian cukup terkejut melihat Ameena juga ada di sana. Amara tidak pernah cerita sebelumnya kalau Ameena akan kuliah di tempat yang sama dengan dirinya.


"Kak Mala...! Sulplise...!" Adzra melambai-lambai ke arah Amara. Bian segera menutup mulut Adzra. "Adzra kan mau kasih surprise sama Kak Mara. Sstt.. nanti kalau Kak Mara udah di depan Adzra, baru Adzra bilang surprise."


"Itu kan Kak Mala udah kelual, Uncle. Kak Mala..! Sulpise..!" Adzra tidak mendengar ucapan Bian karena terlalu senang melihat Amara.


Amara celingukan mendengar suara yang tidak asing di telinganya. Mulutnya menganga lebar saat melihat Adzra yang melambai ke arahnya. Amara berlari mendekati Adzra, meninggalkan Ameena yang tertegun melihat pemandangan itu.


"Ya Allah, Adzra sayang. Kenapa nggak cerita dulu kalau kamu mau kemari?" Amara langsung mengambil alih Adzra dari gendongan Bian. Tidak sedikitpun dia menatap pria itu. Entah sengaja menghindar atau memang terlupakan karena terlalu kangen pada bocah gembul yang sedang digendongnya itu.


Bian menelan ludahnya mendapati Amara tidak menyapanya sama sekali. Ia malah berjalan menjauh sambil menggendong Adzra.


"Kak Mala napa pelgi lama.. Adzla lindu belat. Adzla ndk ada teman main. Kata Mama, Adzla ndk boyeh nangis, adek mau kelual dali pelut Mama.."


"Oh, ya Allah, Sayang.. Maafin Kak Mara ya. Kak Mara sibuk sekarang. Besok kalau Kak Mara ada waktu, Kak Mara akan main ke rumah Adzra." Amara tidak bisa menahan haru. Ia tidak henti-hentinya mencium pipi gembul Adzra.


"Om Bian juga ndk pelnah ke lumah kalena ndk ada Kak Mala." Adu Adzra lagi.


Eh, kok aku dilaporin juga? Bian mengernyit mendengar ucapan keponakannya.

__ADS_1


*********


__ADS_2