Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Proses yang Tidak Mudah


__ADS_3

"Nona Amara!"


Myta menarik bagian belakang baju Amara. Hal itu memaksa Amara untuk menghentikan langkahnya. "Ada apa, Mbak? Aku mau ke Rumah Sakit sebentar." Menatap Myta dengan tajam karena kesal.


"Kalau Nona nekat pergi, aku tidak akan memberikan paspor Nona."


Amara membuang nafasnya dengan kasar. "Masalahnya apa sih, untuk Mbak Myta?! Yang mau pergi aku, yang mau pulang aku, yang akan bertemu dengan Nyonya Fatimah juga aku. Kenapa malah Mbak Myta yang seperti orang kerasukan melarang aku berbuat ini dan itu?" Amara menghempaskan tangan Myta yang masih memegang bajunya.


"Aku akan dapat masalah kalau Nona sampai berhasil kembali."


Amara semakin tajam menatap Myta. "Itu adalah resiko yang harus Mbak Myta tanggung karena menyanggupi kerja sama dengan Nyonya Fatimah. Kak Bian akan datang sore ini. Jika..."


"Aku tidak akan membukakan pintu untuknya." Myta langsung memotong ucapan Amara.


Amara tersenyum sinis. "Lakukan saja. Mbak Myta punya hak untuk melakukan itu. Tapi, Mbak Myta juga perlu ingat satu hal." Amara mengacungkan jari telunjuknya di hadapan wajah Myta. "Apartemen ini di sewa atas nama Amara Andini. Yang bayar sewa juga Amara Andini. Mbak Myta hanya membayar tiga bulan pertama saja. Itu pun mungkin Nyonya Fatimah yang membayarkan uang sewanya. Mbak Myta kan nggak pernah mau mengeluarkan uang untuk membayar sewa. Seharusnya yang melakukan itu semua Mbak Myta. Karena Bagaimana pun juga, aku adalah korban kejahatan kalian." Tidak sedikitpun Amara mengalihkan pandangannya dari Myta.


"Nona jangan macam-macam! Hidup dan mati Nona ada di tanganku. Aku bisa melakukan apapun pada Nona Amara."


"Jangan mimpi, Mbak. Ada Tuhan yang menentukan hidup dan mati kita. Aku pamit, Assalamu'alaikum.." Amara melangkah keluar dengan pasti. Ia segera menghubungi Bian untuk memberitahunya ancaman Myta. Sebenarnya dia sedikit ragu untuk melaporkan perbuatan Myta. Tapi, dia harus melakukannya agar Myta tau batasannya.


Nafas Amara naik turun saan naik ke mobil yang dipesannya. Ia juga sedikit panik saat Bian tidak menjawab panggilannya. Ia akhirnya memilih untuk mengirim pesan singkat untuk pria itu. Jika dia mengirim pesan, Bian pasti membacanya walaupun nanti.


Assalamu'alaikum, Kak. Mbak Myta mengancam ku. Sepertinya Nyonya Besar sudah memberitahunya agar tidak memberikan pasporku. Dia juga melarang ku ke Rumah Sakit untuk mengurus izin. Tadi, aku sempat menimpali semua ucapannya saat dia mencegahku.


Amara menggigit ujung jarinya khawatir. Jangan sampai Bian sudah berangkat ke Kantor dan sibuk dengan pekerjaan. Pria itu sering lupa waktu kalau sudah mengurus pekerjaan. Beberapa kali menatap layar handphone dan menatap ke arah jalan untuk melihat sudah sampai mana perjalanannya menuju Rumah Sakit.


Ting...!


Amara menarik nafas lega saat melihat pesan balasan dari Bian.


Aku sedang di rumah Kakek. Aku nggak bisa menjawab telepon kamu karena takut mengganggu istirahat Kakek. Kak Daniel sedang berusaha mengambil handphone Nenek, agar aku bisa memantau apa saja aktivitasnya. Siang ini aku berangkat ke sana. Tadi Kak Daniel memergokinya sedang bicara dengan seseorang. Tapi, ada yang aneh katanya. Itulah mengapa


Jangan khawatir, Sayang. Insya Allah, kita selalu dalam lindungan-Nya.

__ADS_1


Amara tersenyum membaca pesan itu. "Alhamdulillah ya Allah.. semoga semuanya baik-baik saja." Memasukkan handphonenya ke dalam tas. Menghidupkan mode silent, agar dia tidak mendengar kalau sekiranya Myta menghubunginya. Dia sudah bertekad untuk diam di Rumah Sakit sampai Bian datang ke tempat itu.


**********


Amara berulang kali menatap ke arah pintu masuk ruang IGD. Ia berharap Bian datang menjemputnya. Waktu sudah masuk waktu maghrib, tetapi belum ada tanda-tanda pria itu akan datang. Padahal dia sudah memberitahu Bian keberadaannya.


Gadis itu terlihat khawatir. Myta masih duduk di Post Satpam menunggunya keluar. Hal itu membuatnya sampai pura-pura sakit dan memasang infus di tangannya. Kondisi tubuhnya memang terasa lemah. Saat dilakukan cek laboratorium, ternyata kandungan Hemoglobin dalam darahnya lebih rendah dari yang seharusnya. Pantas saja dia merasa sering lemas. Walaupun kondisinya terlihat baik-baik saja. Setidaknya, dengan melakukan cek laboratorium, dia mengetahui ada yang salah dalam tubuhnya.


"Amara, dimana Asisten kamu yang kemarin? Siapa yang akan menjaga kamu sekarang setelah aku pulang?" Salah satu teman perawat Amara bertanya sambil duduk di samping Amara.


"Kamu tidak usah mengkhawatirkan aku. Sebentar lagi akan ada orang yang datang. Tapi, orangnya masih di perjalanan. Kalau sudah waktunya pulang, kamu pulang saja."


"Tapi.. mm.. begini saja, Amara. Aku akan diam di sini menunggu sampai orang yang akan menjagamu datang kemari."


"Terimakasih, Cantik." Amara tersenyum kecil.


"Mm.." gadis berdarah Tiongkok itu ikut tersenyum. Matanya yang sipit terlihat menghilang saat dia tersenyum pada Amara.


Bian yang baru sampai kebingungan karena tidak ada orang di Apartemen yang ditempati Amara. Lampu Apartemen itu juga padam. Bian hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar, tidak tai apa yang akan dia lakukan sekarang.


"Bagaimana, Tuan?!" Daniel yang baru sampai ngos-ngosan karena Bian memintanya langsung baik ke lantai dua belas, tempat Amara tinggal.


"Nggak ada orang, Kak. Wanita itu tidak mungkin membawa Rara kabur kan? Hah, Ya Allah.. jangan sampai ada cobaan baru lagi. Aku benar-benar bingung saat ini." Mengusap wajahnya dengan kasar.


"Tuan tenang dulu." Ucap Daniel mencoba menenangkan Bian. Padahal dia sendiri sedang bingung. Namun, jika dia menampakkan itu pada Bian. Takutnya Bian malah putus asa dengan keadaan ini.


Daniel membalik tubuhnya membelakangi Bian. Pria itu sedang memutar otak mencari jalan keluar. Sejak Pak Akmal sakit, dia kehilangan banyak informasi tentang Amara. Pak Akmal menarik semua anak buahnya kembali untuk menjaga dirinya yang sedang sakit.


"Mm..." Daniel kembali berbalik setelah mendapatkan sedikit jalan keluar. "Apa Tuan sudah mengecek handphone Tuan? Siapa tau Nona Amara mengirim sedikit petunjuk lewat handphone itu."


Sepersekan detik Bian menatap Daniel. Ia menggeleng lemah setelah lelah menatap Daniel. Tangannya merogoh benda gepeng yang tersimpan di saku hoody yang dikenakannya. Dia belum mengaktifkan kembali benda gepeng itu setelah dimatikannya saat naik pesawat setelah shalat ashar tadi.


"Tuan tenang dulu. Kita berdoa saja semoga Nona Amara baik-baik saja."

__ADS_1


Bian hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari benda gepeng di tangannya. Walaupun benda gepeng itu masih dalam proses diaktifkan, tetapi Bian benar-benar fokus menatapnya.


"Kita menunggu di bawah saja, Kak. Mungkin Amara keluar untuk membeli sesuatu." Masih tidak menatap lawan bicaranya.


"Baik, Tuan." Daniel bergegas menunju lift diikuti Bian dibelakangnya.


Bian dan Daniel duduk di sebuah kursi panjang yang tersedia di Basement Apartemen itu.


"Apa Tuan yakin, Nona Amara akan melewati tempat ini?"


"Tunggu, Kak.." Bian mengangkat tangannya agar Daniel tidak menanyakan apapun lagi. Dia sendiri masih fokus mencari petunjuk di handphonenya. "Rara mengirim petunjuk sebelum kita naik pesawat, Kak." Bian menunjukkan layar handphonenya pada Daniel.


Aku menunggu Kak Bian di Rumah Sakit. Aku tidak bisa kemana-mana karena Mbak Myta terus mengikuti ku. Aku takut kalau dia sampai berbuat nekat. Kalau di Rumah Sakit, dia tidak akan bisa berbuat apa-apa.


Daniel menarik nafas lega. "Pantas saja, orangnya sedang bersembunyi di Rumah Sakit. Kita langsung ke sana, Tuan."


"Iya... aku tidak mau Rara menunggu terlalu lama."


"Tapi..." Daniel menatap Bian dengan ragu. "Bagaimana kalau Nona Amara sudah berpindah tempat? Sebaiknya Tuan menghubunginya terlebih dahulu."


"Handphonenya tidak aktif, Kak. Aku sudah mencoba menghubunginya beberapa kali. Kita ke Rumah Sakit saja dulu. Mudah-mudahan dia masih di sana sekarang."


"Baik, Tuan." Daniel langsung membukakan pintu mobil untuk Bian.


Setengah perjalanan, tidak ada percakapan sama sekali. Bian hanya fokus menatap handphonenya, sementara Daniel fokus menyetir.


"Apa ada petunjuk baru, Tuan?" Daniel melirik Bian, mencoba bertanya setelah cukup lama terdiam.


"Tidak ada apa-apa. Aku khawatir, sepertinya Rara mematikan handphonenya karena wanita itu." Bian melirik Daniel seraya menghela nafas berat.


"Tuan bersabarlah. Sebentar lagi kita akan sampai Rumah Sakit." Daniel membelok mobilnya memasuki kawasan Rumah Sakit Mount Elizabeth.


*********

__ADS_1


__ADS_2