
"Muntah-muntah lagi, Ra?" Bian mengernyit saat melihat istrinya sedang membungkuk di wastafel depan kamarnya. Mereka baru kembali ke rumah karena tidak ada lagi yang perlu di bahas dengan Pak Akmal.
"Mm..." Jawab Amara. Mengangkat wajahnya seraya mengelap mulutnya dengan tisu.
"Jadwal periksanya tanggal berapa?" Tanya Bian tanpa menatap istrinya. Pria itu memilih duduk di sofa dan mulai sibuk dengan benda gepeng di tangannya.
"Besok, Mas. Ibu sudah janjian dengan Dokter Spesialisnya. Itu yang kami bahas dari tadi." Timpal Amara seraya duduk di sofa mengikuti suaminya.
"Coba alatnya tidak dikalibrasi pas kita periksa kemarin, kita pasti tau adek-nya sudah umur berapa." Mengelus-elus perut istrinya lalu tersenyum lembut menatapnya.
Amara ikut tersenyum. "Sayang sih, tapi setidaknya kita tahu keadaan kandunganku."
"Mm... aku akan usahakan agar bisa menemani kamu besok. Ada pertemuan dengan investor lokal. Mudah-mudahan bisa cepat selesai."
Amara menautkan alisnya. "Kenapa harus ada investor, Mas? Apa Perusahaan kamu kekurangan modal?"
Bian tersenyum kecil. "Tidak seperti itu. Kakek memintaku untuk membuka Konveksi di samping Pabrik Tekstil. Jika kita punya Konveksi sendiri, kita tidak perlu lagi menunggu orang lain membeli benang dan kain hasil pabrik. Kita bisa langsung memproduksinya menjadi pakaian siap pakai."
"Oh," Amara manggut-manggut mendengar penjelasan suaminya. "Apa kamu kekurangan modal untuk membuka usaha itu, Mas?" Kembali menatap suaminya.
"Tidak, Sayang. Tapi, dengan membiarkan investor menanam modal. Setidaknya kita membuka pintu untuk bekerja sama. Tidak mendapatkan keuntungan sendiri dan kita bisa berbagi rizki dengan mereka."
Amara kembali manggut-manggut. Dia tidak mengerti dengan dunia bisnis.
"Mau dibuatkan teh jahe, biar tidak mual lagi?"
"Eh, ng... nggak usah, Mas. Aku sudah baik-baik saja. Kayaknya aku kebanyakan ngemil di rumah Ibu tadi, makanya asam lambungku naik. Kita istirahat saja yuk, Mas. Kamu juga pasti capek kan.."
Bian menarik nafas dalam. "Biasa aja, Ra. Tadi siang aku juga sempat istirahat. Jadinya, mataku masih segar sekarang. Aku mau menyelesaikan beberapa pekerjaanku yang tidak sempat aku selesaikan dari kemarin. Kamu lihat.." menunjukkan layar handphonenya pada Amara. "Kakek mengirimkan ini padaku."
Amara mengernyit melihat pesan itu. Ternyata beberapa hari terakhir ini Bian selalu pulang sebelum ashar karena tidak menyelesaikan pekerjaannya. Kalimat-kalimat protes yang dikirimkan kakeknya lewat pesan itu membuatnya ingin tertawa.
"Apa Kakek tidak membahas itu tadi? Perasaan, kamu dan Kakek berduaan lebih dari satu jam."
Bian melengos. "Kamu tidak membaca pesannya sampai selesai." Kembali menunjukkan layar handphonenya pada Amara.
Kakek tidak enak mau membahas itu tadi. Kakek terlalu menyayangi kamu, Nak. Belum lagi berita yang kamu sampaikan pada Kakek membuat Kakek sangat terharu. Kakek tidak mau merusak momen kebahagiaan itu dengan melayangkan protes karena kamu tidak menyelesaikan pekerjaan kamu dengan baik.
Amara menahan senyum membaca pesan itu. Se-sayang apa kakeknya itu pada suaminya sampai tidak enak kalau harus memarahinya. "Iya udah, aku tidur duluan kalau begitu." Beranjak bangkit untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Tunggu, Ra!" menahan tangan Amara. Mendongak menatap istrinya. "Aku akan temani kamu, Sayang. Aku akan menyelesaikan pekerjaan itu setelah kamu tidur nyenyak nanti."
"Tapi kamu harus janji, Mas." Mengacungkan dari telunjuknya.
__ADS_1
"Janji apaan, Sayang?"
Amara tersenyum jahil. Duduk kembali di samping suaminya. Namun, ia berpindah ke atas pangkuan Bian. Mempermainkan kancing baju suaminya dengan gaya sok manja. "Kamu harus janji, kalau kamu benar-benar hanya menemaniku tidur. Bukan malah sebaliknya.." menatap Bian dengan tatapan manja.
"Maksudnya..." Bian tersenyum kecil menanggapi godaan istrinya.
"Jangan sampai aku yang jadi korban nantinya." Menarik kerah baju suaminya seraya beranjak bangkit.
"Eits.. kamu mau kemana sekarang?" Menarik kembali tubuh Amara sampai jatuh di atas pangkuannya. Mencium lembut pipi Amara. "Kamu berani menggodaku, itu berarti kamu harus berani bertanggung jawab." Menahan kerah baju istrinya.
"Mas... aku cuman bercanda." Wajah Amara berubah merah padam. "Lagian kamu itu..."
"Apa..." menahan senyum melihat ekspresi istrinya.
"Kamu kan sering kayak gitu. Katanya mau menemani aku tidur, tapi yang ada malah sebaliknya. Ujung-ujungnya aku yang menemani kamu. Bilangnya mau menemani, tapi malah minta isi bensin."
"Mana buktinya?" masih menahan senyum.
Amara melengos, membuang nafasnya dengan kasar. "Kamu serius nanyain buktinya, Mas?" Memeluk leher Bian agak kuat.
"Eh, ini kenapa..." menahan tangan Amara yang seperti mencekiknya.
"Kamu benar-benar ingin tau buktinya, Mas..?" melotot menatap suaminya.
"Iya... tapi ini dilepas dulu, Sayang. Atau.. katakan buktinya sekarang.."
Krik.. krik.. krik.. krik..
Hening sejenak. Bian menatap istrinya yang juga sedang menatapnya dengan tajam.
"Hahahaha..." tawa Bian akhirnya meledak juga. "Kamu kok pintar banget sih, Ra. Hahahaha...."
Amara semakin melotot. Tangannya langsung mencubit gemas pipi istrinya. "Iiii.. kamu menyebalkan banget deh, Mas.."
"Aduh aduh sakit, Sayang. Hahahaha..."
"Ish.." Amara turun dari pangkuan suaminya dengan kesal. "Bukannya sadar diri, malah menikmatinya."
Bian menarik nafas dalam untuk menenangkan diri agar tidak tertawa lagi. "Itu anugerah, Sayang. Itu kan yang kita inginkan dari dulu."
"Mmm..." Amara memutar bola matanya kesal. "Aku mensyukuri hal itu, Mas. Bukan hanya sekedar bersyukur. Aku malah sangat bersyukur. Tapi, yang jadi masalahnya, tadi itu kamu menanyakan bukti hasil dari pompa bensin yang kamu lakukan padaku hampir setiap hari. Huh, kamu ini kayak orang kurang kerjaan aja menanyakan hal yang sudah nyata buktinya seperti itu." Melengos sambil membuang pandangan.
"Tadi kan aku tidak kepikiran kesana, Ra. Aku akan bertanggung jawab penuh untuk hal itu."
__ADS_1
"Memangnya kamu mau lari kemana?" Kembali melotot pada suaminya.
"Udah ah, kok kamu jadi serem gini sih, Sayang. Ayo kita istirahat. Aku nggak jadi menyelesaikan pekerjaanku. Aku akan benar-benar menemani kamu tidur. Hanya menemani, Sayang. Tolong kamu garis bawahi kalimat itu."
Amara tersenyum lebar. "Aku bahkan langsung menyimpannya dalam memori otakku, Mas. Kalau kamu mengingkari itu nanti, kita akan buktikan siapa yang mampu bertahan." Beranjak bangkit dan langsung masuk ke dalam kamar.
Bian melototkan matanya mendengar kalimat istrinya. Itu bisa menjadi ujian beratnya malam ini.
Amara POV...
Hahaha...
Puas sekali rasanya melihat tampang Mas Bian. Dasar laki-laki. Bisa-bisanya dia menanyakan bukti perbuatannya selama ini. Sekalian aja aku tunjukkan bukan hanya bukti, tapi beserta hasilnya juga.
Aku ingin tertawa saat melihatnya melotot. Saat memainkan kancing bajunya aja, aku merasakan kalau adiknya sedikit terusik dengan tindakanku itu. Kamu itu bukan tipe orang yang kuat imannya dalam masalah godaan begituan, Mas. Tapi, mudah-mudahan kamu kuat untuk ujian seperti itu di luaran sana. Insya Allah, aku percaya kalau suamiku bukanlah pria bermata keranjang.
Aku sudah menyusun rencana untuk malam ini. Aku mau mengujinya, sejauh mana dia bisa memegang ucapannya tadi. Aku meliriknya yang sudah mengunci pintu kamar. Rencana akan mulai diluncurkan. Perlahan aku turun dari ranjang dan berjalan menuju ruang ganti.
"Kamu mau kemana, Ra?"
Hah, pancingan mempan. Aku menghentikan langkahku. Melirik ke arahnya yang sudah duduk di sisi ranjang. "Aku mau ganti baju, Mas. Aku gerah kalau harus tidur pakai dress kayak gini." Aku menahan senyum mengatakan itu.
"T.. tapi.. kamu terlihat semakin cantik kalau tidur pakai dress kayak gitu, Sayang." Mas Bian terlihat ragu mengatakan itu. Aku pura-pura melengos. Sudah terlihat jelas kekhawatirannya. Sudah tau kayaknya kalau baju tidurku tidak ada yang lengkap bahannya. "Aku kan tidak biasa tidur pakai beginian, Mas."
"Dicoba saja, Sayang. Iya.. kalau kamu tidak nyaman. Besok malam kamu bisa memakai baju tidur seperti biasa."
Hhmm.. dia pura-pura tenang mengatakan itu. Dasar.. gue udah tau kali maksud dan tujuan ucapanmu itu, Mas. "Mmm... nggak ah, Mas. Aku nggak mau tidurku terganggu karena memakai pakaian yang tidak nyaman." Aku tersenyum manis ke arahnya. Wkwkwk.. dia menarik nafas panjang. Sudah sadar kayaknya, kalau ujiannya akan lebih berat malam.
Aku mengobrak-abrik lemari ku untuk mencari pakaian yang paling pantas untukku malam. Biarlah Bi Sumi atau Ida yang membereskannya besok pagi.
Aku tertawa tanpa suara saat mendapatkan lingerie berwarna merah menyala yang terlihat paling mencolok. Ini juga hasil pembelian dia. Oke, kita akan menguji imannya Pak Bos dengan pakaian ini. Aku tersenyum puas sambil mengganti pakaianku dengan lingerie itu.
Setelah menggantinya..
Wah... penampilanku benar-benar menantang. Aku mengangkat dress ku dan meletakkannya ke dalam keranjang pakaianku. Sudah waktunya kita menjalankan misi rencana.
"Ra..."
"Astaghfirullah ..." aku mengusap dadaku karena terkejut mendengar suara Mas Bian. Aku langsung berbalik dan menatap ke arah pintu. Ada penampakan kepala Mas Bian yang nongol di pintu. "Mas... ada apa?"
"Please.. jangan pakai pakaian seperti itu, Sayang."
"Kenapa, Mas. Yang penting kan aku nyaman." Aku pura-pura memperhatikan penampilanku.
__ADS_1
"Aku nggak kuat kalau kayak gini. Aku berani jamin, kalau aku akan mendustakan ucapanku tadi." Mas Bian berjalan mendekatiku dengan tampang memelas.
**********